Parau suaranya timbul tenggelam diantara isak tangisnya yang tak tertahan. Wajahnya sendu. Alir air matanya melukis ketakutan, kebimbangan, keraguan, dan kebingungan yang ada dalam dirinya. Sesekali ia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangisnya yang semakin menjadi. Munkin ada rasa malu dibenak anak itu, menengis di depanku. Tapi ketakutan dan kebingungannya lebih besar. Menutup rasa malu dalam dirinya. Tanpa berani memandangku, anak itu memelukku erat. Mencari setitik perlindungan, ketenangan, dan kehangatan untuk perasaannya yang kalut.
Malam semakin larut. Jarum jam semakin bergeser meninggalkan angka 12. Hening semakin menebar nuansa sunyi. Tubuhnya semakin menggigil digerogoti dingin. Membuatnya semakin menenggelamkan diri dalam pelukanku. Kusentuh pipinya. Masih basah; tetes-tetes air itu belum juga reda. Tak kusangka, ia bisa jadi secengeng ini.
“Aku takut…”katanya untuk kesekian kali.
“Apa yang kau takutkan?”
“Aku telah melukainya,” jawabnya diiringi tangis yang makin membucah setelah sempat hamper mereda.
Tak ada yang mampu kukatakan. Aku mengerti benar akan rasa bersalahnya. Tak dapat dijelaskan dengan kata. Kata sudah tak mampu mengungkap makna. Hanya saja, rasa itu semakin kuat menyiksa batinnya. Membuatnya serba salah. Membuatnya jadi lemah.
Anak itu terus menangis dalam pelukanku. Tanpa peduli waktu. Tanpa mau mengerti rasa lelah dan kantuk yang menyergap mataku. Tak banyak pula yang bisa kulakukan untuk menghibur anak itu. Kecuali membelai kepalanya dengan lembut. Juga sesekali mencium keningnya. Memberi tahu bahwa masih ada orang disampingnya, yang peduli dan menyayanginya.
Di luar sana, kulihat bulan tak bulat sempurna. Ada segumpal awan tipis yang berkelebat. Membuat sinarnya redup dan wajah bulan tampak muram. Seperti anak yang sedang menangis dalam pelukanku. Senyum ceria yang biasa menghias wajahnya telah menghilang. Tersapu badai tangis dan gundah yang dalam. Memunculkan seraut wajah muram penuh kesedihan.
“Kau menyesal?” tanyaku mencoba berbagi rasa.
Tak sepatahkatapun keluar dari mulutnya. Hanya isak tangis yang kuterjemahkan menjadi jawaban “ya”. Tapi setelah beberapa lama, ternyata aku salah. Bukan kata itu yang ia ucapkan.
“Tidak,” suaranya pelan hampir tak terdengar. Bisa kurasakan, ada keraguan dari jawabannya.
Ditatapnya wajahku. Matanya masih berkaca-kaca. Ditariknya nafas dalam-dalam. Berusaha menahan agar air matanya tak meleleh lagi. Sejenak kemudia ia kembali memelukku erat.
“Benar-benar anak kecil yang cengeng,” pikirku.
Dingin dini hari semakin terasa. Aku sudah sangat lelah. Membiarkannya berjam-jam menangis dalam pelukanku. Tapi aku juga tak tega meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti ini. Karena itu kuputuskan untuk tetap membiarkannya menikmati tangis dalam pelukanku hingga ia puas. Mungkin dengan begitu akan sedikit mengurangi beban di hatinya.
***
“Hentikan tangismu! Jangan jadi laki-laki cengeng,”
Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku. Aku tak tahan lagi. Bukan karena aku bosan, tapi karena aku tak tega melihatnya terus menagis. Ada rasa sakit yang menjalar di hatiku.
“Aku merasa bersalah.”
“Pada siapa?”
“Padanya….” jawagnya dengan suara berat.
“Juga padamu...” lanjutnya kemudian.
“Aku mengerti…” kataku dengan pandangan kosong dan angan yang menerawang jauh.
Anak yang menangis dalam pelukanku itu adalah ia yang tak lagi menemukan ketenangan dalam hidupnya. Ketakutan, kecemasan, juga rasa bersalah yang besar. Dapat kubayangkan andai aku jadi ia. Beban pikiran dan beban mental yang harus ia tanggung begitu berat. Sangat berat hingga mampu merontokkan segala ketenangan yang dimiliki. Pantas saja jika akhir-akhir ini ia sering berkata bahwa ia hampir gila.
Ada banyak hal yang tak mampu ia jelaskan. Perasaannya tak mampu ia kendalikan sendiri. Mencipta banyak pertenangan. Perbedaan antara apa yang ia pikirkan dan kenyataan yang ia lakukan. Juga apa yang ada dalam hatinya berbeda lagi dengan apa yang ada dalam pikirannya. Semua itu memunculkan perang batin tersendiri baginya. Membuatnya bingung dan terjatuh di titik nadir kehidupan.
Tangisnya adalah simbol penyesalan yang dalam. Air matanya tak lain adalah tinta yang mengukir dilema dalam jiwanya. Pun aku tahu, ia sendiri tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Ia hanya seorang anak yang tersesat di persimpangan jalan. Langkahnya yang keliru meninggalkan berkas-berkas luka pada jalan yang ia tapaki.
