Ribka Datuk Suryani, akrab di panggil Datuk. Wanita cantik terlahir dari keluarga terpandang dan kaya raya. Ayahnya merupakan seorang yang berpengaruh dalam perekonomian kota Bogor.
Ryan Putra, biasa dipanggil Ryan. Hidup dalam keluarga menengah keatas. Keluarga Ryan tergolong orang kaya di desa. Ayah dan Ibunya adalah seorang guru.
mereka merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Abangnya yang bernama Romi meninggal terjatuh ke sungai karena penyakit ayan yang ia derita kambuh saat ia sedang memancing ikan di sungai dekat rumah mereka.
Saat usia Ryan 18 tahun, ayah tercintanya meninggal dunia terkena serangan jantung.
Semenjak Ayah dan Abangnya meninggal, Tiya ibu Ryan mendadak sakit-sakitan, membuatnya harus berhenti dari profesinya sebagai seorang guru di sekolah swasta.
Ryan kini terpaksa harus menjadi tulang punggung keluarga. Ia harus bekerja keras untuk biaya kuliahnya, hidupnya dan kebutuhan ibunya.
Sebenarnya Ryan ingin berhenti kuliah, namun ibunya menolak dan bersikeras bahwa Ryan harus menyelesaikan kuliahnya.
Suatu ketika Tiya terkena diabetes dan komplikasi beberapa penyakit lain. Membuat Tiya harus opname dan menjalani perawatan khusus. Tentunya semua itu membutuhkan biaya yang banyak. Terpaksa Tiya menyuruh Ryan untuk menjual sawah milik keluarga mereka.
Karena mengandalkan uang pensiunan dan penghasilan Ryan yang kecil sebagai pekerja paruh waktu tidaklah cukup untuk biaya berobat dan biaya hidup mereka.
Berkat itu, kini Tiya sudah sembuh kembali. Namun beberapa bulan kemudian penyakitnya kambuh lagi membuat Ryan terpaksa harus menjual tanah peninggalan ayahnya. Dan kini satu-satunya yang tersisa hanyalah rumah kuno milik keluarga mereka yang saat ini mereka tinggali.
***
Ryan dan Datuk sudah empat tahun lebih menjalin kasih. Datuk wanita yang luwes, anggun dan telaten berhasil menaklukan hati Ryan. Meski ia terlahir dari keluarga yang kaya raya dan terpandang namun ia tidaklah sombong dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Hari ini Ryan berencana melamar Datuk dan akan menikahinya dalam waktu dekat.
"Dik, Mas sangat menyayangimu. Mas ingin adik menjadi istri Mas satu-satunya." Ucap Ryan sembari menggenggam kedua tangan kekasihnya itu membuat Datuk tersipu malu.
"Adik juga Mas, adik mau menikah dengan kamu Mas. Mas bilang sama mama dan papa ya." Datuk berbicara dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Dik." Ryan mengangguk pasti.
Dua minggu kemudian Datuk membawa Ryan ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Bukan restu yang mereka dapat seperti yang mereka harapkan, namun justru orang tua Datuk tidak merestui hubungan mereka. Bahkan ayah Datuk tak segan mengancam akan menghapus Datuk dari daftar keluarga dan tidak akan mendapatkan warisan sepeserpun kecuali mereka berpisah maka Datuk dan anak mereka akan di akui sebagai anggota keluarga dan mendapat warisan yang sama.
"Saya, tidak sudi merestui hubungan kalian! jika kalian ingin melanjutkan, silahkan! tapi jangan harapkan restu dariku dan dari keluarga kami!" Teriak ayah Datuk seketika menggema dalam ruangan itu dengan sangat lantang.
Datuk dan Ryan terus memohon namun tetap saja nihil. Orang tua Datuk tidak mau memberikan restu karena mereka berbeda derajat dan kasta.
Dua bulan kemudian Datuk dan Ryan menikah secara sederhana di kediaman Ryan. Meski tanpa restu orang tua Datuk dan tanpa ada satupun sanak saudara dari keluarga Datuk, akad nikah tetap dilanjutkan dan mereka kini sah menjadi suami istri.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecil mereka, Ryan yang lulusan sarjana ekonomi memilih menjadi guru SMP di wilayahnya.
Sementara Datuk yang lulusan keperawatan kini menjadi perawat di sebuah Rumah Sakit Swasta di kota.
Selang dua tahun menikah kini mereka telah di karuniai seorang putri yang cantik mereka menamai putri mereka Keiza.
Datuk yang telah di pecat dari pekerjaannya atas perintah ayahnya yang tidak mengizinkan seluruh instansi menerima dia sebagai karyawan kini memilih menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak semata wayangnya.
Kehadiran seorang cucu tidak membuat hati mereka luluh dan memberi restu kepada Ryan dan Datuk. Justru ayah Datuk semakin menggila mempersulit hidup anak mantunya.
Meski hidup dalam keadaan yang sulit dan susah, mereka tetap bahagia dan saling menguatkan satu dama lain. Mereka percaya semua akan indah pada waktunya.
