Suasana malam mulai mencengkam, seperti yang telah kami sepakati, malam ini aku dan Rina hendak kerumah tua yang bertepatan di depan rumahnya.
Aku berdiri di depan rumah tua itu, melihat sekeliling, akupun merasakan ada yang tidak beres. Rumah itu terlihat kosong, tapi aku bisa merasakan ada yang tengah mengawasi kami.
"A-apa kamu yakin ingin masuk?" tanya temanku, Rina, dengan suara yang bergetar.
"Aku harus tahu apa yang terjadi di sini," jawabku, mencoba untuk bersikap berani.
Kami memasuki rumah itu, dan segera menyadari bahwa rumah itu tidak seperti yang kami bayangkan. Ada sesuatu yang tidak beres dengan waktu di sini.
"Kita harus keluar dari sini," kata Rina, tapi aku tidak mau mendengarkan.
Tap,,
Tap,,
Tap,,
Tiba-tiba, kami mendengar suara langkah kaki di lantai atas. Kami berdua saling menatap, dan aku bisa melihat ketakutan di mata Rina, serta mukanya yang telah pucat seakan tidak ada darah yang mengaliri wajahnya.
Dengan beraninya aku teriak,"Siapa itu?" tapi setelah beberapa saat tidak ada jawaban.
Rina pun menggenggam erat tanganku, tangannya berkeringat dingin serta bergetar. Aku tidak tega melihatnya telah ketakutan setengah mati, namun jiwa penasaran ku tak mau mengalah untuk pergi dari sana.
Kami pun naik ke lantai atas, dan menemukan sebuah kamar yang terlihat seperti kamar anak-anak. Tapi, lagi-lagi aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kamar tersebut.
"Kita harus keluar dari sini, sekarang!" kata Rina dengan nada tinggi dan suara yang serak, tapi aku tetap ngeyel dan tidak mau pergi.
Tiba-tiba, aku melihat sebuah boneka di atas tempat tidur. Boneka itu terlihat seperti boneka yang biasa, tapi aku bisa merasakan ada yang tidak beres dengan boneka itu.
"Apa kamu melihat itu?" tanyaku pada Rina, tapi dia tidak menjawab.
Aku menoleh ke arah Rina, dan aku melihat bahwa dia sudah tidak ada di sana.
"Rinaa..."
"Rinaa..."
Aku berteriak memanggil nama Rina, tapi tidak ada jawaban.
Aku mulai takut, karena sendirian di rumah itu, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Tiba-tiba,,, aku mendengar suara,
"Kamu tidak akan pernah keluar dari sini!"
'Suara siapa ini,' aku bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu tidak akan pernah keluar dari sini!" ucap suara itu dengan dingin.
Lagi, aku mendengarnya. Suara dan kata-kata yang sama.
Kakiku telah gemetar, suasana disana terasa semakin suram dan sunyi.
Deg,,,
Aku teringat dengan boneka yang ada di tempat tidur tadi.
Akupun menoleh ke arah boneka tadi, boneka itu menatapku matanya hitam dengan pupil merah darah.
Deg,,,
Mataku memelotot, lidahku kelu, kakiku makin gemetaran, rasanya tenagaku telah hilang.
'Ti-tidak mungkin,' ucapku gagap tapi dengan suara yang tertelan.
Aku berlari hendak keluar dari kamar itu, tapi aku tidak bisa menemukan jalan keluar. Rumah itu seakan seperti memiliki labirin yang tidak ada habisnya.
Aku terjebak di rumah itu, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada ku. Suara boneka itu masih terdengar di telingaku,"Kamu tidak akan pernah keluar dari sini..."
"Kamu tidak akan pernah keluar dari sini..."
"Kamu tidak akan pernah keluar dari sini..."
Suara itu tidak pernah berhenti menghantui ku hingga akhirnya aku memberanikan diri hendak melawannya.
Keluar kau, jangan beraninya hanya bersembunyi.
Hening
Hanya keheningan yang ada, tapi tak lama setelah itu boneka tadi bergetar.
Satu per satu keluarlah sosok-sosok dengan bentuk yang berbeda-beda hingga tidak bisa di gambarkan.
Yang mana biasanya kita kenal dengan sebutan roh.
~ ~ ~ ~ ~ ~
Udara dingin terasa menusuk tulang.
Aku terkurung di ruang yang gelap ini, dikelilingi oleh roh-roh yang mengerikan. Mereka semua memiliki wajah yang berbeda, tetapi mata mereka semua memiliki kesamaan - mata yang kosong dan tanpa jiwa.
Mataku melotot, lidahku kelu, keringat dingin bercucuran bahkan aku merasakan udara sekitar berubah menjadi dingin hingga badanku menggigil, kakiku rasanya lemas tidak bisa berdiri menopang badan ini.
