---
Haechan memandangi langit sore yang kemerahan dari balik jendela kamarnya. Tangannya menggenggam cangkir teh yang sejak tadi dingin, tak tersentuh. Sejak Mark memutuskan untuk pergi, hari-hari berlalu dalam keheningan yang tak biasa. Rumah ini masih sama, tapi rasanya tidak lagi utuh.
"Mark Lee, kamu jahat banget," gumamnya pelan, mata sembab, suara serak.
Mark bukan tipe yang pandai berpamitan. Dan kepergiannya dua bulan lalu adalah pukulan paling berat bagi Haechan. Bukan karena Mark pergi ke luar negeri. Tapi karena dia pergi tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa ucapan selamat tinggal.
---
Mereka bertemu di tahun pertama kuliah. Mark adalah mahasiswa pindahan dari Kanada, Haechan anak Jaksel yang flamboyan dan supel. Mereka bertolak belakang, tapi itu justru yang membuat mereka mendekat.
"Kamu suka hujan nggak?" tanya Haechan di suatu sore, saat mereka duduk di bangku halte kampus.
Mark mengernyit. "Not really."
"Aku suka," kata Haechan sambil tersenyum. "Soalnya kalau hujan, orang-orang jadi punya alasan buat diam sebentar."
Mark diam. Lalu menoleh. "Kamu suka diam?"
"Nggak juga," katanya sambil terkekeh. "Tapi aku suka waktu kamu diam. Soalnya kamu jadi nggak bisa ngeles."
Mark hanya menggeleng pelan. Tapi sejak hari itu, setiap hujan turun, Mark diam. Dan Haechan tahu, diamnya itu untuk dia.
---
Hubungan mereka berjalan seperti cerita rahasia. Bukan karena mereka menyembunyikan, tapi karena tidak semua orang akan mengerti. Mark yang tenang dan penuh perhitungan, Haechan yang spontan dan emosional. Mereka saling mencintai, tapi juga sering saling menyakiti.
"Kamu nggak bisa terus-terusan ngilang setiap ada masalah, Mark," kata Haechan suatu malam.
Mark mendesah. "Aku butuh waktu buat mikir."
"Tapi aku butuh kamu buat tetap tinggal."
Mark tidak menjawab. Dan malam itu, untuk kesekian kalinya, ia memilih pergi.
---
Dua bulan setelah kepergian Mark, Haechan menerima surat. Bukan email, bukan chat. Tapi surat fisik, dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal.
"Haechan,
Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Mungkin ini surat pengecut, tapi ini satu-satunya cara yang kupunya. Aku pergi bukan karena aku nggak cinta. Aku pergi karena aku takut cinta kita nggak cukup kuat buat bertahan di dunia nyata. Kita terlalu sering luka-lukaan, terlalu sering saling tarik ulur. Dan aku takut suatu hari aku akan membencimu karena itu.
Tapi dua bulan tanpa kamu rasanya kayak neraka yang pelan-pelan nelen aku hidup-hidup. Aku mimpiin kamu tiap malam. Aku denger suara kamu di setiap musik yang aku dengerin. Aku kangen kamu, Haechan. Tapi aku juga sadar, mungkin kamu lebih baik tanpa aku.
Kalau kamu baca ini dan kamu masih percaya kita bisa... kirimkan balasan. Aku akan nunggu. Kalau tidak, aku akan anggap kamu bahagia sekarang. Dan itu cukup buat aku bisa berhenti nyalahin diri sendiri."
Mark"
---
Haechan membaca surat itu berkali-kali. Ia menangis, marah, tertawa, lalu menangis lagi. Rasanya seperti dilempar kembali ke hari-hari saat Mark masih di sini. Saat tawa mereka masih memenuhi kamar ini.
Ia menulis balasan.
"Mark,
Aku nggak tahu apa cinta kita cukup atau nggak. Tapi yang aku tahu, aku nggak pernah berhenti milih kamu, bahkan di saat kamu nggak milih aku.
Kamu boleh takut. Aku juga takut. Tapi hidup itu bukan soal siapa yang paling berani. Tapi siapa yang tetap tinggal meski takut.
Kalau kamu masih mau balik, aku di sini.
Kalau kamu nggak bisa, aku akan belajar buat bahagia tanpamu. Tapi jangan pernah mikir aku baik-baik aja. Karena aku nggak akan pernah baik-baik aja tanpa kamu.
Haechan"
Ia kirim surat itu ke alamat yang tertera. Tapi minggu demi minggu berlalu tanpa jawaban. Hingga satu hari, ia mendapat paket. Sebuah buku jurnal, dengan catatan tangan Mark di halaman pertama:
"Ini kisah kita yang nggak pernah selesai. Tapi setidaknya, kita pernah menulisnya bareng-bareng."
---
Lima tahun kemudian, Haechan berdiri di pinggir danau, menggandeng tangan seorang anak kecil.
"Uncle Mark dulu suka banget danau kayak gini," katanya sambil tersenyum pada bocah lelaki di sampingnya.
Anak itu menatapnya penasaran. "Uncle Mark siapa, Mum?"
Haechan mengusap rambutnya pelan. "Teman lama Mum. Yang ngajarin Cha cara ngerti diam."
Bocah itu tidak mengerti, tapi ia menggenggam tangan Haechan lebih erat.
Angin sore menerpa pelan. Dan di kejauhan, Haechan membayangkan suara Mark tertawa. Membayangkan mereka berdiri berdampingan. Mungkin di dunia lain, mereka bisa bahagia.
Tapi di dunia ini, Haechan hanya bisa menyimpan kenangan itu di tempat paling dalam.
Karena tidak semua cinta perlu dimiliki.
Beberapa cinta hanya perlu diingat.
Dan itu cukup.
---
[END]