Alicia dan beberapa mahasiswi tingkat akhir yang baru menyelesaikan sekripsinya memilih mengunjungi Dataran tinggi Dieng, tempat yang indah, tenang dan berrrrrr.... dingin , terasa segar membuat otak mereka kembali fresh.. sangat cocok untuk melepas penat setelah beberapa minggu ini di suguhkan kertas kertas penuh coretan yang menunggu untuk diperbaiki.
Alicia juga mengajak Riko, pria pemilik hati Cia, mereka memiliki hobi sama yaitu mendaki, pertemuan mereka juga di gunung.
“woahhhh akhirnya….” Riko menghembuskan nafas panjang setelah berlama lama di perjalanan akhirnya mereka sampai, ia melihat jam di pergelangan tangannya 22:43.
“indah ya kak.” Mengamati sekitar.
“lebih indah kamu.” Menjawil pipi Alicia yang termasuk cabi.
“kanebo.” Pandangannya lurus kedepan.
“idih apaan.” Mengikuti arah pandang sang kekasih
“kalo gombal udah menstrim.” Cia mendudukkan diri tanpa alas menghadap ke danau.
“hahahaha…sa'ae lu”
“receh.”
“kalo recehnya buat kamu seneng mah nggak masalah.” Riko dan Cia menjalin hubungan sudah dua tahun, Cia adalah adik tingkat Riko di kampus, tetapi pertemuan pertama mereka di gunung Sindoro bukan di kampus.
“Ci, ini udah gunung ke 6 yang kita datangi dengan status yang sama, semoga besok gunung ke 7 status kita berubah.”
“maksutnya?” mengeratkan mantelnya.
“setelah wisuda aku akan melamarmu.” Kata Riko dengan enteng membuat Cia mendongak menatap ke Riko yang masih menatap lurus kedepan.
“kok bisa?” tanya Cia dengan polosnya, Riko berjongkok di samping Cia.
“ya bisalah, hati ini udah di isi penuh sama kamu, aku pengen menjadi alasan mengembangnya senyum di bibir indahmu” ucap Riko serius.
“bullshit, mana mungkin aku muat disana, dan alasan aku tersenyum bukan karena kamu tapi karena tingkahmu, kalo karena kamu aku bisa di bilang gila, kamu diem aku senyum, kamu lewat aku senyum, kamu tidur aku senyum, beda kalo kamu ngelawak atau gombal gitu eh menstrim kanebo baru aku senyum.”
“aihhhh…maksutnya Cia… ngerusak suasana aja, orang mau romantis romantisan.” Riko berdiri dengan muka sebalnya.
“hahahaha….” Tawa Cia pecah sedangkan Riko menatap cengo ke arahnya hingga Cia berhenti tertawa. “huuuuhhhhh istirahat kak biar besok kuat, aku ke tenda dulu ya.” Berdiri membersihkan debu yang menempel di celananya.
“iya, jangan lupa mimpiin pacarmu yang tampan ini.” Ucap Riko dengan tingkat kePD an yang mulai akut.
“hahaha semoga saja bunga tidur malam ini kamu, jangan tidur malem malem.” Menepuk pelan lengan berotot Riko.
“iya.” Mengelus puncak kepala Cia.
Cia berbalik dan mulai mengambil langkah menuju tendanya.
“ahhhh iya kak, di tunggu lamarannya.” Mendengar itu Riko langsung berbalik menatap Cia yang tengah tersenyum menatapnya.
“iya Ci iya tunggu saja.” Ucap Riko mantap.
Tangan Cia melambay dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
“yeahhhh bentar lagi.” Mengangkat kedua tangannya, lesung pipit tampak jelas menghiasi waja Riko.
Hawa dingin mulai menembus sweater yang digunakan Riko tapi itu tak membuatnya terusik, pandangannya lurus kedepan dengan pikiran melayang ke arah pernikahan yang telah ia impikan tentu saja bersama Cia.
“seneng banget kayaknya Ko.” Ucap seorang wanita yang entah sejak kapan berada di samping Riko.
“seneng lah… mau nikah…” menoleh melihat siapa lawan bicaranya. “O_oliv?” Riko membulatkan mata kaget.
