Namaku Cindy, aku sekarang berumur 17 tahun dan sedang bersekolah disebuah SMA Swasta di kotaku. Aku tinggal di rumah nenek yang berarsitektur Jawa Kuno bergaya Sinom di pinggir kotaku.
Pagi itu nenekku tiba tiba memanggilku, " Nduk setelah sarapan, tolong bantu nenek untuk membereskan gudang belakang, soalnya ada yang mau dijual sebagai barang antik atau barang rongsok. "
" Ngeh mbah ! " aku segera menyahut dan langsung menyanggupinya tanpa sadar akan bahaya apa yang mengintaiku. Dan sungguh-sungguh aku tidak tahu bahwa apa yang akan kulakukan ini sesuatu yang membahayakanku.
" Mbah, apa kuncinya yang ini ? " Tanyaku sambil
menunjukkan rencengan kunci kepada nenekku. Duduk iki nduk, cari di balik pintu yang berwarna hitam, yang ada kepala naga pada gagangnya, sing paling gedhe dhewe lan paling abot.
Segera aku menemukannya dan sambil bergumam ringan, " Kok aku jadi merinding begini ya ? Ada apa dengan isi gudang itu ? Mengapa kuncinya tampak aneh sekali ? " Namun, aku memilih mengabaikannya dan menyerahkannya pada nenek untuk segera membuka pintunya.
Pintu yang akan dibuka oleh nenek tampak kotor dan berdebu dan ada banyak relief yang tidak aku mengerti maksudnya.
Ketika kuncinya sudah ditemukandan pintunya siap dibuka, Nenekku berseru, " Cindy bantu Mbah buat dorong pintu ini, abot tenan, Mbah tidak kuat ! " Segera aku mendorong dengan sekuat tenaga agar terbuka.
Setelah terbuka, ternyata isinya : ada banyak tumpukkan kardus, ada seperangkat alat musik Gamelan yang cara memainkannya aku tidak mengerti dan yang menarik perhatianku ada sebuah peti kayu yang cukup besar di tengah gudang, dirantai dengan sebuah gembok yang cukup besar.
Hal itu cukup membuatku penasaran tapi nenek segera menarik tanganku lalu berkata, " Jangan buka peti itu dan bantu Mbah memilah-milah barang di tumpukan soale Pak Barjo bakul rosok mau datang siang ini membeli barang-barang ini. "
Aku segera membantu nenek memilah-milah barang ternyata isinya foto-foto masa muda nenek dan kakekku, ternyata kakek adalah seorang dalang yang cukup terkenal bahkan pernah diundang ke Istana Presiden. " Mbah ternyata eyang kakung seorang dalang ya, baru tahu aku ? Dan kapan pernah diundang ke Istana Negara ? " Nenek menjawab dengan ketus, Zamane Bung Karno dan Cindy tolong jangan dolanan ae kamu lekas bantu Mbah milihi barang, nanti tidak nutut Pak Barjo datang. "
Segera aku meneruskan kegiatanku dan .... diam-diam aku menemukan kunci berwarna hitam berkepala ular yang selalu membuatku bergidik ngeri, lalu aku segera memasukkannya ke dalam saku celanaku agar aku tidak selalu melihat wujudnya yang mengerikan.
Siang harinya, Pak Barjo datang aku membantu nenek menata barang-barang yang akan dijualnya di ruang tamu. Pak Barjo menatap sekilas barang-barang itu lalu mengeluarkan lima lembar uang 100 ribu lalu menyerahkannya pada nenek, " Hanya segini pak, barangnya akeh lho ? Opo Ndak kemurahen, pak tambah 500 wae ! " Sahut nenekku dengan wajah agak muram. " Tidak bisa Mbah, kulo cuma pengepul cari barang antik sampai ketemu penggemar keluar banyak ongkos, mangkane uangnya cuma segitu dan kalau mau saya tambah 50 ribu ae Mbah. " Jawabnya sambil menyerahkan uang selembar 50 ribu kepada nenekku.
" Duh gusti ! " Batin nenekku, tak lama kemudian Pak Barjo memanggil anak buahnya untuk membawa barang yang telah dibelinya lalu pulang.
Sementara itu, aku lebih memilih membaca novel kesayanganku daripada mengikuti kejadian tadi.
Malam telah menyelimuti bumi dan sunyi senyap kondisi jalan di depan Rumah Nenekku. Karena sehabis Maghrib hujan cukup deras hingga membuat orang malas untuk keluar rumah.Tetapi tidak dengan rasa penasaranku akan peti kayu yang dirantai dan digembok yang ada di gudang belakang itu.
Dengan mengendap-endap, aku pergi ke gudang belakang untuk memuaskan rasa penasaranku. Lalu tiba-tiba aku tercengang sambil membatin, " Apakah aku bisa membuka pintu gudang yang besar dan berat, padahal tadi siang aku dan nenekku dengan sekuat tenaga mendorong pintu itu agar terbuka. "
Namun, aku memilih mengabaikan pertanyaan yang muncul di pikirannya dan terus melangkah menuju gudang itu. Aku segera memasuk kunci ke pintunya dan , " Hei, mengapa membuka pintu ini terasa mudah dan tidak terasa berat lagi ? " Dan aku merasa seperti ada yang membantuku untuk membuka pintu ini. "
Lalu aku berjalan mendekati peti itu dan mencoba satu-persatu kuncinya, sesaat kemudian, " Ah, akhirnya terbuka kuncinya ! " Dengan susah payah aku melepas rantai yang mengikatnya dan sekuat tenaga aku membuka peti itu.
" Oh, ternyata hanya isinya hanya mainan robot-robotan, tapi kok menyeramkan sekali ya. Matanya cuma ada satu, tangan dan kakinya juga tidak utuh. Apa ini rusak ? " Batinku sambil memegang robot itu.
Tiba-tiba saja robot itu hidup dan tanpa peringatan yang jelas, langsung menembakiku. Bergegas aku menyelamatkan diriku keluar dari gudang itu.
Ternyata aku hanya berputar putar di ruangan makan karena sangking panikku. Semua perabot dan barang disana rusak dan hancur berantakan.
Tiba-tiba, Duar ada ledakan keras yang membuatku semakin takut. Aku hendak bersembunyi di bawah meja makan saat , " Ayo ambil sapu dan peralatan lainnya, segera bersihkan kekacauan ini sebelum diketahui banyak orang. "
Segara aku melaksanakan perintah tersebut dan sambil menengok ke arah nenekku tampak gagah dengan menggunakan baju doreng khas tentara dan menenteng sepucuk senapan.
Segera, aku membersihkan sisa kekacauan dan setelah selesai segera kulihat nenek di kamarnya.
" Hah, kok tidak masuk akal ! Bagaimana mungkin nenek sudah tertidur pulas dengan baju tidurnya ? Padahal tadi, dengan gagahnya menenteng senapan dan menembak robot tadi. " Batinku dengan penuh kebingungan.
" Hah siapa tadi ? Jangan sosok yang tak kasat mata yang menyamar jadi nenekku ! " Batinku dengan panik. Lalu, aku segera berlari ke kamarku, mematikan lampu dan menutupi wajahku dengan selimut. Aku berusaha tidur dan entah jam berapa sekarang, aku telah tertidur pulas dan berusaha melupakan kejadian barusan.
___________________________________________________