Ku tatap wajah ku di cermin, wajah pucat bak tak teraliri darah dengan kantung mata yang mulai menghitam serta rambut yang mulai menipis, aku meringis menatap wajah ku sendiri, apakah benar ini diriku? airmata ku seketika meluncur bebas, menangisi segala kepedihan dan penyakit yang ku idap yaitu Kanker otak setadium 3.
'Ya tuhan, aku lelah sungguh lelah, namun aku tak ingin menyerah karena merekalah semangat hidup ku,' ku tatap dengan sayang tubuh dua orang yang begitu ku sayangi yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
"Mah, apa mamah belum tidur?" suara serak suami ku, membuat ku tersentak dan lekas menyapu air mata yang meluncur di pipi ku tanpa bisa ku tahan.
"Ah, ia pah mamah baru saja selesai shalat tahajud," ku lihat papah melirik jam di dinding kamar, "kenapa papah bangun?" tanya ku lagi.
"Apa kepala mu sakit lagi?" tanyanya lembut, dia pun beranjak menghampiriku lantas memapah ku kembali ke ranjang, aku hanya tersenyum lembut padanya, tak ingin membenarkan ataupun menampiknya, karena jujur saja kepala ku memang sakit bahkan sangat sakit, maka dari itu aku mengambil air wudhu dan melaksnakan shalat malam agar hati ku bisa tenang.
Hanya itu yang mampu aku lakukan saat ini yaitu berserah diri pada sang maha pencipta, jika memang Allah menghendaki penyakit ku ini sembuh maka aku yakin ke ajaiban itu akan datang dan jika Allah lebih sayang pada ku dan mengambil nyawa ku, aku ingin meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan di tempatkan di antara orang-orang mulia yang meninggal sebelum aku.
ku tatap wajah suami ku yang selalu mendampingi ku, dia tak pernah mengeluh ataupun merasa jenuh terhadap aku yang sudah sakit-sakitan bertahun-tahun ini, "Mirna, kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanyanya, seraya mengusap lembut kepala ku.
"Mas Danu?"
"Hem," jawabnya, dia hampir saja akan memejamkan matanya kembali namun, karena pertanyaan ku diapun kembali membuka matanya.
"Jika aku sampai tiada, apa Mas akan tetap menyayangi Alif sama seperti sekarang?" pertanyaan ku meluncur bebas begitu saja.
"Mir, sudah ku bilang kau pasti sembuh, jangan pernah menyerah demi kami, jangan pernah mengatakan hal seperti itu, kau sayang pada kami bukan, dan mengenai Alif, kasih sayang ku tak akan pernah berubah sedikitpun" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak ada yang lebih aku sayangi dalam hidup ku ini selain kalian berdua, kalian adalah segalanya bagi ku dan penyemangat hidup ku."
"Kalau begitu jangan pernah menyerah, berdo'a lah selalu, sudah ayo tidur ini sudah malam," kami tidur dengan posisi Alif di tengah-tengah kami, kami saling berpelukan seolah takut kehilangan satu sama lain.
❤️❤️❤️
Ke esokan harinya, aku ingin menyiapkan sarapan untuk suami ku walau jujur saja tubuh ku kian melemah akhir-akhir ini namun, aku tak serta merta diam saja karena aku punya kewajiban terhadap keluarga ku, aku menyeret kaki ku yang terasa kebas seperti kesemutan, entahlah mungkin ini adalah epek dari penyakit ku itu serta pengobatan alternatip yang aku jalani, terkadang aku juga merasa lemas dan pandangan ku jadi buram dengan sendirinya. Namun aku hanya bisa berdo'a serta berikhtiar, aku tak serta merta menyerah pada keadaan ku yang mungkin saja tidak akan bisa sembuh lagi.
Setelah berperang beberapa lama dengan alat masak ku, aku menghidangkan sarapan untuk dua orang yang paling aku sayangi itu, yakni Nasi goreng dengan toping telor ceplok serta taburan bawang goreng di atas nya, hanya ini yang mampu aku masak bukan aku tidak bisa masak namun, karena terbatasnya gerak ku, karena suami ku sering melarangku untuk tidak terlalu kelelahan, namun aku tak serta merta menuruti keinginannya karena aku selalu merasa berdosa ketika suami ku sepulang kerja dia harus melakukan pekerjaan rumah pula, membuat hati ku terasa di remas sakit rasanya dan ketika anak semata wayang ku meminta aku memangku nya dan sekarang aku tak mampu jangankan untuk menhan beban belasan kilo hanya untuk melangkahkan kaki ku saja rasanya sulit bagiku, belum lagi rasa sakit yang kian menjadi, di kepala ku membuat ku sering meritih tanpa suara di kamar ku, agar anak kecil nan polos itu tidak merasa khawatir pada aku ibunya yang sudah sakit keras.
"Mir, kenapa kamu masak, udah biar aku aja kamu istirahat ya jangan terlalu kelelahan," ucapnya mengingatkan.
"Tidak papa mas, mana Alif dia harus pergi sekolah kan," ujar ku seraya menilik sekitar.
