Ini adalah kelanjutan dari cerita "Cinta dalam Gengsi".
Kedatangan Beauxbatons dan Durmstrang
Pagi itu, suasana Hogwarts berubah total. Di atas langit, sebuah kereta kuda raksasa, yang ditarik oleh Abraxan, kuda bersayap, mendarat dengan anggun di halaman sekolah. Pintu kereta terbuka, dan para siswi dari Beauxbatons Academy of Magic melangkah keluar, mengenakan jubah sutra biru muda yang indah. Di antara mereka, seorang gadis berambut perak yang memancarkan aura luar biasa, Fleur Delacour, berjalan paling depan.
Sementara itu, dari Danau Hitam, sebuah kapal raksasa muncul ke permukaan. Kapal itu milik Durmstrang Institute, dan para siswanya keluar dengan jubah tebal dan bulu, memberi kesan misterius. Di barisan depan, sosok kekar dan berwajah garang, Viktor Krum, pemain Quidditch terkenal, menjadi pusat perhatian.
Di tengah keramaian, Y/N dan Draco berdiri berdampingan di halaman. Mereka tidak lagi menyembunyikan diri, walau masih menjaga jarak. Y/N melihat Harry yang tampak kesal saat Fred dan George berusaha keras memasukkan nama mereka ke dalam Piala Api menggunakan Ramuan Penuaan, yang berakhir dengan janggut putih yang panjang dan lebat.
"Mereka nggak akan pernah berubah," bisik Y/N, terkekeh.
"Memang begitu," jawab Draco. "Tapi setidaknya mereka bisa menghibur."
Tiba-tiba, seorang siswi Slytherin mendekati Y/N. "Y/N, kamu udah punya pasangan buat Pesta Dansa Yule?" tanyanya. "Anak-anak dari asrama kita pada nanya, mereka mau ngajak kamu."
Y/N terkejut. Ia melirik Draco, yang kini memasang wajah dingin. "Aku... aku belum tahu," jawab Y/N, merasa canggung. Siswi itu tersenyum dan pergi.
Draco menatap Y/N dengan tajam. "Lo mau pergi sama salah satu dari mereka?" tanyanya dengan nada penuh cemburu.
"Enggak," jawab Y/N. "Aku cuma... gak mau kelihatan aneh kalau nolak mereka."
Harry dan Piala Api
Malam harinya, di Aula Besar, Dumbledore mengumumkan para juara. Semua mata tertuju pada Piala Api. Pertama, ia memanggil nama Fleur Delacour dari Beauxbatons. Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Lalu, nama Viktor Krum dari Durmstrang. Para siswa Durmstrang bersorak-sorai. Terakhir, nama Cedric Diggory dari Hogwarts. Sorakan para siswa Hogwarts membuat ruangan bergetar.
Namun, tiba-tiba, Piala Api menyala lagi. Sepotong perkamen melayang keluar, dan Dumbledore membacanya. "Harry Potter."
Seluruh Aula Besar terdiam. Harry terlihat sangat bingung dan ketakutan. Y/N melihat mata Harry, dan ia tahu kakaknya tidak ingin berpartisipasi. Ia tahu ini adalah konspirasi, dan hatinya hancur melihat Harry harus menghadapi bahaya ini.
Di tengah kekacauan, Y/N mencari-cari keberadaan Draco. Draco berdiri di barisan depan Slytherin, matanya menatap Harry dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak terlihat senang, tidak juga mencibir. Hanya ada ekspresi serius yang tidak biasa. Seolah-olah, ia juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Perasaan Y/N pada Draco semakin kuat. Di tengah kekacauan Turnamen Triwizard, ia menyadari bahwa satu-satunya tempat yang aman baginya adalah di sisi Draco, di mana mereka bisa saling melindungi dari bahaya yang mengintai.
