Haruka adalah seorang wanita pengidap kanker otak stadium 3. Meski begitu, Haruka tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya. Ibu dari dua anak ini selalu bekerja di restoran China sebagai seorang penerima tamu dengan giat.
Hari sudah malam, Haruka baru pulang dari restoran China, yang adalah tempat dia bekerja. Sekarang dia telah sampai di rumah.
“Aku pulang," ujar Haruka sembari mengetuk pintu perlahan.
Seorang pria paruh baya membukakan pintu rumahnya. Ya, dia adalah Kudo, suami Haruka.
“Mas, anak-anak udah pada tidur kan ya?" tanya Haruka sambil tersenyum.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, tiba-tiba Kudo langsung memeluk Haruka.
“Sudah aku bilang, kamu ini sedang mengidap penyakit. Jadi, jangan terlalu memaksa dirimu," ujar Kudo.
“Hei! Lihat, aku baik-baik saja. Jika aku hanya tidur terus seharian, aku akan merasa tersiksa," ucap Haruka.
Sebenarnya Kudo ingin agar Haruka tetap beristirahat. Namun, Haruka selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja.
Keesokan harinya, mentari pagi mulai terbit menyinari keluarga kecil Haruka.
“Nak bangun! Ini udah pagi," Haruka membangunkan kedua anaknya.
“Iya bu," kedua anaknya bangun dan berjalan ke meja makan untuk sarapan.
Sementara itu, Haruka hanya memandangi mereka sambil tersenyum tipis. Haruka sedang menggoreng ayam untuk sarapan pagi. Saat hendak menyajikan makanan, tiba-tiba Haruka merasakan pusing, kemudian Haruka jatuh pingsan.
Kudo terkejut dan segera membopong Haruka untuk pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Haruka langsung ditangani oleh dokter ahli.
Saat Haruka sedang ditangani, Kudo hanya bisa berjalan mondar-mandir. Kudo benar-benar khawatir dengan Haruka. Setelah cukup lama Kudo menunggu, akhirnya dokter keluar untuk memberikan kepastian.
Kudo bergegas menghampiri dokter.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Kudo.
“Tampaknya, penyakit kanker otak milik Nyonya Haruka sudah sangat parah. Dia tidak memiliki kesempatan hidup lagi," ujar dokter.
Setelah mendengar pernyataan dokter, mendadak tubuh Kudo mematung.
“Gak, itu gak mungkin. Dia pasti akan sembuh kan dok?" tanya Kudo tak percaya.
“Maaf," dokter hanya bisa meminta maaf.
Mata Kudo berkaca-kaca, kemudian dia masuk ke dalam kamar Haruka. Kudo menggenggam tangan Haruka seraya menangis sejadi-jadinya.
“Di mana aku?" tanya Haruka yang telah sadar.
“Kamu sudah sadar?" tanya Kudo lega.
“Aku ada di rumah sakit?" tanya Haruka.
“Iya, kau tadi pingsan," jelas Kudo.
“Tetapi, kenapa matamu merah? Sepertinya kau baru saja menangis," tanya Haruka.
Kudo hanya diam, tak mau menjawab pertanyaan Haruka. Kudo takut jika nanti Haruka akan sangat terpukul dengan fakta ini.
“Kanker otakku memburuk ya?" tanya Haruka.
Kudo masih terdiam dengan mata berkaca-kaca.
“Ternyata benar. Kau tahu kenapa aku selalu giat bekerja setiap harinya?" tanya Haruka.
Kudo masih tidak menjawab pertanyaan Haruka.
“Karena aku tahu bahwa aku akan meninggal dunia," ujar Haruka.
“Apa maksudmu?" tanya Kudo.
“Aku sudah tahu bahwa aku akan meninggal dunia. Jadi aku ingin, agar sisa hidupku ini bisa berguna untuk semua orang," jelas Haruka.
Kudo menahan tangisnya.
