Hati kecilku sudah terluka, hatiku terluka dan tersakiti saat bersamaan orang yang mengenalku mulai membenciku. Mungkin itu pantas kudapatkan.
Rapuh ...
Aku rapuh, aku butuh penopang. Aku butuh seseorang yang memperdulikanku bukan karena prihatin atau kasian.
Tuhan memang adil ...
Aku berada dititik yang paling membuatku sakit, dimana semua orang yang mula menghargai dan melindungiku, kini mereka membenciku satu persatu.
Aku ingin menjadi seperti bintang, bersinar terang untuk menghiasi langit. Begitupun denganku.
•^•^•^•^•
"Aws, sakit." Rintih Zelda, rambut Zelda dijambak kuat oleh Alenka, hingga sang empu merintih kesakitan.
"Lo jangan deketin Kak Aldi!! Kak Aldi gak pantes buat lo!!" Gadis yang bernama Alenka, terus menerus tanpa henti menjambak rambut Zelda.
Plakk
Plakk
"ALENKA!!" Lantang Sekar saat melihat Zelda ditampar dan terkapar dilantai toilat dengan rambut acak acakan.
"Sekali lagi lo deketin Kak Aldi, gue gak segan segan buat ngancurin hidup lo!!" Alenka dan dua antek anteknya pergi melenggang jauh.
Zelda sesenggukan, terisak sudah. Air matanya sejak tadi luruh, entah mengapa Sekar melihat kondisi Zelda merasa terenyuh perih dilubuk hatinya.
"Al! Maaf aku telat," Zelda seperti familiar dengan suara itu, ia mendongakkan kepalanya. Melihat bahwa Sekar berjalan kearahnya dengan jalan lunglai, Zelda berusaha untuk baik baik saja.
"Nggak ada yang telat kok! Kamu cuma berlebihan aja, aku gapapa!" Entah mengapa Sekar kembali terenyuh, sakit, sesak yang dirasakannya sekarang melihat kondisi Zelda.
"Lo itu bego!! Lo jangan lemah Al, gue tau lo kuat! Tunjukin Al, jangan mau diinjak injak!!"
"Iya Ama, yuk kekelas aja. Bentar lagi masuk kelas!" Huh, sudahlah, Sekar lelah terus menasehati Almaira nya itu.
Ia mengalah dan menunggu Zelda untuk merapikan tubuhnya yang acak acakan. Sudah beberapa kali Sekar menasehati untuk melawan seseorang ketika dirinya dihina, tapi tetap saja, Zelda tetap guguh oleh pendiriannya untuk tetap diam saat dirinya dihina dan dicaci maki.
•^•^•^•^•
Disaat ku terjatuh, semua menghilang
Disaat ku terluka, kamu dimana
Disaat ku bahagia, semua mendekat
Disaat Ku berada, kamu setia
Menangis nangis sendiri
Tak ada yang menemani
Kucoba bangkit sendiri
Sakitpun tetap sendiri
Biarkan orang tertawa
Mencaci juga menghina
Ku akan terus kan terbang
Menggapai bintang
Biarkan aku kan terbang
Melayang layang diawan
Menuju langit yang indah
Istana bintang..
Istana bintang..
Istana bintang..
"Ekhem!" Zelda yang tengah berada diruang musik itu beralih mencari sumber suara tersebut.
Degg
Jantung Zelda berdetak cepat ketika seorang lelaki akan duduk disampingnya. Detak jantungnya seperti sedang berdisko. Entah tatapan itu, ia merasa tatapan itu familiar, seperti menatapnya dalam dalam.
Aldi, ya pria itu bernama Aldi, kini ia menatap lekat manik mata Zelda. Hingga Zelda yang tersadar segera memutuskan kontak matanya.
"Kak Aldi?" Tanyanya seperti orang bego.
"Iyalah siapa lagi kalau bukan gue?" Tanyanya balik.
Zelda mengendikkan bahunya acuh. "Kak, kenapa diruang musik?"
"La lo kenapa diruang musik?" Tanya Aldi balik. Menatap lekat manik mata milik Zelda
"Kan gue pegang gitar, masa gak tau sih!" Sungut Zelda. Zelda mencoba cuek, tapi malah Aldi seperti mencoba mendekatinya.
"Hmm, suara lo bagus!"
Deggg
Jantungnya berirama tak teratur, Zelda salah tingkah akan ulah Aldi yang memuji suaranya.
1 menit ...
2 menit ...
3 menit ...
Suasananya begitu canggung, tak ada suara apapun, hingga Aldi mengambil gitar yang dipegang Zelda.
Tuhan tolong aku
Tolong jaga dia
Tuhan aku sayang, dia
Aku 'tak akan berhenti
Menemani dan menyayangimu
Hingga matahari, tak terbit lagi
Aldi berhenti menyanyikan lagunya, menatap lekat mata Zelda. Aldi merasa bahwa gadis yang ada disampingnya itu rapuh, entah mengapa Aldi terdiam begitu lama melihat mata Zelda.
