Kisah ini menceritakan tentang awal mula aku mengetahui penyakit yang di idap ayah ku penyakit kelenjar getah bening..
Sebelumnya aku perkenalkan diriku dulu, nama ku Kia aku anak pertama dari 3 bersaudara adik ke 2 ku bernama Rani dan adik ke 3 ku bernama sandi. kami dari kecil tinggal bersama nenek di kampung dan ayahku tinggal di kota lain jadi kami berkomunikasi cuma lewat HP sebenarnya aku juga punya saudara yang lain tapi beda ibu.
malam itu ayah menelfonku sekitar jam 12 malam ayah memang sering menelfonku jika ayah lagi susah tidur atau lagi sibuk mengerjakan kerjaan proyeknya.
Tuuuut... tuuuut... tuuuuut, HP ku tiba-tiba berbunyi aku cek nama kontak yang menelfonku ternyata ayahku.
"Hallo assalamualaikum... ayah belum tidur? setiap angkat telfon di haruskan beri salam dulu sebelum kena marah sama ayah.
" Kamu sendiri kenapa belum tidur? ayah balik nanya.
" Aku lagi nonton film ayah, ayah sendiri kenapa belum tidur jam segini?
"Ayah tidak bisa tidur soalnya di belakang daun telinga ayah ada benjolan yang tumbuh tapi masi kecil sih. mungkin karena salah bantal kali waktu ayah tidur siang tadi.
"Benjolannya sebesar apa ayah? aku penasaran plus khawatir soal benjolan yang tiba-tiba tumbuh di belakang daun telinga ayahku. karena waktu itu aku baru saja habis operasi pengangkatan tumor jinak di pa*u*a*a
" Cuma sebesar kelereng aja, mungkin karena tadi waktu ayah tidur siang ayah salah bantal. ayah mencoba membuatku tidak terlalu khawatir.
"Kalau begitu besok ayah ke dokter untuk periksa kali ini Kia mohon sama ayah.
Aku meminta ayah untuk cek kedokter sambil memohon-mohon soalnya ayahku paling malas yang namanya berhubungan dengan dokter.
"Iya besok ayah ke dokter. Ayah menyetujui permohonanku.
Setelah ngobrol macem-macem sama ayah sambil menghiburku agar tidak panik akhirnya ayah menyudahi telfonnya.
"Kalau begitu Kia tidur sekarang waktu sudah menunjukan jam 2 pagi nanti besok kamu bangun kesiangan..
" Oke ayah, ayah juga istirahat ya, besok Kia tunggu hasil diaknosa dokter.
"Iya besok ayah telfon lagi. ayahpun menutup telfonnya.
Malam itu aku tidak bisa tidur memikirkan ayahku, namun aku memaksakan memejamkan mataku agar aku tidak merasa ngantuk saat mengurus nenek ku.
Dan keesokan harinya aku menceritakan pada nenek ku soal benjolan yang tiba-tiba tumbuh di belakang daun telinga ayahku.
"Nek.. semalam ayah menelfonku katanya di belakang daun telinganya ada tumbuh benjolan kecil. Nenek ku langsung kaget.
" Benjolan kecil bagaimana? kok bisa? cepat minta ayahmu ke dokter untuk periksaakan, telfon sekarang ayahmu Nenek mau bicara. Nenek ku panik mendengarkan kabar itu dan buru-buru menyuruhku menelfon Ayah.
" Kata ayah nanti ayah telfon setelah dari Rumah Sakit Nek. aku menenangkan Nenek biar tidak panik..
Berselang beberapa jam ayah menelfonku untuk memberitahukan diaknosa dokter soal benjolan kecil itu.
tuuut..tuuut..tuuut, aku langsung mengangkat telfon dari ayah.
"Assalamualaikum ayah... ayah sudah pulang dari Rumah Sakit? apa kata dokter ayah? itu benjolan biasa ajakan? aku memberondong pertanyaan pada ayahku karena aku penasaran dengan hasil diaknosa dari dokter..
