Kata orang masa SMA adalah masa kamu menemukan sesuatu yang baru dan akan di kenang semasa hidup. Tapi aku pikir itu semua kebohongan sebelum aku menemukan sesuatu yang berharga itu yaitu cinta pertama ku.
Ketika bertemu dengan cinta jangan terlalu menyukai sampai kamu merasakan kehampaan biar semua mengalir seperti alur cerita. Semua keinginan kita bukan menjadi kehendak kita untuk menjalani hidup.
🌸🌸🌸🌸
"Tinaaa!"
Aku membalikkan badan saat nama ku terdengar jelas di kedua telinggaku. Ku lirik ada sahabat kecil ku di hadapan ku sekarang, aku tersenyum dan melembarkan kedua tanganku. Kami berpelukan di belakang barisan dan untungnya kami tidak menjadi sorotan.
"Mei, kamu juga sekolah di sini?" Tanya ku sambil melepaskan pelukan.
"Apa wujud sebesar ini nggak bisa membuat kamu percaya sekarang?" Katanya sambil menghempas rambutnya kebelakang.
"Iya iya iya, aku percaya deh kalau rambut mu sudah terhempas begitu." Kata ku tertawa melihat gaya mentelnya.
"Aku senang deh kita satu sekolah bareng padahal dari SD sampai SMP kita nggak pernah satu sekolah, mungkin ini takdir kita ya menutup masa sekolah bersama dan menemukan cinta di masa putih abu abu. Dan aku berdoa semoga kita satu kelas juga." Ucapnya sambil melihat kedua tangan seakan berdoa.
"Itu otak cinta melulu, belajar dulu. Ingat ini masa kita mau masuk perguruan tinggi." Kata ku menjewer pelan telinganya.
Dia memegang telinga yang ku jewer tadi. "Ihhhh kamu kebiasaan menjewer telinga kecil ku ini nanti dia membesar bagaimana."
"Usss diam Mei nanti kita jadi sorotan mata mata ini. Kamu mau jadi sorotan apalagi di panggil ke depan."
"Mau dong biar aku terkenal mana tahu bisa kenalan sama senior ganteng."
Aku hanya menggelengkan kepala tidak ingin mengeluarkan suara takutnya senior mendengar dan kami di panggil ke depan lapangan. Aku tidak mau menjadi sorotan di hari pertama aku menginjakan kaki di sekolah SMA negeri 1 ini. Dia selalu mengoyangkan bahu ku ingin mengajak berbincang tapi aku tetap menolak dan memandang ke depan.
Aku melihat senior sedang memperkenalkan organisasi yang ada di sekolah. Aku tertarik dengan organisasi PMR, dan aku melihat sahabat ku itu sedang serius memperhatikan anggota PMR yang sedang menunjukan adegan pertolongan pertama.
"Tin, kita gabung organisasi ini saja ya." Katanya pada ku sambil menatap serius kedepan.
"Iya Mei, aku juga tertarik. Nanti kita daftar ya."
"Iya, tapi aku mau daftar sama bang Seto Saja. Abang Seto ganteng banget, lihat hidungnya mancung, kulitnya putih dan rambutnya keren." Katanya sambil memperhatikan bang Seto yang sedang berperan sebagai pertolongan pertama.
"Aku kira kau tertarik sama PMR ternyata sama orangnya. Nggak apalah yang penting aku punya teman nantinya." Kata ku sambil menggelengkan kepala.
Aku masih serius memperhatikan bagaimana cara orang menolong untuk pertolongan pertama sebelum ambulan datang. Tanpa sadar aku tersenyum melihat cara senior itu memberi pertolong pertama. Aku melihat dia tersenyum pada ku dan aku membuang muka tidak ingin menjadi kepedean.
Tak terasa semua selesai dan aku bersama sahabat ku ternyata satu kelas di kelas X-3. Terlihat aku sedikit sedih tidak mendapatkan kelas X-1 yang aku tahu kenal unggulan, karena dari SD sampai SMP aku selalu masuk kelas unggulan atau 1. Mungkin semua sudah diatur dan aku harus menjalankannya yang penting aku langsung mempunyai satu orang yang sudah aku kenal.
Keesokan harinya aku dan sahabat ku yang sudah berjanji datang pagi sekali biar mendapat bangku nomor 2 di depan dan ternyata kami berhasil mendapatkannya. Sebelum bel berbunyi kelas sudah berisi dengan teman teman X-3 dan kami berkenalan terlebih dulu. Ternyata kelas X-3 tidak terlalu buruk, mereka baik dan aku senang bisa menjadi bagian kelas X-3.
