Keputusan untuk menikah Sera lakukan di usianya ke 21 tahun sempat ia sesali. Pasalnya di usia pernikahannya yang masih seumur jagung dirasakan sangat berat. Setelah menikah dia harus tinggal di tempat mertua. Padahal mertuanya termasuk orang kurang mampu. Ia terpaksa tinggal disana karena mereka belum punya rumah sendiri. Awalnya mereka menikah karena saling cinta. Sera yang tidak meneruskan sekolah lebih memilih menikah daripada bekerja dulu lebih lama. Ia memang sempat merasakan mencari uang sendiri. Bermodalkan lulusan SMA saja dan nilai pas pasan tanpa pengalaman kerja apapun ia hanya bisa bekerja paruh waktu dengan gaji yang hanya cukup untuk uang makan dan uang bensin.
Merasa ada yang mau menikahi dirinya ia pun menerima saja. Ia pun jadi berpikir jika ia sudah punya suami kebutuhannya jadi ada yang memenuhi. Sudah ada yang menafkahinya, ia jadi tak perlu capek capek bekerja.
Rasa malu dan takut mulai menghinggapinya. Belum ada sebulan menikah ia sudah hamil. Dia harus senang atau sedih. Walau dia yakin anak yang ia kandung adalah anak dari suaminya tetap saja membuat hatinya resah. Bagaimana jika saat melahirkan nanti tidak tepat 9 bulan? Pasti akan jadi omongan orang banyak jika ia hamil diluar nikah. Oh dia sangat yakin ketika saat malam pertama ia baru saja selesai datang bulan. Ia mencoba terus menyakinkan dirinya kalau dia tidak pernah melakukan hal itu pada suaminya sebelum pernikahan.
Masa masa nyidam menambah penderitaan hari hari yang ia jalani. Karena ia jadi tidak doyan makan. Mencium bau bau yang menyengat seperti bumbu bumbu masakan pasti perutnya seperti diaduk aduk. Siska jadi suka hanya tidur tiduran di kamar saja. Hal itu berlangsung sampai ia melahirkan. Bukannya malas tapi bisa jadi bawaan bayi karena kalau di rumahnya dulu dia tipe anak yang rajin bersih bersih rumah.
Tentu hal itu tidak membuat ibu mertuanya tinggal diam. Sera sudah menjadi bahan obrolan kemana mana. Kalau sudah ketemu tetangga tetangga. Mereka akan rumpi sana rumpi sini membicarakan keburukan keburukan menantunya yang manja, hanya suka tidur tiduran di kamar, tidak mau mengambah area dapur, tidak mau bersih bersih rumah, dan lain sebagainya. Hingga hal itu terdengar ke telinga Sera sendiri. Hatinya pun menjadi sakit walau itu adalah kenyataan apa itu harus dibicarakan ke orang orang?
Sore itu suami Sera yang bernama Yogi baru pulang dari bekerja. Yogi nampak lelah dan lesu. Hari ini warung bakso bosnya sepi pembeli jadi ia hanya mendapat bayaran sedikit. 40 ribu saja.
Setelah menyalami suaminya yang baru pulang Sera langsung meminta uang gaji suaminya.
"Mas mana uangnya?"
"Ya ampun kamu ini gak sabaran banget sih. Suami bikinin kopi dulu kan bisa, gak tau orang capek kerja apa. Baru dateng udah dimintain duit!" Mendengar ocehan suaminya Sera buru buru membuatkan kopi untuk suaminya. Ia melakukannya dengan cepat karena tidak tahan bau sayur dari balik tutup saji di meja dapur.
"Ini Mas kopinya. Mana uangnya?"
"Emang dasar perempuan, duit mulu pikirannya. Ini ambil!" Yogi meletakan uang dua puluh ribu dua lembar ke atas meja ruang tamu dengan kasar. Bukannya diambil Sera hanya memandang uang itu saja.
"Cuma segini aja mas?"
"Yaelah masih mending segitu daripada gak dapet sama sekali."
Sera pun terpaksa mengambil uang itu dan membawanya masuk ke kamar. Bukannya langsung mandi Yogi malah menghidupkan rokok di ruang tamu. Sera menghitung uang yang baru ia ambil digabung dengan yang ia simpan di dompetnya ternyata masih kurang 10 ribu. Hari minggu besok dia harus setor arisan dan baru terkumpul 90 ribu. Ia memang mengikuti arisan mingguan seratus ribu dengan temannya di pasar. Suaminya pun tahu. Hal itu mereka lakukan untuk agan Sera lahiran.