"Dia masih pakai baju Mah, dia anak yang baik dia begitu mandiri di usianya yang masih sekecil itu," seketika air mata ku meluncur bebas dari kedua sudut mata ku, aku merasa nyeri di ulu hati ku.
'Ya Allah, terimakasih engkau telah memberi ku seorang putra yang soleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya, aku bangga pada Anak ku selain cerdas diapun mandiri, dia paham jika Ibunya sedang sakit, dan sering ku dengar dia memanjatkan do'a atas nama ku setelah shalat pardu yang dia kerja kan."
("Ya Allah, lindungi lah Mamah sembuhkan Mamah dari penyakitnya Ya Allah, Alif janji Alif gak akan nakal dan akan selalu nurut apa kata Mamah, Alif gak akan bolos sekolah atau pun bolos mengaji lagi, asalkan Mamah sembuh dan tetap bersama Alif dan juga Papah,") Itulah isi do'a yang ku dengar dari mulut mungil bocah kecil kesayangan ku kala itu, seketika dada ku kian bergemuruh, bagaimana jika usia ku tak lama lagi? bagaimana nasib Alif nanti?
Ah...pekik ku, jantung ku berdebar kencang dan pandangan ku mulai menggelap, kurasa keringat mulai bercucuran, seketika tubuhku mulai lemas, Ku lihat raut wajah panik dari suami ku sekilas sebelum aku tumbang dan jatuh ke lantai. Bruk...tubuh ku hilang ke seimbangan dan jatuh membentur lantai dan aku pun tak ingat apapun lagi.
Nit...nit...suara apa itu? Mamah...mamah...suara kecil itu memanggil ku, ingin ku sahuti namun, suara ku tertahan sesuatu entah apa akupun tak tau, suara itu kembali terdengar "Mamah...mamah...bangunlah... ini Alif," ucapnya.
"Mirna...Mirna...tetaplah sadar oke, aku akan tetap bersama mu jangan menyerah, jangan pernah menyerah demi kami," suara itu terdengar lirih menyemangati ku, aku tau dia adalah Mas Danu suami ku.
Sebuah cahaya putih menyorot tepat di atas kepala ku entah apa, aku ingin bertanya namun tak bisa, dan siapa mereka ada beberapa orang di ruangan ini mereka seperti mengatakan sesuatu dan terlihat panik namun, aku tak mampu mendengarnya seolah telinga ku mendadak tuli, ada dua, tiga atau empat orang di sana akupun tak tau pasti jumlahnya, mereka seperti memakai pakayan rumah sakit atau sejenis nya lengkap dengan penutup kepala dan masker yang menutupi bagian mulut dan hidungnya, apa mereka dokter? akupun tak tau, sakit...ah rasanya begitu sakit se'akan kapala ku ini akan pecah sekarang juga, aku menjerit di dalam hati dan di detik berikutnya aku sudah hilang kesadaran.
❤️❤️❤️
Hembusan angin lembut menggoyangkan pepohonan, serta mengalirkan hawa sejuk di kulit ku, aku membuka mata, ku tatap sekitar, aku masih tak percaya aku benar-benar sembuh dari penyakit ganas yang menggerogoti otak ku itu, beribu ucapan syukur dari mulutku seolah tak cukup menyampaikan betapa bersyukurnya diriku masih di beri kesempatan untuk hidup dengan keluarga kecil ku di dunia ini.
Ku tatap wajah sumbringah kedua orang yang begitu ku sayangi itu, aku tersenyum kearahnya seraya melambaikan tangan, merekapun membalas lambayan tangan ku dengan semangat.
"Aku mencintai kalian, keluaraga kecilku, terimakasih telah menjadi penopang hidup ku yang hampir runtuh ini," gumam ku seraya tersenyum.
Inilah sepenggal kisah hidup ku, yang berjuang melawan kematian, demi keluarga tercinta ku.
Tamat.
"Author"
Jangan pernah menyerah pada apa yang menekan dirimu, lawanlah, berjuang lah niscaya Tuhan pun akan membantu orang yang mau berusaha, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, jika tuhan berkehendak maka sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
💜💜💜
Note: Semua cerpen yang bertagar #mamanyahaikal merupakan cerpen yang didekasikan khusus untuk Mama Haikal (Siti Muawenah) atau akun dengan username @Mamanya Haikal, yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya. Kami para author yang ikut terlibat berharap agar cerpen kecil buatan kami bisa menambah semangat perjuangan untuk Mama Haikal.
💜 bermakna kami akan selalu mendukung, menyayangi, dan mencintai dalam waktu yang lama.
[Bagi teman-teman author yang ingin ikut berpartisipasi menyalurkan semangat pada Mama Haikal dalam bentuk cerpen, silakan masuk ke grup Bella Belvis untuk mendapatkan informasi seputar Mamanya Haikal. Atau kalian boleh langsung menulis cerpen dengan menambahkan 💜 di depan judul dan tagar #mamanyahaikal]
❤️❤️❤️❤️ Salam sayang untuk #MamanyaHaikal, tetap semangat jangan pernah menyerah ✊
From: Whidie Arista 🦋 💜💜💜