Seperti biasa setiap pergantian tahun ajaran baru akan ada pergantian anggota pengurus OSIS. Para anggota OSIS senior akan purna karena mereka akan naik ke jenjang kelas dua belas dan harus fokus menyelami mata pelajaran, guna mempersiapkan ujian akhir. Disinilah akan masuk anggota baru dan anggota yang tadinya junior naik pangkat menjadi senior. Meski demikian mereka tetap harus mengikuti jalannya proses seleksi seperti anak-anaknya baru lainnya.
Bermula dari sinilah pertemuan Aylla dengannya. Aylla duduk bersandar dibawah pohon bersama tiga sahabatnya yang sudah menjadi anggota OSIS ditahun sebelumnya. Mereka adalah Tian, Oky, dan Fajar. Sebut saja mereka tiga serangkai. Mengapa demikian? Karena mereka tak pernah terpisahkan, mereka selalu berada dikelas yang sama kecuali Tian. Setelah bertahun-tahun berada dikelas yang sama sejak dibangku SMP hingga kelas sepuluh SMA, ditahun kedua ini Tian berpisah kelas. Sekarang dia berada di kelas IPA 2 bersama dengan Aylla.
Sembari menunggu kedatangan Kakak-kakak OSIS senior banyak yang mengisi waktu kosong dengan mengobrol, bercanda bahkan beberapa ada yang bergosip. Disaat Aylla bersama tiga serangkai asyik mengobrol tak sengaja Aylla melihat wajah yang rasanya tidak asing. Namun ia tak mengenali siapa namanya. Ia mencoba mencerna lekat-lekat wajah itu. Ia mencoba memutar ingatannya. Satu ingatan akhirnya muncul. Ingatan ketika ia masih duduk dibangku kelas sepuluh. Ya, dia mengingatnya. Sesosok makhluk yang baru saja dilihatnya tak lain adalah sosok yang mirip dengan senior idolanya. Brian, dialah senior idolanya yang tergabung sebagai anggota OSIS senior. Sepertinya dialah orang yang selama ini membuat Aylla penasaran. Entah apa yang membuat Aylla penasaran. Karena ketampanan yang dianggapnya mirip dengan Brian atau karena hal lain. Ia pun belum tahu sampai saat ini.
Pertama kali Aylla melihatnya adalah saat dia sedang melangkah keluar kelas dengan buku yang sedang dibacanya. Kemudian tiba-tiba seseorang datang dari arah kiri dan sontak menabrak pundaknya. Sekejap ia menengok, dilihatnya wajah itu terperanjat kaget. Mungkin karena dia terlalu asyik terbahak dengan beberapa rekannya hingga tak menyadari sekelilingnya. Nah, sejak saat itulah wajahnya berputar-putar dalam ingatan Aylla. Makhluk titisan Brian itu melanjutkan langkahnya begitu saja dan hanya mengucapkan kata maaf. Mata Aylla hanya bisa mengikuti kepergian langkahnya hingga ia memasuki pintu kelas sepuluh delapan.
Tidak ada yang menyangka mereka akan bertemu kembali dalam kegiatan ini. Aylla tak mengira bahwa dia memiliki keminatan OSIS juga. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Aylla saat ini hingga membuatnya kebingungan sendiri. Dia mencoba berusaha mengontrol dirinya agar tak menonjol. Ingin rasanya dia berkenalan dengannya. ‘Tapi rasanya aneh sekali jika tiba-tiba aku mengenalkan diriku sendiri. Lagi pula aku seorang perempuan, malu rasanya kalo kepedean’. Gumamnya dalam hati. Kegiatan pertama sebelum pembekalan seleksi dimulai melakukan absensi. Papan absensi memutar dari depan kebelang. Jatuhlah papan absen itu ketangan Aylla. Selesai dia menulis namanya dan nama Tian ia menjulurkan papan absen itu ke belakangnya. Belum sempat dijulurkan seseorang di belakangnya memintanya menuliskan namanya.
“Tolong tulisin absenku sekalian ya?.” Pintanya.
“Hmmm, siapa nama kamu?.” Tanyanya penasaran menahan gejolak yang menyerang hatinya saat ini.
Tanpa menjawab matanya mengarah ke sebelah kanan bajunya, mata Aylla mengikuti gerakan matanya, tertulis dengan jelas ‘Denis Zein’ itulah namanya. Dan begitulah bagaimana Aylla mulai mengenalnya. Sungguh perkenalan yang unik. Suara-suara yang berderum sedari tadi lamat-lamat mulai meredup saat barisan ketua dan jajaran OSIS senior memasuki pelataran hijau ini. Keriuhan berganti menjadi antusiasme.
“Selamat siang adek-adek semua, gimana kabar kalian?.” Sapa kak Adi sang ketua OSIS.
“Selamat siang juga kakak, luar biasa kak” Jawab serentak.
“Bagus kalau kaya gitu, apa semua yang disini benar-benar ingin menguti OSIS atau cuma sekedar ikut-ikutan teman?.” Tanya kak Adi memastikan.