Hari hari berlalu, kehamilannya sudah mendekati bulan ke 8. Arisan yang ia ikuti sudah ia dapatkan dua kali. Dan hari ini yang ke tiga kali. Seharusnya ia akan mendapat uang tiga juta. Karena sekali dapat itu satu juta dan sudah dua kali ia dapat tidak diambil. Tapi disimpan saja dulu untuk nanti kalau sudah mendekati lahiran.
Sera pun pergi ke pasar menemui temannya yang memegang uang. Ketika sampai sana betapa terkejutnya ia karena hanya mendapat uang sejuta.
"Loh Mbak Kok cuma sejuta aja? Sisanya juga aku mau minta sekalian Mbak?"
"Ser yang bener aja? Masa udah diminta mau diminta lagi?"
"Loh emang siapa yang minta Mbak? Aku gak ngerasa tuh."
"Gimana sih emang suami kamu gak bilang?"
"Hah suami? Mas Yogi maksudnya? Kok dia gak bilang sama aku ya?"
"Iya lah si Yogi, emang suami kamu ada lagi selain dia? Mending kamu tanya aja sama dia mungkin dia lupa."
"Emang kapan Mba mintanya?"
"Bulan kemarin."
Tidak mungkin Yogi lupa. Sudah sebulan berlalu masa dia lupa. Atau mungkin laki laki itu sengaja ngelupa. Dengan hati penuh kejengkelan Sera pulang ke rumah. Sesampainya kerumah ibu mertuanya sedang marah marah.
"Yogi, yogi, bangun yog! Udah siang kamu gak mau kerja hah!!" Ibunya sudah menggedor gedor pintu kamar Sera sambil berteriak teriak. Melihat Sera baru pulang dari pasar. Ibu mertuanya langsung menegurnya.
"Heh Sera dari mana kamu? Pagi pagi udah ngelayap!"
"Sera dari pasar Bu ngambil uang arisan."
"Kamu ini jadi istri gimana? Bilangin tuh sama suami kamu suruh bangun, kerja bukannya tidur aja. Kapan anak itu mau berubah udah punya istri bentar lagi mau punya anak. Kerja masih males malesan! " Sera tidak berani menjawab perkatakaan ibu mertuanya. Ia langsung pergi masuk ke kamarnya yang sudah dibuka kuncinya dari dalam.
"Dasar suami istri sama aja malesan, huh!" Sambil ngoceh ngoceh sendiri ibu mertua Sera pergi ke keluar
"Mas, bangun Mas! Kok malah tidur lagi sih. Kamu gak denger ibumu marah marah?" tanya Sera sambil menggoyang goyangkan tubuh Yogi.
"Aaah berisik!" jawab Yogi sambil melempar bantal ke arah Sera dengan keras. Matanya merah melotot ke arah Sera yang sudah menangis.
"Nangis terus, nangis yang kenceng sekalian! Dasar jadi perempuan cengeng banget!"
"Mas kamu emang kebangetan! Bentar lagi aku mau lahiran tapi kamu masih males malesan kerja. Ibu kamu itu marahin aku, bilang kalau aku jadi istri gak bisa bilangin suami!"
"Halah banyak bacot!"
"Kamu beraninya sama aku ya Mas. Coba kalau sama ibumu mana berani kamu ngomong kayak gitu!" Sera sudah sangat geram tidak bisa menahan lagi emosinya. Yogi bangkit dari tidurnya dan memukul pipi Sera kuat kuat hingga membekas telapak tangan.
"Plak!"
"Mas Yogi kamu tega!"
"Sekali lagi kamu ngomong aneh aneh tentang ibuku, mulut kamu yang bawel itu bakal aku sobek sekalian!" Air mata sera sudah tumpah namun suaranya ia tahan supaya tidak terdengar ke tetangga.
"Aku gak betah lama lama kayak gini Mas!"
"Ya udah pulang aja sana kamu ke rumah orang tuamu. Ambil semua uang yang udah aku kasih ke kamu buat ongkos!"
"Mas kamu usir aku!"
"Kan kamu yang minta!" Yogi berjalan keluar dari kamar nya tiba tiba terdengar suara benda jatuh.
BRUK
Yogi menengok kembali ke kamar. Ternyata istrinya pingsan di atas kasur.
"Aisss, nyusahin aja!" Yogi segera memeriksa denyut nadinya. Ternyata masih terasa. Setelah membenarkan posisi Sera. Cowok itu kembali keluar dari kamar untuk mandi.