Hingga Zelda membangunkan lamunan Aldi. Aldi yang merasa dipanggil itu segera bangun dari lamunannya.
"Kak!" Ucap Zelda seraya melambaikan tangan miliknya ke arah Mata Aldi. Sontak membuat Aldi terkejut dan salah tingkah.
"Eh i--iya Zel," Jawab Aldi gugub karena salah tingkah.
Zelda bangkit dari tempat duduknya, ia melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Aldi sendirian di ruang musik. Zelda dengan langkah santainya menuju kelas untuk mengajak Sekar makan dikantin.
"Heh urusan kita belum selesai ya!!" Suara itu, Zelda seperti familiar dengan suara itu. Ia membalik 'kan badannya dan ... Deggg!
Takut? Itu yang dirasakan Zelda sekarang, ia tak mau berurusan dengan Gadis berambut pirang yang tak lain adalah Alenka, jantung Zelda berdegub kencang kala Alenka dan dua antek-anteknya berjalan mendekati Zelda.
Zelda mundur beberapa langkah untuk menghindar dari Alenka Queen bully. Detak jantungnya berirama lebih cepat, kalut, takut, dan keringat dingin keluar dari dahi Zelda.
"Emm, lo mau apa?" Tanya Zelda gugub, ia tak suka dengan hawa disini. Banyak pasang murid melihat tontonan yang menarik itu.
"Mau apa? Mau apa kata lo? Mau apa haa!!" Alenka melangkah kearah Zelda, kepala Zelda terus ditonyor tonyor kebelakang membuat kepala Zelda pusing.
"Len, lo mau apa?" Tanya Zelda lagi.
"Lo sadar gak lo itu salah? Lo sadar gak lo itu gak level sama gue? Lo itu gak pantes, lo cuma berani kalo ada temen angkuh lo!"
"LO ITU HANYA ANAK PUNGUT YANG GAK TAU DIRI!!"
Deggg
Banyak bisik bisik dari murid murid, air mata Zelda luruh satu persatu. Sakit, sedih, rapuh, tidak percaya, amarah emosi mulai tercampur menjadi satu diotak Zelda.
"LO ITU ANAK HARAM! LO ITU CUMA ANAK PUNGUT DARI MALA!!"
"ALENKA!! Lo udah keterlaluan! Lo punya otak gak? Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya ya! Ibunya jalang, anaknya juga jalang!! Hahahaha gue jadi kasian liat lo! Lo itu juga anak haram bego, ayah lo mana? Ibunya itu seorang pelacur! Sadar Mbak sadar! Berfikir sebelum berucap!" Sekar berbicara cukup lantang membuat murid murid menatap Alenka tidak percaya.
"Dan lo! Lo jangan bego bego banget Al! Lo jangan mau ditindas, gua kecewa Al, gue kecewa sama lo! GUE KECEWA AL!!" Sekar menekan kalimat terakhirnya, ia sudah tak kuat melihat sahabatnya ditindas. Sekar berlari tak tentu arah, ia sudah kecewa. Menabrak semua murid yang berpapasan dengannya.
Zelda berdiri, hendak mengejar Sekar yang berlari menjauhinya tapi tangan mungilnya dicengkram kuat oleh Alenka. Zelda terus meronta, yang ia inginkan sekarang adalah mengejar Sekar yang sedang kecewa itu.
"Eh lo mau kemana? Urusan kita belum selesei!" Tegas Alenka, Alenka semakin mempererat pegangangnya di pergelangan tangan Zelda.
"Lepas!" Zelda meronta ronta, ia menginjak sepatu Alenka. Membuat sang empu merintih kesakitan.
Plakk
Plank
"Lo pantes buat itu! Insecure dulu baru nindas orang!" Setelah menampar dan mengatakan itu Zelda mencari keberadaan Sekar, ia tahu dimana Sekar jika sedang menyendiri.
"Ama, maafin gue. Gue capek Ama, alasan gue nggak mau ngelawan, karena gue capek ngeladeni orang orang yang nggak makai otaknya!" Kata Zelda bersimpuh dikaki sahabatnya itu. "Gue capek Ama, gue capek! Gue lelah dicaci maki! Gue pengen hidup tentram, gue nggak mau orang orang ngebenci gue! Tolong Ama, lo jangan ngebenci gue. Gue butuh penyemangat Ama." Lanjut Zelda, entah mengapa ia tak ingin kehilangan sahabatnya itu. Ia hanya memiliki Bunda dan sahabatnya.
"Al, gue kecewa Al! Kalo emang lo lelah, capek, lo bilang ke gue. Cerita semuanya ke gue, kita itu sahabat Al! Lo harus bisa ngehargai gue yang selalu ngelindungi lo. Setiap lo ditindas, hati gue sesak Al!" Sekar ikut turut menangis, jam sudah pukul sepuluh lebih, membuat kedua gadis itu bolos kelas.
"Maafin gue Ama, gue nggak ingin lo dibenci."