#Romantis
#Judul : Pergi
Namaku Tina, gadis SMA yang cantik, pintar dan baik. Tinggiku hanya 153 cm dengan rambut hitam, kulitku putih mulus dengan..... gitulah. Aku punya pacar namanya Raffa, dia punya kembaran namanya Raffi tapi mereka beda banget.
Raffa itu tipe cowok yang baik, kalem, tenang, pinter dan menghargai wanita. Raffi kebalikannya, dia itu tipe cowo playboy dan bar bar, cuma anehnya walaupun mereka tau Raffi kaya gitu tetep aja banyak yang mau.
Hari ini ultah nya Raffa dan Raffi yang ke.... 18 tahun. Aku memang 1 sekolah sama mereka tapi beda kelas, aku ngado sepatu, baju koko sama peci, Raffa itu juga rajin ibadah kebalikan dari Raffi yang agak bolong bolong sholatnya.
"Makasih sayang," kata Raffa sambil nerima kado dari aku, dia mencium kening ku cukup lama.
Trus aku ngado Raffi sepatu sama kaus oblong hitam, yah... daripada ngado baju koko tapi ga dipake kan. Dia cuma bilang makasih sambil senyum.
Aku sama Raffa udah pacaran 1 tahun 3 bulan. Aku udah kenal sama keluarga Raffa, begitu juga sebaliknya. Intinya keluarga kita berhubungan baik.
"Yank, kamu kalo cari laki-laki yang baik, jangan yang bandel," tiba-tiba Raffa ngomong kaya gitu, aku bingung.
"Kan kamu baik."
"Iya, nanti kalo aku udah pergi."
"Ha? pergi kemana."
"Nanti kamu juga tau."
"Trus kamu carinya cowo yang bisa ngehargain cewe kaya aku," lanjut Raffa.
"Justru karena itu aku nyaman sama kamu, karena kamu bisa ngehargain cewe."
"Masih banyak cowo diluar sana yang lebih baik dari aku."
"Gak, aku maunya kamu."
"Ya kan nanti semisal aku pergi."
Seusai mengatakan itu Raffa mengusap pelan kepalaku, sekarang cuma ada kita berdua di taman belakang, lagi main ayunan.
"Jangan ngomong gitu yank, aku ga mau kamu pergi," kataku sambil bersender ke dada bidang Raffa.
Oh iya, Raffa itu tingginya 177 cm sedangkan Raffi 178 cm, beda 1 centi doang. Kulit Raffa putih bersih, mungkin karena sering kena air wudhu sedangkan kulit Raffi sedikit kebakar matahari karena dia sering panasan.Raffi
Wajah mereka mirip banget tapi jelas ada perbedaannya, Raffa punya tanda lahir di bahu kanan sedangkan Raffi tanda lahirnya di bahu kiri. Dan bagi aku mereka itu bener-bener orang yang berbeda baik fisik maupun sikap.
Walaupun Raffi nyamar sebagai Raffa, aku tetep bisa ngenalin mereka. Rasanya damai sekali, bisa merasakan suasana damai dan sejuk gini cuma berdua sama Raffa, apalagi di peluk Raffa kaya sekarang.
"Intinya kamu jaga diri baik baik."
"Iya aku tau, kamu tenang aja."
"Ahaha.. iya iya, bikin aku bangga juga dong. Buktiin kalo kamu memang kuat tanpa aku."
"Em... gimana ya, aku coba deh. Tapi kamu harus dukung aku terus dong, ok👌."
"Ok👌, tos dulu dong."
Tos
Aku ga tau apa maksud omongan Raffa, aku cuma iyain tanpa tau aku harus ngejalanin itu.
#
Seminggu kemudian
Saat ini aku sedang berteduh di minimarket, hujan turun sangat deras sampai pandangan memburam. Aku ketemu Raffa di sini cuman katanya dia harus balik ke rumah, dia minta maaf karena harus ninggalin aku di sini.
"Maaf yank, aku harus balik cepet-cepet, maaf yah maaf banget," kata dia sedang mimik imut.
"Ih, aku bilang gapapa kan. Ga usah cepet-cepet, pelan pelan aja asal selamet, ok."
"Hehe... iya deh, pacarku yang paling cantik."
Dia mengusap kepalaku lagi, aku tersenyum manis. Lalu Raffa menggunakan jas hujan dan segera pergi dari minimarket.
