Sudah hampir seharian aku mengurung diri di kamar. Meratapi apa yang saat ini kurasakan. Semuanya berawal ketika dokter memvonisku telah menderita penyakit tumor otak stadium 3.
Setelah aku mendengar semua itu, segalanya perlahan berubah. Terutama rasa percaya diriku, aku sudah kehilangan itu semua. Namun, suamiku Ifan selalu setia berada di sampingku. Belum lagi kedua anakku Arga dan Haris, mereka sangat perhatian padaku.
Arga anak sulungku yang sudah berusia 20 tahun, dia menyempatkan diri untuk bekerja di sela-sela kesibukan kuliahnya. Kata Arga, dia ingin membiayai kuliahnya sendiri, sehingga gajiku dan gaji suami bisa cukup untuk membayar biaya pengobatanku di rumah sakit.
Haris si bungsu yang masih 7 tahun adalah anak yang sangat dekat denganku. Dia selalu berhasil membuatku tertawa, dan aku selalu dibuat bahagia oleh tingkahnya.
***
Entah kenapa hari ini, aku merasa putus asa. Aku terus meratap di kamar, dan tidak membiarkan suami dan anak-anakku masuk.
Tok tok tok!
Suamiku mengetuk pintu kamarku, aku hanya diam dan tidak menghiraukannya.
"Sarefa, kau harus makan dulu, sebentar saja. . ." ucap Ifan lembut dari luar. Anehnya saat mendengarnya, aku malah berlinang air mata. Aku benar-benar merasa tidak ingin merepotkan suami dan anakku lagi.
"Jika sekarang kau ingin sendiri, kumohon jangan terlalu lama ya. . . , aku akan membiarkannya untuk hari ini. Kau tahu kan betapa khawatirnya kami bertiga kepadamu. . ." ujar Ifan dengan nada yang pelan.
Aku masih terdiam, masih meringkuk dengan air mata yang berlinang. Tidak lama, Ifan pun perlahan pergi. Sepertinya hari ini dia akan tidur bersama Haris.
Malam itu, aku benar-benar tidak bisa tertidur. Mata yang sembab, dan juga pikiran yang terus berkecamuk benar-benar menghantuiku. Perlahan aku merebahkan diri ke kasur, menatap jendela yang sengaja kubuka.
Waktu menunjukkan jam 01.20 dinihari, aku masih belum bisa tidur. Saat aku terus menatap ke luar jendela, tiba-tiba tirai jendela beterbangan dengan dahsyat. Beberapa barang-barang yang ada dikamarku berjatuhan.
Aku pun langsung mengubah posisiku menjadi duduk. Aku terus menatap keluar jendela, angin terus bertiup dengan kencang, mengibaskan rambutku yang saat itu tergerai. Perlahan aku berdiri, dan mencoba meraih jendela agar segera bisa menutupnya.
Saat tiba didepan jendela, tanganku langsung reflek menutupi mataku, karena cahaya kecil yang sangat silau muncul di atasku. Cahaya kecil itu tampak ada di atas langit, tidak jauh dan juga tidak dekat dariku.
"Hei anak manusia!" aku dibuat kaget dengan suara yang tepat berasal dari cahaya kecil itu. Suaranya seperti suara seorang lelaki, namun sangat lembut dan merdu, sama sekali tidak menakutkan. Aku terpana mendengarnya, sambil menengadahkan kepalaku ke atas untuk bisa menatapnya lewat sela-sela jariku.
"Kenapa kau tidak tidur seperti manusia-manusia lainnya?" ucapnya pelan, suaranya begitu berdengung di telingaku.
"A-a-aku? kau bicara padaku?" aku mencoba menjawabnya dengan perasaan gugup.
"Iya kamu, dengan siapa lagi aku bicara?" sahutnya pelan.
"Kau siapa? kau ini apa?" tanyaku penasaran.
"Aku hanya berniat menemuimu, tapi tidak berniat memperkenalkan diriku. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu," ujar cahaya kecil itu masih diam di tempatnya.
"Menunjukkan apa?" aku mengernyitkan dahi, sedikit bingung dengan jawabannya.
"Hmm biar kutanya dulu. Apa yang sedang kau rasakan saat ini? Apa yang menggangguma sampai mengurung diri dan tidak bisa tidur?"
Mendengar pertanyaan itu aku langsung kembali merengek, aku tidak bisa membendung air mataku.
