Entah, aku harus menyalahkan siapa di sini. Menyalahkan laki-laki dingin itu, menyalahkan orangtua-ku? Menyalahkan takdir? Atau aku harus menyalahkan si pemberi takdir. Tidak. Tentu tidak. Ini jalan hidupku, seperti inilah. Aku harus menikah dengan pria dingin yang sebenarnya dia adalah cintaku.
Aku tidak tahu, sejak kapan rasa itu mulai tumbuh. Padahal, sikap dinginnya cukup membuatku sakit hati. Selama tiga tahun, aku berstatuskan istrinya. Hanya status, di atas kertas. Kenyataannya, aku hanya pelayan, perawat, pengasuh, berkedok istri. Terkadang hanya senyum keterpaksaan yang menghiasi wajahku.
Aku terjebak di sini tiga tahun lalu, tepatnya saat Ibu yang melahirkanku terbaring lemah. Dia datang, mengulurkan tangan. Meminta kesediaanku, menikah dengan dirinya. Aku masih ingat wajah datarnya. Aku masih bisa mengingatnya. Mengingat setiap perlakuannya terhadap diriku.
Dia, memang tidak kasar. Hanya keacuhannya cukup membuatku—sebagai sosok perempuan, merasa terhina. Usiaku baru menginjak 26 tahun saat menikah dengannya. Aku ingat dia itu teman SMP dulu. Walaupun aku tidak yakin dia mengingatku.
Sebuah Ketidaksengajaan ketika aku tengah menangisi ibuku yang terbaring lemah, di atas brankar itu. Selang infus dan oksigen. Padahal sebagai seorang suster aku harusnya sudah terbiasa. Beberapa pasien seusia Ibu, aku sendiri yang menanganinya. Mengambil sample darah, memasangkan infus, menyuntikkan obat dan lain sebagainya. Namum, betapa tangan ini bergetar hebat, ketika pasien itu harus ibuku sendiri.
Aku masih berusaha tegar menghadapi kenyataan, tetapi sekali lagi, tamparan keras seakan mengenai wajahku. Bodohnya diriku yang bahkan tidak mementingkan apa itu jaminan kesehatan, atau asuransi jiwa. Aku tidak punya semua itu. Kalaupun ada itu atas namaku, jaminan dari tempatku bekerja. Tidak bisa kupakai sepenuhnya. Rasa yang terpuruk kian mendera ketika deretan angka itu terpampang nyata.
"Ibu Anda harus segera mendapatkan pertolongan, Suster."
Salah satu dokter rumah sakit tempatku bertugas menjelaskan.
"Jika tidak segera dioperasi maka akibatnya akan sangat fatal," imbuhnya di hadapanku. Kulihat ia menatap iba. Jujur saja aku baru bekerja kurang dari lima bulan di tempat ini. Terbilang baru, dan aku masih belum punya banyak, nominal di rekeningku masih tidak cukup untuk biaya operasi Ibu.
Aku harus apa? Lagi-lagi hanya airmata sebagai jawaban.
Kulangkahkan kakiku menuju pintu, benda transfaran yang menunjukkan seseorang di dalamnya, tengah berjuang dengan kesakitan. Ibu, wanita yang melahirkanku, wanita yang membesarkanku. Dialah yang berjuang menyekolahkan diriku hingga tamat kuliah dan menjadi seorang perawat. Tanpa hadirnya sosok suami selama belasan tahun. Ayah yang menghadirkanku ke dunia ini harus tiada bahkan saat aku masih belum bisa mengenalnya.
Takdir apa ini? Batinku selalu saja memberontak, mempertanyakan sebuah keadilan. Di mana keadilan? Di mana kau berada?
"Hai, dia Ibumu, Suster?" Suara itu terdengar tidak asing.
Aku pun menoleh, memastikan siapa gerangan yang baru saja menyapaku. Benar, aku tidak keliru, dia memang Tuan Alva. Saking terkenalnya dia di tempat ini, seorang CEO muda yang tampan. Tuan, panggilan itu sudah tersemat di antara para pegawai rumah sakit ini. Dia menyapaku? Untuk apa?
Sejenak aku menyeka airmata yang terus meluncur bebas di kedua belah pipi.
"I-iya," jawabku ragu.
"Sakit apa?" Wajah datarnya sama sekali tidak menunjukkan empati, namun pertanyaannya jelas menuntut sebuah jawaban.
"Ibu sakit ... harus segera operasi."
Aku kembali menampar kaca dengan tatapan sendu.
"Kau butuh bantuan?"
Aku menoleh kembali demi mendengar pertanyaannya.
