Di sebuah desa kecil yang ada di pinggiran kota, tinggal seorang kakek tua yang bernama Kakek Marda. Rambutnya sudah memutih, matanya redup tapi penuh cerita dan kenangan. Di rumah kayunya yang sederhana, ia menyimpan banyak kenangan bukan berupa emas atau harta, melainkan potongan-potongan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Setiap tanggal 17 Agustus, Kakek Marda akan duduk di teras rumah, mengenakan baju putih polos dan peci hitam, sembari memutar lagu "Indonesia Raya" lewat radio tua yang sudah mulai serak suaranya. Setiap kali lagu itu berkumandang, matanya berkaca-kaca.
“Apa kakek sedang menangis?” tanya Raka, cucunya yang masih duduk di bangku SMP.
Kakek Marda tersenyum, lalu menatap langit dengan lekat . “Kakek tidak menangis karena sedih, Nak. Tapi karena rindu. Rindu pada masa di mana kata merdeka benar-benar punya arti didalamnya.”
Raka mengernyit bingung. “Bukankah sekarang kita sudah merdeka, Kek? Kita nggak dijajah lagi…”
Kakek Marda menghela napas panjang. “Benar, kita tidak dijajah oleh negara lain. Tapi banyak dari kita dijajah oleh ketidakadilan, keserakahan, dan kebodohan buatan sendiri. Dulu, kami bertaruh nyawa demi bendera ini. Tapi sekarang, banyak yang melupakan maknanya.”
Raka terdiam. Ia tak sepenuhnya mengerti, tapi ia tahu, ucapan sang kakek bukan tanpa alasan.
Kakek Marda melanjutkan, “Merdeka itu susah, Raka. Banyak yang gugur, banyak yang dikorbankan. Tapi hari ini, orang-orang hanya mengibarkan bendera setiap Agustus tanpa tahu bagaimana warnanya dilukis dengan darah. Banyak pemimpin yang lupa bahwa mereka dulu dijunjung bukan untuk menindas, tapi untuk melindungi rakyatnya.”
“Tapi keadaan negara ini bisa berubah, Kek?” tanya Raka pelan.
Kake Marda menatap cucunya lama. Senyum mengembang di wajah keriputnya.
“Ya. Harapan itu selalu ada. Asal kalian, anak-anak muda, tidak buta sejarah dan tidak tuli pada suara hati. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajah asing. Merdeka adalah ketika rakyat bisa hidup layak, sekolah dengan tenang, makan dengan cukup, dan didengar oleh pemimpinnya. Jika semua itu belum ada, maka perjuangan kita belum selesai.”
Hari itu, Raka duduk diam lebih lama dari biasanya. Kata-kata kakeknya tertanam dalam-dalam di hatinya. Di tangannya, ia meremas bendera kecil yang ia bawa dari sekolah. Bukan lagi sekadar kain merah putih, tapi simbol harapan yang harus dijaga.
---
Pesan Tambahan:
Kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tapi juga kebebasan dari ketidakadilan, korupsi, dan kemiskinan. Bangsa ini telah berdiri di atas darah dan air mata para pejuang. Maka tugas kita sekarang bukan hanya mengenang, tetapi meneruskan perjuangan dalam bentuk baru: kejujuran, kerja keras, dan cinta pada negeri.
---