"Iya ayah baru pulang dari Rumah Sakit, kata dokter ayah harus ke kota M untuk pemeriksaan lebih lanjut soalnya alat di Rumah Sakit sini tidak lengkap, Ayah menjelaskan kepadaku. oh ya ayahku tinggal di kota B sedangkan di kota M itu peralatan kedokteran sudah lumayan lengkap.
"Jadi ayah mau ke kota M untuk melanjutkan pemeriksaannya? aku semakin khawatir dengan keadaan ayahku.
"Iya rencana ayah minggu depan berangkat ke kota M.
" Kalau begitu setelah ayah sampai ke kota M ayah langsung ke kampung ya Nenek kangen dengan ayah sekalian Nenek mau tau keadaan ayah.
jarak dari kota M ke kampung aku tinggal memakan waktu 6 jam naik mobil.
"Iya ayah usahakan pulang ke kampung setelah semua pemeriksaan ayah beres.
"Apa ayah tidak mau bicara dengan Nenek?
"Nanti saja kalau ayah sampai di kampung baru ayah bicara dengan Nenek, ayah tidak mau Nenekmu menangis dan khawatir kalau dengar suara ayah.
"Baiklah kalau begitu ayah, ayah jaga kesehatan dan pola makan ayah banyak istirahat.
"Siap boss..! kalau gitu ayah tutup dulu ya telfonnya ayah mau minum obat dari dokter, jaga Nenek kamu baik-baik.
ayahku tidak seperti anak dan ayah tapi lebih seperti teman kalau ngobrol lebih banyak ngobrol ngalor ngidul, waktu-waktu tertentu saja kami ngobrol serius dan cuma kata-kataku yang mau di dengarkan ayahku..
Tidak terasa hari yang aku tunggu-tunggu tiba dimana hari ayahku datang ke kota M untuk melanjutkan pemeriksaannya. di kota M ayahku menghabiskan waktu 5 hari untuk bolak balik pemeriksaan karena ayahku di sarankan bertemu dengan salah satu dokter ahli dalam dan ayahku di haruskan menjalani citisken( maaf kalau dalam penyebutanku salah) dan pengambilan sampel dari hidung ( aku gak tau nama kedokterannya) dan juga pengambilan darah untuk di periksa di lab. selama ayahku di kota M adikku yang bernama sandi yang menemani ayahku bertemu dokter dan lain-lain. setelah pemeriksaannya tuntas ayahku di sarankan dengan dokter ahli dalam untuk mengkonsumsi obat herbal racikan cina, ayahku pun membeli ramuan cina yang di sarankan oleh dokter setelah menunggu beberapa hari hasilnya pun keluar dan ayahku di vonis kena Kelenjar Getah bening ayahku berfikir kalau rajin minum obat pasti akan sembuh apalagi saat ini benjolannya masi sekecil kelereng.
akhirnya ayahku pun berangkat ke kampung bersama adikku sandi untuk bertemu dengan Nenek. aku yang menunggu ayahku dengan perasaan cemas khawatir dan merasa takut saat mendengarkan hasil diaknosa dokter. detik, menit, jam rasanya sangat lama berlalu kenapa ayahku tidak kunjung sampai-sampai.
Dan setelah pukul 6 sore ayahku pun sampai di kampung kami semua sudah dari tadi menunggu ayah, akupun menyambut ayah dengan pelukan Nenekku langsung menangis sambil memeluk ayahku..
Setelah aku,Nenek dan keluarga lainnya berkempul di ruang tamu ayahkupun menceritakan awal mulai benjolan itu muncul ceritanya sama dengan yang di ceritakan ayahku lewat telfon malam itu, ayah pun memberitau kami hasil diaknosa ahli dalam dan ahli Cancer yang menangani ayahku.
" Kamu sakit apa nak? tanya Nenekku yang dari tadi penasaran dengan penyakit yang di derita ayahku.
"Aku di vonis dokter kena Kelenjar Getah Bening ma.. ayahku berusaha tidak memperlihatkan ke putusasaannya, ayahku takut Nenek jadi khawatir dan ikutan sakit.
Seketika Nenekku nangis seperti anak kecil. ya alloh kenapa bukan mama aja yang kena penyakit itu nak, mama juga sudah tua buat apa hidup lama-lama di dunia sedangkan kamu masi punya anak yang harus kamu hidupi nak, tangisan Nenekku menangis sejadi-jadinya.