"Kendala biaya?" tanyanya kemudian, membuatku mengangguk dengan lemah.
"Jika kau mau, aku bisa membantumu," tawarnya, senyum tipis tersirat di wajah maskulinnya.
"Maksud Anda, Tuan?" Bukan aku tidak mengerti hanya saja aku tidak ingin salah memahami maksud perkataannya.
"Aku bisa memberimu sejumlah yang kau minta, dengan satu syarat." Satu kalimat yang dipenggal dua itu sukses membuatku senang sekaligus takut.
"Syarat?"
"Ya. Syarat. Aku bisa membantu pengobatan ibumu asal kau mau menenuhi syarat yang kuminta," ungkapnya mempertegas kalimat tadi.
Aku masih belum mengerti atau menyetujui, karena dia pun masih belum menyebutkan apa syarat yang ia inginkan. Dengan perasaan was-was kuberanikan untuk menanyakan apa syarat yang ia minta.
"Aku mau kau bersedia menikah denganku dan menjadi ibu sambung bagi putriku. Tapi, pernikahan kita hanyalah pernikahan kontrak. Sampai Ayah pulih," tandasnya setelah sebelumnya kulihat ia melirik ke sekeliling, takut-takut jika ada yang mendengarkan.
"A-apa!" Setengah berteriak aku merespon apa yang baru saja ia katakan. Namun, refleks kupelankan kembali volume suarak saat dia memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir.
Aku pun memilih untuk bertanya lewat sorot mataku. Ia pun mulai mendongengkan kisahnya. Ayahnya terkena serangan jantung dan stroke. Berkali-kali beliau meminta Alva—putranya ini, untuk menikah lagi.
Diaz Alvaro Mahendra—nama lengkapnya. Terlahir dari pasangan Mira Aditi Mahendra dan suaminya yang tidak lain ialah pengusaha kaya, Anton Mahendra. Bapak Anton—ayahnya adalah salah satu pasienku juga. Aku merawatnya dengan baik, sama seperti pasien pada umumnya. Namun, entah mengapa, Pak Anton kabarnya mulai melirikku untuk jadi kandidat calon menantu idaman. Ya, seperti itulah dongeng yang kudengar dari putranya yang kini berdiri di sampingku.
"Ayah ingin aku menikah lagi, beberapa pekan ini kau yang Ayah lihat telaten mengurusnya. Dia memintaku untuk mendekatimu," ujarnya.
Aku sungguh tidak mengerti, lalu apa makaud dari pernikahan kontrak?
"Lantas?" tanyaku menantangnya.
"Aku ingin kau pura-pura jadi kekasihku. Jika Ayah meminta kita menikah, kita akan menikah secara kontrak."
"Kenapa?" Sedatar ia mengutarakan niatnya, sedatar itu pula lah aku menanggapinya. Aku tidak ingin terlihat begitu antusias. Apalagi terkesan aku benar-benar membutuhkan bantuannya. Kalaupun iya, masih ada banyak yang sudi mengulurkan tangan untukku, walaupun mungkin butuh waktu dan proses yang lama.
"Jujur saja aku masih belum bisa menikahi wanita lain selain istri pertamaku. Walaupun dia pergi, aku yakin suatu saat ia pasti akan kembali."
Entah siapa yang tengah ia bicarakan. Istrinya? Dia sudah menikah?
"Istri?" Kuulang kata itu sebagai pertanyaan selanjutnya.
"Aku sudah pernah menikah, dua tahun yang lalu setelah melahirkan putri pertama kami, dia pergi untuk mengejar cita-citanya. Orang tuaku sudah berkali-kali menyuruhku untuk menikah lagi, tapi aku tidak mau." Tanpa diminta ia memceritakan kisahnya.
"Karena itu aku cari istri bayaran, kau mengerti? Aku akan menjadikanmu istri bayaranku. Kau tidak perlu lagi susah payah bekerja. Kau bisa menikmati peranmu sebagai menantu orang kaya."
Selanjutnya kalimat itulah yang kudengar. Sombong! Batinku sampai jengkel mendengarnya. Namun, situasi dan kondisi membuatku terpaksa mengangguk, setelah beberapa saat aku berpikir lalu aku mengiyakan persyaratan yang ia minta. Harus bagaimana lagi, aku terpaksa, tidak ada pilihan lain. Entah aku bisa bertahan atau tidak nantinya, aku tidak tahu. Yang aku pahami saat ini hanya, ibuku harus secepatnya mendapatkan pertolongan.
Dan dimulai dari sanalah kisahku tiga tahun bersamanya.