Seorang suami dengan dua anak yang masih sangat belia mencoba tetap berjuang untuk menata hati serta mengisi hari.
Masih terjebak dalam satu kondisi yang selalu berlatar belakang ekonomi.
Ini adalah kisah nyata perjalanan hidupku yang ingin aku tuliskan sebagai pengingat di masa yang akan datang.
Kisah seorang kepala rumah tangga yang tidak mendapatkan tempat di manapun kakinya dipijak.
Berjuang sekuat tenaga namun berujung pada suatu kehampaan.
Bertarung segigih bak para ksatria namun hancur terbelenggu, terkikis oleh liciknya sang iblis yang tak kasat mata.
Depok, 16 September 2020
Serpihan keramik putih
"Sudah..., sana pergi!" ini sudah larut,
ucap Amanda seraya menghampiri. meraih si bungsu Tania yang masih dalam keadaan setengah tertidur dalam gendonganku.
Aku melepaskan tubuh si bungsu yang masih erat memelukku.
Masih terngiang ucapan Tania si bungsu beberapa menit sebelumnya
" Papa nanti pergi kalau Tania sudah tidur saja, ya?"
matanya polos menatapku sambil tersenyum.
Oh, Tuhan! " hatiku luruh.
Ku peluk Tania lebih erat, seakan si bungsu menyadari serta merta membalas dengan aqmerapatkan kepalanya di pundakku.
Namun tak lama aku harus merelakan Amanda merengkuhnya dariku untuk membawanya ke peraduan.
Tak lepas mata ini mengiringi si bungsu Tania memasuki kamar.
Pandanganku kini beralih pada sang sulung yang mulai merapatkan tubuhnya di sisiku. Mulutnya terdiam, matanya terus terpejam seolah menahan perasaan yang amat dalam.
AKu usap rambutnya seraya mencium kepala sang sulung yang terisak. Berbeda dengan si bungsu yang lebih dominan mewarisi sifat serta sikapku yang mampu menekan perasaan.
Tampak dengan jelas Dennis tak dapat menahan lebih lama lagi perasaan yang bergemuruh..
Setengah emosi, tumpahlah perasaan yang sedari tadi ia coba untuk menahannya dan..., "pokoknya aku ikut papa!"
rajuk sang sulung sambil menarik - narik ujung jaket yang tengah aku kenakan.
"Dennis mau ikut sama papa..., Aku ngga mau adi sini, maunya sama papa saja!"
keluarlah semua perasaan yang membuncah pada diri Dennis.
Perasaan marah, kecewa, dan putus asa menggerogoti setiap nafas yang ku hirup.
Aku mencoba menguatkan bathin untuk tetap tegar
Dengan nada lirih ku berkata,
"Dennis kan besok sekolah, jadi biar nanti papa datang lagi."
Sedikit merajuk namun ku tambahkan,
"kalau kamu sedang libur seperti hari ini".
ucapku menenangkan dan memberi sedikit pengertian.
Terlihat matanya berkaca-kaca. Sudut matanya terdapat titik cair satu asa. menyiratkan penolakan akan saranku.
Baginya aku adalah segalanya.
Selama ini aku yang merawat dan begitu dekat dengan putra sulung ku ini.
Bukan semata hanya dikarenakan anak pertama atau sesama laki-laki
tetapi dikarenakan diriku yang telah terbiasa merawat anak
semenjak aku remaja usia belasan tahun. Hingga aku lulus sekolah menengah akhir.
Ya, aku mempunyai beberapa adik yang ku rawat sebagai balas kasih membantu ibu angkatku yang tak lain adalah kakak perempuan dari ibu kandungku.
Namun tak lama berselang kembali ucapan ketus seolah ingin memecah heningnya malam.
Sebuah suara yang membuat dadaku berdegup menahan geram.
"Abang sana tidur di kamar!"
Terdengar dengan nada sedikit lebih tinggi Amanda menyerukan.
Wajahnya terkesan kesal, namun dalam bayangan matanya aku menangkap sesuatu yang lain. Yah..., jiwa yang bukan sebenarnya.
Aku dihadapkan satu sosok yang kini tidak ku kenali lagi. Tanpa jiwa tanpa rasa.
Aku seolah tak dapat berbuat apa apa, hanya diam terpaku mengharap ini hanya sebuah mimpi terburuk .
Kembali Amanda berucap dengan nada sedikit mengeluh.
"Saya heran...?", kenapa sih selalu seperti ini yang terjadi setiap Anda datang kemari?"
" Anda datang seenaknya saja, lalu pergi meninggalkan saya dengan tambahan pekerjaan untuk meredakan tangisan anak-anak ini? ".
"Apa...?" Tanyaku dalam hati.
