Tiga mangkuk kosong bekas seblak masih berada di atas mejaku. Seblak komplit langgananku dengannya, sangat pedas dan nikmat. Bibirku memerah, wajahku pun sama—tak peduli apa yang akan terjadi pada perutku nanti. Dadaku terasa sesak, aku membutuhkan sesuatu yang bisa meredamkannya. Rasa pedas dari seblak itu kurasa bisa mengalahkan rasa sakit. Tapi nyatanya rasa itu malah semakin membelenggu.
"Apa mbak baik-baik saja?" tanya pemilik kedai yang juga sebagai pelayan di sana.
"Saya baik-baik saja. Tolong berikan satu mangkuk level tertinggi lagi."
"Tapi, Mbak sudah makan tiga porsi..."
"Jangan takut, saya akan membayarnya dan saya akan baik-baik saja."
"Tapi, Mbak..."
Aku terdiam, bibirku masih memerah. Rasa pedas belum juga hilang meskipun segelas susu telah kuteguk. Aku menatap pemilik kedai itu, ia kemudian salah tingkah dan langsung pergi meninggalkanku. Tangisku mulai pecah ketika aku mengingat kejadian semalam.
Di sini, di kedai seblak langgananku dengannya, sebagai tempat mengungkap rasa sekaligus tempat perpisahanku dengannya. Hubungan yang telah terajut satu semester akhirnya kandas. Aku tahu jika dia masih mencintaiku, sama halnya denganku yang masih mencintainya. Bahkan mencintainya terlalu dalam hingga enggan berpisah.
"Ini seblaknya, Mbak," ucap pemilik kedai tadi seraya menyodorkan seporsi seblak level tinggi di depanku.
Aku menatap mangkuk itu cukup lama. Kenanganku dengannya kembali terngiang. Kami sama-sama menyukai makanan khas Bandung itu. Dan gara-gara makanan itu, kami bisa bertemu dan memiliki rasa satu sama lain.
***
Rasa pedasnya tak membuat luka di hatiku membaik, tapi malah membuat perutku memburuk. Tak terhitung sudah berapa kali aku bolak-balik kamar mandi. Tak ada yang peduli, bahkan mama dan papaku pun acuh meskipun mereka juga mengetahui kondisiku. Aku semakin terluka.
Kubuka kotak obat, kucari dengan cepat obat diare yang selalu tersedia di sana. Kutelan empat pil sekaligus. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti.
Aku sangat lelah menjalaninya. Kehidupanku sejak kecil benar-benar buruk. Tak ada yang peduli sama sekali jikalau aku mati sekalipun. Mereka hanya peduli dengan diri masing-masing. Termasuk orangtuaku yang begitu sibuk mencari uang untuk pengobatan adikku hingga akhirnya aku diacuhkan.
Dia, lelaki yang ku anggap sebagai pemberi kebahagiaan tetapi nyatanya dia sama seperti yang lain. Tuhan...Aku lelah, izinkan aku beristirahat sejenak dan merasakan secuil kebahagiaan.
Senja kala itu tak indah seperti biasanya. Semburat warna merah tak terlihat di langit sore itu. Awan hitam menghalanginya. Hujan pun turun tak lama kemudian. Begitu deras hingga suara air infus yang jatuh tak terdengar. Aku tergeletak di ranjang rumah sakit. Pemilik kedai seblak yang rumahnya tak jauh dari rumahku melihatku tergeletak di jalanan saat aku hendak pergi ke dokter.
"Bagaimana kondisimu?" tanyanya. Kulihat raut wajahnya yang cemas. Raut wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku senang, akhirnya ada yang mencemaskanku.
"Jauh lebih baik, terima kasih...." ucapku lirih. Perutku masih sakit, wajahku mungkin lebih pucat dari sebelumnya. Lemas tak berdaya tubuhku kini.
"Dokter bilang kamu harus dirawat dua atau tiga hari."
Lelaki itu terlihat baik, dia masih setia menemaniku hingga keluargaku ada yang datang menggantikannya. Tapi itu tak mungkin, tak akan ada yang datang meski hanya sekadar menjenguk.
"Pulanglah, aku akan baik-baik saja meskipun sendiri...." Entah sudah berapa kali aku menyuruhnya untuk pulang. Bahkan ini sudah menunjukkan jam tujuh lewat setengahnya.
