Lembaran pertama dari buku dongeng yang belum habis dibaca, menjadi lembaran terakhir kisah hidupnya bersama sang mama.
♡•♡•♡•♡•♡
Matahari pagi bersinar terang, menyambut insan yang masih diberi kesempatan. Udara sejuk, kicauan burung, dan embun di tumbuhan melengkapi suasana segar. Seorang wanita paruh baya tengah berdiri di halaman depan gedung besar bernuansa putih. Ia melangkahkan kaki dengan batin penuh semangat.
"Selamat pagi, Bu Siti. Semangat sekali hari ini. Mau ke mana, Bu? Bukankah Bu Siti belum diperbolehkan pulang?" Wanita cantik berseragam ketat datang menghampirinya. Siti tersenyum sembari berkata, "Pagi, Suster. Saya mau ke kantor. Saya duluan, yah!" jawabnya, kemudian lanjut berjalan.
Suster itu menoleh cepat. "Bu Siti kan masih pucat? Kenapa mau bekerja?" Tetapi yang bersangkutan tidak menjawab. Suster itu menggeleng maklum, lalu melanjutkan kegiatannya.
Ketika Siti pertama kali melangkah ke dalam gedung kantor, orang-orang menatap dengan ekspresi kaget. Mereka bahkan tidak membalas sapaan Siti sangkin herannya. Seorang pria yang bekerja tepat di sebelah meja Siti akhirnya angkat bicara. "Siti! Kenapa kau ada di sini?"
Siti menoleh dengan wajah kebingungan. "Meja kerjaku memang di sini, kan? Atau aku sudah dipindahkan?" Lidah pria itu berdecak kesal. "Wajahmu itu masih sangat pucat! Sudah, kau pulang saja. Kau baru absen seminggu, biasanya juga hampir sebulan. Pulang sana!" titahnya terburu-buru.
Kali ini lidah Siti yang berdecak. Dia menepis tangan teman-teman kantor yang hendak memapahnya pulang. "Aku tidak mau pulang! Kenapa, sih? Aku saja semangat mau bekerja, kenapa kalian menghalangiku?" ketusnya.
Mereka menyerah, Siti kembali mengaktifkan mode 'kepala batu'. Rasanya sangat aneh, karena kali ini pekerjaan mereka berkurang. Siti mengerjakan semua bagiannya, bahkan beberapa kali membantu pegawai yang kesulitan. Semangat yang membara di hati Siti berhasil mempengaruhi kinerja seisi kantor hari ini.
Waktu mulai mendekati petang, sudah saatnya pulang. Dengan senyuman percaya diri, Siti melangkah mantap menjauhi gedung kantor. Dia memesan taksi online, lalu berangkat ke tujuan selanjutnya.
Anak-anak kecil berhamburan ke arahnya saat melihat Siti berdiri tegak di dekat sana. Ia tersenyum penuh haru, lalu melebarkan pelukan. "Kami sangat rindu, Kak Siti!" teriak mereka sahut-sahutan. Jantung Siti terasa berat, sungguh sangat tersentuh.
"Baiklah. Sebagai hadiah karena selama ini kalian baik kepada kakak pengajar yang lain, Kak Siti akan bacakan dongeng kesukaan kalian!" Anak-anak sontak bersorak gembira. Mereka berlari cepat ke atas tikar plastik usang, yang selama ini digunakan sebagai alas duduk.
Tempat itu tidak beratap, tetapi dilindungi oleh pepohonan lebat. Suasananya begitu asri dan damai, jauh dari hiruk-pikuk dunia fana. Di sanalah Siti mendirikan taman baca sederhana, untuk para penerus bangsa yang kurang beruntung. Ada beberapa gadis muda dan wanita baik hati yang rela menyumbangkan waktunya, sejak Siti harus sering menginap di rumah sakit.
Siti berjalan ke arah gadis cantik yang selama ini menggantikan tugasnya. "Terima kasih, Wati. Untuk hari ini, biar aku yang membacakan dongeng." Mendengar itu Wati langsung mengangguk, kemudian memberikan sebuah buku tipis bersampul warna-warni.
"Hari ini, Kak Siti akan membacakan dongeng berjuduuull ... Gadis Kuat dan Buaya Jahat!" Anak-anak kembali bersorak antusias. "Karya siapaaa ...?" tanya Siti. "Karya Kak Wairin! Adiknya Kak Siti!" jawab seorang anak yang duduk tepat di depan kakinya dengan suara lantang.
