Mentari pagi menampakkan sinar hangatnya...
Merengkuh tubuh lemahku yang tengah meringkuk di tepi ranjang dengan mata sembab dan rambut tak beraturan.
Seketika mataku mengerjap, menyesuaikan dengan binar - binar cahayanya yang menyeruak kedalam retinaku.
Aku terbangun, ku ubah posisiku menjadi duduk di tepian ranjang nyaman milikku. Aku mengingatnya lagi, memutar memori di otakku. Bulir bening itu kembali menetes dari manik netraku...
Pahit....
Perih....
Aku harus bangkit menata masa depanku kembali. Setelah kepergian orang yang paling berarti di hidupku beberapa bulan yang lalu.
FLASHBACK....
Pagi itu, terlihat seorang wanita muda tengah berjalan di koridor rumah sakit. Tubuhnya yang langsing dihiasi rambut panjang yang dibiarkannya tergerai. Mata berwarna hitam kecoklatan itu tak menampakkan binar kebahagiaan.
Wajahnya yang ayu dengan ulasan make up tipis terlihat sayu. Ia berjalan gontai menuju sebuah ruangan bercat putih. Ruangan dimana tunangannya harus terbaring di atas ranjang pesakitan dengan banyak selang - selang yang sengaja di pasangkan di tubuhnya.
Citra menghentikan langkahnya, kedua pasang matanya menatap sendu laki - laki yang sudah 2 tahun menemani hari - harinya. Perlahan ia mendekat, mendudukkan diri di kursi yang berada disamping ranjang.
Tangannya mulai menggenggam tangan dingin laki - laki yang sangat ia cintai. Air matanya menetes, lagi dan lagi ia tak bisa menahan semua gejolak di hatinya.
Perlahan, Dean membuka matanya. Ia merasakan kehadiran kekasih yang setia menemani hari - harinya di rumah sakit. Tangan dingin Dean mengusap air mata dari pipi Citra.
"Mengapa kamu menangis?" Tanya Dean dengan suara hampir tak terdengar
"Aku tidak menangis, bagaimana keadaanmu mas?" Tanya Citra sambil meraih tangan Dean.
"Dek, kamu harus berjanji padaku 1 hal." Dean berkata lagi
"Aku tidak mau jika kamu selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya mas." Jawab Citra dengan tegas
"Dek, kali ini adalah kali terakhir aku bicara ini kepadamu. Menikahlah dengan adikku. Dia akan mencintaimu dan menjagamu lebih dari aku." Dean berbicara lirih diiringi tetesan air mata dari kedua matanya yang sayu
"Aku tidak bisa mencintai orang lain lagi mas. Karena aku hanya memiliki 1 hati, dan itu telah menjadi milikmu." Citra menelungkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Air mata itu kembali menetes di pipinya
"Adikku mencintaimu, hanya dia yang mampu menjagamu dek. Waktuku sudah semakin sempit, aku telah menitipkanmu kepadanya. Seperti aku menitipkan hatiku kepadamu. Tolong penuhi permintaan terakhirku ini dek. Agar aku bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang." Dean mengatakannya dengan terbata - bata
"Kau sudah terlalu banyak bicara mas, beristirahatlah agar kau segera pulih." Citra mengusap wajah Dean
"Aku sudah tidak punya banyak waktu dek, berjanjilah padaku." Nafas Dean mulai tersengal, di iringi suara lirih Dean mengucapkan syahadat. Perlahan, mata sayunya menutup. Pegangan tangan Dean melemah hingga benar - benar jatuh terlepas dari tangan Citra.
Citra menangis sejadinya, ia tak kuasa melihat kekasih yang teramat ia cintai telah pergi untuk selamanya. Membawa sebuah janji yang bahkan tak sanggup Citra ucapkan.
Tiba - tiba Seorang laki - laki berwajah mirip dengan Dean merengkuh tubuh lemah Citra. Berusaha memberikan wanita itu kekuatan. Ia adalah Lean, saudara kembar Dean. Ia lah yang selalu Dean ucapkan akan menggantikan Dean menjaga Citra.
FLASHBACK OFF....
1 tahun berlalu....
Citra telah memulai kembali kehidupannya yang sempat terhenti karena kepergian Dean. Wajah ayunya mulai terhiasi senyuman yang beberapa lama tak pernah tampak.
Lean pun berusaha untuk mengenal Citra, ia menepati janjinya pada Dean untuk mendekati Citra seperti permintaan kakaknya meskipun tak jarang ia mendapat penolakan dari Citra.
Perjuangan panjang Lean membuahkan hasil, ia mulai mendapatkan respon baik dari Citra meski saat ini mereka hanya berteman.
Waktu demi waktu berlalu, 2 tahun sejak kepergian Dean. Citra merasakan lagi perasaan yang sama seperti dulu setelah beberapa lama ini menutup hatinya.
Ia mulai membuka hatinya untuk Lean, pun Lean tidak pernah sedikitpun meninggalkan Citra walau penolakan demi penolakan ia terima selama ini. Lean terus berusaha meyakinkan Citra dengan perhatiannya.
********
Langit sore mulai berganti warna menjadi jingga ketika sepasang manusia itu berdiri di depan sebuah makam. Mereka mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Dean.
"Kak, aku datang membawa istriku. Kami ingin meminta restumu untuk menjalani kehidupan rumah tangga kami yang baru. Apakah kakak bahagia melihat orang yang sangat kakak cintai sekarang telah resmi menjadi istriku?" Air mata Lean menetes sambil mengusap batu nisan Dean.
"Mas, aku berterima kasih kepadamu karena telah menitipkanku kepada orang yang tepat. Orang yang kucintai setelah kamu. Maafkan aku karena aku ternyata tidak bisa menjadikanmu satu - satunya di hatiku. Tapi aku berjanji akan mencintai adikmu sepertimu mas." Citra memegang batu nisan Dean dan juga tangan Lean.
"Aku akan berjanji untuk mencintai dan menjaga wanita pilihanmu kak. Aku tidak akan pernah membiarkan air matanya jatuh lagi. Istirahatlah dengan tenang kak." Ujar Lean lagi
Dan begitulah, kehidupan adalah rahasia sang pencipta. Tanpa kita tahu takdir apa yang akan kita jalani ke depan. Sang Maha Segalanya lah yang memiliki kuasa penuh akan kita. Ia berhak mengambil apa yang kita cintai, juga memberi apa yang kita butuhkan.
Lean menggandeng tangan Citra sepanjang perjalanan. Ia menatap manik netra istrinya itu dan merengkuh tubuh Citra. Dalam hati ia berjanji, akan mencintai dan menjaga wanitanya sampai akhir nafasnya.