Memori, adalah sesuatu yang tak bisa di ubah. Kehilangan ingatan, bagiku itu bukanlah kehilangan yang sebenarnya. Hanya memori kita saja yang terkubur, dan suatu saat akan bangkit kembali.
Namaku Vivi Hikari, aku seorang penderita penyakit jantung bawaan. Karena penyakit ini, hidupku tak kan bertahan lama, aku hanya bisa hidup sampai usiaku 20 tahun.
Dan hari ini adalah ulang tahunku ke 21 tahun. Artinya sisa hidupku tinggal beberapa jam lagi. Meski begitu, hidupku sudah lebih dari cukup. Aku memiliki keluarga yang baik padaku, walau aku tak punya teman. Satu hal yang akan ku sesali, jika aku tak dapat menyampaikan perasaan terimakasih kepada 'mereka'.
"Yah, Bu, Kak, hari ini kita pergi ke puncak yuk, aku mau lihat bintang jatuh" Ujarku dengan senyuman.
"Iya" Ibu dan Ayahku hanya dapat meng-iyakannya dan tersenyum. Sedangkan Kakakku malah sedih melihatku. Hah, padahal kami ini setiap hari kerjaannya berantem.
"Oke, let's go"
Kami pun berangkat menuju puncak. Selama di mobil, aku selalu banyak berbicara, aku tak peduli lagi akan hidupku, aku hanya ingin membuat kenangan indah bagi mereka.
Kami pun tiba di puncak, aku langsung berlari turun dari mobil dan menghampiri villa yang kita sewa. "Woi, udah gede, jangan lari lari" Teriak Kakakku.
"Paan sih lu, emang kenapa sih? sewot amat" Sindirku sambil tertawa kecil.
"Jangan ngeyel lu" Balas Kakakku.
"Alah, gausah sok galak lu. Tadi aja gw liat lu mewek, ati ati ketauan pacar lu kalo lu nangis" Ejekku sambil menjulurkan lidah.
"Sudah sudah, ayo masuk" Sela Ibuku.
Kami pun memasuki villa itu. Aku langsung berlarian ke arah sofa dan menjatuhkan diriku atasnya. Sungguh seperti kenikmatan duniawi.
"Bang, ntar lu siapin kayu bakar, gw mah bakar marsellow" Pintaku.
"Marsmellow dongo, bukan marsellow. Lagian kan ada yang alat yang buat bakat, tanpa pake kayu, ngapa lu pake kayu segala?"
"Kenapa sih? Gw pengen pake kayu bakar" Jawabku.
"Kalian ini...sudahlah. Aden kamu beli sana kayu bakar" Ujar Ibuku.
Aden Wijaya, adalah nama kakakku, kakak laki-laki. Kami hanya berbeda 2 tahun, oleh karena itu kami selaku bertengkar.
"Tapi Bu, belinya di bawah, jauh. Gak bisa bawa mobil, harus jalan, capek" Keluh kakakku.
"Kamu ini banyak ngeluh, sudah cepat sana!" Bentak Ibuku.
"Yah deh" Jawab kakakku "Cihh, bocah laknat sialan" Desis kakakku sambil melirik ke arahku.
"Hihihi, emang enak" Aku hanya tertawa kecil, melihat kakakku harus turun ke bawah demi menuruti permintaanku.
Kamu pun menyiapkan berbagai perlengkapan untuk nanti malam.
—Malam harinya—
Kami berkumpul pada sebuah gazebo di belakang villa. Ibuku menyiapkan berbagai peralatan makanan. Ayahku sedang menyiapkan kayu bakar, dan kakak mungkin sedang chatan dengan pacarnya, xixixi.
"Hikari, mau di masak sekarang atau enggak?" Tanya Ayahku yang sedang menyiapkan kayu bakar.
"Iya iyaa" Aku beranjak dari gazebo dan berjalan mendekati tumpukan kayu itu. Aku lalu mengambil marsmellow yang aku aku bakar dan menusuknya pada sebuah lidi, di bantu oleh ibuku.
