Akhir dari Sebuah Petualangan
Minggu-minggu terakhir di kelas X terasa sangat cepat. Semua pelajaran, canda tawa, bahkan pertengkaran kecil yang pernah terjadi, kini terasa seperti kenangan yang berharga. Persahabatan di kelas Thousands of Memories semakin erat, dan mereka sadar, tak lama lagi mereka akan naik ke kelas XI.
Suatu sore, buku tahunan sekolah dibagikan. Semua siswa langsung sibuk membuka halaman demi halaman, mencari foto mereka dan teman-teman sekelas.
"Wah, muka lo di sini lucu banget, Ron!" goda Harry Potter sambil tertawa.
Ron Weasley mendengus. "Jangan liatin foto gue, Harry! Liatin foto lo! Lo kayak habis kena prank-nya Fred sama George!"
Di sudut ruangan, Aya Parker dan George Weasley duduk bersama, melihat foto-foto mereka.
"Lihat ini, George!" kata Aya sambil menunjuk foto saat mereka bermain Quidditch. "Kita berdua keren banget di sini!"
"Iya, kan?" balas George sambil tersenyum. "Tapi yang paling keren, pas kita berdua di kantin, terus Hermione gangguin kita."
Aya tertawa kecil. Ia teringat momen-momen manis yang pernah mereka lewati. Ia teringat saat George memberinya kalung, dan saat George membantunya melukis potret diri.
Sementara itu, Draco Malfoy duduk bersama Pansy Parkinson, Marietta Edgecombe, Luna Lovegood, dan Astoria Greengrass. Draco membuka buku tahunan, dan di halaman kelas mereka, ia melihat semua foto. Ada foto Hermione Granger yang serius, foto Fred Weasley dan George Weasley yang jail, dan foto Aya Parker yang memar setelah bertarung.
"Ternyata, lo semua gak seburuk yang gue pikir," kata Draco, suaranya pelan.
Pansy menatap Draco. "Kami juga gak seburuk itu, kok. Lo aja yang dulu terlalu cuek."
Draco hanya tersenyum tipis. Ia tahu, persahabatan di kelas Thousands of Memories telah mengubahnya. Ia yang dulu angkuh, kini menjadi lebih terbuka. Ia yang dulu kesepian, kini memiliki banyak teman.
Di halaman lain, ada foto tim voli yang sedang berlatih. Foto Aya yang cedera, namun tetap tersenyum. Foto Cho Chang yang serius saat nge-blok. Foto Ginny Weasley yang lincah. Foto-foto itu menceritakan semua perjuangan mereka.
"Wah, foto kita keren banget, ya?" kata Cho sambil tersenyum. "Jadi kangen latihan bareng."
"Iya, kangen banget!" timpal Hermione. "Meskipun capek, tapi seru."
Hari pengumuman kenaikan kelas tiba. Semua siswa kelas X lulus dan naik ke kelas XI. Mereka tidak lagi menjadi anak-anak kelas X, melainkan anak-anak kelas XI.
Di akhir hari, mereka semua berkumpul di lapangan. Mereka berpelukan, tertawa, dan menangis bersama. Mereka tidak tahu, apakah di kelas XI nanti mereka akan tetap sekelas. Namun, satu hal yang pasti, mereka tidak akan pernah melupakan kenangan-kenangan di kelas Thousands of Memories.
"Kita janji ya," kata Harry. "Meskipun kita gak sekelas lagi, kita harus tetap jadi teman."
"Tentu saja!" seru semua siswa serempak.
Di bawah langit senja, mereka mengucapkan selamat tinggal pada kelas X. Perjalanan mereka masih panjang, dan mereka tahu, petualangan di kelas Thousands of Memories hanyalah awal dari semua kenangan yang akan mereka buat bersama.
Bagaimana menurutmu, apakah mereka akan sekelas lagi di kelas XI?
Sekelas Lagi dan Murid Baru yang Cantik
Hari pertama di kelas XI. Suasana di koridor ramai, tapi ada satu hal yang membuat semua siswa Thousands of Memories terkejut: mereka kembali sekelas! Ruangan yang sama, bangku yang sama, dan teman-teman yang sama. Semuanya bersorak gembira. Mereka tidak menyangka, kebersamaan mereka di kelas X akan berlanjut di kelas XI.
Namun, di tengah kehebohan itu, ada seorang gadis yang berdiri di depan kelas. Rambutnya hitam ikal, matanya merah marun yang indah, dan wajahnya sangat anggun.
"Anak-anak, dengarkan saya," kata Professor McGonagall, guru baru mereka. "Ini teman sekelas baru kalian. Silakan perkenalkan dirimu."
Gadis itu tersenyum lembut. "Halo, semuanya. Nama saya Y/N Yvette. Saya pindahan dari Jepang. Senang bisa sekelas sama kalian."
Seketika, seluruh kelas hening. Kecantikan Y/N membuat semua mata tertuju padanya.
Ron Weasley langsung berbisik pada Harry Potter. "Harry, kamu lihat itu?! Dia kayak bidadari!"
Harry hanya tersenyum. "Iya, Ron. Dia cantik banget."
George Weasley dan Fred Weasley saling menatap, wajah mereka terkejut.
"Gila, Bro," bisik Fred. "Dia cantik banget. Saingan nih sama Aya."
George hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Ia tahu, Aya adalah satu-satunya di hatinya.
Draco Malfoy, yang biasanya angkuh, juga terlihat terkesima. Ia melihat kecantikan Y/N dan merasa ada sesuatu yang berbeda darinya.
Y/N lalu berjalan ke bangku yang kosong di sebelah Ginny Weasley.
"Halo," sapa Ginny ramah. "Aku Ginny. Senang bisa sekelas sama kamu."
"Halo, Ginny," balas Y/N, suaranya lembut. "Aku juga senang bisa sekelas sama kamu."
Hermione Granger menghampiri Y/N dan tersenyum. "Kalau ada yang butuh bantuan, bilang aja, ya. Kita semua di sini ramah, kok."
"Terima kasih, Hermione," kata Y/N dengan tulus.
Di sisi lain, Aya Parker melihat Y/N. Ia tahu, Y/N adalah gadis yang sangat cantik, dan ia merasa sedikit cemburu. Namun, ia tidak menunjukkan kecemburuannya. Ia menghampiri George.
"George, kamu lihat Y/N? Dia cantik banget, kan?" kata Aya.
George tersenyum sambil merangkul Aya. "Iya, cantik. Tapi... aku lebih suka kamu. Kamu itu pahlawanku."
Aya tersenyum malu. Ia tahu, George adalah satu-satunya di hatinya.
Pelajaran pertama dimulai. Meskipun suasananya masih canggung karena adanya Y/N, mereka semua tahu, petualangan di kelas XI ini akan lebih seru dari sebelumnya.