Pernah mereka berada pada posisi yang sulit. Dimana anak sedang sakit, beras habis tabungan nihil dan gajian masih jauh. Membuat hati Ryan terasa tersayat, tercabik cabik pisau belati yang sangat tajam.
"Apa tidak sebaiknya kita periksakan saja, aku takut akan semakin parah. Tapi uang tinggal segini." Ryan merogohkan tangannya kedalam saku mengambil dompet dan mengeluarkan selembaran berwarna ungu, hijau dan biru. Menatapnya dengan nanar tak terasa bulir airpun jatuh dari matanya.
"Tidak apa-apa sayang, biar aku merawatnya. Besok pasti akan sembuh, sudahlah." Ucap Datuk sembari mengusap-usap punggung suaminya. Mencoba menenangkan.
"Tapi ini sudah tiga hari demamnya tidak juga turun." Ryan semakin khawatir.
"Sudahlah, percaya padaku." Datuk menatap lekat mata suaminya yang masih sembab karena menangis. Ia menyeka air mata itu dan mencium pipi suaminya.
Ryan menangis karena tak kuasa melihat istri dan anaknya hidup serba kesusahan.
Belum genap tiga tahun bekerja, kini Ryan diberhentikan juga menjadi guru di sekolah itu. Ryan sudah tau bahwa ini ulah mertuanya. Tapi Ryan tetap tabah dan ia berusaha mencari pekerjaan lain, apapun asalkan halal untuk anak dan istrinya.
Kini Ryan bekerja serabutan. Apapun ia kerjakan termasuk bekerja berat seperti di sawah. Ini semua demi anak dan istri nya dan ini adalah tugas dan tanggung jawabnya.
Keiza kini tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas seperti ibunya. Ia sangat menyayangi mama papanya dan juga Oma Tiya.
Semakin lama semakin kesini hidup mereka semakin sulit. Ayah Datuk mempersulit Ryan untuk mencari rezki. Ryan tak kuasa dan tak tega melihat anak dan istrinya hidup dalam kesulitan dan kesusahan. Bahkan sangat susah.
Keadaan seperti ini hingga membuat Ryan mencoba mendiskusikan masalah ini kepada Datuk.
"Sayang, lebih baik kamu kembali ke orang tuamu. Bawalah Keiza, Disana hidup kalian terjamin dan kalian akan bahagia." Ucap Ryan memandang lekat mata sayu itu denga menahan air matanya yang seakan ingin segera jatuh.
"Apa maksudmu, Mas... aku sudah bahagia hidup seperti ini bersamamu dan anak kita." Datuk berbicara dengan mata yang mulai basah dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Jangan egois sayang, pikirkan Keiza. Masa depannya masih panjang dan akan cerah jika kalian kembali kerumah mama dan papa." Ryan berkata serah memeluk istrinya.
"Tapi Mas, aku tidak mau. Aku akan tetap di sini bersama kalian." Ucap Datuk dalam isakan tangisnya dan semakin menenggelamkan wajahnya dalam dada Ryan. Memper erat pelukan mereka.
"Hidup kalian akan tercukupi dan masa depan anak kita akan cerah jika kamu kembali sayang."
"Tapi, Mas...."
Setelah kesepakatan yang mereka buat, keesokan paginya Ryan mengantarkan istri dan anaknya kerumah mertuanya yang tak pernah merestui hubungan mereka.
Ryan terus memandangi istri dan anaknya secara bergantian dari balik pintu pagar yang menjulang tinggi yang menjadi penghalang mereka bertiga.
Datuk dan Keiza juga memandangi Ryan penuh nanar terlukis kesedihan di raut wajah mereka. Seolah tak ingin berpisah beberapa kali Keiza memanggil nama papanya. Membuat Ryan semakin pilu.
Kemarin malam adalah hari dan malam terahir mereka bercengkrama. Penuh canda dan tawa meski kesusahan selalu mengintai mereka.
*Aku akan tetap mencintai dan menyayangimu, Mas sampai kapanpun itu. Meski kelak kamu temukan yang lain. Aku akan tetap pada perasaanku kepadamu Mas. Semoga Allah akan melindungi kita. Kamu adalah suami dan ayah yang baik untukku dan Keiza. Kami sangat menyayangimu. Jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, aku harap Allah akan mempersatukan kita di surgaNya nanti.*
Ryan menangis sejadi jadinya di dalam kamar saat membaca surat yang sempat Datuk tulis untuknya sembari memeluk foto pernikahan mereka dan foto mereka saat menggendong bayi Keiza.
"Sudahlah, Nak... ini sudah keputusanmu. Ini sudah takdir Allah. Kamu harus sabar, harus kuat. Doakan mereka agar mereka baik-baik saja." Tiya mengusap punggung Ryan sembari memeluknya dengan menitikan air mata ia tau persis apa yang sedang Ryan rasakan seolah ia juga merasakan nya.