“Jujur saja, sebenarnya aku merasa bahwa aku adalah sebuah beban untuk keluarga ini. Aku merasa bahwa aku hanya bisa menyusahkan orang lain," perlahan bulir-bulir air mata mulai menetes, membasahi pipi Haruka.
Kudo memeluk Haruka dengan erat.
“Itu tidak benar. Kau sangat berarti bagiku dan anak-anak," ujar Kudo seraya menangis sejadi-jadinya.
Haruka hanya membalas pelukan Kudo sambil tersenyum untuk menutupi rasa sakitnya.
Keesokan paginya, Haruka bangun dari tidurnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mereka adalah Kudo dan kedua anal Haruka.
“Nak, kenapa kau malah kesini? Bukannya kamu harus sekolah?" tanya Haruka.
“Iya bu, kami kesini cuma mau ngasih ini," ucap Fuga, anak sulung Haruka seraya menyodorkan selembar kertas.
“Nanti ibu baca ya!" pinta Ara, anak bungsu Haruka.
“Dari kemarin malam, mereka sibuk membuat ini," jelas Kudo.
“Ya udah bu, kami mau sekolah dulu," ujar Fuga sambil mencium tangan Haruka.
“Ara juga mau sekolah dulu," ucap Ara sambil mencium tangan Haruka.
“Ya udah. Kami pergi dulu ya," ucap Kudo.
“Hati-hati ya!" ujar Haruka.
Sepeninggal mereka, Haruka mulai membaca tulisan dari kedua anaknya.
“Ibu, ibu baik-baik aja kan? Kami ingin ibu cepat sembuh. Kami ingin makan ayam goreng, bermain, dan menonton film kartun bersama ibu lagi. Kami selalu berdo'a kepada Tuhan agar penyakit ibu ini bisa sembuh. Jadi, ibu tetap semangat ya. Dari Fuga dan Ara," bunyi sepucuk surat itu.
Tak terasa air mata mulai mengalir deras dari mata Haruka. Dia menyadari bahwa kedua anaknya sangat membutuhkan sosoknya. Haruka menangis sejadi-jadinya lagi.
Sekarang, Haruka menyadari bahwa keluarganya akan selalu mendukung setiap langkahnya. Mereka juga selalu mencintainya. Haruka telah menyadari, bahwa dia harus tetap semangat dalam menjalani hidupnya agar bisa membahagiakan keluarganya.
—8 Tahun Kemudian—
Setelah mencoba berbagai macam pengobatan dan selalu berdo'a, akhirnya penyakit kanker otak Haruka telah sembuh total. Sebuah senyuman selalu menghiasi keseharian keluarga kecil Haruka itu. Mereka hidup bahagia bersama.
Habis gelap terbitlah terang. Percayalah, di akhir penderitaan pasti akan ada sebuah kebahagiaan yang menunggumu. Jadi, tetap semangat dalam menjalani hidupmu!
—Tamat—
Oh Iya, kenapa Miku pake cover Boruto? Ya karena cuma itu keluarga anime yang paling harmonis yang Miku tahu. Sekalian, kalian juga pasti bakal tertarik, ya kan?😂
•••••••••••••••••
Note: Semua cerpen yang bertagar #mamanyahaikal merupakan cerpen yang didekasikan khusus untuk Mama Haikal (Siti Muawenah) atau akun dengan username @Mamanya Haikal, yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya. Kami para author yang ikut terlibat berharap agar cerpen kecil buatan kami bisa menambah semangat perjuangan untuk Mama Haikal.
💜 bermakna kami akan selalu mendukung, menyayangi, dan mencintai dalam waktu yang lama.
[Bagi teman-teman author yang ingin ikut berpartisipasi menyalurkan semangat pada Mama Haikal dalam bentuk cerpen, silakan masuk ke grup Bella Belvis untuk mendapatkan informasi seputar Mamanya Haikal. Atau kalian boleh langsung menulis cerpen dengan menambahkan 💜 di depan judul dan tagar #mamanyahaikal]