Siti tersenyum hangat, lalu mengelus puncak kepala anak itu. Ia senang karena mereka masih mengingat adiknya—Wairin, si Pengarang Dongeng—yang meninggal tahun lalu.
"Kak Siti mulai, yaahh ... Pada zaman dahulu, hiduplah seorang gadis yang sangat baik hati. Suatu hariii ...." Semua anak memperhatikan dengan tekun. Mereka selalu saja hanyut ketika Siti membacakan dongeng. Wajar saja, suara dan kepiawaian Siti dalam mendongeng memang tak ada tandingan.
Malam menyongsong petang, perlahan menggantikan matahari yang sudah kehabisan waktu. Taman baca baru saja dibubarkan, saat jam di handphone-nya menampilkan angka 19. Siti kembali bersiap, hendak mengunjungi tempat terakhir untuk dia beristirahat.
Siti pulang ke rumah sakit, setelah seharian menikmati hidup. Ketika melewati taman, sekitar 10 orang jompo sedang duduk berjejer di atas kursi roda. Mereka memandangi langit, bertanya-tanya pada Sang Pencipta kapan waktu mereka akan tiba. Dia tersenyum lega, untung saja tadi menyempatkan mampir ke toko bunga.
"Halo, Nenek dan Kakek! Siti bawakan bunga, nih!" Para lansia langsung tersenyum cerah, saat setangkai mawar harum diulurkan pada mereka masing-masing. "Siti, kenapa kamu berada di luar?" tanya seorang Nenek ketika Siti mengulurkan bunga untuknya.
Dia tersenyum lalu berkata, "Siti rindu pada kehidupan Siti, Nek," jelasnya. Mereka terharu, sahut-sahutan mengucapkan terima kasih. Ia tersenyum gembira, lalu pamit untuk pergi ke kamarnya.
Baru saja melangkah masuk ke ruang rawat yang familiar, jantungnya langsung berdebar kencang. Kepala Siti berdenyut hebat, ia terbatuk-batuk hingga tersungkur di lantai. "Sitiii!" Seorang pria berlari ke arahnya, lalu memapah Siti ke tempat tidur rumah sakit."Dokteeerrr!!" Pria itu menjerit panik, menekan tombol darurat yang ada di dinding kamar.
Pandangan buram, napas tersengal-sengal, jantung berdebar kencang, dan kepala yang nyaris pecah. Siti tak lagi bisa merasakan tangan dan kakinya. Tenaga terakhir yang dia miliki sudah habis demi menjalani hari seperti biasa.
"Sudah kukatakan jangan memaksakan diri! Aku ini suamimu! Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?" Hati Siti bertambah berat saat pria yang adalah suaminya itu mulai menangis frustrasi.
Dokter dan suster buru-buru memasuki ruangan. Mereka sigap memeriksa keadaan Siti yang kini terbaring lemas. Segala jenis jarum suntik satu per satu menembus kulitnya, menghubungkan Siti dengan alat-alat canggih yang ada di sebelah kiri ruangan.
"Ibu ini sudah Kanker Stadium 3, kenapa masih memaksakan diri?" tanya dokter di sela-sela kesibukannya. Ia tersenyum pahit, tak sanggup membuka mulut untuk menjelaskan. Satu hal yang Siti tahu pasti, dia tidak menyesal sama sekali.
Lagi pula dia sudah tahu, ini adalah malam terakhir baginya untuk merasakan indahnya dunia fana.
Seseorang membuka pintu tanpa permisi, berhasil menghentikan dokter dan suster yang kebingungan. Pria itu terkesiap tatkala melihat seorang anak kecil berdiri lugu di ambang pintu. Dengan sigap dia menghampiri, lalu membawa anak itu menjauhi ruangan.
"Mama kenapa, Pa?" Ia bertanya ketika mereka berdua duduk di kursi lorong tunggu. "Tidak apa-apa, Haikal. Mama cuma sedang diperiksa," jawabnya setenang mungkin. Haikal masih berumur 8 tahun, belum siap menerima semua ini. Meski rasanya ingin menangis, dia harus bisa menjadi suami yang kuat demi anaknya. Terutama demi Siti.
Haikal menghela napas, lalu menyandarkan tubuh ke punggung kursi. Suasana benar-benar canggung. Sebisa mungkin pria itu tidak ingin Haikal menyadari rasa gelisahnya.