“Bener kakak.” Jawab semuanya.
“Bener apa ini maksudnya?” tanya lagi Kak Adi.
“Bener pengen ikut dong kak” jawab beberapa orang mewakili yang lain.
“Ya udah, kalau gitu kalian siapin buku sama bolpoin ya buat nulis persyaratan seleksi yang bakal dibacain sama kak Icha.”
Sebagai calon anggota OSIS yang baik semua orang yang berada disini mengikuti perintah kak Adi. Setelah semua memegang buku dan bolpoin mulailah kak Icha membacakan semua persyaratan yang harus dipenuhi ketika seleksi nanti. Dari semua persyaratan yang dibacakan ternyata tidak terlalu sulit dan tidak seribet saat tahun pertama Aylla dan tiga serangkai mengikuti seleksi ini. Persyaratan yang harus dipenuhi kebanyakan meliputi materi pelajaran kelas sebelas seperti contoh, pembuatan proposal. Kala itu mereka yang masih kelas sepuluh belum menerima pelajaran mengenai tata cara pembuatan proposal, sehingga untuk mengerjakannya mereka harus meminjam buku di perpustakaan untuk dijadikan pedoman pembuatan proposal. Meski tak seribet dulu syarat pembuatan proposal tetap ada, ya karena itu adalah hal yang paling dasar dari terselenggaranya sebuah kegiatan. Jadi, mereka yang masih duduk dikelas sepuluh kemungkinan akan merasakan hal yang sama seperti yang mereka rasakan dulu.
* * *
Ada perasaan yang mengganjal dalam hati Aylla, tapi apa?. Ia coba mengingat-ingat apa yang membuatnya mengganjal. Dibuka ransel merahnya, seperti ada yang kurang. Setelah terpaku sesaat, ia baru sadar kamus bahasa Inggrisnya tidak dibawa. Gawat! Sungguh gawat ini. Setelah pelajaran pertama usai akan dilanjutkan kelas Mr. Udin. Tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau sampai ketahuan tidak membawa buku besar kebangsaannya. Bisa-bisa menciut mentalnya mendengarkan sederet nasehat pedas guru Bahasa Inggris yang sangat idealis itu. Ditengok jam yang mengantung di dinding. Masih ada waktu lima belas menit sebelum bel berbunyi. Segera dia berlari menuju kelas IPA 3 menemui Rista untuk meminjam kamus.
“Rista gawat! super gawat!.” Katanya dengan wajah serius membuat Rista panik.
“Ada apa Ay? Apa yang gawat?.” Tanyanya panik.
“Gawat, aku aku gak bawa kamus dong. Bisa bahaya. Kamu tahu kan. Sekarang tolong pinjemin kamus kamu dong.” Aylla merengek.
“Yaelah kirain apaan. Kek kebakaran jenggot aja. Bentar ku ambil dulu.”
Rista kembali ke dalam kelas mengambil buku yang dibutuhkan. Aylla menunggunya di depan kelas sembari mengawasi kedatangan guru kelasnya. Merasa tidak sabar dia pun memutuskan untuk menyusul Rista ke dalam kelasnya. Dia segera memutar balikan badan, sudah sempurna tubuhnya berputar, kaki kanannya siap melangkah tiba-tiba seseorang menghentikannya. Orang itu hampir saja menabrak Aylla. Lagi dan lagi Aylla terpaku, betapa tidak. Seseorang yang berada tepat di hadapannya sama dengan orang yang menabraknya di depan kelas sepuluh enam dulu. Denis, terperanjat kaget. Terlebih Aylla. Ada getaran yang begitu kuat dalam dadanya seketika itu. Denis segera meminta maaf setelah mampu mengatur napasnya.
“Maaf, maaf. Aku nggak sengaja.” Ujar Denis.
“Eh iiii.. iiiyaa nggak papa kok.” Jawab Aylla tergagap.
Denis mengulum senyum sepersekian detik dan segera berlalu dari hadapan Aylla ketika Rista sudah diambang pintu. Aylla masih terpaku ditempatnya.
“Heh! jangan bengong ajah!.” Hardik Rista menyadarkannya.
“Eeehhh.. sorry.” Ujarnya sambil meringis.
“Ngeliatin apa sih kamu ini? Sampe segitunya.” Rista menyelidik penasaran.
“Barusan aku liat makhluk berparas tampan.” Ujarnya sembari mengingat wajah makhluk yang baru saja dilihatnya.
“Siapa?.”
“Itu.” Ia menunjuk cowok bergigi gingsul itu.
“Oh, Denis. Kenapa? Kamu naksir sama dia?.” Celetuk Rista.
“Iiih Rista. Em, kamu inget nggak tentang cowok yang aku ceritain yang wajahnya mirip kak Brian yang ngeloyor gitu aja pas nabrak aku dulu.” Ia mengulik kepingan kenangan yang belum terpecahkan.
