Hari ini, saya dan Zaki—anak saya yang masih kecil— berencana pergi ke toko elektronik dan pasar swalayan. Mencari beberapa barang yang sama seperti di rumah. Stok bulanan kami habis dan juga kipas angin dinding di ruang tamu mulai mengeluh lelah dengan mengeluarkan suara cicit barang tua, padahal baru dipakai satu tahun.
Dengan menaiki mobil suami saya yang ingin dipakai kerja hingga malam nanti, kami bertiga memulai perjalanan tidak sampai setengah jam.
Saya menggeleng-geleng aneh, anak zaman sekarang memang lebih tertarik bersosialisasi dengan ponsel, entah ada apa di dalam nya. Contoh Zaki, bocah itu menyilangkan satu kakinya diatas kaki yang terbebas dari gerak, memegang ponsel dengan posisi horizontal, kedua matanya benar-benar tidak terlepas dari layar.
Bunyi pertempuran di gim nya membuat seisi mobil tidak terlalu lengang meskipun Mas Faris—suami saya—beberapa kali sempat mengajak saya bercakap-cakap sebentar.
Kami pun sampai di toko elektronik, saya dan Zaki hanya diantar sampai depan selepasnya Mas Faris berpamit untuk pergi menemui pekerjaan yang akhir-akhir ini menumpuk karena proyek nya di Depok tinggal terhitung hari.
Selama berbelanja, Zaki terus menerus ngotot ingin membantu saya dengan membawakan kardus kipas angin, meski tidak terlalu berat untuk saya sendiri namun pastilah bocah lima tahun seperti anak saya ini belum kuat mengangkut barang-barang begitu.
Saya menolak nya, ia marah-marah dan mengkhawatirkan saya.
Dia beralasan takut kalau saya pegal-pegal dan akan jatuh sakit, padahal seharusnya saya lah yang mengkhawatirkan dia.
Bagaimana kalau setelah ini kedua bahunya cidera karena mengangkut kardus kipas angin?
Disitu Zaki masih bersikeras meminta saya untuk menyerahkan kardus kipas angin, saya menggeleng tegas.
"Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?"
Zaki menepuk jidat nya sembari terus mengomel, jujur saya kaget. Sebelumnya saya tidak pernah mengajari ia seperti itu, mengomel karena mengkhawatirkan seseorang dan berlagak dewasa dengan gaya tepuk jidat nya.
Sungguh, saya benar-benar merasa aneh hari ini.
Mungkin Zaki sering menonton perilaku heroik anak laki-laki sebayanya terhadap seorang ibu. Lagipula saya belum setua itu.
Saya melirik nya sejenak, mana ada seorang ibu yang tega membuat anak nya marah? Saya paling lemah melihat Zaki cemberut atau merajuk karena saya sendiri.
Saya mengalah, lagipun nanti saat pulang ke rumah ia juga yang akan mengeluh pegal-pegal dan encok karena mengangkut satu kardus kipas angin lalu saya dengan jahatnya mulai terbahak sementara Zaki mulai merajuk masuk kamar tak lupa menutup pintu dengan suara dentuman.
Dasar, tetap saja mau sok berlaku dewasa di mata saya ia tetap seperti bocah laki-laki yang suka bermain pedang-pedangan.
Anehnya setiba kami di rumah Zaki tidak mengeluh apa-apa, ia dengan sukarela menaruh kardus kipas angin di atas meja dan mengeluarkan sayuran dalam plastik kemudian mulai menata nya di kulkas.
Terlebih yang paling membuat saya terheran-heran ketika Zaki menawarkan diri untuk memasangkan kipas angin di dinding ruang tamu.
Lagi-lagi saya menggeleng tegas dan melarang nya.
Sudah cukup, ini bukan iklan susu anak-anak yang menampilkan aksi heroik bocah berusia lima tahun, saya tidak akan menyangka Zaki akan terpengaruh dengan iklan-iklan seperti itu.
Untuk hal ini sepertinya ia menyerah, karena melihat saya yang mulai mengomel.
🍁🍁🍁
Sembari menunggu Mas Faris pulang dari kantor saya menyiapkan makan malam dengan menu yang terbilang cukup banyak, mengingat Zaki yang sepertinya kelelahan menemani saya berbelanja dan mengangkut kardus kipas angin juga suami saya yang disibukkan dengan proyek menumpuk.
Sudah cukup saya menjadi wanita karir tiga tahun lalu, ini masa-masanya saya menikmati peran menjadi ibu rumah tangga, ternyata sangat menyenangkan.
Setidaknya saya bukan ibu rumah tangga yang kesepian.
Menunggu ikan Mujair yang baru saya balik, kegiatan saya memeperkan cipratan minyak ke celemek teralih ketika Zaki memakai jins juga kemeja pendek dengan kancing terbuka keluar dari kamar, senyumannya selalu bisa membuat saya merasa jauh lebih baik sehabis aktifitas.
Benar-benar membingungkan, darimana Zaki belajar tentang fashion laki-laki terkini? Ia bahkan menyisir rambutnya ke belakang dan berjalan menghampiri saya.
"Bunda, Zaki mau pergi main dulu–"
"Gak boleh"
Saya menyela kalimat nya sebelum ia benar-benar menyalimi tangan saya dan pergi keluar rumah entah bermain dengan siapa, jelas teman-teman Zaki mana ada yang berpenampilan seperti dia saat ini?.
Zaki merengut aneh, kurang lebih satu menit ia mengangguk patuh dan memilih untuk menemani saya makan malam.
Syukur sekali Zaki tidak cepat merajuk, biasanya ia akan cemberut marah lalu membanting pintu kamar dan bermain game sampai mengantuk.
Kalau ini memang perubahan, bagus. Namun setelah saya lihat banyak sekali sisi Zaki yang berlagak ingin dewasa, saya lebih mengkhawatirkan risiko kedua.
Selesai menggoreng ikan dan menata lauk di meja, kami berdua mulai khidmat membaca doa sebelum menyantap hasil cutilan saya di dapur tadi. Sepertinya Mas Faris akan terlambat beberapa menit ke depan, saya menghela nafas sejenak lalu kembali melanjutkan makan.
Di sela-sela acara makan malam berdua ini saya bertanya akan tingkah laku Zaki, menerka jawaban anak saya yang sepertinya akan asal-asalan.
Diluar dugaan Zaki malah bertanya balik kepada saya, jelas saya sangat mengkhawatirkan dia hari ini ,mulai dari sikap di toko elektronik hingga perawakannya yang terlihat ingin seperti orang dewasa.
Zaki tersenyum sebelum mengucap
"Kan Zaki udah besar bunda"
Saya berkedip, ruang makan beberapa detik ini terasa lengang dan cukup menyadarkan saya, hanya ada suara kipas angin yang baru tadi pagi dipasang, detak jarum jam dan hembusan nafas saya yang teratur.
Saya menoleh, Zaki masih setia tersenyum dan menggenggam tangan saya, tangan yang berbeda sekali dari bentuk mungil tadi.
"Ah, iya. Maaf bunda lupa"
-END
::note:: I hope you understand the meaning of this story, dan bisa lebih tau perasaan seorang ibu ke anaknya walaupun aku bukan ibu2 hihi:)