"Tapi keluargamu belum datang. Aku akan pulang jika sudah ada salah satu dari mereka datang menemanimu." Dia masih angkuh dan berdiam di tempat duduknya.
"Tidak akan ada yang datang! Tak ada yang peduli denganku! Semuanya bajingan!" Aku berteriak hingga suaranya memenuhi ruangan yang tak begitu luas itu. Tangisku pun memecah, aku terisak pilu.
Dia diam tak berkata apa-apa, mungkin terkejut karena diriku yang selalu terlihat lembut dan sopan, tapi kala itu berteriak kasar. Dan akhirnya dia mengalah, kakinya melangkah meninggalkanku yang masih terisak.
***
Meskipun aku telah merasakan akibatnya, aku tak pernah berhenti menyiksa diriku dengan seblak pedas. Aku hanya ingin meluapkan kesedihan dan mencoba menenangkan diri dengan caraku sendiri.
Acap kali melewati kedai itu, aku tak pernah menolak untuk singgah. Dua atau tiga porsi selalu kuhabiskan. Tak peduli jika aku terbaring lagi di rumah sakit.
Aku mulai lelah dengan hidup yang direncanakan-Nya. Tak pernah indah, bahkan secuil kebahagiaan pun tak pernah kurasa. Orangtua tak mendukung dan selalu saja bersikap acuh. Lelaki yang kucinta pun malah turut melukai hatiku.
Dulu kita begitu dekat, sehari tak bertemu pun rindu membuncah. Dan sekarang? Entah sudah berapa bulan kita tak pernah bertemu lagi sejak hari itu. Aku selalu di sini, di tempat yang sama seperti dulu. Berharap seperti orang bodoh. Aku hanya ingin menatapmu sekali lagi sebelum aku melupakan semua tentangmu.
"Mbak...." seru seseorang terdengar jelas, aku pun menoleh.
Gadis cantik yang sepertinya umurnya tak jauh berbeda denganku. Imut nan lugu. Aku bertanya-tanya dalam hati.
"Boleh aku bergabung?" tanyanya sopan sembari menatap kursi kosong di depanku. Aku mengangguk menyetujuinya. Ia letakkan tas warna hitamnya itu di atas meja, lalu dia menatapku dan tersenyum. Aku kembali bertanya-tanya.
"Mbak Ayumi Haruka, kan?" Dia memastikan namaku, entah dari mana dia mengetahuinya. Dia mengulurkan tangannya dan berkata, "Perkenalkan, aku Naomi. Adiknya Kak Hiko...."
Aku terhenyak. Aku kembali teringat dengan Hiko, lelaki yang sempat menemani dan mengisi hatiku yang hampa.
"Ada apa? Kenapa datang menemuiku?"
Dia tersenyum getir dan terlihat sebisa mungkin menahan air mata yang akan jatuh. Dia menggenggam kedua tanganku, air mata yang tadinya ia bendung pun terjatuh. Dia terisak.
"Kak Hiko sangat mencintaimu...." ucapnya di sela isakan. Dia memberiku secarik kertas putih yang dilipat menjadi tiga. Ku buka tanpa basa basi. Tulisannya sangat kukenal, tulisan Hiko.
Kalimat demi kalimatnya ku baca hingga akhir. Air mataku turun tanpa permisi. Aku tak bisa menahannya, aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Hiko, dia pergi bukan karena tak mencintaiku lagi. Dia memutuskanku terlebih dahulu sebelum kanker itu mengalahkannya, dan berharap supaya aku membenci dan dengan mudah melupakannya.
"Hiko...." Isakanku semakin menjadi-jadi tatkala kepalaku bersandar di nisannya—nisan yang terukir namanya. Buket bunga segar yang dibawa tadi telah kusandarkan di makam. Kecupan bertubi-tubi kuberikan. Kudekap erat nisanmu.
Aku enggan beranjak. Bolehkah aku menetap? Sungguh, aku tak mau jauh darinya. Aku akan terus memohon kepada Tuhan supaya lekas mengambil nyawaku dan berjumpa lagi denganmu, wahai lelaki yang memang mengerti diriku.
Hidup yang pilu seperti ini untuk apa dilanjutkan?
Tuhan...kumohon....
Biarkan aku merasakan kebahagiaan meski hanya secuil.
.
.
.
🙂🙂🙂
Jangan Plagiat, Ya!