“Iya, aku masih inget. Kamu masih penasaran sama dia?.”
“Hehe, Iya. Kamu tau nggak? Aku rasa dia orangnya.” Ujarnya malu-malu.
“What?! Serius?.” Rista kaget.
Aylla hanya mengangguk menahan senyum.
“Mau aku kenalin nggak sama dia, siapa tau nanti bisa temenan dan deket.” Usulnya.
“Eh, jangan! Jangan Ris! Aku kan malu dan lagian kayaknya aku bakal seorganisasi bareng dia tahun ini, soalnya kemarin aku liat dia ikut pembekalan seleksi OSIS juga.”
“Beneran nih? Aku satu kelas loh sama dia.” Rista meyakinkan.
“Hemm.. udah dulu yah? Aku mau balik ke kelas. Daah Rista.” Ujar Aylla sambil ngeloyor meninggalkan Rista.
* * *
Seperti biasa sebelum pulang sekolah Aylla selalu menunggu Rista di depan kelasnya. Beruntung hari ini Rista sudah menghadangnya lebih dulu di koridor. Ia melambaikan tangannya, Aylla segera menghampirinya. Wajahnya tampak semringah tidak seperti biasanya.
“ Lagi kenapa sih? Kok kayanya lagi seneng.” Selidik Aylla.
“Iya soalnya tadi aku abis ketemu sama my prince.” Ujarnya sembari senyum-senyum.
“Oh aku kira kenapa.”
“Oh ya Ay, gimana menurut kamu si Denis? Tertarik?” Rista melemparkan pertanyaan yang tak terduga.
“Tertarik?.” Katanya bingung dengan pertanyaannya.
“Udah nggak usah heran kaya gitu kenapa? Aku tahu kok dari pandangan kamu waktu ngeliat dia tadi.” Rista mulai lagi dengan kesok tahuannya.
“Ah, Rista apaan sih, ngaco kamu.” Elak Aylla.
“Kenapa? Emang kamu nggak mau apa move on dari masa lalu. Udah saatnya kamu buka hati buat orang lain.” Rista mulai lagi dengan ceramahnya.
“I’m fine. Lagi pula apa yang aku rasa waktu ngeliat dia pasti cuma karena wajahnya mirip kak Brian. Aku juga nggak tahu siapa dan gimana orangnya kan.”
“Naaah, makanya aku kenalin nanti. Oh ya, tahu nggak tadi tiba-tiba dia tanya-tanya tentang kamu loh. Hmmm, kira-kira kenapa ya?.” Rista dengan kekepoannya yang tak pernah ada habisnya.
“Udah ceritanya? Ayo ah, cepet pulang aku pengen cepet rebahan dikasur.” Paksa Aylla sambil menarik lengan Rista.
Selesai mengerjakan semua tugas sekolah untuk besok, Aylla segera menghempaskan tubuhnya diatas ranjang sembari mendengarkan musik melalui smartphone. Kegelapan mulai menyelimuti kamar berukuran tiga kali empat meter ini. Malam kian sunyi memasuki pukul sebelas, seisi rumah sudah tenggelam dalam selimut mereka. Menyingsing mimpi-mimpi yang terputus saat sang jago berkokok dipagi hari. Aylla masih terjaga, tiba-tiba terlintas pembicaraannya dengan Rista siang tadi mengenai Denis dan kejadian menegangkan di depan kelas IPA 3 pagi tadi. Rasa bertanya-tanya tumbuh dalam pikirannya. Ia beranjak dari tempat tidur. Telunjuknya meraih sakelar lampu menghidupkannya. Ia berkaca, menelisik wajah di depan cermin. ‘Benarkah dia menanyakan diriku?’ gumamnya dalam hati. ‘Aaah... kayaknya aku mulai kegeeran.’ Gerutunya masih dalam hati menyadarkan pikirannya.
Secepat mungkin ia menyadarkan dirinya dari lamunan. Sudah beberapa jam ia mencoba memejamkan mata, belum juga berhasil. Sepertinya rasa kantuk enggan menghampirinya, padahal sudah selarut ini. Semakin dipaksa memejamkan mata justru semakin tak bisa terpejam. Ia bangun dari ranjang, memandangi pelataran dari balik tirai berwarna pink kesukaannya. Jalanan komplek sudah sepi. Ia kembali merebahkan tubuhnya. ‘Dddreetttt.. dddrreett..’ tiba-tiba ponselnya bergetar.
“Malam.. kamu yang disana. Udah tidur?.”
Sebuah nomor tak dikenal masuk kedalam daftar chatt WhatsAppnya. Ia membelalak siapa kiranya yang tiba-tiba mengirim pesan tengah malam seperti ini.
“Belum.” Jawab Aylla singkat.
“Mikirin apa?.” Tanya seorang disana.
“Nggak ada.” Masih dengan jawaban singkat. Seperti itulah Aylla. Ia enggan meladeni seseorang yang belum dikenalnya. Dia tak suka berbasa-basi terhadap orang asing.
