Hujan deras mengguyur atap rumah reyot di pinggiran kota. Lantai tanah becek oleh jejak kaki yang berlalu-lalang. Di sudut dapur yang hanya diterangi lampu minyak kecil, seorang anak laki-laki duduk bersila sambil memegang roti sobek yang hampir basi.
Namanya Raka, 11 tahun. Sudah dua hari ia dan ibunya hanya makan nasi dengan garam. Hari ini ia mencuri waktu dari pekerjaannya sebagai pengangkut barang di pasar, demi mencari sesuatu yang bisa dimakan ibunya yang sedang sakit.
Ia menyelipkan sepotong roti itu ke dalam kantong bajunya. Bukan karena tak punya tempat, tapi karena takut roti itu hilang atau direbut orang lain.
Sampai di rumah, ia melihat ibunya masih terbaring. Nafasnya berat. Matanya terbuka sedikit saat mendengar langkah kaki Raka.
“Bu…” Raka berlutut di samping kasur lusuh. Ia mengeluarkan roti itu dan menyodorkannya.
Ibu menatapnya lemah. “Kamu sudah makan, Nak?”
Raka menggeleng cepat. “Nanti, kalau Ibu sudah makan duluan.”
Wanita tua itu tersenyum tipis. “Kamu anak baik…”
Raka menggigit bibirnya, menahan air mata. Ia tahu, senyum ibunya bukan pertanda sembuh. Tapi senyum yang mungkin… yang terakhir.
Tangan kurus itu menerima roti, menggigit sedikit, lalu berhenti.
“Manis ya… rasanya,” bisiknya. Padahal rotinya tawar, bahkan agak asam.
Beberapa menit kemudian, tangan itu terlepas dari roti. Raka tak langsung sadar.
Namun ketika ia memanggil ibunya dan tak ada lagi jawaban, tangisnya pecah.
Hujan masih turun. Tapi malam itu, dunia terasa sunyi.