Anak yang menangis dalam pelukanku itu adalah si kecil yang lemah. Yang tepuruk dalam pusara kehidupan. Yang kehilangan cahaya harapan. Yang membutuhkan bimbingan seorang ibu untuk menuntun langkahnya. Menguatkan dan meyakinkannya untuk kembali merangkai secercah harapan dan kebahagiaan. Menemukan arti hidup, makna kasih sayang, dan memperbaiki kesalahan. Juga mengajarinya menjadi lelaki sejati yang dengan tegas berani mengambil keputusan.
Anak yang menangis dalam pelukanku itu tak lain adalah kekasihku sendiri. Laki-laki matang berusia 25 tahun. Yang kini layaknya anak kecil berusia 5 tahun. Ketakutan pada dirinya sendiri. Menangis. Dipenuhi rasa bersalah dan mengharap sebuah maaf. Rumit. Logikanya seakan mati. Ia sendiripun tak mampu mengerti. Hatinya bercabang dua kini. Ada wanita lain selain aku yang tersimpan dalam hati.
Ia tak pernah bisa berbohong padaku. Tapi selama ini ia juga takut kejujurannya akan membuatku marah. Disamping itu, tentu juga memberi rasa sakit yang dalam padaku. Disisi lain, rasa bersalahnya juga tak terelakkan pada gadis itu. Gadis yang diberinya harapan kosong. Belum lagi rasa gagal yang menderanya. Gagal menjaga cinta, gagal menjadi kekesih yang setia. Tak mengherankan jika ia hampir gila memendam semua itu. Tersiksa menahan gejolak dalam jiwa. Sampai akhirnya, ia kumpulkan segenap keberaniannya dan ia bercerita padaku malam ini.
“Maafkan aku…” katanya memecah lamunanku.
“Sudahlah…aku tahu, kau sendiri tentu tak menginginkan hal ini terjadi bukan?”
“Ya…tentu saja.”
Ada keheningan sesaat yang tercipta diantara kami. Ia semakin erat memelukku sambil sesekali menyeka air matanya yang tak juga berhenti menetes.
“Ia lebih cantik dariku?”
“Tidak. Ia tak sesempurna dirimu. Hanya saja aku nyaman saat bersamanya, sama seperti saat bersamamu…”
“Hanya itu?”
Tak ada suara. Ia hanya merespon dengan anggukan kecil.
“Ma…maaf…maafkan aku…” katanya terbata seiring tangisnya yang kembali menyeruak dengan air mata yang jelas tak mampu ia bendung.
Aku ingin marah, tapi tak bisa. Aku terlalu menyayangi laki-laki dalam pelukanku ini. Aku hanya bisa terpaku dalam diam. Hingga tak terasa embun mataku ikut meleleh. Ada perasaan aneh dalam hatiku. Ada warna indah dalam lukisan jiwaku yang tiba-tiba memudar.
Laki-laki yang ada dalam pelukanku, masih kubelai kepalanya. Masih kudekap tubuhnya. Hanya saja, tak ada lagi kehangatan dalam belaian dan dekapan yang kuberikan. Semua terasa hambar, terselubung penat dan nanar.
Dari lubang angina-angin, kulihat bintang fajar bersinar terang. Indah. Membasuh rasa sakit. Memberi sebongkah kecil senyuman. Meyakinkanku akan satu hal. Menetapkanku pada satu pilihan. Memberitahuku apa yang mesti kulakukan.
Kuperhatikan sejenak laki-laki dalam pelukanku. Kini ia tertidur pulas setelah semalaman menangis. Tentu kelelahan. Gurat-gurat kelelahan itu tergambar jelas di wajahnya meski matanya terpejam. Kelelahan itu tak hanya dirasakan tubuhnya, tapi juga pikirannya, bahkan jiwanya.
Sungguh, saat tertidur seperti sekarang ini, ia tampak seperti anak kecil. Ada kepolosan di wajahnya. Seperti anak tanpa dosa. Tiap kupandang wajah polos itu, ada kesejukan dan kedamaian yang mengisi hatiku. Membuatku ingin terus di sisinya.
Malam menjelang subuh. Kulepaskan pelukannya pelan-pelan. Dengan hati-hati, kubaringkan ia. Aku tak ingin ia terbangun dari buaian mimpi yang memberinya ketenangan. Sebuah guling kudekatkan padanya. Menggantikan tubuhku untuk ia peluk.
Kucium bibirnya; mesra. Sebuah ciuman terakhir sebelum kutinggalkan ia. Ada alir hangat di pipiku. Kelopak mata yang tak sanggup lagi menahan pedihku. Tak pernah kusangka, akan begini akhirnya.
Ada kenyataan pahit yang harus dihadapi dan diterima. Rasa sayang itu tak ‘kan pernah pudar. Juga tak bisa tergantikan. Tapi aku juga sadar, aku tak ‘kan sanggup hidup bersamanya berbagi kasih. Melihatnya membagi hati menjadi dua. Ia menangis dalam pelukanku. Tapi dalam pikirnya ada orang lain pula yang ia inginkan.
Anak yang menangis dalam pelukanku itu adalah laki-laki yang menoreh luka dihatiku, yang semalam masih jadi kekasihku, tapi kini tinggal masa lalu!