“Ya udah mending tidur biar nggak kesiangan.” Jawab seseorang di seberang sana masih dengan kesabarannya.
“Okey.” Aylla dan jawaban super cuek dan singkatnya. Sungguh jawaban yang membuat orang ingin menipukinya.
“Nite.” Seseorang itu mengakhiri pesannya.
Aylla merasa penasaran siapa yang mengirimnya pesan tidak jelas seperti itu ditengah malam. Ia membuka info nomor tak dikenal itu. Bercokol sebuah nama ‘Denis Zein’ tepat di bagian kanan bawah nomor asing itu. Aylla membelalak untuk kedua kalinya. Napasnya tercekat. Ia kembali melihat info kontak itu tidak percaya. Masih sama, tidak berubah. Rupanya matanya masih tajam. Bagaimana bisa seseorang yang baru saja terlintas dipikirannya tiba-tiba mengirim sebuah pesan. Seketika itu jantungnya bertalu-talu. Ia menepuk-nepuk dadanya, memintanya tenang. Ia kembali membaca isi pesannya. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri, menyadari betapa judesnya ia membalas pesan. “Aaaahhh... kenapa aku balesnya gini banget.” Ia membenamkan kepalanya dibawah bantal. Lalu bangkit lagi. “Aaaahhh.. dasar bodoh.” Masih menyesalinya. “Aaahhh... masa bodo lah.” Ia pun menyerah dan segera menenggelamkan dirinya dibawah selimut.
* * *
Tidak terasa satu minggu berlalu, hari ini tibalah waktu seleksi kepengurusan OSIS baru. Masih sepi di ruang seleksi, Aylla pergi bersama Tian, Oky dan Fajar menyerbu kantin yang sudah diisi oleh beberapa orang. Kemepul aroma soto dan semerbak wanginya gorengan seketika menyeruak saat memasuki kantin. Cacing dalam usus berteriak ingin diberi makan. Mereka segera memesan segelas es teh manis untuk membasahi kerongkongan yang rasanya mengering. Tak lupa jajanan berlemak tidak sehat yang selalu menjadi favorit. Tempe mendoan tak luput dari pesanan mereka. Sungguh perpaduan menu yang sangat tidak sehat namun nikmat luar biasa. Pesanan mereka pun tersaji tanpa segan sepotong tempe mendoan telah bersarang dalam mulut mereka.
“Haiii.. semua.” Tiba-tiba terdengan sapaan dari seseorang. Sontak mata mereka langsung mengarah ke datangnya sumber suara. Spontan Aylla langsung terbatuk-batuk setelah menyaksikan sumber suara itu. Seolah kerongkongannya tak berfungsi dengan baik dalam menelan makanan membuatnya tersedak. Tian segera menyodorkan segelas es teh.
“Uhuk... uhuk... uhuk...” Aylla menepuk-nepuk dada.
“Ini, ini, minum.” Ujar Tian sambil menyodorkan segelas es teh.
Disambarnya segelas es teh tersebut, segera diteguknya perlahan untuk membantu makanan agar terdorong dengan baik menuju lambung. Aylla berusaha mengatur nafasnya yang rasanya sesak karena kedatangannya. Ia menepuk-nepuk lagi dadanya, bukan karena peristiwa tersedak tadi melainkan karena detak jantungnya terasa berpacu terlalu cepat. ‘Siapa dia sebenarnya? Mengapa kehadirannya selalu membuatku gugup.’ Gumamnya dalam hati. Dia masih sibuk mengatur nafas dan detak jantungnya, tak memperhatikan Denis yang berusaha memperingatkan mereka agar segera memasuki ruang seleksi.
“Hei! Ayo cepat kita ke ruang seleksi, udah mau mulai.” Ujar Fajar meraih tangan Aylla. Aylla masih tak bergeming.
“Woy! Liat itu ada kak Brian.” Taktik Oky untuk menyadarkannya.
“Eh, mana mana?.” Sahut Aylla kebingungan. Umpan disambar dengan cepat.
“Hahahaaaa....” Mereka kompak menertawainya yang tampak celingukan. Aylla cuma bisa manyun melihat ekspresi puas mereka yang berhasil mengerjainya. Dia melirik Denis sekejap tak ayal rupanya ia ikut menertawai kekonyolannya.
“Dasar konyol, bukan kak Brian yang ada depan kita saat ini. Melainkan jelmaan lain darinya, alias Denis. Makhluk berparas kak Brian.” Aylla menggerutu pelan.
“Udah, udah guys cukup ketawanya. Liat tuh mukanya udah kaya udang rebus. Mending kita cepet kesana aja. Ayo!.” Tian menghentikan kegilaan mereka.
Sejurus mereka menarik Aylla dari kursi dengan kekuatan super, membuat Denis yang masih berdiri di depan mereka terdorong. Buku-buku yang dibawanya jatuh berserakan.
“Ih, sakit ini tanganku. Kenceng banget nariknya, tuh liat buku si Denis pada jatuh semua kan.” Omelnya.