Turnamen Triwizard: Tugas-tugas yang Menegangkan
Malam pengumuman juara berakhir dengan kegaduhan. Nama Harry Potter yang keluar dari Piala Api menciptakan gelombang kebingungan dan kemarahan. Terlebih, Y/N tahu bahwa Harry sama sekali tidak ingin berpartisipasi, namun ikatan sihir dari Piala Api membuatnya terpaksa ikut serta. Hal ini membuat Y/N semakin protektif terhadap kakaknya.
Tugas Pertama: Naga dan Telur Emas
Tugas pertama mengharuskan para juara mengambil telur emas yang dijaga oleh naga. Y/N melihat Harry yang tampak sangat khawatir, begitu pula para juara lainnya. Ia tidak tahu bagaimana Harry bisa melewati ini, tapi ia tahu Harry adalah petarung sejati. Di sisi lain, ia melihat Cedric Diggory berhadapan dengan naga. Meskipun asrama mereka sering berkonflik, Y/N merasa ada simpati yang kuat terhadap Cedric.
Draco, yang kini lebih sering terlihat bersama Y/N, tidak lagi mencibir Harry di depan umum. Ia hanya mengamati dengan cemas. "Tugas ini gila," bisik Draco pada Y/N. "Gue gak pernah liat naga seganas itu."
"Aku tahu," jawab Y/N. "Aku khawatir sama Harry."
Tugas Kedua: Dasar Danau dan Sandera Berharga
Tugas kedua diadakan di Danau Hogwarts. Para juara harus menyelamatkan seseorang yang "berharga" bagi mereka dari dasar danau yang dijaga oleh para merpeople. Harry harus menyelamatkan Ron, sementara Cedric harus menyelamatkan Cho Chang. Y/N menyaksikan dari tepi danau, jantungnya berdegup kencang. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya.
Di tengah keramaian itu, Draco berdiri di samping Y/N, tidak jauh dari kerumunan siswa Slytherin. Y/N tahu ia tidak sendirian. Kehadiran Draco terasa seperti jangkar di tengah badai.
"Gue harap mereka semua baik-baik aja," bisik Y/N.
"Mereka akan baik-baik aja," jawab Draco, suaranya meyakinkan. "Mereka itu kuat."
Pesta Dansa Yule
Pesta Dansa Yule adalah acara yang paling dinanti-nanti. Y/N, yang biasanya tidak terlalu peduli dengan acara seperti ini, merasa tertekan karena banyak siswa Slytherin yang mengajaknya berdansa. Namun, ia dengan halus menolak mereka semua, karena ia sudah punya niat untuk pergi bersama Draco.
Malam itu, Y/N mengenakan gaun yang indah, dan ia menunggu Draco. Saat Draco datang, ia terlihat gagah dalam jubah hitamnya. Mereka berdua berdansa, dan di tengah keramaian, mereka hanya fokus pada satu sama lain. Y/N melihat Viktor Krum yang mengajak Hermione berdansa, dan ia merasa senang melihat sahabatnya bahagia. Namun, ia juga tahu, perasaannya pada Draco jauh lebih spesial, lebih kuat dari apa pun.
Tugas Ketiga: Labirin Berbahaya
Tugas ketiga adalah melewati labirin yang penuh jebakan. Y/N menyaksikan Harry dan Cedric Diggory masuk ke dalam labirin. Ia merasa ada firasat buruk. Ketika Harry berhasil keluar dari labirin dengan Piala Triwizard, ia membawa sesuatu yang tidak terduga—tubuh Cedric yang tak bernyawa.
Seluruh sekolah terkejut dan hancur. Y/N berlari ke arah Harry, memeluk kakaknya. Ia melihat Draco di sisi lain, wajahnya pucat. Di tengah kesedihan itu, Y/N tahu bahwa Voldemort sudah kembali.
Meskipun turnamen berakhir tragis, cinta antara Y/N dan Draco justru semakin kuat. Mereka menyadari bahwa hidup itu singkat, dan mereka tidak punya waktu untuk gengsi. Mereka harus berjuang untuk cinta mereka, karena itu adalah satu-satunya hal yang nyata di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti dunia sihir.