Perlahan aku menjawab pertanyaan cahaya kecil itu, "Aku merasa tidak berguna, tidak berdaya! rasanya aku ingin mati saja! aku tidak ingin merepotkan suami dan anak-anakku lagi!" aku langsung menangis dengan sesegukan sambil menutup mata dengan kedua tanganku.
"Kalau begitu, kau harus ikut denganku!" ucap cahaya kecil itu, membuatku perlahan menghentikan tangisku.
Saat aku membuka mataku, tiba-tiba aku dibuat kaget dengan tempat asing yang ada di sekitarku. Sekarang aku tidak berada di kamarku lagi!
Saat itu aku berada di tempat antah berantah. Semua bangunan di tempat itu tampak porak poranda. Puing-puing bangunan berhamburan dimana-mana.
"A-a-aku dimana?" aku sangat kebingungan saat itu, mataku menyapu ke sekeliling tempat itu. Tidak lupa, aku juga menengadah ke atas untuk memeriksa cahaya kecil. Nihil, cahaya kecil itu tiba-tiba menghilang. Aku kembali merengek, tanganku gemetaran sambil celingak-celinguk kemana-mana.
"Berjalanlah ke arah barat!" tiba-tiba aku kembali kaget dengan suara yang begitu dekat dengan telingaku. Suara itu sama persis dengan suara dari cahaya kecil yang aku temui sebelumnya. Namun, seberapa keras aku mencari wujud sumber suara itu, aku tetap tidak bisa melihatnya dengan mataku.
"Tenanglah, anak manusia! ini aku, aku sengaja membawamu ke sini, sekarang berjalanlah sesuai arahanku!" tanpa menjawabnya, aku berjalan ke arah barat mengikuti arahannya.
***
Setelah beberapa lama berjalan, tiba-tiba aku langsung menghentikan langkahku ketika melihat cahaya jingga yang terbang melewatiku, dan saat cahaya jingga itu menyentuh tanah.
BUUUMMMM!!!
Aku langsung terduduk, tanah yang kupijak sedikit bergetar. Benda yang tersentuh cahaya jingga itu, berhamburan kemana-mana. Bangunan di lokasi jatuhnya cahaya jingga itu langsung dilalap oleh kobaran api.
Itu belum berakhir, dari atas aku kembali melihat cahaya jingga itu beterbangan ke lokasi yang sama. Sekarang cahaya jingga itu ada tiga dan saling beriringan.
"TIDAK!!!" aku berteriak sambil menatap lokasi yang menjadi incaran cahaya jingga itu.
"Cepat pergilah ke tempat itu!" perintah suara itu dengan tiba-tiba.
"Tapi, bukankah aku akan celaka kalau aku ke sana?"
"Tidak ada yang akan menyakitimu saat ini, bahkan satu semut kecil pun! percayalah padaku!" balas suara itu terdengar sangat meyakinkan.
Aku pun menurutinya dan segera berlari ke arah lokasi yang sudah porak poranda itu. Saat berlari, terdapat puing besar yang terlempar ke arahku. Aku yang baru menyadarinya pasrah dan langsung berteriak.
"Aaaaarkkkh!!!"
Aku terdiam di tempatku sambil menutup telinga dan memejamkan mata. Setelah beberapa saat aku tidak merasakan puing itu menabrak tubuhku. Dengan perlahan aku membuka mata, dan aku dibuat kaget dengan keberadaan puing besar itu yang tiba-tiba sudah ada dibelakangku. Menembus tubuhku kah?, aku sangat kebingungan.
"Sudah kubilang, tidak akan ada yang bisa menyakitimu. . ." suara itu kembali berucap. Aku menganggukan kepalaku, tanda aku sudah mulai mempercayai suara itu.
Aku kembali berlari sekuat tenaga, entah kenapa saat itu aku tidak merasakan lelah sedikitpun. Benakku bertanya-tanya saat itu, tentang apa yang ingin ditunjukkan cahaya kecil itu untukku.
***
Beberapa lama kemudian, aku pun tiba di lokasi yang menjadi sasaran empat cahaya jingga itu. Aku terperangah dan sedikit ketakutan melihatnya. Banyak sekali penduduk di sana yang terlihat berlarian tak tentu arah. Sebagian besar dari mereka ada yang menangis sesegukan karena tidak bisa menemukan orang-orang terkasih mereka.
Ada juga beberapa mayat yang tertindih reruntuhan bangunan. Tanpa sadar aku ikut meneteskan air mata dan berusaha membantu mereka, tapi hal itu sia-sia kulakukan karena sepertinya mereka tidak bisa melihat diriku.