Setalah mendengar cerita soal diaknosa penyakit ayahku hatiku rasanya hancur fikiranku cuma satu ini adalah penyakit dimana penderitanya tidak ada yang selamat, aku menangis sambil memeluk ayahku selama ini cuma ayah dan Nenek yang aku punya karena sejak kecil ibu kami sudah meninggal. ya alloh jangan kau ambil ayahku kami masi butuh ayah, hanya itu yang dari tadi bergumam di hatiku sambil menangis.
singkat cerita ayahku tinggal di kampung untuk beberapa bulan sekalian untuk berobat dan selama ayahku di kampung aku yang mengurus jadwal minum obat dan minum jamu herbalnya tiap 3 kali sehari aku ingin liat ayahku sembuh, aku ingin ada keajaiban dari alloh di setiap doa yang aku minta pada alloh sembuhkan ayahku angkat penyakitnya.
Selama ini ayahku yang paling susah soal minum obat ayah paling malas ketemu dokter dan malas minum obat tapi karena aku yang mengatur jadwal minum obatnya mau tidak mau ayahku harus nurut sebelum aku omelin.
Kami sekeluarga hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mengobati ayah biar cepat sembuh.
Setelah 3 bulan ayah di kampung ayah pun harus balik lagi ke kota B karena ada kerjaan yang harus di selesaikan, terpaksa aku mengijinkan ayahku kembali ke kota B walaupun hati sakit dan tidak rela ayahku jauh dari aku tapi aku harus ikhlas, ayahku pun berjanji akan kembali lagi ke kampung kalau urusan kerjaan sudah selesai.
"Ayah hati-hati ya, obatnya harus rutin di minum jangan ada yang kelewat, jamunya juga harus rutin di minum. aku tau kalau di kota B ada ibu tiriku yang mengurus ayah tapi tidak tau kenapa aku merasa tidak yakin kalau ibu tiriku yang mengurus ayahku.
"Hati-hati ya nak kalau urusanmu sudah selesai kembali lagi ke sini biar mama yang mengurusmu, nenek berpesan pada ayahku sambil nangis. di antara anak-anak dari Nenekku ayahku yang paling di sayang oleh nenekku sampai saudara ayahku yang lain irih pada ayahku.
Tidak terasa 1 tahun sudah berlalu setelah ayahku di vonis mengidap penyakit Kelenjar Getah Bening, dan benjolan yang awalnya sebesar kelereng lalu sebesar bola tennis yang semakin hari semakin membesar dan akhirnya sebesar cangkir, kami semua kaget saat ayahku mengirimkan foto perkembangan benjolannya semakin hari semakin besar dan jangka waktunya sangat cepat kami semua tidak menyangka.
Nenekpun memintaku untuk menelfon ayahku, nenek ingin mendengarkan suara ayahku.
"Kia telfon ayahmu sekarang Nenek ingin bicara pada ayahmu.
"Iya nek.. Aku pun menelfon ayahku.
Tuuut... tuuut..tuuut..
"Assalamualaikum ayah, ini Nenek mau bicara dengan ayah.
"Waalaikumsalam.. iya Kia.
Aku memberikan telfonnya ke Nenek dan lagi-lagi Nenekku menangis seperti anak kecil, Nenekku sangat terpukul dengan keadaan ayahku, Nenek meminta ayahku untuk kembali ke kampung untuk menjalani pengobatan herbal dan ayahku menyetujuinya.
Tidak lama kemudian ayahku pun datang kekampung dan menjalani pengobatan herbal, selama ini ayahku juga menjalani pengobatan medis cuma tidak ada perubahan dokter ahli cancer yang menanginya menyarankan untuk kemoteraphi tapi ayahku menolak selain takut ayahku juga tidak punya uang untuk membayar biaya kemoteraphi karena kemoteraphi belum di tanggung oleh BPJS jadi ayahku merasa berat semua harta yang di miliki ayahku sudah ludes untuk pengobatannya tapi tidak membuahkan hasil. Malah benjolannya semakin membesar dan membesar.
