Pernahkah kau bermimpi tentang pulau-pulau kecil yang melayang diatas langit. Yang penuh dengan hal-hal baru yang belum pernah kau ketahui. Dari tempatmu melihat, semua tampak begitu menyenangkan. Kau melayang melewatinya, atau masuk ke salah satu pulau.
Melihat air terjun yang sangat tinggi dan indah dengan air yang jatuh menimbulkan uap. Melewati sebuah lingkaran dari kayu yang melengkung, mengendarai mobil merah terang disepanjang jalan tanah kering yang berliku disisi jurang. Saling menyapa orang-orang yang dijumpai.
Lalu beranjak ke pulau lainnya, dimana sebuah tempat hiburan terbesar ada. Suasana langit berbintang dengan terang lampu digelap malam. Suara tawa orang-orang, suara percakapan, langkah kaki, hingga kebisingan yang membawamu ke sebuah kesunyian.
Masuk ke sebuah rumah dengan kamar-kamar bernomor, lalu beranjak ke lantai atas, berhenti disalah satu pintu dan mengetuknya. Sementara pintu itu sedikit terbuka, kau dapat melihat seorang laki-laki tengah mengemasi pakaian ke dalam sebuah koper coklat tua.
“Kau tak seharusnya ada disini,” kataku. “Ayo pergi....”
“Aku tak bisa, mereka sudah menemukan tempat ini. Mereka akan segera tiba....” Kata laki-laki itu.
“Kenapa kau ingin tinggal?”
“Ikut aku.”
Laki-laki itu menuntunku melewati sebuah tangga menuju ke bawah. Ada sebuah tempat tak begitu luas disana dan ada beberapa orang. Wanita, pria, anak-anak. Kurasa laki-laki itu ingin membantu orang-orang itu untuk kabur dari sini. Ada sebuah jalan menuju keluar, hanya saja apakah itu mungkin jika mereka sudah tiba disini. Dari lantai atas dapat terdengar suara langkah kaki yang berat dari beberapa orang pria bersetelan hitam.
Dan aku terbangun, sebuah akhir dari mimpi malam ini. Pulau-pulau melayang dengan segala keistimewaannya. Seorang laki-laki yang tak mau kuajak pulang dan orang-orang bersetelan hitam yang mengejarnya. Sebuah mimpi dengan kelanjutan yang tak kuketahui.
Didunia yang disebut kenyataan ini, orang-orang berjalan dengan kebohongan. Mereka yang menjunjung tinggi kebenaran akan melarikan diri saat kebenaran itu dihadapkan. Itu hanyalah sebagian dari rasa takut, sebab di dunia ini tak seorangpun dapat hidup tanpa ilusi. Itulah yang disebut pertahanan diri.
Seperti halnya diriku yang selalu terjebak dalam pemikiran yang kubuat. Adakalanya aku ingin berlari ke tempat terjauh yang dapat kucapai, dimana tak seorangpun mengenalku. Tempat dengan labirin dari tumbuhan dan sebuah halaman dengan beberapa orang anak yang tengah bermain kejar-kejaran.
Atau berjalan di halaman sebuah kampus, duduk menunggu antrian yang tidak diketahui. Dan melihat seseorang yang mungkin kukenal disisi lain, diujung bangku panjang itu. Beranjak dari dudukku hanya untuk kabur setelah berpapasan dengan sosok dari masa lalu yang terus mengejar. Lalu seseorang yang mungkin kukenal itu menyembunyikanku. Kami berdua, saling bertatapan.
“Aku pandai membaca sifat orang,” mulainya. “Kulihat kau mencintainya dan cintamu padanya itu tulus.”
Aku tersenyum menanggapi. “Dan dia?” tanyaku.
“Dia juga sangat mencintaimu.”
“Dan kamu?”
“Aku akan selalu mencintaimu.” Dia mengecup keningku lalu beranjak pergi.
Aku terpaku, hanya mampu menggoreskan senyum sebagai respon dari apa yang kau ucapkan. Bahkan hal itu tidak pernah terpikir olehku sebelumnya. Seperti itulah bagaimana mimpiku malam berikutnya berakhir. Dengan perasaan yang mungkin bahagia, atau penasaran, atau bisa juga terkesan pada bagaimana sebuah mimpi tercipta.
Benarkah pemikiran dari keinginan terdalam yang membentuk mimpi, atau dari masa lalu yang tak bisa dilupakan, atau masa depan yang ingin dilihat.
Aku tak tahu. Namun aku akan selalu menantikan seperti apa mimpi-mimpi yang akan menghampiriku di malam-malam berikutnya.
Layaknya aku berharap memimpikanmu.
Sekali lagi aku menunggu. Sebab aku hanyalah seorang gadis di garis batas. Batas dari ilusi yang kuciptakan sendiri.
# # # #
Tamat.