Roh pertama mulai berbicara, suaranya seperti angin yang berhembus lembut. "Aku mati karena dibun*h," katanya, sambil memperlihatkan adegan yang terjadi.
Aku melihat seseorang sedang berjalan santai tiba-tiba tengkuk nya dipukul dan pingsan, tak lama melihat ruangan yang kumuh dan lembab, terlihat darah yang mengalir dengan deras dari tubuh yang terpisah-pisah dan teronggok di ruangan itu.
Roh kedua juga mulai berbicara, suaranya seperti tangisan. "Aku mati juga karena di bun*h," katanya, sambil memperlihatkan adegan dirinya terbaring di tempat tidur, tubuhnya yang lemah dan sakit.
Aku melihat jarum-jarum yang menusuk kulitnya, lalu di sayat-sayat dengan pisau, darahnya pun bercucuran. Kulit yang disayat itu di olesi dengan cabe yang di beri garam serta lada, hingga orang itu menjerit, menggeliat-geliat karenanya hingga napasnya yang terakhir.
Deg,,
Di sini aku melihat dengan jelas sosok yang membunuh roh-roh itu.
"T-tidak mungkin, Rina, kenapa?
Kenapa kamu? Kenapa aku?
A-apa aku juga salah satu targetnya?" Ucapku dalam lamunan, tapi tak lama akupun tersadar kembali saat roh selanjutnya hendak memperlihatkan bagaimana ia meninggal.
Roh ketiga pun mulai berbicara, suaranya seperti teriakan. "Aku mati karena pembunuhan," katanya, sambil memperlihatkan adegan dirinya dibunuh oleh seseorang yang sangat-sangat aku kenal. Aku melihat darah yang mengalir, tubuh yang terjatuh, dan akhirnya, keheningan.
Aku merasa takut dan terkejut melihat adegan-adegan tersebut. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya mati dalam keadaan seperti itu. Roh-roh itu terus berbicara, memperlihatkan adegan kematian mereka, dan aku terus mendengarkan, tak bisa berbuat apa-apa.
🦉🦉🦉🦉🦉
Tak,,,
Tak,,,
Tak,,,
Suara pisau mendarat dengan mulus di dinding suatu ruangan dengan suasana remang-remang terlihat sangat mencengkam, yang mana terdapat beberapa foto perempuan, ada yang di tandai dengan silang warna merah ada juga dengan bulatan juga berwarna merah, dan ada tiga lagi yang masih belum ada tanda apapun.
"Siska, sudah saatnya kau di eksekusi!" ucapnya dengan seringaian yang menakutkan.
Tap,,
Tap,,
Tap,,
Terdengar suara langkah kaki, Siska sembunyi di balik pintu yang ditunjukkan oleh salah satu roh di sana.
Tak lama,
Kreeekkk,,,
Benar saja, pintu itu terbuka.
Dan
Bug,,,
Dengan sisa-sisa tenaga, Siska memukul tengkuk orang tersebut hingga pingsan di tempat.
Brak,,,
Rina tergeletak di tempat, Siska tidak membuang-buang waktu, ia segera lari dan mencari jalan keluar dari rumah itu. Hingga akhirnya ia melihat cahaya yang seakan menuntunnya menuju pintu untuk keluar dari sana.
Siska berhasil keluar dari rumah itu, ia berlari hendak mencari bala bantuan.
Namun ia melihat ada seseorang yang sepertinya tengah mencari sesuatu, akhirnya Siska mendekati sosok itu, dan ternyata ia seorang detektif yang kebetulan tengah menyelidiki kasus adiknya yang hilang secara misterius dan petunjuk-petunjuk yang ia cari mengarah ke rumah tua itu.
🦉🦉🦉🦉🦉
Akhirnya roh-roh yang terkurung di sana membalaskan dendamnya pada Rina dengan menyiksanya sebagaimana Rina memperlakukan mereka sebelumnya hingga mati dengan mengenaskan.
Keesokkan harinya Siska menceritakan kejadian yang ia alami kepada detektif yang menolongnya kemarin, dan di temukan jasad-jasad yang tidak bisa tergambar kan bagimana bentuknya di ruangan bawah tanah yang berada tepat di rumah tua itu. Mereka juga menemukan jasad Rina dengan keadaan mata melotot, darah kering masih membekas di setiap lubang dan pori-pori di tubuhnya.
Tubuhnya sudah tidak berbentuk, tangan dan kaki yang patah terpelintir ke belakang, badan yang melengkung, jari-jari yang telah lepas dari tangan dan tubuh yang kurus keriput pucat tidak lagi berdarah.
GENRE CERPEN = Horor + Misteri + Thriller
CERPEN INI SAYA BUAT UNTUK EVENT
GC OPEN HEART