Semakin hari sakit ayah semakin parah selain benjolannya semakin membesar kepalanya juga sering sakit dan sakitnya itu sangat luar biasa sampai wajah ayahku memerah karena menahan sakit dan sakit kepalanya kambuh tidak mengenal waktu kadang sakit kepala ayahku kambuh saat tengah malam di mana semua orang sudah terlelap tidur.
Suatu malam aku menemukan ayahku yang sedang menahan sakit kepalanya tapi ayahku tidak mau membangunkan ku karena ayahku tidak mau mengganggu tidur.
"Kepala ayah sakit lagi? ayah minum obat lagi ya.
Aku mengambil obat penghilang nyeri yang di berikan oleh dokter untuk ayah.
"Tidur saja nak bapak tidak apa-apa, besok kamu harus bangun pagi mengurus obat ayah.
"Tidak ayah.. ayah harus minum obat lagi biar ayah bisa tidur. aku mengambilkan air putih lalu meminumkan obat penahan nyeri. ayah pun nurut dan meminum obat yang aku berikan.
"Ayah sudah minum obat sekarang kamu tidur, ayah sudah agak mendingan.
" Ayah juga harus tidur biar sakit kepalanya sembuh. aku kembali tidur tapi sebenarnya aku tidak tidur aku menunggu ayahku tidur duluan aku takut kalau sakit kepalanya kambuh lagi.
Hari berganti hari tidak terasa ayahku sudah 5 bulan tinggal di kampung dan ayahku harus kembali lagi ke kota B ada sesuatu yang harus di selesaikan, Nenek ku memohon pada ayahku agar ayah tidak usah kembali ke kota B tapi ayah tetap kekeh untuk kembali karena urusan penting yang harus di selesaikannya.
"Tidak usah kembali ke kota B nak kamu berobat di sini saja, air mata nenekku menetes lagi sambil memohon pada ayahku agar tetap tinggal di kampung, tapi ayahku tidak bisa menuruti kemauan nenekku.
"Aku berangkat sebentar saja ma cuma untuk menyelesaikan urusanku di sana nanti pasti aku kembali lagi mama tenang saja, ayahku mengecup kening nenekku agar nenekku percaya dengan janji ayahku.
Ayahku pun berangkat ke Kota B untuk menyelesaikan urusannya. Setelah ayahku berangkat beberapa hari kemudian tiba-tiba Nenek ku sakit demam tinggi, batuk sampai suaranya hilang selama 2 minggu setiap hari ada dokter yang datang kerumah untuk memeriksa keadaan Nenek tapi tidak ada perubahan Nenek tidak mau di Rawat di Rumah Sakit, Nenek tidak betah di rawat di Rumah Sakit.
Dan akhirnya cobaan menghampiri keluarga kami lagi, tepat pukul 2 dini hari Nenekku meninggal tepat di depan mataku, Nenek meninggalkanku sendiri selama ini aku tinggal cuma berdua dengan nenekku karena saudaraku tinggal di daerah yang berbeda, hanya aku yang merawat dan menemani nenek selama ini. kenapa aku di berikan cobaan begitu berat ayahku yang mengidap penyakit mematikan, tiba-tiba nenekku sakit dan meninggal, aku tidak sanggup menghadapi semua ya alloh. aku menangis di depan jasad Nenekku.
Aku menelfon ayahku pada saat itu untuk memberi tahukan kalau Nenek meninggal.
" Assalamualaikum ayah Nenek meninggal, ayahku langsung kaget saat mendengarkan kata-kata ku barusan..
" Apa...! Nenek meninggal? kapan ? ayahku langsung shok.
" Barusan ayah, Nenek meninggal di depan mataku. sambil menangis aku menceritakan pada ayahku sampai suaraku tidak beraturan lagi karena menangis.
" Ayah segera berangkat, kamu yang tenang dan sabar ayah akan datang.. ayahku berangkat bersama dengan saudaranya yang tinggal di kota yang sama bahkan rumahnya pun sangat dekat.
Keesokan harinya ayahku dan saudaranya tiba di kampung pada pukul 5 sore karena perjalanan memakan waktu yang lama. ayahku langsung menghampiri mayat nenekku dan mencium kedua kaki nenekku sambil menangis, ayahku merasa terpukul karena Nenekku memintanya agar tidak kembali ke kota B tapi karena ada urusan yang penting akhirnya ayahku tidak menuruti permintaan nenekku.
