Dia masih menanti seseorang tuk pulang.
Kembali agar dapat bertemu dan bercerita.
Setidaknya, itulah yang dia harapkan.
Zaki melepaskan ponselnya begitu saja ke atas kasur, lalu merebahkan tubuh. Terlungkup. Matanya dipejamkan. Sudah tiga bulan dia harus berpisah jarak dengan pacarnya. Namun besok, dia akan melampiaskan rindunya. Rindu yang selama ini tertahan, yang sangat ingin dia luapkan sekeras-kerasnya.
Senyum tipis tersimpul dari bibir Zaki. Sebentar lagi, batinnya. Lamunannya teralihkan saat ponselnya bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Dari pacarnya.
"Aku sudah dalam pesawat." Begitulah yang tertulis di layar ponselnya.
Zaki sudah tau itu. Karena, sebelumnya ia sudah berbicara dengan gadis pengirim pesan itu lewat telepon.
"Hari ini aku pulang. Nanti, kamu jangan paksain buat jemput di bandara ya. Aku tau kamu lagi banyak kerjaan. Aku baik-baik aja kok, jadi jangan khawatir ya. Aku pasti selalu ngasih kabar." Begitulah kata pacarnya tadi.
Pemuda itu kembali bangkit. Ia berjalan menuju laptop-nya, melanjutkan desain yang masih jauh dari kata rampung. Zaki seorang Freelance Designer. Sebuah profesi yang kata orang-orang, tidak jauh berbeda dengan pengangguran. Tapi, orang-orang itu tidak tahu jika profesi ini sebenarnya sangat menguntungkan, jika ditekuni dengan baik. Itulah yang selama ini Zaki percayai. Walau hingga kini, dia belum dapat memaksimalkan profesinya dengan baik.
Sudah pukul 23.03 wib. Berkali-kali Zaki melihat layar ponselnya. Masih belum ada kabar dari gadis yang sedari tadi dia tunggu. Seharusnya, satu jam yang lalu pacarnya itu sudah tiba di bandara.
Dia meletakkan ponselnya di samping laptop, lalu mengacak-acak rambutnya. Rasa cemas kini hinggap di hati pemuda itu. Pekerjaannya yang sudah 40% itu dilihatnya dengan enggan. Siapa pun tak akan bisa konsentrasi jika sedang cemas, begitu pula dengan Zaki.
Dia menyerah, laptopnya ditutup begitu saja. Zaki bergerak menuju dapur, mencari segelas air yang diharapkan dapat meringankan kecemasan itu. Dahaganya memang terobati setelah meneguk segelas air, namun tidak dengan rasa cemasnya.
"Aku baik-baik aja, kok." Kalimat itu terngiang dibenak Zaki yang tengah berbaring sambil menatap layar hitam ponselnya. Mungkin, dia memang baik-baik saja. Itulah yang coba Zaki pikirkan sekarang. Walau sebenarnya, dia sangat ragu akan hal itu.
***
Pulang tak selalu membawa kerinduan.
Tapi keinginan yang belum dapat terwujud.
Meski dengan sebuah kepulangan.
Vera menarik kopernya menyusuri gerbang keberangkatan. Hari ini, dia akan pulang. Sudah tiga bulan dia menitih hidup di luar kota. Jauh dari sanak saudara, keluarga, hingga pacarnya.
Vera melirik layar ponsel saat tengah duduk di bangku pesawat. Mengirim sebuah pesan sebelum mematikan ponselnya.
"Aku sudah dalam pesawat," tulisnya pada pesan itu.
Semenit kemudian, masuklah pesan balasan, "Aku tunggu di bandara, ya." Terlihat nama pengirim di bagian atas layar ponselnya. Rian.
Gadis itu bersandar pada kursinya di samping jendela. Melirik ke arah luar. Entah kenapa matanya tampak berkaca-kaca. Ada kesedihan barang sedikit saja dari sana. Lalu dilihatnya suasana langit malam itu. Gelap dan tak berbintang. Persis dengan perasaannya saat ini. Agak lama Vera hanyut dalam bayang kenangan yang menari-nari dalam pikirannya. Hingga sedetik kemudian, kedua matanya dipejam. Dia tertidur, berharap nanti saat bangun, sampailah ia ke sebuah kepulangan.
Gesekan ban pesawat dan tanah membuat sedikit guncangan. Vera yang terkejut kini bangun. Sudah sampai, ya? Tanya dia dalam hati. Terdengar pemberitahuan jika pesawat sudah berhasil mendarat di bandara tujuan. Beberapa penumpang terlihat sudah bangkit berdiri, menunggu giliran tuk pergi. Vera masih duduk diam di situ, menunggu celah aman. Atau mungkin, ia masih ingin berada di sini. Ia hanya tak ingin, keinginan yang belum tersampaikan itu didengarnya kembali.
Vera kembali menarik kopernya. Kali ini menyusuri gerbang kedatangan. Ada orang-orang yang menantinya pulang. Namun, salah satu orang itu, justru ia tak ingin melihatnya. Dia hanya tidak tahu, jika satu orang itulah yang paling menanti kepulangannya.
***
Seorang pemuda tengah duduk dengan sekaleng kopi di tangannya. Dia memperhatikan arloji, sudah pukul 22.05 wib. Gadis yang dia tunggu pasti sebentar lagi tiba.
"Rian! Kamu udah sampai?" kata seorang gadis dengan koper tergenggam.
"Oh, Vera!" pemuda bernama Rian itu bangkit. "Iya, nih. Baru aja kok," lanjutnya kemudian mendekat. "Sini, aku bawain kopernya."