Tak terasa bel pulang berbunyi. Sekolah kami membuat ibadah singkat atau doa siang sepulang sekolah bagi Kristen dan bagi umat Islam mereka membuat Rohis.
Aku tertarik dan mengajak sahabat ku mengikuti ibadah singkat sebelum pulang. Aku menariknya masuk keruang ibadah yang terlihat sudah padat dan untungnya masih ada kursi kosong di tengah.
Dia memasang wajah kesalnya dan memarahiku. "Ihh kamu ngapain ajak ajak ke sini sih. Pasti ini akan lama, dan aku sudah lapar tin!"
"Bentar saja Mei, aku baru tahu ini ada. Selesai ini kita cari bakso deh dan aku traktir." Kata ku membujuknya dan dia tersenyum.
Aku melihat ada beberapa orang di depan membawa ibadah, aku tersenyum melihat satu orang lelaki yang berdiri dengan santai sambil tersenyum itu. Aku memandanginya tanpa aku sadar senyumannya menjadi bumbu di hati ku.
"Mei kamu dengar siapa nama Abang itu tadi?" Tanya ku pelan.
"Yang mana? Aku tidak ada mendengarnya, kamu nggak lihat dari tadi aku membuka Facebook." Katanya sambil memperlihatkan Facebook yang dari tadi di buka dan aku hanya menggeleng kepala saja.
"Yang bawa lagu dan doa penutup yang duduk di tengah, yang tas di meja warna coklat itu."
Aku yang merasa di pandang melihat ke arah warna tas di meja ku dan aku lupa tas ku warna coklat tapi aku masih melihat kearah belakang berpura pura kalau itu bukan aku.
"Iya kamu dek yang lihat kebelakang."
"Aku." Tunjuku pada diri ku sendiri dan aku lihat lelaki itu tersenyum pada ku. "Iya kamu dan teman sebelah mu. Kalian yang membawa lagu penutup dan doa penutup."
"Kami masih junior bang, nggak tahu apa apa." Kata Mei yang sedikit terkejut juga.
"Kamu bawa nyanyian dan teman mu bawa doa. Itu yang sering kita lakukan masa tidak tahu?"
"Tin ayo maju, kamu yang bawa doa saja. Kasih tunju sama senior kita bisa." Kata Mei pelan yang tidak mau di anggap remeh.
Aku dan Mei berjalan ke depan dan tatapan ku masih lurus ku lihat dia masih tersenyum entah itu senyuman pada ku atau hanya sekedar senyuman.
"Ini senior senyum terus apa dia nggak tahu senyumannya itu menjadi bumbu di hati ini. Inikah yang dinamakan cinta pertama dan aku harus mempercayai itu!" Gumamku dalam hati.
Sampai di depan senior yang tadi berdiri di depan pergi satu persatu meninggalkan aku dan Mei berdua di depan. Aku merasa gugup dan tidak berani menatap kearah orang orang yang sedang duduk memandangi kami berdua. Kami berdua masih bergandengan tangan menghapus rasa takut satu sama lain.
"Mei mulai." Kata ku mempererat gandengan tangan kami. "Aku nggak tahu Tin." Kata Mei pelan dan aku merasa kegugupannya.
"Lagu yang muda saja Mei. Kamu pasti bisa!" Ku beri semangat padanya dan tetap memeperat gandengan supaya dia merasa tidak terlalu gugup.
Dan kami berhasil membawa lagu penutup dan doa penutup. Selesai itu, senior itu kembali kearah kami dan mengucapkan terimakasih pada kami berdua.
Di perjalan aku pikiran ku di penuh dengan senyuman senior itu. Siapa namanya dan kelas berapa? Ha betapa bodoh aku sehingga aku tidak mendengar perkenalan mereka tadi.
"Hei, kamu kenapa Tin? Masih mikir soal tadi tapi kan kita sudah berhasil!" Kata Mei membuyarkan lamunan ku.
"Aku mau tahu siapa nama senior yang menyuruh kita tadi."
"Jangan bilang kamu suka sama dia. No! Aku tidak mau kamu suka sama senior nyebeli itu."
"Telat Mei, dari awal aku melihatnya dia berhasil membumbui hati ini dengan senyumannya."
"Kamu gila! Masa banyak senior yang ganteng daripada dia!"