Setelah semua keluarga sudah berkumpul mayat Nenekku pun di bawa ke pemakaman untuk di kuburkan, sesampainya di pemakaman ayahku tiba-tiba nyeletuk.
"Ayah tidak lama lagi akan menyusul nenekmu, dan ayah akan di kubur di situ..
Ayahku menunjuk satu tanah kosong yang pas bersebelahan dengan makam nenekku, aku yang mendengar kata-kata itu langsung menangis sejadi-jadinya, aku belum sanggup kalau harus kehilangan orang yang aku sayang lagi ya alloh hatiku sakit dan sedih mendengarkan ucapan ayahku..
Setelah pemakaman seleseai semua keluarga berkumpul di rumah dan mengadakan ta'ziah untuk nenekku selama 7 malam sambil membicarakan soal aku yang harus ikut ayahku ke kota B karena ayahku tidak mengizinkanku tinggal sendiri di rumah Nenek semua keluarga di kampung punya rumah masing-masing.
Setelah selesai malam ta'ziah Nenekku yang ke 7 besoknya aku, ayahku, dan adik ku Rani yang tinggal sekota dengan ayahku berangkat ke kota B dan akan memulai hidup baru di kota B, dan setalah aku sampai di Kota B aku di berikan pekerjaan oleh pamanku saudara dari ayahku untuk bekerja di salah 1 perusahaannya di seberang kota B aku di utus untuk mengawasi karyawan yang bekerja di perusahaan itu. dan saat itu aku tidak tinggal bersama ayahku melainkan aku tinggal di seberang pulau kota B dan harus menyeberangi laut jika mau ke kota B, nama Pulaunya pulau P. tapi semua aku syukuri karena aku masi bisa dapat kerja untuk memenuhi kebutuhanku.
Dari bulan kebulan tahun ketahun semakin hari aku semakin betah kerja dan makin betah tinggal di pulau P, Hari-hariku aku habiskan di pulau P jika aku dapat libur aku pulang untuk menemui ayahku dan melihat keadaannya tapi jika aku tidak pulang aku menelfon untuk menanyakan keadaan ayahku.
Suatu ketika aku mendapatkan kabar yang sangat tidak mengenakan dan bikin sakit hati, adikku yang dari ibu tiriku berantem dengan anak sepupuku dan ayahku meminta ibu tiriku untuk memberi tahukan sepupuku agar menegur anaknya agar tidak mengganggu lagi adikku dan ternyata sepupuku tidak menerima, dan malah sepupu2ku mengajak berantem ibu tiri dan ayahku dan semua sumpah serapah keluar dari mulut sepupuku itu bahkan soal ayahku sering pinjam mobilnya untuk mengantar ayahku kerumah sakit di ungkit semua, memang sih selama ini ayahku kalau mau di antar kerumah sakit selalu pinjam mobil merek soalx mobil ayahku sudah di jual untuk pengobatan penyakit ayahku, semua kata-kata kasar di lontarkan ke ayahku, ayahku cuma bisa diam karena ayahku sudah tidak bisa lagi terlalu bergerak sejak nenekku meninggal kesehatan ayahku semakin hari semakin drop dan semakin kurus. aku yang mendengar cerita itu dari ayahku sangat sakit rasanya saat itu aku ingin keluar dari perusahaan tempat aku kerja yang dirikan ayah dari sepupuku itu, cuma ayah melarangku untuk berhenti karena ayahku kasihan dengan pamanku.
Setelah kejadian itu ayahku tidak pernah lagi meminjam mobil sepupuku itu ayahku lebih baik naik taksi kalau mau kerumah sakit, dan sejak itu juga ayahku lebih memilih di rawat inap di Rumah Sakit berlama-lama yang penting ayahku tidak bertemu dengan sepupu2ku itu ayahku sangat sakit hati pada mereka.
