Di sebuah desa kecil yang tenang, hiduplah seorang gadis bernama Lira. Ia dikenal pendiam, sering duduk sendiri di tepi sawah sambil menatap langit malam. Bukan bintang yang ia cari, melainkan bulan. Setiap malam, ia berbicara pada bulan, seolah benda langit itu mendengarkannya.
“Bulan,” bisiknya suatu malam, “kalau kau bisa bicara, apa yang akan kau katakan padaku?”
Malam menjawab dengan angin yang lembut, dan bulan bersinar sedikit lebih terang. Sejak kecil, Lira merasa bulan adalah sahabatnya. Ia merasa dimengerti, walau tidak pernah dijawab.
Suatu malam purnama, saat Lira tengah duduk seperti biasa, langit tiba-tiba berkabut, dan bulan tertutup awan. Ia merasa sedih, seperti ditinggal sahabat sendiri. Tapi kemudian, suara lembut terdengar dari balik kabut.
"Aku selalu mendengarkanmu, Lira," bisik suara itu. "Aku tidak pernah pergi, hanya bersembunyi sejenak."
Lira terkejut. Ia berdiri, matanya menatap ke langit yang mulai terang kembali. Bulan muncul perlahan, dan entah bagaimana, senyum kecil terbentuk di wajahnya.
"Terima kasih," jawab Lira pelan. "Karena telah menemaniku bahkan ketika aku merasa sendiri."
Sejak malam itu, Lira tak lagi hanya menatap bulan. Ia menulis surat untuknya, menyimpan di bawah bantal. Dan setiap pagi, entah mengapa, hatinya selalu terasa lebih ringan.
Karena ia tahu, ada satu sahabat di langit yang tak pernah benar-benar pergi: bulan, yang selalu setia mendengarkan.