"Cinta tidak bisa menentukan sama siapa dia akan berlabuh Mei, kalau bisa aku juga tidak mau melabuh di situ."
"Sejak kapan kamu percaya cinta pandangan pertama!"
"Sejak aku bertemu dia. Bantu aku cari tahu namanya iya. Aku mohon Mei, pliesss." Mohon ku pada Mei yang selalu luluh melihat aku memasang muka sedih.
Selesai makan bakso kami langsung pulang ke rumah terlebih dulu untuk meninggalkan tas sekolah dan menganti sepatu menjadi sandal. Kami pergi ke warnet yang agak dekat dari rumah ku. Aku dan Mei mengambil 2 komputer dan saling mencari satu sama lain di Facebook dengan satu modal nama teman senior tadi yang sempat Mei cari tahu namanya. Hampir sejam kami mencari dan berhasil menemukan nama dan foto yang kami yakin dia.
Tentu aku senang sekali dan aku langsung mendapatkan menjadi teman. Kami menunggu beberapa menit berharap dia langsung menerimanya tapi sudah setengah jam dia belum juga menerimanya dan kami pun pulang.
Keesokan harinya kami mengikuti ibadah singkat dan kali ini Mei tidak mengerengut seperti pertama ku ajak. Sampai di dalam ruangan aku tidak melihat senior itu dan ada rasa kecewa datang di hati. Mei memilih tempat duduk di belakang dan kami pun duduk di sana, saat ibadah mau di mulai terlihat pintu terbuka dan muncul senior yang aku tunggu itu. Dia berjalan kearah ku bukan ke arah belakang ternyata dia berdiri di belakang karena kursi sudah penuh.
Aku menjadi segar kembali melihat kehadirannya. "Senyum terus sampai senior itu tahu." Bisik Mei pada ku dan aku mencubit tangannya.
"Ha, itu yang namanya Galih berarti bukan senior yang kamu cari Tin. Hahaha, Tin kamu salah orang ternyata. Katanya percaya cinta pandangan pertama tapi salah orang." Kata Mei mendengar nama Galih dan ternyata bukan nama senior itu.
Aku melihat kearah senior itu, sial bag namenya masih kosong! Aku kesal mendengar Mei mengejekku dan tambah kesal melihat senior itu tersenyum.
"Mei sepulang sekolah kita harus ke warnet lagi!"
"Nggak bisa aku dimarahi. Malam malam saja biar aku izin ke rumahmu." Dan aku menganggukan kepala.
Malam harinya aku telah berjanji sama Mei bertemu di warnet biasa dan aku melihat dia sudah duduk di sana. Dengan cepat dan teliti aku mencari satu persatu pertemanan Galih dan beberapa menit aku langsung menemukan dia.
"Mei ketemu, namanya Daniel." Ucapku dan Mei tertawa mendengarnya. "Yakin nggak salah lagi?"
"Sekali ini aku yakin, coba kamu lihat deh wajahnya sama betul ka dan ini tas yang dia pakai." Mei mangangguk dan aku langsung menambahkan pertemanan dan takdir memihak padaku dia langsung menerimanya. Tentu aku berteriak dan Mei menuthl mulut ku karena malu.
Aku menjadi patung sejenak dan menatap layar komputer itu tanpa bergedip. "Hai. Ini junior yang kemarin membawa ibadah penutup?"
"Mei coba lihat ini benaran senior itu yang chat?" Dan Mei yang membalas langsung bukan menjawab aku.
"Iya, senior kenal juga dan pasti menunggu aku mencari facebookmu." Aku langsung menjewer telinga Mei dan memakinya tapi rasa marah itu hilang ketika senior itu membalas.
"Kenal dan aku juga mencari facebookmu dan ternyata kamu duluan yang menemukan ku."
Lama kelamaan kami asyik dalam chat membuat lupa waktu dan Mei menganggu saja.
Tak terasa waktu kami lebih sering chat bahkan kami sudah bertukaran nomor ponsel. Ditanya dekat entah lah, kami dekat melalui chat kalau ketemu hanya tersenyum saja.
Beberapa bulan kemudian chat kami semakin sering bahkan di malam hari. Ketika itu malam hari aku dan Mei di rumah Mei mengerjai tugas makalah. Terlihat dia sms aku terlebih dulu dan aku membukanya.
"Malam dek. Lagi apa?"