Tiba tiba Kakakku berteriak, "Yah, Bu, Cil, udah jam 10 nih"
Ibuku lalu memegang dadanya dengan sesak dan matanya yang sayup. Ayahku mengambil kacamatanya, dan pandangan matanya juga sedih, begitu juga dengan Kakakku. Tak di sangka ya, waktu berjalan begitu cepat, tinggal 2 jam lagi.
"Ayoo! Bikin marsellow nya" Ujarku.
"Marsmellow dongo bin tulen" Ejek kakakku. Seperti biasa, ia selalu memecahkan suasana. Tapi terkadang itu ide yang baik."
Aku pun memanggang beberapa marsmellow dan beberapa makanan, setelah itu aku sajikan untuk kita nikmati bersama sama.
"Yah, Bu, Kak, makasih ya udah merawat Hikari sampai saat ini. Tapi...Hikari belum bisa membalas semua kebaikan kalian, Hikari hanya bisa menyusahkan kalian. Padahal biaya rawat dan obat Hikari mahal, tapi Ayah selalu membawa Hikari ke rumah sakit, pasti kan harganya mahal. Hikari tau kok, Ayah dana Ibu sering ngutang kalap penyakit Hikari kambuh"
"Kakak juga, selama ini kakak sayang kan sama aku? Aku juga kok, tapi jangan kepedean ya, hihihi. Maaf ya, selama ini aku selalu merintah kakak, nyuruh kakak ini itu. Moga pas Hikari pergi kakak maapin dosa aku ya, hihihi. Maafin lho ya, awas aja ntar aku bantuin, Boo"
Aku tak tau harus berkata apa, setidaknya aku tidak apa penyesalan lagi jika aku pergi.
"Maaf, Hikari cuma bisa bilang Terimakasih"
Air mata mulai membasahi pipiku. Ibuku menangis terisak Isak, sedangkan Ayah dan Kakak hanya bisa duduk terdiam.
"Makasih ya, Lo udah mau jadi adek gw" Ucap Kakak dengan nada lirih.
"Yayayaaa" Aku berusaha untuk tetap baik baik saja dan tersenyum. Mesti aku tau, semua orang sedih. Namun aku tak mau mereka merasa sedih.
"Nah kalo gitu ayo buat permohonan, pas banget ada bintang jatuh" Aku menunjuk ke arah langit, bintang bintang berjatuhan menghiasi malam yang penuh pilu ini.
Aku menempelkan kedua tanganku, dan berdoa "Tuhan, ku tau Engkau yang maha baik, Engkau pasti telah mengatur sesuai rencanamu. Setidaknya tolong berikan kebahagiaan kepada keluargaku, setelah aku pergi"
"Tuhan, Terimakasih atas segala yang telah Kau berikan kepadaku"
Aku membuka mataku dengan senyuman tulus, air mata tak henti membasahi pipiku. Kesadaranku mulai hilang, tubuhku mulai goyah, dan aku terjatuh.
Brukk...
"Hikari"
[End]
Cerpen ini Lisaa dedikasikan untuk @Mamanya Haikal. Lisaa tak bermaksud untuk mendoakan yang buruk tentang mamanya Haikal, atau Ibu Siti.
Sebenarnya tujuan Lisaa membuat cerpen ini hanya untuk menyampaikan sebuah pesan. Bahwa kita harus memanfaatkan waktu kita dengan baik, lakukanlah segala sesuatu yang ingin kalian coba, sebelum kalian menyesal.
Karena Tuhan telah memberikan yang terbaik. Seperti karakter di cerpen ini, Hikari. Ia tau waktunya terbatas, setidaknya ia sangat berterimakasih atas segalanya. Lisaa bukanlah orang yang pandai merangkai kata, dan mungkin hidup Lisaa tak sepahit hidup Mamanya Haikal, namun Lisaa percaya, Mamanya Haikal akan mendapatkan yang terbaik.
Untuk Mamanya Haikal, Semangat, lawanlah rasa sakitmu. Kami para penulis cerpen dan penghuni Mangatoon akan mendoakan yang terbaik untuk dirimu. Cepatlah sembuh💪 Kami menanti dirimu.
Kalian tau, alasan aku menggunakan nama Hikari? Karena Hikari berarti cahaya, dan setiap orang memiliki cahayanya sendiri.
By Lisaa Lisaya