Seperti sudah terorganisir refleks Aylla menyalahkan mereka atas ketidak hati-hatian mereka. Aylla pun membantu Denis memunguti buku-bukunya yang berserakan dibawah. Layaknya salah satu scane disinetron tak sengaja mereka mengambil buku yang sama. Aylla terkejut dan segera menyingkirkan tangannya dari buku tersebut. Tangan seperti baru tersengat aliran listrik. Gemetar.
“Sorry, sorry Ay. Aku nggak sengaja.” Ujar Denis dengan intonasi cepat.
Ia mengusap-usap keningnya, bak orang yang merasa gugup dan berusaha menenangkan diri. Aylla tak mengerti mengapa dia jadi bertingkah seperti itu. Aylla masih berusaha mencerna ekspresi wajahnya, namun Denis segera menepiknya. Ia telah berdiri tegap mengulurkan tangannya, mengajak Aylla bergegas. Mereka berjalan bersebelahan, si tiga serangkai telah jauh meninggalkan mereka. Suasana terasa tegang, lengang tanpa pembicaraan. Rasanya mulut Aylla terkunci. Pikirnya buntu seberapa keras ia mencoba mencari pertanyaan namun tak ada satu pun yang terngiang. Andai saja tiga serangkai tak meninggalkannya. Mereka pasti bisa mencairkan suasana dan menariknya dari sikap diamnya ini. Aylla yakin Denis merasa bosan bersamanya. ‘Sikap diamku ini pasti seperti membunuhnya’ pikirnya.
“Emmm...” Denis pun mengeluarkan suara.
“Kenapa?.” Dengan kilat telinganya telah bersiap mendengar perkataannya.
“Kamu suka sama Kak Brian ya?.” Pertanyaan yang tak terduga terlontar dari bibirnya. Aylla dibuatnya mati kutu. Dia menolehkan pandangannya pada Aylla, memastikan.
“Kenapa tanya gitu?.” Tanya Aylla penasaran.
“Nggak papa, lucu aja tadi ngeliat kamu salting gitu waktu diledekin ada kak Brian.” Jelasnya.
“Apanya yang lucu? Kenapa? Wajahku aneh banget ya?.” Katanya sambil menunduk dan mengelus poninya, Aylla dibuat panik oleh celetukannya.
Denis menahan tawanya melihat tingkah konyol Aylla lagi. Aylla memalingkan wajah dan memukul kepalanya sendiri.
“Hei!!! Yang di sana! Niat seleksi nggak? Cepet lari!”
Tiba-tiba seseorang meneriaki mereka berdua dari kejauhan. Memerintah mereka untuk segera memasuki ruang seleksi. Mereka langsung celingukan kaget mendengar teriakan kencang Kak Brian barusan. Mereka pun segera mengambil langkah secepat kilat. Denis menarik ransel merah Aylla mengikuti kecepatan langkahnya. Aylla tak lagi memedulikannya, rasanya lelah sekali mengimbangi kecepatan lari Denis. Langkahnya tergopoh-gopoh. Napasnya cengap-cengap.
“Cepet cari tempat duduk kosong!.” Ujar Brian saat mereka sudah berada di mulut pintu.
“Dari mana aja woiii...?!” Oky langsung menyambar saat badan Aylla baru menyatu dengan kursi di sebelah Oky. Aylla masih tak menanggapinya. Masih sibuk mengibas-kibas buku ke wajahnya yang berkeringat.
“Omong-omong kenapa kalian dateng barengan?. Hayoh ada apa diantara kalian?.” Celetuk Fajar yang duduk di depan Oky bersebelahan dengan Denis.
Aylla terperangah mendengar celetukkannya sejurus kepalan tangan kanannya sudah mendarat di dahi Fajar. Aylla menggegat giginya, menahan kesal dan perasaan malu atas pernyataan konyol Fajar. Lagi-lagi Aylla melihat Denis menertawai kegilaan mereka, kepalanya geleng-geleng.
* * *
Serangkai petunjuk dan waktu pengerjaan seluruh soal telah dijelaskan oleh Kak Icha secara rinci, peluit pun ditiup tanda waktu mengerjakan ujian tertulis dimulai. Waktu yang diberikan hanya satu jam untuk menyelesaikan seratus soal yang berisi pertanyaan meliputi pengetahuan umum dan dasar-dasar kepemimpinan dan organisasi. Seluruh peserta dilarang saling bertukar atau bertanya jawaban satu sama lain. Hampir satu jam berlalu Aylla menelisik kembali lembar jawabannya ternyata masih banyak yang kosong. Diam-diam disenggolnya bahu Oky meminta beberapa jawaban padanya. Ia menoleh perlahan saat dirasa tak ada yang memperhatikan. Belum sempat mereka bertukar jawaban Kak Dinda sang bendahara OSIS berada di belakang mereka berkeliling. Mereka berpaku pada lembar jawab mereka kembali.