Hari hari telah berlalu. Mereka juga sudah baikan tapi masih belum ada kata Sayang lagi diantara mereka. Malam itu Sera memberanikan diri bertanya soal uang arisan yang katanya sudah diambil suaminya. Setelah membuatkan kopi di dapur, Sera menghampiri Yogi yang sedang berbaring di kamar sambil mainan Hape.
"Mas ini kopinya."
"Hmm taruh situ!" Sera meletakan kopi itu diatas meja kecil dekat ranjang.
"Kemarin aku udah ambil uang arisan yang terakhir."
"Terus?"
"Kata Mba Putri katanya uangnya yang dua juta udah kamu ambil."
"Hmm." Yogi pura pura tidak mendengar ia malah asik mainan hape. Dengan keberanian yang entah darimana Sera merebut hape dari genggaman suaminya.
"Eh kurang ajar banget sih main serobot serobot aja. Bawa sini cepetan!"
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Iya udah aku ambil puas!"
"Terus mana uangnya Mas?"
"Gak usah khawatir sih aku simpen kok. Yang penting kamu lahiran aku bisa bayar."
"Ya tapikan kita belum beli baju bayi."
"Kan sisanya masih ada sih Ser."
"Cuma sejuta mana cukup!"
"Yaelah prihatin sedikit kenapa? Jangan boros boros jadi orang tuh." Ya ampun Yogi kurang prihatin apa si Sera. Baju daster ibu hamil aja gak pernah kamu beliin. Padahal badannya sudah melar kayak balon siap meletus. Apa kamu gak kasihan? Sera sudah malas berdebat lagi dengan suaminya. Ia melempar hape itu kepemiliknya. Dan segera berbaring membelakangi suaminya.
Jam tiga pagi Sera terbangun. Perutnya sangat melilit seperti mau diare. Apa dia terlalu banyak makan pedas. Masakan ibu mertuanya memang selalu pedas level 10. Tapi mau masak sendiri tidak bisa karena jika lama lama berdiri atau duduk kepalanya akan pusing.
Sera sudah jongkok di kamar mandi selama 10 menit tapi tidak keluar apa pun. Ia kembali berbaring di kamarnya untuk tidur. Sejam kemudian perutnya terasa mulas. Ia kembali masuk ke kamar mandi. Sampai pegal kakinya Berjongkok tapi tetap sia sia. Hatinya sudah gelisah jika dibawa berbaring perutnya mulas tak karuan. Di dalam kamar ia jalan kesana kemari hingga mengganggu Yogi tidur.
"Haduh Mas perutku sakit!"
"Apa kamu mau ngelahirin?"
"Enggak mungkin lah Mas, masih 8 bulan kok ngelahirin!"
"Ya udah sih dibawa tidur aja masih pagi tau!"
"Sakit loh Mas perutku kalau tidur!"
"Hadeh ada ada sih kamu tuh!" Sera sudah gelisah ia merasa ada sesuatu keluar dari jalan bayi.
"Mas mas!"
"Kenapa lagi sih?"
"Kayaknya aku mau ngelahirin deh!" Yogi pun sontak bingung tanpa berpikir panjang ia mengeluarkan motornya dan membawa Sera ke rumah bidan. Disana bu bidan segera memeriksa keadaan Sera. Dia masih bukaan tiga, masih lama tapi rasa sakitnya sudah seperti ini. Ia menunggu hingga bukaan 10 selama hampir dua belas jam. Dari subuh sampai habis maghrib baru anaknya lahir. Anak laki lakinya dilahirkan secara normal. Namun Sera kehilangan banyak cairan. Ia harus di infus dulu dan menginap di rumah bidan semalam untuk mengembalikan kondisinya yang lemah.
Pagi menjelang keadaan Sera dan bayinya sudah membaik dan dibolehkan pulang, setelah membayar sedikit uang untuk biaya infus dan rawat inapnya. Karena biaya Sera melahirkan di tanggung pemerintah melalui kartu bpjs.
Setelah kembali di rumah mertua lagi. Sera menjalani kehidupan sebagai ibu muda yang baru memiliki anak. Pengetahuan untuk merawat bayi masih sangat minim Sera miliki di bantu oleh ibu mertuanya dan kadang ibunya yang menjenguk Sera baru bisa belajar sedikit sedikit. Setelah menyusui anaknya hingga bayi mungilnya terlelap, Sera mengobrol sebentar dengan Yogi sebelum mereka tidur.
"Mas ternyata biaya lahirannya cuma sedikit ya?"
"Iya lah kan pakai bpjs. Gitu dari dulu kamu ribet ngumpulin uang buat biaya lahiran."