"Malam bg. Lagi sama Mei nih." Kata ku tanpa memberitahu mengerjai tugas karena dia tidak akan sms lagi kalau tahu aku lagi belajar.
"Sudah makan kan? Lagi belajar sama Mei?
"Sudah makan dan baru selesai belajar sama Mei."
"Bagus. Dek coba kamu keluar bentar dan lihat ke atas."
"Sudah bg. Dan ada langit di atas."
"Langitnya lagi kesepian karena bintang lagi nggak nemaninya. Kamu tahu tidak kenapa bintang tidak ada."
"Tidak tahu bg."
"Karena aku lagi kesepian sebab kamu lagi bersama temanmu. wkwkwk."
Aku membacabya tersenyum sendiri dan menatap langit. "Bulan sampaikan padanya aku juga merindukannya."
Tak terasa kami sudah lama sering komunikasi dalam dunia Maya tapi jarang berkomunikasi secara langsung. Entah dia malu atau tidak serius dengan aku. Banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran ku tapi aku tidak berani bertanya langsung padanya. Apalagi dia sudah kelas 3 dan bentar lagi lulus.
Tak terasa waktu dia ujian tiba dan membuat kami jarang berkomunikasi. Di akhir ujiannya aku dapat sms pukul 5 pagi.
"Bangun bangun, libur jangan tidur terus."
"Masih ngantuk bg, tumben sms sepagi ini?"
"Ini terakhir aku ujian dek. Doakan ya, gimana kabarmu?"
"Semangat bg dan aku pasti mendoakanmu. kabar baik."
"Kalau masih gantuk tidur saja dek, Abang mau siap siap dulu. I Miss you."
Itu chat terakhir semenjak dia lulus sampai kami bertemu di semester 1 kelas 2. Pertemuan aku untuk pertama kali melihat dia berubah, semakin manis dan semakin membuat aku jatuh cinta. Sepulang ibadah di Jumat aku menyalam dia sambil tersenyum dan dia membalas senyuman dengan manisnya membuat hati ini semakin gemetar.
Pas menunggu angkutan umum bersama Mei tak tahu mata ini mengarah dengan satu objek motor dan dua orang yang sedang berboncengan. Ada air mata yang mau jatuh, hati rasanya sakit apalagi melihat dia lambat menjalankan motornya dihadapan ku. Ada senyum yang mengembang di wajahnya saat melihat ku tapi aku tidak berani menatapnya dan langsung membuang muka.
Mei melihat itu memberi semangat pada ku dan merasa juga kekecewaan itu. "Lihat dia sudah ada yang punya, percuma kamu nunggu dia lama lama. Move on dong!"
Aku diam tidak menjawab membiarkan Mei ngombel begitu saja. Aku hanya ingin sampai rumah dan melepaskan isak tangis yang ku tahan.
"Terlalu aku mencintaimu semakin aku merasakan kehampaan ini. Kami memberi harapan tapi kamu tidak pernah memberi kepastian sampai aku terhanyut dengan cinta sepihak ini."
Sesampai rumah aku langsung masuk kamar dan melepas tangis ku, memaki diri yang menunggu dan berharap padanya. Setengah jam aku menangis aku lelah.
Mei memberi kabar kalau cewek yang dibonceng itu hanyalah adek perempuan kandungnya membuat sirna yang redup itu menjadi terang. Aku menutup ponsel dan ingin beranjak dari kasur tapi tiba tiba ponsel berdering dan membuat aku semakin bahagia.
"Kamu lagi apa dek?"
Aku tersenyum melihat sms orang yang selalu ku tunggu.
"Baru sampai rumah bg."
"Ganti baju dan jangan lupa makan ya. Abang mau balik ke sekolah dulu. Bye."
Ha, sesingkat itu saja membuat hati ini semakin gemetar. Tapi apa hubungan kita ini kalau hanya sekedar komunikasi begini saja. Kamu memiliki rasa atau hanya memberi harapan pada ku saja.
Apa kamu suka memberi bibit tapi membiarkannya tumbuh begitu saja tanpa merawat dan menjaga.
Jika Tuhan mengizinkan aku mengabiskan waktu sehari bersama mu, aku akan mempergunakan waktu itu dan membuat kamu mengingat terus namaku. Dan jika Tuhan mengizinkan aku menunggumu biar setiap bait doa yang ku panjatkan menjadi pondasi rindu ku pada mu. Karena aku tahu doa ku lebih hangat daripada pelukan orang lain.