Waktu itu aku kebetulan libur dan pulang ke kota B tiba-tiba ayahku masuk Rumah Sakit lagi karena drop jadi aku yang menemani ayahku selama 1 minggu di Rumah Sakit aku meminta cuti dari tempat kerja untuk menemani ayahku, dan setiap hari aku dan ayah bercerita banyak dan lagi-lagi ayah menceritakan kejadian itu lagi kepadaku.
Awalnya kami biasa saja mebahas soal kejadian itu, dan yang membuat tangisanku pecah saat ayahku mengatakan.
"Suatu hari nanti jika kalian punya uang yang berlebih cuma satu pesan ayah usahakan beli mobil walaupun itu mobil bekas karena kita tidak di hargai kalau tidak punya mobil, kita di ungkit-ungkit kalau kita pinjam mobil orang, dan yang melakukan itu semua bukan orang lain tapi keluarga sendiri.
Seketika aku melihat air mata ayahku jatuh. selama ini cuma 2 kali aku melihat ayahku menangis saat nenekku meninggal dan sekarang saat ayahku menceritakan kejadian waktu itu, hati rasanya sakit, hancur, remuk keluarga sendiri begitu tega pada ayahku yang sedang sakit.
"Satu lagi pesan ayah suatu hari nanti jika ayah meninggal jangan sampai mayat ayah di naikkan ke dalam mobil mereka kalau memang kalian tidak bisa menyewa ambulans bawa mayat ayah pakai angkot ayah tidak mau mayat ayah di bawa dengan mobil mereka.
Di situ tangisanku pecah sambil memeluk ayahku, sesakit itu kah hati ayah pada mereka, mereka sangat keterlaluan pada ayahku, mereka begitu jahat pada ayahku
Setalah melihat ayahku menangis aku berjanji tidak boleh lagi ada yang membuat ayahku menangis, ayahku harus selalu bahagia dan tertawa seperti saat ayah masi sehat, setiap hari aku berusaha menghibur ayah selama di rumah sakit membuat ayah tertawa dengan cerita-cerita lucu.
Akhirnya ayah sudah bisa pulang ke rumah karena kondisinya sudah agak membaik dan akupun bisa kembali bekerja walaupun masi ada rasa sakit hati yang tersimpan mengingat perilaku mereka pada ayahku tapi aku berusaha untuk sabar dan kembalikan lagi pada alloh mungkin alloh punya sesuatu buat kami kelak.
Akupun kembali menjalankan hari-hari ku seperti biasa di pulau P bekerja bekerja dan bekerja aku harus giat bekerja agar aku bisa memenuhi kebutuhan hidup ku, aku tidak mau menyusahkan orang.
Tuuut.. tuuut.. tuuut.. Hp ku berbunyi, aku mengecek siapa yang menelfonku, ternyata adikku Rani..
"Hallo.. ada apa Ran?
"Kak Kia bisa pulang tidak hari ini ayah mau di kemoteraphi, Rani memberi tahukan kalau hari ini ayah mau di Kemoteraphi.
" Boleh tidak kalau kalian saja yang dampingi ayah untuk Kemo soalx kerjaan Kakak lagi numpuk ini kalau kakak ada libur baru kakak pulang. aku meminta Rani untuk mewakiliku untuk mendampingi ayahku di kemo.
"Ouh ya sudah kak Kia tidak usah pulang biar kami saja yang menemani ayah kemoteraphi, minta doanya saja ya kak biar kemoteraphi ayah berjalan dengan lancar.
" Pasti kakak doakan yang terbaik buat ayah, jaga ayah baik-baik ya, aku berpesan pada Rani.
"Iya kak pasti aku jaga ayah dengan baik. Rani pun menutup telfonnya.
Akhirnya ayah pun mau untuk menjalankan kemoteraphi, ini kemoteraphi yang pertama buat ayah semoga berjalan dengan lancar aamiin.
Sambil kerja aku memikirkan ayahku yang sedang menjalankan kemoteraphi dengan perasaan yang deg degan, khawatir dan cemas. sesekali aku tidak fokus dalam pekerjaan fikiranku bercabang antara ayahku dan pekerjaan.
tiba-tiba suarah HP mengejutkan ku.. dengan cepat aku menerima panggilan dari HPku
"Hallo.. bagaimana kemoteraphi ayah?, keadaannya bagai mana? Aku bertanya pada Rani seperti kereta api tidak ada jedah.