"Ya biarin sih Mas. Kalau punya tabungan kan tenang. Ya udah sini mana sisanya Mas?"
"Sisa apaan?"
"Ya kan bayarnya cuma dikit pasti sisanya masih banyakkan."
"Emang yang sejuta udah habis?"
"Ya udah dong Mas, itu aja aku beli perlengkapan bayi cuma ngepres. Emang nanti gak butuh biaya buat akikahan anak kita?"
"Udah gak ada."
"Gak ada gimana sih Mas?"
"Udah nanti biar ibu sama bapak yang nanggung."
"Ya gak bisa dong Mas, gak enak juga ngerepotin orang tua kamu terus!"
"Bisalah Ser, hutang ibu aja udah aku bayarin Kok, eh." Yogi ternyata keceplosan. Ia tidak berniat memberitahu rahasianya pada Sera tapi dia sendiri yang keceplosan.
"Hutang apa Mas? Emang kamu punya duit buat bayarin hutang ibumu? Atau jangan jangan....!"
"Ya mau gimana lagi loh Ser. Hutang ibu di pasar tuh udah lama banget. Cuma dua juta tapi nagihnya sama aku bolak balik ya aku malu."
"Apa dua juta cuma? Kita yang ngumpulin berbulan bulan mas! Kamu bilang cuma? Terus masalah kayak gini kamu gak mau cerita sama aku."
"Ya udah sih Ser gak usah marah. Nanti aku ganti."
"Kamu anggep apa aku ini Mas?"
"Ih udah sih suara kamu itu loh berisik. Ntar anakmu bangun baru tau rasa!" Sera tidak habis pikir kenapa suami Nya tega membohonginya. Bahkan suaminya tidak mau meminta maaf. Yogi tidak merasa bersalah sama sekali. Ia pun tidur membelakangi suaminya sambil menangis. Memeluk sang anak yang kembali ingin menyusu.
Bayinya sudah tumbuh semakin menggemaskan dan gemuk.Pintar dan lincah. Bayi itupun sudah di beri nama, yaitu Affan Alfahri. Panggilannya Affan. Namun kehidupan rumah tangga Sera tidak ada kemajuan. Masih manja dan bergantung pada mertua. Sera menunggu suaminya untuk bertindak. Namun pria itu tak memiliki greget. Sebagai kepala rumah tangga pria itu tidak memiliki rencana masa depan untuk keluarganya kelak. Bekerja masih malas malasan. Kalau istrinya menasehati dia marah. Katanya perempuan bisanya mengatur ngatur.
Namun Sera tidak patah semangat, ia terus mempengaruhi suaminya untuk memiliki rumah sendiri. Alasan dia begitu adalah dia ingin memiliki kehidupan yang lebih maju dan mandiri. Tidak bergantung pada mertuanya terus. Sedangkan mertuanya masih memiliki anak yang masih bersekolah SMP. Langkah awal yang mereka ambil adalah tinggal mengontrak terlebih dahulu. Belajar mandiri tanpa bergantung pada siapa pun. Yogi mau mau saja asal semuanya Sera yang urus. Karena sangking tidak betahnya tinggal di tempat mertua, akhirnya ia dipinjami uang orang tuanya sendiri untuk membayar kontrakan selama setahun.
Hari yang ditunggu telah tiba, mereka pun pindah. Awalnya bapak mertuanya tidak mengizinkan karena mengingat bagaimana sifat anak lelakinya yang manja, beliau jadi tidak tega melepaskan anak dan menantunya hidup mandiri. Tapi izin itu terkabul ketika ibu mertuanya juga sangat menginginkan anaknya berubah dewasa dan mandiri.
Hari hari di rumah kontrakan ia jalani. Semakin berat saja, pikiran Sera seperti terperas habis. Karena suaminya juga tidak bisa berubah. Berangkat bekerja semaunya saja hingga ia akhirnya di pecat oleh bos tempatnya bekerja. Terpaksa sekali gantian Sera yang bekerja, karena suaminya semakin sulit untuk diarahnya. Kebebasan ini membuat Yogi jadi semena mena. Melakukan semua semaunya. Tapi mereka memiliki perjanjian jika Sera yang bekerja Yogi harus mau mengurus anak mereka. Tak disangka pria itu mau. Mereka bertukar tugas dalam peran dalam urusan rumah tangga mereka.
