Malam itu, hujan turun tanpa ampun. Bukan sekadar rintik yang romantis, tapi deras yang seolah ingin menenggelamkan semua yang ada di bawahnya—jalanan, lampu kota, bahkan perasaan yang belum sempat diberi nama.
Aku dan kakakku baru saja pulang dari rumah teman. Motor yang kami tumpangi melaju pelan, kalah cepat dari air hujan yang menghantam wajah. Jaketku sudah tak mampu melindungi, dingin merayap sampai ke tulang.
“Dek, kita berhenti dulu ya,” kata kakakku sambil menepikan motor ke bawah atap ruko kosong.
Aku mengangguk, menggigil.
Di sana, sudah ada dua lelaki yang lebih dulu berteduh. Salah satunya menoleh. Matanya hangat, lalu ia tersenyum—senyum sederhana yang entah kenapa terasa menenangkan di tengah hujan yang brutal.
“Basah juga, ya?” katanya ringan.
Aku hanya mengangguk kecil. Kakakku menjawab lebih dulu, seperti biasa.
“Iya, dari tadi di jalan. Hujannya nggak ada ampun.”
“Aku Rudy,” katanya, mengulurkan tangan.
“Sarah,” jawab kakakku.
“Kamu?” tanyanya padaku.
Aku sempat ragu. Tapi akhirnya, “Elana.”
Dia tersenyum lagi. Kali ini lebih dalam. Seolah namaku punya arti baginya, padahal itu pertama kali kami bertemu.
Dan malam itu—aku belum tahu—adalah awal dari luka yang akan tinggal paling lama.
Beberapa bulan kemudian, kami bertemu lagi. Tidak direncanakan, tidak disengaja. Seperti hujan yang tiba-tiba datang di musim yang seharusnya cerah.
Dari sekadar sapa, jadi cerita. Dari cerita, jadi kebiasaan. Hingga akhirnya, tanpa pernah ada pernyataan resmi, kami sudah saling menggenggam perasaan.
Rudy… adalah jenis lelaki yang membuatmu merasa cukup hanya dengan hadirnya. Dia tidak berlebihan, tidak juga sempurna. Tapi caranya memperhatikan hal kecil—itu yang membuatku jatuh.
“Udah makan?”
“Jangan begadang terus.”
“Jaketnya dipakai ya kalau dingin.”
Kalimat-kalimat sederhana. Tapi bagiku, itu seperti rumah.
Suatu malam, di warung kopi kecil dengan lampu kuning redup, dia menatapku lama.
“Aku serius sama kamu, Lan.”
Aku terdiam.
“Aku pengin nikahin kamu.”
Jantungku berdetak lebih cepat, tapi bukan karena bahagia sepenuhnya. Ada takut yang diam-diam ikut tumbuh.
“Aku masih kuliah, Rud…”
“Aku bisa bantu,” potongnya cepat.
“Aku bisa bayarin kuliahmu.”
Aku langsung menggeleng. “Jangan. Aku nggak mau cinta kita berubah jadi beban. Aku nggak mau kamu nyesel kalau nanti… kita nggak sampai.”
Dia terdiam cukup lama. Hujan di luar mulai turun lagi malam itu.
“Kalau itu maumu… aku tunggu.”
Dan aku percaya. Bodohnya, aku percaya.
Dua tahun berlalu.
Jarak menjadi cerita baru dalam hubungan kami. Tidak mudah, tapi aku bertahan. Aku pikir, cinta memang harus diperjuangkan.
Sampai akhirnya dia datang.
Aku masih ingat hari itu. Langit cerah, tapi entah kenapa hatiku gelisah sejak pagi. Seperti ada sesuatu yang akan berubah.
Dia menungguku di depan kampus. Senyumnya masih sama.
Kami makan malam bersama. Bercerita seperti biasa. Seolah tidak ada jarak dua tahun yang memisahkan.
“Aku rindu kamu, Lan,” katanya pelan.
Aku tersenyum. “Aku juga.”
Tapi malam itu… tidak berakhir seperti yang aku bayangkan.
Satu pesan masuk ke ponselnya. Layarnya menyala. Tanpa sengaja, mataku membaca.
Bunda: Jangan terlalu lama di sana ya, Ayah. Aku kangen.
Dunia mendadak sunyi.
“Rudy… siapa Bunda?” tanyaku pelan.
Dia diam.
Dan diamnya… lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
“Temen,” katanya akhirnya.
Aku menatapnya. “Temen manggil kamu Ayah?”
Hening.
Lalu, seperti hujan yang akhirnya jatuh setelah lama menggantung, dia berkata—
“Aku… udah nikah, Lan.”
Seketika, semua suara hilang. Tidak ada hujan, tidak ada orang, tidak ada dunia.
Hanya ada aku… dan hati yang retak tanpa suara.
“Sejak kapan?” suaraku hampir tak terdengar.
“Lima bulan lalu.”
Lima bulan.
Lima bulan aku masih memanggilnya sayang. Lima bulan aku masih percaya bahwa kami hanya sedang menunggu waktu.
Dan selama itu… dia sudah menjadi milik orang lain.
“Aku terpaksa, Lan,” katanya. “Semuanya cepat. Aku nggak sempat jelasin ke kamu.”
Aku ingin marah. Ingin berteriak. Ingin memukulnya.
Tapi yang keluar… hanya diam.
Karena ternyata, patah hati yang paling dalam bukan yang penuh tangisan. Tapi yang membuatmu tak punya tenaga untuk bereaksi.
Aku menatap keluar jendela.
Hujan turun lagi.
Selalu hujan.
Seolah semesta memang memilih air sebagai saksi setiap bagian dari kisah kami.
“Rud… kalau kamu bahagia, aku nggak akan ganggu.”
Dia menatapku tak percaya. “Kamu nggak marah?”
Aku tersenyum kecil. Senyum paling rapuh yang pernah aku punya.
“Aku kecewa. Tapi aku nggak mau benci kamu. Karena… aku pernah sangat mencintai kamu.”
Dan aku tidak ingin kenangan itu berubah jadi sesuatu yang kotor.
Setelah malam itu, kami tidak pernah benar-benar berbicara lagi.
Tidak ada kata putus. Tidak ada penjelasan panjang.
Kami hanya… berhenti.
Seperti hujan yang tiba-tiba reda, tapi meninggalkan bau tanah basah dan genangan di mana-mana.
Kadang aku masih bertanya—
apa aku kurang sabar?
atau dia memang tidak pernah benar-benar menunggu?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu… setiap kali hujan turun, aku selalu ingat satu hal:
Ada seseorang yang pernah membuatku merasa dicintai…
dan orang yang sama juga yang mengajarkanku bagaimana rasanya kehilangan tanpa sempat memiliki sepenuhnya.
Hujan pertama mempertemukan kami.
Dan hujan terakhir… mengajarkanku cara merelakan, meski hati masih ingin tinggal.
—Selesai—