Di sebuah desa kecil yang terhimpit di antara hijaunya lembah dan puncaknya yang selalu diselimuti kabut, hiduplah seorang pemuda bernama Arga. Sejak kecil, Arga telah jatuh cinta pada alam, khususnya pada Gunung Belantara, gunung tertinggi di wilayah itu. Baginya, gunung itu bukan hanya sekadar tumpukan batu dan tanah, melainkan sebuah jiwa yang misterius dan mempesona.
Suatu hari, Arga memutuskan untuk melakukan pendakian solo yang lebih menantang. Ia ingin mencapai Puncak Nirwana, puncak tertinggi yang konon jarang dijamah manusia karena medannya yang sulit dan legenda-legenda mistis yang menyelimutinya. Namun, di tengah perjalanannya, ia tersesat. Kabut tebal tiba-tiba turun, menutupi jejak-jejak yang telah ia tandai.
Di saat keputusasaan mulai menyelimuti, ia mendengar suara gemerisik. Dari balik semak belukar, muncul seorang gadis dengan rambut panjang tergerai yang mengenakan pakaian sederhana dari kain tenun. Namanya Kirana. Ia adalah putri seorang tetua adat yang tinggal di sebuah gubuk tersembunyi di lereng gunung. Kirana tidak hanya cantik, ia juga menguasai ilmu pengobatan tradisional dan mengenal seluk-beluk Gunung Belantara seperti telapak tangannya sendiri.
"Kamu tersesat?" tanya Kirana dengan suara lembut namun tegas.
Arga mengangguk, terpesona oleh kecantikan dan aura misterius gadis itu. Kirana kemudian membawanya ke gubuknya. Di sana, Arga dirawat hingga pulih. Selama beberapa hari di gubuk itu, Arga dan Kirana menghabiskan waktu bersama. Kirana mengajari Arga cara mengenali tumbuhan obat dan membaca arah bintang. Arga, sebaliknya, menceritakan tentang kehidupan di desa, tentang mimpi-mimpinya, dan tentang betapa ia mencintai gunung ini.
Cinta di antara mereka tumbuh perlahan, seiring dengan matahari yang terbit dan tenggelam di balik punggung gunung. Arga menemukan bahwa cinta Kirana sedalam dan setenang hutan di sekitar mereka. Sedangkan Kirana, menemukan bahwa cinta Arga sehangat dan sekuat api unggun yang selalu mereka nyalakan setiap malam.
Namun, cinta mereka diuji oleh takdir. Suatu hari, Arga harus kembali ke desa. Ia tidak bisa selamanya tinggal di gubuk itu. Janji untuk kembali adalah satu-satunya hal yang ia bisa berikan pada Kirana. Dengan berat hati, ia meninggalkan gubuk itu, membawa serta kenangan manis bersama Kirana.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Arga berusaha menepati janjinya. Ia mengumpulkan bekal, mempersiapkan diri, dan akhirnya kembali mendaki Gunung Belantara. Kali ini, ia tidak tersesat. Ia menemukan jalan menuju gubuk Kirana. Namun, saat ia tiba, gubuk itu kosong. Hanya ada sebuah surat yang ditinggalkan Kirana.
Surat itu berbunyi, "Arga, aku tahu kamu akan kembali. Tapi, tugasku di sini sudah selesai. Aku harus pergi, mencari petunjuk baru dari alam. Jangan mencariku. Aku ada di setiap embun pagi, di setiap hembusan angin, dan di setiap gemerisik daun. Ingatlah, cinta kita tidak akan pernah padam, selama kamu menjaga gunung ini seperti kamu menjagaku. Sampai jumpa."
Arga terpukul. Ia tidak pernah menyangka akan kehilangan Kirana secepat ini. Namun, ia mengerti. Kirana adalah bagian dari Gunung Belantara, dan gunung itu tidak bisa dimiliki oleh siapa pun. Ia memutuskan untuk menghormati keinginan Kirana.
Sejak saat itu, Arga tidak pernah lagi mendaki gunung untuk mencari Kirana, melainkan untuk menjaga kelestariannya. Ia menjadi penjaga gunung, mengamati setiap perubahan, dan memastikan tidak ada seorang pun yang merusak keindahan alamnya. Setiap kali ia mendaki, ia merasa Kirana ada bersamanya, membisikkan kata-kata cinta melalui hembusan angin.
Cinta Arga pada Kirana telah bermetamorfosis menjadi cinta pada alam. Dan di balik Gunung Belantara yang megah, cinta mereka terus hidup, abadi dan tak lekang oleh waktu.
[TERIMAKASIH ATAS SUDAH MEMBACANY😊🤗]