Gadis kecil tanpa alas kaki itu berjalan menyusuri jalan aspal yang panas.
Terik matahari tak menyurutkan langkahnya untuk berjualan kue mueh buatan ibunya yang sedang sakit kakinya.
Bunga kecil seakan menggantikan posisi Ibunya yang tidak bisa berjalan.
Keranjang kue mueh di tangan mungilnya, apakah akan ada yang datang menghampirinya.
Hanya orang-orang dengan hati ikhlas yang mau menukarkan selembar kertas berwarna abu-abu dengan sepotong kue buatan Ibunya.
Bunga kecil meringis kala kaki kecilnya terasa perih karena panasnya aspal.
Siang hari yang terik biasanya gadis kecil seusianya bermain dengan teman-temannya atau bersekolah.
Tetapi tidak dengan Bunga Jingga Pertiwi, gadis kecil 7 tahun itu harusnya sudah masuk sekolah dengan seragam merah putih.
Namun karena kondisi ibunya yang tidak bisa membiayai sekolahnya, Bunga gadis kecil itu hanya bisa melihat teman sebayanya pergi ke sekolah tiap pagi di antar orang tuanya.
Ibunya hanya seorang Ibu tunggal yang sudah ditinggalkan oleh Ayah Bunga entah kemana. Bunga tidak pernah tau siapa ayahnya.
Bunga gadis kecil itu tiap pagi sudah harus bangun dan berkeliling berjualan kueh mueh dengan keranjangnya.
Siang ini Bunga kecil harus mendapatkan rupiah demi membahagiakan Ibunya yang telah susah payah membuat kue untuk di jual dan untuk membeli kebutuhan sehari-hari hidup mereka.
Bunga kecil mengusap keringat yang menetes di keningnya memandang tiang tinggi menjulang dengan kibaran merah putih yang ia tau itulah yang namanya bendera.
Hari ini begitu semarak kota kecilnya dengan banyaknya bendera yang berkibar dari tiang-tiang tegak di kotanya.
Bunga kecil hanya mampu memandang tanpa tau apa yang sedang di rayakan.
Bunga kecil terus melangkah dengan kaki tirusnya berharap keranjangnya akan habis dan pulang dengan hati riang menyerahkan lembaran kertas abu-abu ke tangan Ibunya dan melihat Ibunya tersenyum dan mengelus kepalanya lembut.
Itulah kebahagiaan sejati yang Bunga rasakan tanpa tau apa itu arti merdeka untuk dirinya.
Bagi Bunga kecil berjalan menyusuri jalan tanpa alas kaki dan tanpa rasa takut dan khawatir itulah merdeka sejatinya bagi dirinya.
Bunga memasuki rumahnya dengan langkah kaki gontai.
"Assalamualaikum Ibu," salamnya.
"Waalaikumsalam, Nak," Ibu tersenyum lembut ke putri kecilnya.
Seorang wanita cantik berhijab dan seorang gadis kecil berhijab tersenyum melihat Bunga yang berkeringat.
"Waalaikumsalam Bunga, sini duduk dekat Tante, jangan takut," ucap wanita itu ramah.
Bunga melirik ke Ibunya, Ibu menganggukkan kepalanya.
Bunga meletakkan keranjangnya ke atas meja dan melangkah pelan menghampiri wanita cantik yang duduk berseberangan dengan Ibunya.
"Bunga duduk sini dekat Tante, ini kenalkan anak Tante, Melody, ayo Lody salaman sama Bunga,"
Gadis kecil berhijab tersebut mengulurkan tangannya ke Bunga.
"Hallo Bunga, Aku Melody panggil aja Lody," ucap Melody tersenyum hangat.
Bunga ragu-ragu menerima salam dari Melody. Melody gadis kecil cantik putih dan bersih, sedangkan dirinya tampak sangat berantakan dan kumal.
"Jangan takut Aku ke sini sama Mamahku mau mengajak Kamu jalan-jalan dan tinggal di rumahku, nanti Ibu Kamu juga ikut ke rumahku,"
Bunga tampak semakin bingung.
"Melody, Bunga masih bingung itu biarkan Bunga istirahat dulu ya," ucap Ibu Melody lembut ke putrinya.
"Bunga, ini sahabat Ibu Nak, Tante Dea, Tante Dea sama keluarganya baru kembali dari luar negeri dan akan menetap di sini, Tante Dea akan menjadi Bos Ibu nanti Nak di butiknya, dan Bunga nanti akan sekolah," jelas ibunya Bunga dengan suara bergetar karena terharu.
"Sekolah? Bunga sekolah?" tanya Bunga dengan mata bekerjap-kerjap.
"Iya Sayang, Bunga nanti sekolah bareng sama Melody ya," ucap Tante Dea lembut.
"Jadi nanti Bunga gak jualan kue lagi Bu?" Bunga menoleh ke Ibunya.
"Tidak Sayang, Bunga nanti tidak jualan lagi, Bunga nanti akan sekolah, apa Bunga senang?"
Bunga mengangguk girang, "Senang Bu, Bunga senang,"
Ibu Bunga dan sahabatnya saling tersenyum dan terharu.
Bunga gadis kecil itu mulai besok tidak lagi berjualan kue dengan keranjangnya.
Bertepatan dengan hari kemerdekaan RI 17 Agustus, Bunga, gadis kecil itu mendapatkan kemerdekaan untuk dirinya, ia tidak lagi harus berjualan di saat anak-anak seusianya bermain, belajar dan juga melakukan aktifitas hoby mereka.
Bunga kecil berjanji kepada dirinya sendiri untuk giat belajar mencapai cita-citanya menjadi seorang dokter yang bisa menyembuhkan banyak orang.
Bunga kecil selalu melihat ibunya yang selalu kesakitan di kakinya dan sulit untuk berjalan. Ibunya tidak bisa berobat karena tidak ada biaya.
Jangankan untuk berobat untuk makan saja mereka kesulitan.
Bunga kecil berlari keluar rumahnya dengan hati riang, berlompat-lompat karena kegirangan.
"Hore! Bunga besok sekolah, sekolah!"
Sederhana saja kebahagiaan bagi seorang gadis kecil bernama Bunga, keinginannya untuk bisa memakai seragam merah putih seperti teman-teman lainnya akhirnya kesampaian.
Hidup sederhana berdua bersama ibunya yang menyayanginya dan membuat ibunya tersenyum sudah membuat hati Bunga senang apalagi mulai besok dirinya akan bersekolah hati Bunga bertambah senang.
************* 🌹🌹 **************