Hujan deras mengguyur kota malam itu. Gue berdiri di halte, nunggu bus terakhir. Lampu jalan berkedip-kedip, bikin suasana makin suram.
Di ujung bangku belakang, ada seorang cewek berambut panjang, duduk diam, tatapannya lurus ke jalan.
Dia cantik. Tapi ada sesuatu… entah apa, yang bikin gue ragu nyapa.
Tiga malam berturut-turut, gue ketemu dia di situ. Selalu dengan baju yang sama, rambutnya basah, dan senyum tipis yang entah kenapa bikin hati gue campur aduk.
Malam keempat, gue memberanikan diri.
“Nama kamu siapa?”
Dia menoleh perlahan. “Rani.”
“Tiap malam di sini?”
Dia mengangguk. “Aku nunggu seseorang. Tapi dia nggak pernah datang.”
Kami mulai ngobrol setiap malam. Tentang hujan, musik, bahkan mimpi. Semakin sering ketemu, gue makin ngerasa nyaman. Ada rasa aneh, tapi gue abaikan. Gue pikir, mungkin ini… jatuh cinta.
Sampai suatu malam, gue nggak tahan lagi.
“Kalau kamu mau, aku yang nemenin kamu. Nggak usah nunggu orang lain.”
Rani tersenyum, tapi matanya kosong. “Kamu yakin? Kalau udah pilih aku… nggak ada jalan balik.”
Gue mengangguk. Dia ulurkan tangannya dingin, seperti memegang es batu. Hujan tiba-tiba makin deras, suara petir menggema.
Lalu, di sela gemuruh, gue dengar dia berbisik:
“Tiga tahun lalu… aku mati di sini. Ketabrak bus. Dan malam ini… giliran kamu.”
Gue menoleh, lampu bus menyilaukan mata. Remnya nggak sempat diinjak.
Gelap.
Sejak itu, orang-orang sering lihat dua sosok duduk di bangku belakang halte. Saling bergandengan tangan, menatap hujan… menunggu seseorang yang takkan pernah datang.
GENRE CERPEN = Horor + romance
CERPEN INI SAYA BUAT UNTUK EVENT GC OPEN HEART