“hay…”
“sama siapa disini? Bukannya lebih suka laut dari pada gunung?” Riko menaikkan satu alisnya.
“sama temen, pengen ganti suasana aja, nih dari Cia.” Menyodorkan gelas berisi wedang jahe.
“kenal Cia?” mengernyit tapi tetap menerima gelas itu dengan senag hati.
“baru aja kenal tenda kita sebelahan, tadi gue nanya siapa itu yang ada di pinggir danau dan ternyata lu, pas mau gue samperin dia titip ini buat pacarnya biar nggak kedinginana katanya.”
"Hahaha..." tertawa renyah.
"Cantik si Cia."
"Yah... dia cantik tapi sedikit dingin." Riko memelankan suaranya di akhir kalimat. "Tapi itu menjadi salah satu daya tariknya." Lanjut Riko.
"Hemmm kalian cocok, ya udah gue mau balik ke tenda, ngantuk."
"Sono, jangan mimpiin gue soalnya udah di booking Cia, tapi kalo tetep mimpi ya.. Gimana lagi, biasalah orang ganteng di mana mana." Mulai ber akut akut PDnya.
"Bisa aja lu Ko, udah lah gue duluan." Bangun dan beranjak dari tempatnya.
"Hemmm."
Olivia putri, dia adalah gebetan Riko waktu akhir akhir SMA, mereka sempat deket tapi tak sampai jadian karena terpisah jarak, Riko kuliah di Yogyakarta sedangkan Oliv kuliah di Jakarta.
Riko mulai beranjak setelah wedang di gelasnya habis dan memutuskan untuk beristirahat, ia butuh memulihkan tenaga untuk Golden Sunrise besok.
Golden sunrise di bukit Sikunir, desa Sembungan, sekitar 7km dari lokasi DCF, kita masih nanjak lagi naik sekitar 30 menit yang cukup melelahkan dan pastinya terbayar saat kita melihat golden sunrise. Riko dan rombongan kini sedang bersiap siap, mereka tidak ingin ketinggalan melihat golden sunrise maka dari itu mereka berangkat jam 4.00 pagi.
Riko dan Cia berjalan menuju kamar mandi tak lupa satu botol teremos kecil dan dua sikat gigi beserta pastanya di tangan Cia.
“mau kemana Ko?” tanya Oliv yang berjalan dari arah berlawanan.
“mau ke wc.”
“dingin airnya Ko, mau gosok gigi tapi gigi gue ngilu.”
“ya iyalah kak orang gunung pasti dingin.” Ucap Cia sekenanya.
“maklum Ci, Oliv baru pertama ke gunung karena dia sukanya ke laut, ini gue sama Cia bawa air hangat biar nggak terlalu dingin.”
“gue boleh ikut nggak?”
“ayo.”
Akhirnya Riko, Cia dan Oliv berjalan bersama ke WC, Riko membagi air menjadi dua dengan takaran yang berbeda, satu untuk Oliv dengan takaran lebih sedikit dari gelas yang satu karena untuk Riko dan Cia, lebih tepatnya untuk Riko dan Oliv karena air milik Oliv kurang dan dengan seenaknya Riko memberikan air Cia ke Oliv.
“ jangan lupa bawa masker, karena jalanan yg sangat berdebu, terutama saat jalan pulang nanti.” Ucap Riko mengingatkan karena mereka akan segera berangkat.
“siap..”
“iya..”
“pasti” ucap teman teman Cia yang pastinya sudah mengenali Riko yang pernah menjadi kakak tingkat mereka.
“ayo berangkat.” Riko dan Cia berjalan paling akhir, di depan mereka ada Oliv dan dua temannya yang ikut bergabung dengan rombongan Riko.
Baru 2km Oliv sudah terbatuk batuk.
“kenapa Liv?” tanya Riko dengan wajah paniknya.
“nggak bisa nafas Ko.” mengambil nafas panjang.
“minum dulu.” Menyodorkan air.
Oliv menerima dengan senang hati, ia membuka maskernya.
“oh kak Oliv nggak pakek salonplas makanya sesek.” Ucap Cia melihat hidung Oliv.
“oh iya.” Dengan telaten Riko menempelkan salonplas yang telah ia ambil dari sakunya di hidung Oliv.