Bulan demi bulan kehidupan pernikahan mereka penuh lika liku. Semakin kesini terlihat jelas sifat Yogi yang tempramental. Herannya hanya pada Sera laki laki itu mudah marah. Di mata para tetangga Yogi terkenal ramah dan suka bersosialisasi pada para tetangga. Namun Sera yang dipandang jelek disini karena jarang di rumah dan tak pernah main tempat tetangga. Bagaimana mau bertetangga? Sera kalau sudah bekerja itu rajin tidak pernah membolos. Ia selalu masuk kerja hanya jika tengah sakit cukup parah ia baru meminta ijin libur. Berangkat jam 7 pagi pulang 9 malam membuat Sera banyak mengahabiskan waktunya di tempat kerja ketimbang di rumah. Walau hanya kerja di toko cukuplah untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan sedikit disisihkan untuk ditabung demi rumah Impian mereka sendiri.
Puncak Keruhnya rumah tangga mereka terjadi saat Sera pulang kerja masih sore hari. Bosnya akan ada acara keluarga dan menyuruh semua karyawannya pulang cepat. Tentu hal itu disambut senang oleh Sera. Ia jadi bisa beristirahat di rumah lebih awal. Sesampainya di rumah suaminya tengah bersantai di depan TV sambil menunggui anaknya yang tengah bermain mainannya di samping Yogi berbaring.
Soal mengurus anak Yogi memang jagonya ia lebih sabar dibanding Sera. Sore itu anaknya sudah mandi dan sudah makan. Tapi pekerjaan rumah masih berantakan. Nasi dan sayur sudah habis, piring belum di cuci, pakaian belum dicuci. Sudah perjanjian dari awal Sera kerja kalau tugas mencuci piring dan baju itu Yoga. Masak pagi sudah dilakukan oleh Sera.
Melihat keadaan dapurnya yang berantakan menambah lelah di tubuhnya. Ia sudah malas berdebat dengan suaminya. Karena setiap hari mereka selalu berdebat meski karena hal hal kecil. Sera hanya diam membereskan kekacauan rumah kontrakannya. Memasak nasi lalu mencuci piring. Merendam pakaian kotor lalu mulai memasak sayur. Yogi mengerti gelagat istrinya yang sedang marah. Ia pun menghampiri Sera yang sedang cemberut sambil memasak.
"Ngapain?"
"Gak lihat aku lagi masak!"
"Eh yang sopan ya ngomong sama suami."
"Kalau mau disopanin tolong di pegang omongan!"
"Lama lama banyak omong ya kamu!"
"Kalau gak mau dengerin omonganku ya udah sana kedepan lagi nonton TV."
GEBRAK tiba tiba Yogi menendang pintu dapur sampai jebol karena kebetulan pintu itu sudah keropos dimakan rayap. Yogi berjalan kembali ke ruang TV karena anaknya menangis. Melihat hal itu Sera pun dan menjadi takut dan ikutan menagis. Ia berjongkok di lantai dapur sambil memegangi pisau yang sedang ia pakai untuk memotongi sayuran.
Tanpa Sera sangka sangka, Yogi kembali ke dapur sambil menggendong anaknya yang masih menangis lalu menendang Sera dari arah belakang sampai wanita itu tersungkur ke lantai. Anaknya semakin histeris menangis. Sera masih terbaring tengkurap dilantai dapur menahan sakit di punggungnya. Yogi meletakan putranya di samping istrinya lalu pergi dari rumah kontrakan.
💔💔💔💔💔💔💔
Sidang perceraian telah usai. Sera dan Yogi resmi bercerai. Hak asuh anak jatuh pada Sera. Karena anaknya masih dibawah lima tahun jadi sang ibu yang lebih berhak merawatnya. Demi sang anak yang masih kecil ia bertekat bekerja ke luar negeri. Menjadi TKW di Taiwan menjadi pilihan yang tepat menurut Sera. Ia ingin memperbaiki ekonomi kedua orang tuanya dan menafkahi anaknya yang masih kecil. Semua itu ia lakukan semata mata untuk kebaikan masa depan anaknya kelak. Dengan langkah mantap serta diiringi doa kedua orangtuanya ia melangkah pergi dari tanah air tercinta mengadu nasip ke tanah orang asing. Senyuman mereka dari makhluk suci tanpa dosa itu yang membuat langkah ini semakin kuat dan ringan. Sambil memandang foto anaknya yang sudah bisa berjalan itu, yang disimpan dalam hapenya Sera berucap.
"Tunggu Mama pulang Sayang. Mama sayang Affan." Malam ini di atas langit yang gelap sebuah pesawat terbang jauh membawa sekeping hati seorang ibu yang siap berkorban apa pun untuk anaknya. Selamat berjuang ibu kuat dan tangguh. Anakmu pasti bangga memiliki ibu seperti dirimu.
TAMAT