Aku mencoba terus berjalan, dan saat itu perhatianku langsung tertuju pada seorang anak lelaki yang menangis. Seketika itu aku langsung berlari mendekatinya, karena saat melihat anak itu, aku langsung teringat dengan Haris.
Anak itu menangis sesegukan di samping tubuh ayahnya yang tertindih reruntuhan bangunan. Beberapa orang mencoba membawanya pergi dari sana, agar anak itu bisa selamat dari bom berikutnya. Namun, anak itu terus melawan dan mengamuk karena tidak ingin meninggalkan jasad ayahnya.
Aku yang melihatnya menangis sejadi-jadinya, karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk anak itu.
"Kau sekarang ada di Palestina, sebuah negeri yang belum bisa merdeka hingga saat ini. Banyak dari mereka yang sudah tidak punya keluarga lagi. Seperti anak lelaki itu contohnya, dia baru berumur 7 tahun, dan harus bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tiada. . ." jelas suara itu pelan. Aku hanya terdiam dan masih menatap anak lelaki itu yang terus menangis.
Beberapakali kulihat anak lelaki itu berusaha mengangkat reruntuhan yang menindih jasad ayahnya. Namun, usahanya selalu gagal.
"Ku-kumohon selamatkan dia!" aku berharap cahaya kecil itu bisa melakukan sesuatu untuk anak lelaki itu.
"Terkadang, perasaan tidak menyerah itu harus muncul dengan sendirinya, dan jika perasaan itu sudah muncul, kau akan lebih kuat dari sebelumnya. Lihatlah anak itu!" suara itu menjawab dengan lembut.
Kulihat anak itu memang masih belum menyerah mengangkat reruntuhan itu. Padahal reruntuhan itu lebih besar darinya, menurutku dia tidak akan sanggup mengangkatnya.
"Aaaaaarrrggghhhh!" Anak lelaki itu berteriak sangat keras tanda dia mengerahkan semua tenaganya untuk mengangkat reruntuhan itu.
"Ayo cepat bantu dia!" tiba-tiba seorang lelaki muda berlari untuk segera membantu anak lelaki itu, sambil mengajak orang-orang yang ada disekitar sana agar juga ikut membantu. Aku merasa lega ketika melihat orang-orang di sana mencoba membantu anak lelaki itu.
Orang-orang pun bekerja sama mengangkat reruntuhan itu. Sedikit demi sedikit reruntuhan itu pun perlahan terangkat dari jasad ayah anak lelaki itu. Anak lelaki itu langsung memeluk ayahnya yang sudah tak bernyawa.
"Aku tidak sempat dewasa dan berbakti kepadamu, namun setidaknya aku bisa berbakti dengan cara menguburkanmu dengan baik" ucap anak lelaki itu sambil memeluk erat jasad ayahnya.
Aku tidak bisa membendung air mata di wajahku dan segera beranjak pergi dari sana. Aku tidak tahan lagi menonton kejadian itu, aku pun berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.
"Sekarang apa yang kau rasakan Sarefa?" suara itu membuatku menghentikan langkah laju kakiku.
"Aku ingin segera bertemu anak-anakku dan suamiku, aku tidak ingin meninggalkan mereka. Aku tidak akan menyerah kali ini! Aku berjanji! Mereka segalanya bagiku. . ." ucapku dengan menangis sesegukan sambil membayangkan wajah suamiku, Arga dan Haris.
"Bagus Sarefa! itulah kalimat yang ingin aku dengar saat pertamakali menemuimu. Kau salah satu wanita yang kuat dan berhati lembut, itulah alasan utama aku menemuimu,"
"Tapi bolehkah aku mengetahui siapa dirimu?" aku memberanikan diri untuk bertanya sambil menyeka air mata yang menetes di pipiku.
"Aku adalah cahaya kecilmu,"
"Apa maksudmu?" aku kebingungan.
"Dalam setiap diri manusia itu pasti terdapat cahaya di hatinya. Cahaya yang selalu membawanya ke kebaikan dan kebahagiaan. Namun, cahaya itu akan mengecil jika pemiliknya lebih mendengarkan bisikan makhluk jahat bertanduk di sebelah telinga kirinya,"
"Berarti apakah aku lebih mendengarkan bisikan itu?" aku bertanya lagi dengan wajah yang sedikit ketakutan.