Vera menyodorkan koper itu ke arah Rian. "Maaf ya, ngerepotin gini," ucap Vera, wajahnya merah tersipu.
Hanya senyum hangat yang jadi balasan perkataan Vera. Dua insan itu kini berjalan meninggalkan bandara.
Embun malam membasuh kaca mobil. Sesekali, wiper mobil itu menyapu tetesan embun yang sudah menebal.
"Kamu udah makan?" tanya Rian.
"Belum, sih."
"Kalau gitu, kita cari makan dulu, yuk!"
Sesimpul senyum mengiyakan ajakan Rian, disertai dengan anggukan.
Beberapa waktu kini berlalu. Vera menikmati malam kepulangannya ditemani sosok hangat seorang Rian. Mereka makan bersama, bercanda, dan bercerita. Melepas sebongkah rindu yang tanpa sadar, jauh di dalam lubuk hati Vera, masih tersisa sebercak kekosongan.
***
Di pagi itu, mentari seakan enggan menampakkan kegagahannya. Awan hitam menari-nari di langit, bersiap menghembuskan bulir-bulir hujan. Zaki masih merasa cemas. Dia menatap kosong kerjaannya, sambil sesekali melihat pesan yang tak kunjung terbalas.
Pemuda itu bersandar lemas pada sebuah kursi tua yang sedikit berkarat. Pikirannya lari entah kemana. Bermacam pertanyaan membanjiri otaknya, dengan prediksi-prediksi jawaban yang malah menambah kecemasan dalam hatinya.
Zaki tersadar saat mendengar ketukan pintu. Buru-buru ia berlari, membuka pintu, berharap melihat gadis yang telah sejak lama dia nanti. Benar, dia tengah berdiri di hadapan Zaki saat ini.
"Aku ... pulang," ucap gadis itu pelan.
"Vera!" Zaki tersenyum sumringah kala melihat sosok gadis di depannya.
Zaki mendekap erat Vera yang entah kenapa tak memancarkan kerinduan dari wajahnya. Namun, Zaki tak tahu itu. Yang iya pedulikan saat ini hanyalah melepas rindu.
"Ayo, masuk dulu," ujar Zaki sambil menarik tangan Vera, menuntunnya tuk masuk.
Vera tak bergerak sama sekali. Wajahnya menekuk, seakan enggan melihat sosok Zaki.
"Vera, kamu kenapa?" Kedua tangan Zaki memegang lembut bahu Vera.
Gadis itu masih diam.
"Hei ... lihat aku," ucap Zaki pelan, coba mencari jawaban.
Malah air mata yang mengalir di pipi Vera. Tidak deras, namun cukup tuk membuat Zaki kembali cemas.
Ingin pemuda itu menyeka air mata gadis di depannya. Tapi, niatnya itu diurungkan saat melihat sosok pemuda yang tak dia kenal mendekati mereka.
"Vera, ngapain kamu di sini?" tanya lelaki itu.
Zaki melepas tangannya dari bahu Vera. "Siapa dia?" lanjutnya bertanya pada Vera.
"Maaf ...," ucap Vera lirih. Suaranya seperti menahan tangis, yang bahkan semakin deras keluar.
Tekanan darah Zaki seakan memuncak. Rasa cemasnya itu kini berubah kecewa. Ada amarah yang memaksa tuk segera keluar, namun masih bisa tertahan dalam benak.
"Kenapa?" Mulut Zaki bergetar saat mengatakan itu. Tangannya mengepal.
"Kamu ..., masih tanya kenapa?!" ucapan Vera itu membuat Zaki tersentak. Gadis itu seperti meluapkan apa yang selama ini tertahan. "Selama ini, kamu selalu sibuk dengan duniamu sendiri. Ada kerjaan lah, itu lah. Selalu aja mencari alasan buat menghindar. Aku-" Perkataannya tertahan, Vera menghela nafas.
Rian, lelaki yang tengah berdiri di samping Vera, hanya diam melihat itu. Dia tahu, jika dia tak berhak untuk ikut campur urusan mereka. Di sisi lain, Zaki kini tengah tertunduk. Tangannya makin erat dia genggam.
"Aku capek, Zaki! Aku Jenuh! Saat aku bahas tentang kelanjutan hubungan ini, kamu selalu aja gak ngasih tanggapan yang jelas," terang Vera lagi. "Aku ingin hubungan ini ke jalan yang serius. Tapi kamu, kamu selalu aja gak ngasih aku harapan yang pasti." Vera diam cukup lama, seperti menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Zaki.
"Aku masih berjuang, Vera. Aku juga serius dengan hubungan kita. Hanya saja-"
"Hanya apa?" timpal Vera sebelum Zaki selesai dengan kalimatnya.
Zaki menarik nafas, genggaman eratnya kini mereda. Dia menatap Vera dengan serius. "Hanya saja, kamu terlalu memaksa! Kamu ingin semuanya harus cepat dan pasti, padahal nyatanya gak semudah itu!" Zaki tanpa sadar meneteskan air mata. "Aku di sini berjuang. Aku cuma ingin dukungan dari kamu. Hanya itu, gak lebih. Tapi, gak pernah sekalipun kamu berikan itu."
Bulir air kini menetes dari langit. Memberi penyejuk pada kesunyian yang menyibak diantara mereka. Cukup lama, hingga akhirnya Vera angkat bicara.
"Selamat tinggal ... Zaki." Entah kenapa, Zaki merasakan ketulusan dari ucapan gadis di depannya.
Vera, tanpa sedetik pun melihat Zaki, kini beranjak pergi, bersamaan dengan Rian. Meninggalkan Zaki yang berdiri mematung dalam hujan yang kini bercurah deras.[]