“Ay... kamu kenapa?” Tanya Denis tiba-tiba memperhatikan kegelisahan Aylla. Rupanya Aylla memegangi perutnya, wajahnya agak pucat. Tampaknya kram perutnya kambuh lagi. Pikiran Aylla makin buyar menahan sakit. Makin tidak fokus menjawab pertanyaan. Aylla menunduk tak berani menoleh, takut kalau-kalau kak Dinda tiba-tiba muncul lagi.
“Ay... kamu nggak kenapa-napa kan?” Denis memastikan lagi. Aylla masih diam dan berusaha fokus ke lembar jawaban yang masih kosong. Masih memegangi perutnya. Ekspresi wajahnya tampak sedang menahan sakit. Denis tak bertanya lagi, sejurus tangannya dengan gesit mengambil lembar jawaban Aylla. Aylla dibuatnya panik. Matanya melihat sekeliling memastikan tak ada panitia seleksi yang melihat ini.
“Hei!.” Teriaknya lirih memanggil Denis.
“Kembaliin kertas jawabanku.” Pintanya kemudian.
“Aku nggak cukup pintar untuk kamu contek.” Jelasnya dengan polos.
“Hei, aku belum selesai!.” Akhirnya mulai kesal.
“Ssssttt.. auuu.” Ia mulai kesakitan lagi.
Sederet perkataan terlontarkan. Berharap kertas jawabannya dikembalikan. Denis tak bergeming sedikit pun. Aylla menyerah. Ia tak bisa melakukan pergerakan. Sedikit gerakan mencurigakan bisa membuatnya dikeluarkan. Ia kini fokus melakukan relaksasi nafas dalam untuk mengurangi nyeri perut yang dirasakannya. Aylla tidak tahu apa yang sedang Denis lakukan. Sejujurnya ia ingin marah. Hingga peluit kembali bersiul menandakan waktu pengerjaan telah selesai kertas jawaban Aylla masih dipegangnya. Aylla segera beranjak saat Denis hendak berdiri. Ia raih kembali kertas jawaban itu lalu melontarkan serapah padanya. “Iih sini. Rese banget sih, gimana ceritanya dengan gampangnya kamu main ambil lembar jawabanku. Dasar orang aneh. Aku bakal nyalahin kamu kalo sampe aku nggak lulus ujian ini. Hiiih dasar orang menyebalkan!.”.
Aylla pasrah, tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki lembar jawabnya. Langkahnya gontai menuju meja pengumpulan jawaban. Matanya tak ayal membelalak saat didapati kertas jawabannya sudah terisi penuh tanpa celah. Ia mengedip-kedipkan mata memastikan apa yang dilihatnya. Refleks matanya segera mencari keberadaan Denis. Ia mendapati Denis telah menghilang dibalik punggung anak-anak yang lain. ‘Makhluk macam apakah yang kuhadapi saat ini?. Tingkahnya sangat membingungkan dan tak terduga-duga.’
* * *
Semilir angin membelai lembut wajah gadis berparas manis itu. Aylla terjaga dari lamunannya. Sayup-sayup terdengar suara gadis bertubuh tinggi kurus mendekati Aylla yang sedang menikmati rayuan angin.
“Hei! Jangan nglamun aja, kesurupan baru tahu rasa!”. Celetuknya asal.
Aylla sedang tak berniat membalas celetukannya, ia hanya menggeleng kepala mendengarnya. Merasa dikacangi ia kembali menyuarakan berbagai pertanyaan.
“Kenapa? Lagi bete? Lagi kesel?. Lagi, lagi kenapa?.” Ujarnya kesal sembari mengguncang-guncangkan bahu Aylla.
Akhirnya Aylla pun menyampaikan pemikiran yang berkelabut di otaknya beberapa hari ini.
“Menurut kamu Denis itu orang seperti apa?.”
“Kenapa kamu nanyain dia?. Waaah mulai ada benih-benih cinta ya?.” Celetuknya lagi membuat orang gemas.
Aylla memicingkan matanya menatap tajam. Dengan kilat ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Aylla sembari tersenyum meringis.
“Hehe.. kalem dong Ay. Ok serius nih, kenapa?.”
“Aku penasaran seperti apa dia? Selalu saja muncul tiba-tiba dihadapanku, tiba-tiba bersikap baik, melakukan hal yang nggak terduga.”
“Contohnya?.” Tanya Rista mulai serius.
“Sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba nomornya muncul dalam daftar chatt WAku, dapet dari mana dia nomorku itu.”
“Lalu?.” Tanyanya lagi.
“Waktu seleksi tertulis tiba-tiba dia ngerebut kertas jawabanku, eh pas aku mau kumpulin kertas jawabanku sudah penuh.”
“Mungkin dia suka sama kamu. Masalah nomor, aku yang ngasih ke dia. Aku pikir untuk keperluan seleksi OSIS.” Jawabnya enteng.
“Suka? Hello? Ngaco aja kamu? Lagi pula bisa-bisanya kamu kasih ke dia tanpa izinku.” Protes Aylla.