Tanpa aku tau jalanan hari itu bener-bener bahaya, sampai....
Ckiiit
Brak!
Belum jauh dari minimarket, di perempatan Raffa kecelakaan, aku kaget dan langsung lari ke tempat Raffa bareng warga.
Darahnya banyak banget, aku nangis liatnya. Walaupun aku phobia darah, tapi aku harus nolong Raffa, aku nolong Raffa sambil nahan pusing dan sesak napas, aku takut dia kenapa napa. Raffa kebanting dan keseret bareng motornya sampe ke tengah jalan.
Aku sama beberapa warga nolongin Raffa dan bawa Raffa ke pinggir jalan, ada yang nelpon ambulance, aku sempet nelpon Raffi dan bilang Raffa kecelakaan, sekarang mungkin dia lagi kesini. Ada juga yang ngasih pertolongan pertama ke Raffa. Aku menopang kepala Raffa di pahaku, bajuku sudah basah kuyup saking derasnya hujan dan penuh bercak darah Raffa.
Aku terus menangis sampai Raffa memegang wajahku dan mengusap air mataku.
"Kamu jangan nangis, kamu kuat. Assalamualaikum."
Setelah mengatakan itu Raffa ga sadarkan diri, aku panik. Aku nangis tapi aku inget pesannya, 'kamu jangan nangis, kamu kuat. Assalamualaikum'. Gak! jangan berpikiran negatif, selang beberapa detik ambulance datang.
Bertepatan dengan datangnya Raffi, dia basah kuyup karena ga pake jas hujan. Raffi langsung ngikutin ambulance, dan aku harus pulang buat ganti baju.
Rok sekolahku sama bajuku ada bercak darahnya Raffa, sumpah waktu itu banyak banget darahnya hiks.... pulang pulang aku langsung meluk mama, aku pengen nangis tapi di tahan.
"Kenapa nangisnya ditahan nak?," tanya bunda yang tau seberapa sedihnya aku.
"Kata Raffa, aku ga boleh nangis ma...😊," jawabku dengan suara gemetar sambil senyum tapi air mataku terus turun.
Malamnya aku jenguk Raffa karena harus les dan ngompres mata, mataku sembap, walaupun aku udah nahan nangis tetep aja aku nangis. Aku jenguk Raffa bareng mama karena aku ga mungkin kuat liat Raffa kaya gitu.
Raffa ga sadarkan diri, banyak banget alat medis di tubuhnya. Aku dengan gemetar menghampiri Raffa dan menggenggam tangan kanannya. Tubuhku gemetar, lagi lagi aku nangis, aku ga boleh nangis aku ga boleh nangis tapi....
"Hiks... Raffa.... hik... hiks....."
Aku akhirnya ga nurut, aku tetep nangis walaupun udah ku tahan. Aku ga kuat liat orang yang jadi cinta pertamaku terbaring di ranjang RS dan ga sadarkan diri. Raffa terbangun karena isak tangisku.
Terlihat orang tua Raffa menghampiri Raffa sedangkan mama menelpon papa di luar, mama masuk bersama Raffi. Raffi kaya habis nangis dan ngamuk.
Puk
"Ga bole nangis, inget itu," gumam Raffa pelan.
Perlahan Raffa meletakkan tangan kanannya di kepalaku. Aku menghapus air mataku lalu tersenyum manis.
"Aku ga nangis kok, aku senyum nih. Liat😊," kataku padahal air mataku terus turun.
Raffa mencoba duduk tapi ga bisa, dia ngegapai tangan mamanya, ngegenggam tangan mamanya trus dia kayak salim gitu, cuman karena ada yang nutup mulut sama hidung itu loh yang di RS yang nyambung ke tabung oksigen, masker oksigen keknya. Jadi Raffa kek salim cuman di jidatnya gitu, gantian deh sama papanya.
"Bang, lu dah sadar?," kata Raffi yang sekarang ada di sebelah ortunya.
"😊, Raffi. Adek sekaligus kembaran gue, gue minta tolong ya. Jaga Tina baik-baik," lirih Raffa membuat Raffi menunduk dengan raut wajah kesal.
"Lu!."
Raffi mau marah tapi di tahan papanya, aku duduk di pinggir ranjang sambil natap Raffa sayu. Dia tersenyum. Kami mengobrol banyak, aku seneng Raffa bisa ngobrol lagi walaupun masih lirih.
