Kedekatan Fred dan Y/N
Sejak Y/N Yvette masuk ke kelas, ia perlahan mulai berbaur. Kehadirannya membawa suasana baru. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang lembut dan penuh kejutan.
Suatu hari, jam pelajaran seni, Fred Weasley sedang membuat patung dari tanah liat. Namun, patung yang ia buat terus-menerus jatuh. Y/N Yvette, yang duduk di sebelahnya, tersenyum melihatnya.
"Fred, kamu kenapa?" tanya Y/N dengan lembut. "Patungmu terus-menerus jatuh."
"Ini aneh, Y/N," balas Fred. "Padahal aku sudah ikutin semua tutorial, tapi patung ini enggak mau berdiri."
Y/N lalu mengambil sedikit tanah liat dari meja Fred. Dengan tangan lentiknya, ia membentuk tanah liat itu dengan sangat cepat. "Mungkin... kamu harus lebih halus saat menyentuhnya. Tanah liat itu seperti hati, Fred. Ia butuh kelembutan."
Fred terkejut. Ia melihat patung yang dibuat Y/N, patung itu terlihat sangat indah. "Gila, Y/N! Kamu jago banget! Kok bisa?!"
"Aku suka membuat kerajinan dari tanah liat," jawab Y/N. "Ayahku mengajariku saat aku masih kecil."
Seketika, Fred merasa ada ikatan dengan Y/N. Ia tahu, di balik sifatnya yang lembut, Y/N memiliki keahlian yang luar biasa.
Sejak saat itu, Fred dan Y/N menjadi lebih dekat. Mereka sering mengobrol, berbagi cerita, dan Fred sering bertanya kepada Y/N tentang banyak hal.
Suatu sore, Fred dan Y/N duduk di bangku taman sekolah.
"Y/N," panggil Fred. "Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya apa, Fred?"
"Kamu... kamu suka sama cowok yang kayak gimana?"
Y/N tersenyum. "Aku suka cowok yang bisa membuatku tertawa. Aku suka cowok yang bisa menunjukkan sisi baiknya, meskipun dia sering jahil."
Fred terdiam, wajahnya sedikit memerah. Ia merasa, Y/N sedang membicarakan dirinya.
"Aku juga suka cowok yang bisa menertawakan dirinya sendiri," tambah Y/N, "dan aku suka cowok yang bisa menghargai wanita. Aku rasa itu yang terpenting."
Fred menatap Y/N, dan ia merasa ada sesuatu yang berbeda di hatinya. Ia tidak hanya melihat Y/N sebagai teman, tapi juga lebih dari itu. Ia melihat Y/N sebagai gadis yang bisa melengkapi hidupnya.
Sebuah Surat dan Buku Kenangan
Malam itu, George Weasley terlihat sangat serius. Ia duduk di mejanya, memegang pena, dan mulai menulis. Di sampingnya, Fred Weasley melihat George dengan bingung.
"Woi, George! Lo nulis surat apa? Tumben banget," goda Fred.
"Ini bukan surat biasa, Bro!" bisik George. "Ini surat buat Aya. Tapi lo jangan kasih tahu dia, ya!"
Fred hanya mengangguk. Ia tahu, George sangat mencintai Aya.
George terus menulis, menumpahkan semua perasaannya di atas kertas. Ia menulis tentang pertama kali ia jatuh cinta pada Aya, tentang perjuangan mereka, tentang momen-momen manis yang tak terlupakan. Ia menulis, "My First Love, My Love Until The End Of My Life."
Keesokan harinya, saat Aya datang ke kelas, ia menemukan sebuah surat di mejanya. Ia membuka surat itu, dan air matanya menetes. Ia membaca setiap kata yang George tulis, dan ia tahu, George adalah cinta pertamanya, dan cinta terakhirnya.
Tiba-tiba, George datang dan tersenyum. "Gimana? Suka suratnya?"
"Aku... aku suka banget, George," jawab Aya sambil memeluk George. "Ini surat paling romantis yang pernah aku terima."
"Tunggu dulu, itu belum semuanya!" kata George.
George lalu mengeluarkan sebuah buku tebal, berjudul sama dengan surat itu, "My First Love, My Love Until The End Of My Life". Buku itu adalah buku tulisan tangan George, dibantu oleh Fred, yang berisi foto-foto George dan Aya dari saat mereka masih SMP. Ada foto mereka saat pertama kali bertemu, saat mereka pergi ke pesta prom, saat mereka bermain Quidditch bersama, dan masih banyak lagi.
"Ini... ini buku kenangan kita?" tanya Aya, matanya berkaca-kaca.
"Iya," jawab George. "Aku minta bantuan Fred buat nyari foto-foto kita. Aku mau kamu tahu, kalau kita punya banyak kenangan, dan kita akan punya lebih banyak lagi di masa depan."
Aya tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk George, dan mencium pipinya.
"Makasih banyak ya, George," bisik Aya. "Aku sayang banget sama kamu."
George tersenyum. "Aku juga sayang banget sama kamu, Ay."
Di sudut ruangan, Fred hanya tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Ia tahu, George dan Aya adalah pasangan yang paling romantis, dan ia bangga menjadi bagian dari kisah cinta mereka.