"Cinta di Balik Tumpukan Laundry"
Di sebuah sudut kota yang sering dilupakan Google Maps, berdirilah sebuah laundry rumahan bernama "Cuci Cinta". Bukan karena pelayanan eksklusif, tapi karena pemiliknya, Rara, punya keahlian mencuci sambil curhat.
Suatu hari, saat Rara sedang memisahkan pakaian berdasarkan warna dan tingkat dosa pemiliknya (baju mantan biasanya ditaruh di pojok paling jauh), masuklah seorang pelanggan baru.
Tinggi. Putih. Wangi. Tapi matanya linglung seperti GPS yang kehilangan sinyal.
"Maaf, ini laundry ya?" tanya si pria.
"Bukan, ini tempat penitipan kenangan," jawab Rara santai sambil menggulung kaos kaki bolong.
Pria itu tertawa. "Lucu juga. Saya Bima."
"Rara. Pemilik, kasir, tukang cuci, dan kadang motivator kalau pelanggan lagi galau."
Bima menyerahkan sekantong pakaian. Tapi saat Rara buka, ia langsung menatap tajam.
"Kamu nyuci baju barengan celana dalam Hello Kitty? Gila, berani juga."
"Itu bukan pun—ya ampun, itu adik saya!" Bima panik.
Rara tertawa sampai setrika mati sendiri.
Sejak hari itu, Bima jadi pelanggan tetap. Anehnya, bajunya nggak pernah banyak. Tapi alasannya selalu: “Lagi banyak cucian,” sambil nyengir.
Suatu sore, saat Rara sedang menjemur, Bima datang lagi. Tapi kali ini tanpa kantong laundry.
“Pakaianku udah dicuci sama mama,” katanya gugup. “Tapi aku... pengen nitip sesuatu lain.”
"Apa tuh?" tanya Rara, sambil mengira-ngira apakah Bima mau nitip kucing atau utang.
Bima menarik napas.
“Perasaan. Kalau kamu nggak keberatan, aku titip suka sama kamu di sini.”
Rara diam. Angin sore mengibaskan jemuran dan pipinya yang merah muda seperti handuk baru dibilas.
“Aku terima titipannya. Tapi nggak bisa dicuci ya,” jawab Rara sambil nyengir. “Takut luntur.”
---
Tamat, tapi cucian belum selesai. 🧺💖
---