Dia Mengetuk Saat Hujan
Hujan selalu datang bersamaan dengan ketukan itu.
Setiap malam hujan turun, tepat pukul 02.13 dini hari, Lila mendengar tiga ketukan di jendela kayunya.
Tok. Tok. Tok.
Selalu tiga. Tidak lebih. Tidak kurang.
Awalnya, Lila mengira itu suara ranting. Tapi tidak ada pohon di dekat rumahnya. Lalu ia pikir itu maling. Tapi tidak ada jejak, tidak ada suara langkah, tidak ada bayangan.
Sampai suatu malam, ia berani mengintip.
Dan dilihatnya seorang pria... berdiri di luar jendela.
Basah kuyup. Wajahnya pucat. Tapi matanya... teduh. Menatapnya seperti seseorang yang sangat mengenalnya.
Lila ingin berteriak, tapi tubuhnya tak bisa digerakkan. Saat ia akhirnya membuka jendela, lelaki itu menghilang.
Sejak malam itu, setiap hujan turun, ia selalu datang.
Diam. Mengetuk. Menatap. Lalu lenyap.
Lila mulai menanti hujan. Entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya rindu akan ketukan itu. Dan anehnya... ia mulai merasa tidak sendiri. Setiap kali hujan, hatinya hangat.
Sampai suatu malam, hujan turun deras. Tapi kali ini... ketukannya berbeda.
Tok. Tok. Tok. Tok.
Empat ketukan.
Lila membuka jendela tanpa ragu. Di sana, berdiri pria yang sama, kali ini tersenyum. Ia berbicara untuk pertama kalinya.
"Akhirnya kamu membuka. Aku sudah menunggu sejak malam aku mati."
Lila terpaku. Ingatannya menampar. Lima tahun lalu, tunangannya Andra meninggal karena kecelakaan di jalan depan rumah ini. Malam itu hujan. Jam dua lewat tiga belas. Ia mengetuk pintu rumah Lila, tapi Lila tertidur dan tak mendengar apa-apa.
Lalu malam-malam hujan itu mulai datang...
"Aku menyesal..." bisik Lila, air mata mengalir.
"Aku tidak," kata Andra. "Karena setiap malam hujan, aku bisa melihatmu lagi. Tapi malam ini... aku harus pergi."
Petir menyambar. Angin berteriak.
Andra perlahan memudar. Tapi sebelum hilang sepenuhnya, ia berbisik:
"Aku akan menunggumu... di hujan berikutnya. Di tempat kita janjikan dulu: sampai mati."
Lila berdiri lama di jendela. Basah oleh air mata dan hujan.
Sejak malam itu, tidak ada lagi ketukan.
Tapi setiap hujan turun, Lila duduk di depan jendela, tersenyum sendiri, dan berkata:
"Aku juga akan datang... di hujan berikutnya."
---
Tamat. Cinta tak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu... di balik jendela