Waktu semakin larut, mau gak mau aku harus pulang. Aku pamit bareng mama dan papa tapi begitu aku mau keluar ruangan tiba-tiba Raffa sesak napas, aku dan yang lain kaget. Raffi manggil dokter, dia teriak-teriak ga jelas saking paniknya.
Aku panik juga, mama, papa, om, tante semuanya panik. Aku nangis lagi. Raffa mengusap wajahku.
"Ga boleh nangis, inget itu."
Setelah itu Raffa yang masih sesek napas bilang dengan lirih.
"Ma, pa, om, tante, Tina sama Raffi. Raffa pamit, assalamualaikum."
Tiiiiiiiiiiiiiittt
Alat pendeteksi detak jantung hanya menunjukkan garis lurus, aku syok. Mamanya Raffa pingsan, mama sama papa sedih juga. Raffi keliatan ga percaya, dia nguncangin badan Raffa yang udah kaku.
"Fa, Raffa! bangun gak lo! ga lucu anjic! bangun gak! bro please... bangun.. hik.."
Pertama kali aku liat Raffi nangis, waktu aku liat muka Raffa, dia kaya damai banget. Pandanganku berubah kosong, buram sampai akhirnya...
Bruk!
Aku pingsan, aku ga tau apa-apa lagi. Semuanya terjadi begitu cepat dan... tragis.
#
Selama 5 hari aku ngurung diri di kamar, aku masih ga percaya apa yang terjadi, aku pikir ini semua cuma mimpi tapi apa ku lihat, ku dengar dan kurasakan selanjutnya....
'Turut berduka cita ya, gue tau lo sayang banget sama dia.'
'Innalilahi wainnaliaihi rojiun....'
'Yang sabar ya.'
Seminggu ini aku bener-bener hampir gila! aku jadi sering ngelamun dan ga beraturan, ga jelas. Sampai malem ini aku ketemu (alm)Raffa dalam mimpi.
Paginya aku ke kelasnya Raffa dan Raffi dulu, disana aku liat Raffi kaya mau berantem gitu dan bawa bawa nama Raffa.
"Raffi, stop," kataku datar.
Seketika pandangan orang di kelas tertuju padaku, hening. Raffi melepas cengkramannya pada teman sekelasnya itu. Aku berjalan melewati Raffi dan yang lain dengan acuh. Aku melangkah ke tempat duduk Raffa dulu, aku mengambil sebuah kotak kecil antik dari lacinya, dan tentu saja kotak itu masih di gembok. Seketika seisi kelas ini terkejut dan terheran heran.
"Tina, apa itu?," tanya Raffi penasaran.
"Hadiah dari Raffa. Ralat, almarhum Raffa," jawabku datar.
Raffi dan teman-temannya terbungkam, aku benar-benar berubah sejak kepergian Raffa. Aku yang sebelumnya periang, ceria, baik, murah senyum menjadi pribadi yang dingin, irit kata, datar, acuh.
#
Saat sampai rumah aku langsung pergi ke kamar dan mengunci pintu kamar, aku langsung penasaran dengan isi kotak antik kecil ini. Aku membuka gemboknya dengan kunci yang merupakan kalung pemberian Raffa yang selalu ku pakai.
Di dalam kotak itu ada amplop putih, gelang cantik dan jam tangan digital, melihat gelang itu aku mengingat kembali kenangan bersama Raffa saat itu aku dan Raffa lagi jalan berdua di mall, kita baru pacaran 6 bulan. Aku tertarik sama 1 gelang cantik tapi harganya mahal banget, tanpa aku tau Raffa diem-diem beliin gelang itu.
Aku nangis lagi, air mataku turun tapi mulutku bungkam, rasanya sesak banget. Dan tulisan tangan di kertas itu.... aku nangis semaleman.
Makasih Raffa, makasih udah jadi pacar terindahku😊, makasih, aku selalu doain dan rindu kamu walaupun kita udah beda alam😊.
-𝗲𝗻𝗱
𝘀𝘂𝗽𝗽𝗼𝗿𝘁 : 𝗞𝗮𝗶𝗶 - 𝗠𝗶𝗻𝗰𝗵𝗮𝗻 - 𝗡𝗮𝗱𝗶𝗻
gagal riview