Terperanjat hati ini mendengar pernyataan yang baru saja terucap dari bibir Amanda. Isteri yang selama sebelas tahun bersamaku.
Dengan mudahnya kau mengganti kata "Aku", dengan "Saya."
Seolah aku adalah orang lain yang baru saja kau kenal.
Seminggu juga belum genap kau menggunakan bahasa yang santun tatkala berbicara menelponku menanyakan tentang kerinduan kalian bertiga.
Gerangan apa lagi yang hendak coba engkau perankan di hadapanku.
Tiba-tiba, "Sudah....pulang saja sana, biarin ini anak tidur. Sudah lewat jam sepuluh nih!" sebuah suara dengan dialek yang khas.
Ya, suara itu tak lain Ibu mertuaku. yang
ku yakin sedari tadi ikut menyaksikan dari balik ruang makan yang letaknya di balik tembok ruangan ini.
Namun....
Dennis sekonyong-konyong berlari keluar dan langsung naik diatas motor yang terparkir dihalaman. Memposisikan dirinya telah siap untuk ikut bersamaku.
Aku dan Amanda saling pandang dengan ekspresi wajah yang bertolak belakang.
Senyum kecutnya serta wajah gugup yang kuperlihatkan.
Hening..., sesaat kemudian, Amanda menghampiri dan memegang tubuh Dennis. mencoba untuk mengangkat serta melepaskan cengkraman anak tersebut pada motor.
Dennis tak bergeming cengkramannya semakin kuat bahkan tubuhnya seakan memeluk motor lebih erat.
Amanda menoleh kepadaku yang masih diam terpana.
Pandangan mata itu menyiratkan agar memenuhi keinginannya untuk segera bertindak membantunya.
Sejenak ku menghela nafas. Sekedar untuk menurunkan kadar emosi yang masih berputar dalam hatiku.
Tak sengaja pandangan mataku berkeliling menatap satu demi satu cahaya terang gorden tetangga yang sedikit bergoyang.
Bahkan bayangan dibalik gorden rumah yang dahulu dibangun untuk Amanda oleh Almarhum Bapak. tatkala usia pernikahan kami menginjak tahun kedua.
Kini rumah itu tengah ditempati oleh adik iparku beserta suaminya.
"Dennis tidak pakai jaket, naik motornya?" Tak sadar ku berujar. Ingin mengakhiri drama di depanku. Tanganku merogoh sesuatu dari saku celanaku dan menyodorkan kepadanya. Ini uang Papa yang tadi diberi Oma di satuan saja bersama uang kamu untuk di tabung."
Lembaran dua puluh ribu yang tadinya akan kupakai untuk membeli bensin. Terpaksa kuberikan pada Dennis.
" Dennis masukin ke celengan, sekalian ambil jaket, ya? "
" Papa tungguin ya?"lalu mengulurkan tangan sambil beringsut turun dari motor.
Pandangan matanya tak lepas memperhatikan setiap gerakanku. Dennis selalu bersikap manis seperti ini bila menginginkan untuk ikut berkendara bersamaku.
Aku diam tertunduk. Dan mataku mengikuti arah langkah kecil itu melewati pintu.
Disusul gerak langkah Amanda yang hanya sampai depan pintu. Setengah berbisik tegas dilontarkan padaku.
"Sudah cepat sana!"
tangannya mengisyaratkan perintah agar aku segera menaiki motor dan menghilang dari hadapannya.
Amanda segera mengunci pintu serta menarik anak kunci dan mengantonginya.
Namun sebelum kusela motor. Terdengar Dennis berteriak historis. Memukul-mukul tangannya pada daun pintu. Serta merta tangannya menarik sekuat tenaga gorden ruang tengah guna melihat dan menghentikan kepergianku.
Amanda bergegas menangkap gorden yang terjatuh dan menaruhnya diatas sofa. Lalu tangannya meraih pinggang Dennis yang berusaha meronta serta memukul kesegala arah.
"Papaaaa....!", jeritnya
"Jangan pergi....!"
"Papaa....aaa !"
*********************************************
“Aku adalah sampah, sudah tidak ada yang dapat di hasilkan dariku, jika itu pikirmu”
Ku harap kau benar, karena otak ini masih melakukan kewajibannya untuk berfikir jernih. Semoga jariku tetap setia menemani setiap bait kata yang ingin ter ucap.
**
********************************************
Jalanan tampak lenggang. Waktu telah menunjukkan sekitar pukul tiga dinihari. Sedari tadi aku hanya berputar- putar mengendarai kendaraan roda dua ini tanpa tujuan.
Perasaan sesak masih jelas terpampang dalam bayangan. Kejadian yang baru saja menimpaku membuat perasaan kacau tak dapat berfikir jernih lagi.
Luka ini begitu perih mengiris hati.
S. Swasono.