Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang remaja bernama Stella, gadis cerdas yang lebih banyak bicara dengan pikirannya sendiri daripada dengan orang-orang di sekitarnya. Ia bukan anak yang suka memberontak, tapi juga bukan yang selalu patuh tanpa bertanya. Stella hanya ingin satu hal dalam hidupnya: dipahami.
Setiap hari, Stella menjalani rutinitas sekolahnya dengan diam. Teman-temannya menganggapnya rajin, pintar, dan cepat tanggap dalam pelajaran. Tapi tak ada yang tahu, betapa hatinya sering sesak — terutama saat pelajaran matematika tiba.
Matematika baginya seperti jurang yang gelap dan dingin. Bukan karena ia bodoh, tapi karena ia tidak mencintainya. Sayangnya, justru pelajaran itulah yang selalu dituntut oleh ibunya — dan sebelumnya, oleh almarhum ayahnya. “Ayahmu bisa matematika, kamu juga harus bisa,” begitu kata ibunya, berulang-ulang. Padahal… ibunya sendiri pun tak pernah bisa menjawab satu pun soal yang Stella tanyakan.
Setiap kali Stella kesulitan, ia hanya mendengar kalimat:
“Tanya gurumu, Mama nggak ngerti.”
Dan dari situlah ia belajar mencari jawabannya sendiri.
Hari demi hari, Stella tumbuh dengan rasa yang bercampur: kecewa, bingung, lelah… tapi tetap berjuang. Ia tahu dirinya tak bisa berharap banyak, jadi ia memilih menjadi kuat. Tapi kekuatan itu kadang menyakitkan, apalagi saat ia melihat adiknya dimanja, dituruti, dan dilindungi. Bukan karena Stella membenci adiknya. Tidak. Ia hanya bertanya dalam hati, “Kenapa aku harus jadi yang selalu dituntut kuat?”
Tapi di balik semua itu, Stella adalah gadis yang bersinar diam-diam. Ia cepat memahami pelajaran seperti PAI, PPKn, IPA bagian astronomi, bahasa Indonesia, dan ia punya cinta besar pada puisi dan seni tari.
Di ruang sunyi malam, ia sering menari sendiri — membebaskan seluruh tekanan di dadanya. Dan di sela waktunya, ia menulis puisi, seolah sedang berbicara pada langit.
> "Aku tak ingin jadi bintang paling terang di langit yang bukan milikku,
Aku hanya ingin dilihat… di langitku sendiri."
Meski belum banyak orang yang benar-benar memahami, Stella tahu satu hal: ia tidak sendiri. Selalu ada ruang untuk orang-orang sepertinya — yang mungkin diam, tapi punya suara yang kuat dalam hati.
Dan pada suatu malam, Stella duduk menatap langit dan berkata dalam hati,
"Aku mungkin bukan anak yang semua orang banggakan… tapi aku adalah diriku sendiri. Dan itu sudah cukup."