“Kenapa? Kamu pasti kaget dan auto berbunga-bunga kan waktu kamu tiba-tiba dapet chatt dari si Denis? Nggak usah ngelak dari perasaanmu sendiri deh. Kamu sendiri yang ngomong kalau tiba-tiba ada perasaan yang kamu nggak ngerti sejak pertama ketemu dia.” Jelas Rista membenarkan pembuatannya.
“Apa? Kamu punya perasaan sama Denis Ay?.” Tanya Fajar dengan suara meninggi yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah kanan Aylla.
“Eh, ini lagi. Apaan sih kalian ini.”
“Serius!.” Fajar meminta penjelasan.
“Mana mungkin aku suka sama dia. Itu nggak mungkin terjadi.” Aylla menepik keras.
“Jangan pernah jatuh cinta sama dia. Dia itu playboy you know?.” Kecam Fajar.
“Playboy?.” Ujar Aylla bingung.
“Kalo bisa buat dia jatuh cinta sama kamu, terus hancurin tuh hatinya. Biar tau gimana sakit hati.” Ujar Fajar berapi-api.
“Hei, ngaco kamu Jar, kamu pikir hati itu mainan apa?.” Ujar Aylla menolak pernyataan Fajar.
“Iya, ngaco kamu Jar. Lagi pula kata siapa dia playboy?.”
“Semua orang juga tahu kali kalo dia suka ganti-ganti pacar.”
“Masa? Kamu sebut dia playboy bukan karena cewek yang kamu suka malah sukanya sama si Denis kan? Eeh, upss keceplosan.” Ujar Rista mengulik rahasia Fajar.
“Nggak ada hubungannya.” Elak Fajar seketika.
“Yakin?.” Ucap Rista sembari menyodorkan wajahnya kedepan wajah Fajar dengan nada mengejek.
“Udah! Pokoknya Ay, kamu jangan sampe jatuh cinta sama dia. Inget itu. Aku nggak akan belain kamu kalo kamu jatuh cinta terus patah hati gara-gara dia.” Ucap Fajar tegas.
Bel sekolah pun kembali berbunyi. Aylla bergegas ke kelasnya mengakhiri pembicaraan yang kalau dilanjut berbuntut panjang rasanya. Aylla berjalan cepat. Dari arah berlawanan Denis berjalan cepat menuju kelasnya. Mereka berpapasan. Tangan Aylla sudah terangkat hendak melambai padanya. Ia berniat menyapa dan meminta maaf atas kesalahpahamannya saat seleksi. Namun Denis terus berjalan tanpa melihatnya. Aylla menghela napas.
* * *
Pengumaman hasil seleksi pemilihan OSIS telah dipajang dimading sekolah. Aylla dan Tian baru saja datang saat semua orang sudah memenuhi area mading. Alhasil mereka berdua harus menyelusup di antara celah-celah gerombolan orang untuk maju ke depan. Tanpa sengaja kepala Aylla menabrak punggung seseorang yang sudah memaku di depan mading. Yang ditabraknya menengok, air mukanya datar tanpa senyum sedikit pun. Belum sempat terlontar kata maaf dari bibir Aylla, Denis melangkah pergi begitu saja. Aylla menghela napas seperti biasa.
“Liat, ini ada nama kamu Ay.” Ujar Tian menyadarkan Aylla.
“Mana?.” Ujar Aylla antusias.
“Ini.” Tian menunjukan.
“Waah, kamu, Oky sama Fajar juga lolos.”
“Bravo!.” Ujar Tian sembari mengajak tos.
Usai jam pelajaran sekolah usai seluruh anggota yang terpilih diminta berkumpul di ruang OSIS. Pada pertemuan pertama ini akan diumumkan masing-masing anggota divisi yang terpilih. Usai Adi memberikan sambutan Brian mengambil alih posisi. Ketampanan yang terukir diwajahnya dan senyum yang ditopang oleh kedua gingsulnya membentuk mahakarya sempurna ciptaan Tuhan. Melelehkan hati Aylla tiap kali memandangnya. Brian sudah berdiri ditengah dengan secarik kertas ditangannya. Dibacakanlah kemudian isi dari kertas tersebut.
“Divisi Olahraga diketuai oleh Fajar dengan sekretaris Lia dan beranggotakan Dian, Rangga, Anis.”
“Berikutnya Divisi Kesenian diketuai oleh Denis dengan sekretaris Aylla dan beranggotakan Nina, Wahyu, dan Andi.”
“Maaf kak Aylla siapa ya kak ?.” Tanya Aylla memastikan.
“Apa di sini ada yang bernama Aylla lagi?.” Kak Brian bertanya balik.
“Maaf kak, bisa pindah divisi nggak?.” Bertanya lagi seseorang dipojok kanan belakang dengan suara lantang. Sontak semua orang berpindah pandangan pada Denis.
