Malam yang terasa sunyi, bunyi gemericik air hujan mendominasi malam ini. Dari balik jendela dapat kulihat jalanan yang sudah mulai lenggang, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas jalan. Toko dan gedung yang biasanya masih menyala cahaya lampunya, namun itu tampaknya tidak berlaku malam ini.
"Huh dingin sekali," ucapku. Aku berjalan menuju tempat tidurku.
Aku Andira, umurku 24 tahun. Aku merupakan anak rantau, aku terpaksa meninggalkan rumah orang tuaku untuk mencapai mimpiku. Ya, aku merupakan mahasiswa kedokteran dari salah satu kampus di kota ini. Aku tinggal disebuah apartemen dekat kampusku.
Aku merebahkan diri diatas tempat tidurku, menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhku. Ya, malam ini sangat dingin dan entah mengapa aku merasa malam ini sangatlah lama. Lihatlah jam dinding baru menunjukan pukul 20.30, padahal aku mengira ini sudah pukul 22.00. Aku memejamkan mataku, membiarkan dunia mimpi membawaku menjelajah. Tak lama aku pun merasa mengantuk dan akhirnya tertidur.
"Andira," panggil seseorang.
Mendengar namaku dipanggil, aku pun terbangun dan terduduk. Tanganku bergerak menghidupkan lampu tidur disebelahku. Pintu kamar terbuka perlahan, aku beranjak dan berjalan mendekati pintu dan ku buka pintu lebih lebar. Namun, tidak ada orang, aku menengok ke kanan dan kiri, namun tak ku temukan siapapun. Aku pun berbalik dan...
"Siapa kamu ?!" jeritku terkaget.
Seorang wanita berdiri tepat di belakangku, hanya menyisakan beberapa centimeter saja. Ia mengenakan gaun hitam panjang, kulitnya putih pucat, irisnya merah menyala dengan sorot mata yang tajam, dan.. wajahnya sangat mirip denganku.
Wanita itu melangkah mendekatiku, reflek aku pun mundur ke belakang. Keringat dingin membasahi tubuhku yang bergetar hebat, tidak dapat ku sembunyikan aku sungguh sangat takut.
Ia semakin mendekat, sedangkan diriku sudah menempel dipintu, aku semakin terhimpit, dia semakin mendekat. Aku mencoba berteriak, tapi kenapa suaraku tidak keluar ?. Mulutku hanya bergerak tanpa mengeluarkan suara, bahkan sekarang tubuhku tidak dapat bergerak, udara dingin sangat terasa menyengat kulit dan tubuhku.
Aku menangis, menangis dalam diam, dengan Isak yang tertahan, tubuhku semakin bergetar. Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin menggenggam tanganku. Dia.. dia menggenggam tanganku. Aku ingin memberontak namun tidak bisa. Suatu cahaya keluar dari iris merah matanya dan mengenai diriku.
"Aowww..." jeritku
Silau, panas, dan sakit itulah yang kurasakan ketika cahaya itu mengenai diriku. Perlahan cahaya itu memudar dan kini aku dapat melihat, melihat sesuatu yang tak pernah aku sangka dalam hidupku.
Di sana, terdapat dua orang yang tidak lain adalah ayah dan ibuku. Mereka bersama dengan dua orang bayi perempuan dan kurasa salah satunya adalah diriku. Tapi mengapa wajah kita berdua sama ?, Apakah kita saudara ?.
"Apa ini ?" tanyaku. Namun mulutku hanya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Air mata yang sedari tadi hanya menggenang di pelupuk mataku akhirnya meluncur.
Di sana dapat aku lihat, ayah merebut paksa salah satu dari bayi itu dan membawa bayi tersebut ke balkon, bayi tersebut sudah menangis dengan kencang. Dan yang sangat mengejutkan diriku adalah...
"Tidak tolong jangan lakukan itu, dia anakmu, darah dagingmu," ucap ibu lirih. Air matanya meluncur deras.
"Tolong ampuni dia, aku janji, aku janji aku merawatnya dan tidak akan membongkar identitasnya. Tapi tolong, tolong ampuni putriku," sambung ibu.
"Membongkar identitas ?, bahkan tanpa kau bongkar identitasnya, semua orang akan tau," bentak ayah.
"Aku, aku akan membawanya pergi dari sini, atau, atau aku akan menitipkannya pada teman atau kakakku. Tapi tolong, tolong jangan lakukan itu," ucap Ibu.
"Kau lebih baik mati, aku tidak sudi memiliki anak yang cacat sepertimu," ucap ayah tanpa dosa, ia tersenyum miring.
"TIDAK... jangan lakukan itu, aku mohon jangan," ucap ibu semakin histeris.
Ibu mencoba bangun namun gagal, kakinya sebelumnya sudah dipukul oleh ayah menggunakan tongkat besi, hingga terdengar bunyi nyaring. Bukan hanya kaki namun juga tangannya.
"Siapa suruh dirimu cacat, kau kira aku akan sudi menerimamu sebaga anakku. Heh jangan berharap lebih. Kau hanya akan membawa kesialan dalam hidupku." ayah langsung menjatuhkan bayi yang sudah menangis sedari tadi tersebut dari balkon.
Bruk...
"TIDAK..." teriak ibu histeris.
Ayah meninggalkan kamar begitu saja dan pergi entah kemana. Ibu menangis sejadi-jadinya, ia berteriak histeris dan memanggil nama "Andisa" terus menerus. Sedangkan bayi itu, Andisa, ia sudah tiada, dengan tubuh berlumur darah dan tulang yang pastinya sudah patah. Ia tiada meninggalkan ibu, ayah, dunia dan aku, aku yang ternyata adalah saudaranya, saudara kembarnya.
"Dan kini saatnya dirimu..." ucap lirih wanita disebelahku yang ternyata tidak lain adalah saudara kembarku, Andisa.
Andisa mendekat ke arahku, sorot matanya yang tajam dengan manik merah menyalanya menatapku dengan tajam. Aku menggeleng, langkahku semakin berat. Aku berteriak, namun tidak mengeluarkan suara hanya mulutku yang bergerak. Tubuhku terasa kaku dan hawa dingin kembali menyerangku. Dia mendekatiku semakin dekat dan...
"TIDAK..." Jeritku.
Aku tersentak dan langsung membuka mataku, nafasku memburu cepat. Ku perhatikan diriku, aku berada di kasurku. Lalu tadi itu apa ?.
Entah dorongan dari mana, aku beranjak dan berjalan mendekati jendela kamarku. Ku buka jendela itu, hawa dingin menyeruak masuk, hujan masih mengguyur kota tempat tinggalku.
Samar-samar aku melihat seseorang berada di luar, tepatnya di taman yang dapat menghadap ke kamarku. Ku pertajam penglihatanku, dia sosok yang sama, dengan pakaian dan payung hitamnya. Ia berbalik menghadap ke arahku, mata merahnya menatap tajam diriku, kemudian senyum tipis terukir di wajah pucatnya. Ia berbalik dan berjalan, perlahan namun pasti sosoknya pun menghilang.
"Andisa," panggilku lirih dengan air mata yang sudah meluncur.
~ END ~