“sudah ayo lanjut.” Intrupsi Riko yang kini berganti di samping Oliv meninggalkan Cia bersama kedua teman Oliv.
Bulan Juni merupakan waktu terbaik untuk berkunjung ke dataran tinggi Dieng. Sebab, kita bisa menikmati golden sunrise hingga merasakan dinginnya Dieng, bahkan jika beruntung bisa melihat es menyelimuti rerumputan saat pagi (suhu bisa mencapai minus 2 derajat celsius). Wow, pengalaman menakubkan bukan bagi kita yang tinggal di negara tropis?
Setelah puas melihat pemandangan yang menajupkan tak lupa mengabadikannya mereka bergegas turun karena mereka akan ke beberapa tempat lain.
Perjalanan yang panjang dan juga menyenangkan bagi mereka, dari melihat golden sunrise, berlanjut ke candi Arjuna lalu candi Bima, Kawah Sikidang, telaga Menjer, Telaga Warna, treking Bukit Sikunir, hingga Gunung Prau, tak lupa pula beli oleh-oleh manisan buah carica khas Dieng, hari ini mereka benar benar puas tapi bukan untuk Alicia, kesabarannya benar benar terkuras, bagai mana tidak, kebersamaan Riko dan Oliv beranjut hingga sekarang mereka sedang menikmati makan malam.
“menu andalan di restoran lu apa Ko?” tanya Oliv kemudian memasukkan segulung mie ayam ke dalam mulutnya.
“rica rica bebek.” satu tahun yang lalu Riko sudah berhasil membuka restoran cukup besar dengan hasil kerja kerasnya sendiri dan tentu saja dukungan Cia.
“makanan kesukaan lu dong.”
“hemm..”
“sepertinya kak Oliv tau banyak tentang Kak Riko.” Cia yang duduk di hadapan Riko dan Oliv mulai angkat bicara.
“ya begitulah, sedikit banyak aku tau tentang Riko begitu juga sebaliknya, Ko baksonya enak?”
“enak, mau? Nih coba” menyodorkan bakso yang tertancap di ujung garpu ke mulut Oliv dan di terima dengan senang hati.
“emm… enak.” Manggut manggut sambil mengunyah bokso.
“kak bisa ngomong berdua?” Cia kali ini bener bener gedek dengan Riko.
“ayo.” Cia bangkit dari duduknya di ikuti Riko.
“mesra banget kak.” Sindir Cia
“maksutnya Ci?”
“ternyata bener, bullshit semua yang kamu omongin.”
“apaan sih Ci?”
“whooah… apaan sih Ci? Apaan sih Ci?, hahahaha, kamu ngasih air itu aku diem, kamu ninggalin aku dari pagi aku diem, dan sekarang kalian suap suapan di depan aku, aku juga harus diem? Hoh iya lupa, kak Oliv kan baru pertama kali ke gunung.”
“ayolah Ci… jangan gini…”
“jangan gini gimana Kak? Sadar nggak si Kak kamu?”
“jangan egois deh Ci?”
“what? Egois? Egois di sebelah mana coba? Kamu kan tau kak kalo egois ketemu egois yang ada berantakan, kurang ngalah apa coba aku? Sekarang aku lebih memilih egois.” Cia berada dihadapan Riko dan menatapnya lekat.
“berantakan tinggal berantakan.” Riko tidak berani membalas tatapan Cia.
“maksutnya?”
“kalo mau putus ya tinggal putus.”
“sumpah ya kak, hubungan dua tahun kamu rusak dalam satu hari?.” Cia bener bener tak paham dengan jalan pikiran Riko.
“kita putus!” Ucap Riko menatap Cia tajam.
“oke, kalo itu memang mau mu, aku tidak di lahirkan sebagai pengemis kak, ya walaupun aku di takdirkan menjadi pengemis aku bakal lawan takdir itu, yang di tinggalkan tidak akan menyesal, yang menyesal adalah orang yang meninggalka, semoga kamu bahagia kak.” berlalu dari hadapan Riko.
Yang pergi biarlah dia pergi.
Mungkin tuhan sengaja membuat dia pergi, karena telah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik dari dia.
Berawal di gunung Sindoro berakhir di gunung Dieng.