"Alhamdulillah kemoteraphi ayah sukses kak, kondisi ayah juga stabil dan baik-baik saja. Rani menjawab semua pertanyaan Kia.
"Alhamdulillah.. kakak legah sekarang akhirnya ayah selesai di kemoteraphi, nanti kalau kakak libur kakak akan pulang menjenguk ayah. titip salam buat ayah ya.
"Iya kak nanti Rani sampaikan ke ayah. Rani pun menutup telfonnya.
Akhirnya aku bisa bekerja dengan tenang semoga setelah kemoteraphi ini ayah akan lebih sehat lagi dan segera sembuh aamiin, aku ingin melihat ayahku sehat seperti dulu, aku ingin melihat ayahku tertawa bahagia lagi.
Setelah 4 hari habis kemoteraphi Aku mendapat telfon dari Adikku Sandi, Sandi juga tinggal di Kota B bersama ayah.
"Hallo kak Kia.. apa kak Kia bisa pulang sekarang ayah masuk Rumah Sakit lagi ayah drop sejak habis kemoteraphi ayah tidak mau makan dan matanya tidak mau terbuka..
" Kok bisa begitu waktu itu kata Rani ayah baik-baik saja waktu habis di kemoteraphi kenapa tiba- tiba jadi drop.
" Iya kak waktu habis kemoteraphi ayah baik- baik saja hari ke 3 tiba- tiba ayah drop dan gak mau makan, kak Kia pulang dulu ya kami semua sudah ada di Rumah Sakit.
"Iya kakak pulang sekarang. aku menutup telfonku dan bergegas untuk pulang, di perjalanan hatiku tidak karuan apa yang terjadi pada ayahku, semoga ayah baik-baik saja aku berfirasat tidak baik, ayah tunggu Kia ayah.
Sesampainya aku di lobi Rumah Sakit aku berlari menuju ruang UGD aku melihat ayahku terbaring lemah di salah satu tempat tidur UGD dengan alat yang menempel pada tubuhnya, di hadapanku terpampang alat detak jantung yang menunjukan detak jantung ayahku semakin lama semakin melemah.
Aku merasakan ayahku menggengam erat tanganku dengan mata tertutup, aku mencoba untuk bekomunikasi pada ayahku.
"Ayah ini Kia.. bangun ayah, aku berbisik di telinga ayahku aku berharap ayahku membuka mata agar bisa melihatku walaupun sebentar, tapi ayah tidak membuka mata sedikit pun semakin lama detak jantung ayahku melemah. para perawat berusaha untuk menstabilkan detak jantung ayahku.
Dan tiba-tiba alat itu berbunyi
Ti.i.i.i.i.i.i.i.i.i.i.t
Itu artinya ayahku sudah tidak ada, ayahku sudah di panggil yang kuasa.
Aku memeluk ayahku dengan erat dan menangis sejadi-jadinya aku tidak percaya kalau ayahku sudah pergi untuk selamanya, ayahku sudah meninggalkan ku untuk selamanya tidak ada lagi yang menelfonku saat tengah malam, tidak ada teman ngobrol ku yang seperti teman, tidak ada lagi yang menemaniku bercerita hal yang lucu.
Tepat 2 tahun kepergian Nenekku, ayahku menyusul Nenek.
Pesan terakhir ayahku sudah aku kabulkan tidak menggunakan mobil sepupuku untuk membawa mayat ayahku, cuma 1 yang tidak terkabulkan yaitu di kuburkan di sebelah Nenekku soalnya kami anak-anaknya berada di kota B dan kami sangat sulit untuk pergi berziarah jika di kuburkan di kampung.
Ayah sudah tenang di surga, ayah tidak meraskan sakit lagi, ayah sudah tidak sakit hati lagi melihat tingkah laku mereka, ayah sudah bersama Nenek dan Ibu di sana Selamat jalan ayah Semoga Ayah tenang di sana dan di tempatkan di Surga yang paling indah...
Ternyata air mata yang menetes di pipi ayahku waktu itu, itu adalah
AIR MATA TERAKHIR AYAHKU
END