"Iya Sarefa, tapi kau tidak sendiri, banyak orang yang sepertimu di dunia ini. Bahkan ada banyak manusia yang membuat cahayanya redup dan menghilang, karena mereka merasa tidak tahan dan berakhir membunuh dirinya sendiri,"
"Lalu kenapa kau menolongku?"
"Sudah kubilang itu karena kau adalah wanita kuat dan berhati lembut. Jika kau tidak begitu, mungkin aku lebih memilih akan menunjukkan sesuatu yang mengerikan daripada sesuatu yang menyedihkan," balasnya lembut, yang membuatku sedikit tenang dan tidak sengaja memejamkan kedua mataku.
Setelah aku membuka mata, tiba-tiba aku pun sudah berada di kamarku lagi. Saat itu cahaya dari luar jendelaku lebih terang dari pertamakali aku melihatnya. Aku mencoba berlari untuk memeriksanya. Perlahan cahaya itu semakin terang hingga membuat seluruh penglihatanku memutih.
Aku tiba-tiba sudah pindah terbaring di kasur. Mimpikah itu semua?, kenapa terasa sangat nyata?
Namun, aku tidak ingin terlalu keras memikirkannya, yang paling penting saat ini adalah aku harus segera menemui suami dan kedua anakku. Aku pun langsung berlari keluar kamar.
Pertama, aku peluk Ifan suamiku, karena aku melihatnya tertidur di sofa ruang tamu. Perlahan aku belai rambutnya dan menatapnya lekat.
Kedua, aku masuk ke dalam kamar Haris, memeluknya dan menciumi pipi dan keningnya.
Terakhir aku masuk ke kamar Arga, dan aku melihatnya masih duduk di depan komputernya. Dia langsung berdiri ketika melihatku.
"Ibu. . ." panggilnya lirih, dia berusaha menutupi matanya yang sedang berkaca-kaca. Aku pun langsung memeluknya pelan. Tangis Arga pecah seketika.
"Ibu, jangan mengurung diri begitu. . . , aku khawatir banget, sampai tidak bisa tidur!" ucap Arga sambil menangis sesegukan di pelukanku.
Sekarang aku paham apa yang dimaksud cahaya kecil itu. Aku harus lebih bersyukur dengan apa yang kumiliki, dan berusaha menghargai hidupku demi orang-orang terkasihku.
Sejak itu aku sering menceritakan dongeng sebelum tidur pada Haris tentang cahaya kecil. Dongeng itu pun sekarang menjadi cerita favoritnya hingga saat ini.
***
3 bulan berlalu, sebuah keajaiban terjadi kepadaku. Dokter menyatakan aku sembuh total dari penyakitku. Aku dan keluargaku merasa sangat bahagia. Ifan suamiku sampai mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di rumah.
Di hari itu Haris tiba-tiba berlari menangis ke pelukanku. Dia bilang teman-temannya selalu mengejeknya, karena belum juga bisa menaiki sepeda. Aku pun mengajarinya dengan sebisaku.
Setelah beberapa lama aku mencoba mengajarinya, ternyata dia masih belum juga bisa menaikinya, bahkan Haris melukai lututnya berkali-kali.
"Bu, aku menyerah aja. Aku nggak sanggup lagi!" keluhnya sambil berlinang air mata.
Aku tertawa kecil melihatnya karena wajah polosnya yang begitu imut saat menangis. Aku mencoba menenangkannya dan berkata, "Ibu dan cahaya kecil tidak akan membiarkanmu menyerah sayang. . ." Haris yang mendengarnya langsung menghentikan tangisnya. Aku pun langsung menggendongnya.
"Nanti kita belajar lagi, kalau lukamu sudah sembuh ya," ujarku pada Haris. Haris pun menatapku sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
~TAMAT~
Note: Semua cerpen yang bertagar #mamanyahaikal merupakan cerpen yang didekasikan khusus untuk Mama Haikal (Siti Muawenah) atau akun dengan username @Mamanya Haikal, yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya. Kami para author yang ikut terlibat berharap agar cerpen kecil buatan kami bisa menambah semangat perjuangan untuk Mama Haikal.
💜 bermakna kami akan selalu mendukung, menyayangi, dan mencintai dalam waktu yang lama.
[Bagi teman-teman author yang ingin ikut berpartisipasi menyalurkan semangat pada Mama Haikal dalam bentuk cerpen, silakan masuk ke grup Bella Belvis untuk mendapatkan informasi seputar Mamanya Haikal. Atau kalian boleh langsung menulis cerpen dengan menambahkan 💜 di depan judul dan tagar #mamanyahaikal]