"Oh, iya. Haikal, kamu baca ini aja yah? Papa mau masuk dulu," ucapnya sembari mengulurkan sebuah buku dongeng tipis. Haikal mengangguk patuh, lalu menerima buku itu. Sampulnya dipenuhi beragam warna menarik. Nama 'Wairin' terpampang di bagian bawah sampul depan.
Perlahan Haikal membuka buku itu. Lembaran pertama juga dipenuhi dengan warna dan gambar-gambar menarik. Namun, di awal cerita ini terdapat seorang gadis kecil yang menangis di sudut bawah buku.
Ceklek ....
Pintu ruangan tempat Siti dirawat baru saja terbuka. Haikal menoleh, menunda kegiatan membaca dongeng. Seorang suster berdiri diam di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia menatap Haikal dalam-dalam, lalu mengelus puncak kepalanya.
"Kamu anak yang baik ...," lirih suster itu, lalu berjalan pergi. Karena penasaran, Haikal memilih masuk ke dalam ruangan.
Bugh ....
Buku dongeng itu terjatuh, seiringan hati Haikal yang hancur berkeping-keping. Matanya memanas, jantungnya berdebar tak karuan. Raungan tangis penuh rasa sakit bergema keras dari mulut papanya.
Haikal mendekat, memandangi wanita kuat yang telah membawanya ke dunia. "Maa ...." Tidak ada yang menjawab panggilan itu. Apakah Mama tertidur setelah diperiksa?
"Dokter? Mama—"
"Maaf, Haikal. Kamu harus jadi anak yang mandiri mulai sekarang," ucap dokter sembari mengelus pelan kepala Haikal.
"Ma ... MAMAAAAAA!!!" Malam itu, untuk pertama kalinya, Haikal menangis sangat kencang.
Lembaran pertama dari buku dongeng yang belum habis dibaca, menjadi lembaran terakhir kisah hidupnya bersama sang mama.
♡•♡•♡•♡•♡
Dia berjalan masuk ke dalam rumah sakit yang dipenuhi kenangan. Seorang suster menghadangnya, tepat sebelum dia berhasil masuk ke dalam ruang kerja. "Maaf, Dokter! Ada pasien kanker yang membutuhkan bantuan Anda! Tapi ...." Suster itu menundukkan kepala.
"Tapi apa?" desaknya. "Tapi ... dia tidak punya biaya, Dokter," lanjut Suster itu. Lidahnya berdecak, lalu berkata, "Memang kenapa?! Sudah bawa dia ke ruangan!" titahnya. Suster itu langsung sigap menjalankan perintah.
Ia sampai di ruangan pasien. Jantungnya melompat kaget saat mengetahui siapa yang berbaring di atas hospital bed. "Dengan ... Ibu Siti, betul?" tanya suster yang ikut bersamanya. Wanita paruh baya itu langsung mengangguk. "Dokter Haikal, ini pasien yang saya maksud," ucap suster itu lagi.
Mata Haikal langsung memanas. Tubuhnya bergetar, perlahan menyentuh tangan wanita asing itu. Wajahnya dipenuhi rasa kaget, tetapi hatinya dipenuhi oleh rasa rindu.
"Maaf, Dokter ... sa-saya tidak bisa mem—"
"Tenang saja, saya sendiri yang akan membayar biaya pengobatan Anda. Tapi sebagai bayarannya, apa saya boleh memanggil Anda 'Mama'?" tanya Haikal dengan sepasang mata berkaca-kaca. Wanita itu tersenyum teduh, lalu mengangguk setuju.
"Ma ... kali ini Haikal punya kesempatan untuk merawat Mama sampai sembuh ...." lirih Haikal di dalam hati.
♡•♡•♡•♡•♡
Note: Semua cerpen yang bertagar #mamanyahaikal merupakan cerpen yang didekasikan khusus untuk Mama Haikal (Siti Muawenah) atau akun dengan username @Mamanya Haikal, yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya. Kami para author yang ikut terlibat berharap agar cerpen kecil buatan kami bisa menambah semangat perjuangan untuk Mama Haikal.
💜 bermakna kami akan selalu mendukung, menyayangi, dan mencintai dalam waktu yang lama.
[Bagi teman-teman author yang ingin ikut berpartisipasi menyalurkan semangat pada Mama Haikal dalam bentuk cerpen, silakan masuk ke grup Bella Belvis untuk mendapatkan informasi seputar Mamanya Haikal. Atau kalian boleh langsung menulis cerpen dengan menambahkan 💜 di depan judul dan tagar #mamanyahaikal]
Terima kasih sudah membaca;)