“Maaf ya teman-teman. Keputusan yang dibuat sudah keputusan final dan nggak bisa diganggu gugat lagi. Keputusan diambil dari hasil mufakat semua senior.” Brian menjelaskan.
Dengan demikian Denis tak dapat mengelak dari keputusan yang sudah dibacakan. Ia tak lagi mempertanyakan ataupun memprotes. Dia harus menerima kehadiran Aylla dalam kehidupan organisasinya. Entah perasaan apa yang terpendam dari ucapan penolakan yang sempat dilontarkan. Penuh teka-teki bagi Aylla. Mengapa sekarang jadi seperti ini? Padahal saat pertama mengenalnya Denis bersikap ramah dan wellcome padanya.
* * *
Sekitar kurang dari satu bulan lagi sekolah akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 33. Dalam rangka menyambut hari ulang tahun sekolah, sekolah akan mengadakan berbagai lomba dan festival sebelum hari H. Semua divisi sibuk mempersiapkan kegiatan sesuai bidang masing-masing. Divisi kesenian kali ini mengusung lomba festival band dan fashion show remaja. Denis mengayuhkan kaki pergi setelah menyodorkan seluruh draf serta tatanan kegiatan kepada Aylla. Dengan langkah cepat ia menyusul Denis untuk protes soal pekerjaan yang diberikannya. Mengapa ia tak berbagi tugas dan hanya Aylla yang mengerjakannya sendiri. Namun dengan entengnya Denis berkata “Kamu kan sekretarisku, udah tugas kamu buat bikin semua proposal itu”. Mendengar penuturannya Aylla hanya mengelus dada.
Hari berganti hari, minggu berganti bulan hubungan Denis dan Aylla seperti ‘Tom and Jerry’. Bukannya makin dekat berada dalam wadah yang sama justru makin bagai dua medan magnet yang saling tolak menolak. Denis dengan sikap dingin, arogan dan senang memerintah. Aylla yang merasa bertanggung jawab dengan perubahan sikapnya terhadap dirinya hanya bisa mengalah. Akibatnya dia selalu dibuatnya kewalahan. Namun namanya manusia hatinya bisa berubah kapan saja. Apalagi Aylla yang tidak senang ditindas. Lambat laun perasaan bersalah terhadap Denis mulai menghilang. Perasaan kagum yang tadinya ada perlahan-lahan terkubur oleh rasa kesal.
“Ay, dipanggil Denis tuh.” Ujar Nana salah satu anggota divisi kesenian.
“Ada apa lagi?.” Ujar Aylla penasaran apalagi kira-kira yang hendak Denis lakukan.
Aylla dipanggil hanya untuk mendapatkan protes dari Denis. Denis seperti selalu berusaha mencari kesalahan Aylla. Itulah hal Aylla pikirkan selama bekerja bersama Denis. Usai mengomentari tatanan panggung untuk festival, ia meminta Aylla menata ulang kursi juri sembari mengarahkannya.
“Ini pasti berat, aku bantuin ya.” Ucap Randy pada Aylla yang tiba-tiba sudah ikut memegang sisi kursi yang lain. Dilihatnya oleh Denis, ia mendekati mereka seraya menghardik. “Woy! Ngapain lu disini? Pergi sana! Jangan ganggu kerjaan orang.”
“Ganggu? Lu nggak liat gue ngapain? Gue mau bantuin Aylla.” Ujar Randy.
“Apa urusan lu sama Aylla? Dia sekretaris gue. Lu siapa? Lu bukan anggota organisasi ini kan. Mending nggak usah ikut campur deh lu.” Ucap Denis ngegas.
“Eh, eh sombong banget lu. Emang kalo gue bukan anggota gue nggak boleh bantu gitu? Mending gue ada kepekaan buat ikut bantu. Dari pada lu cuma bisanya ngerjain orang.” Balas Randy pedas.
“Apa lu bilang?...”
Cekcok mulut antar Denis dan Randy semakin menjadi. Sampai-sampai mereka hampir berkelahi. Aylla berteriak menyudahi pertikaian mereka.
“Udaaahhh... Stop!.” Teriak Aylla menyempil diantara mereka.
“Apa-apaan sih kalian ini. Kayak anak kecil aja. Randy, aku bisa kok ngerjain ini sendiri dan ini pure tanggungjawabku. Lalu kamu Denis, udah deh jangan mentang-mentang kamu ketua main nyalahin dan nyuruh-nyuruh orang seenaknya. Kamu pikir aku nggak capek apa?!.” Ujar Aylla keras membuat mereka mematung.
Aylla segera pergi dari hadapan mereka. Ia bergegas tanpa menyelesaikan pekerjaannya. Denis mematung mendapati punggung Aylla yang perlahan menghilang dari pandangannya. Randy bergegas menyusul langkah Aylla, digenggam erat pundaknya oleh Denis namun berhasil disingkirkannya. Denis mendengus kesal mengepalkan jari-jarinya kuat.
* * *
Akhirnya dua minggu penyambutan acara HUT Sekolah pun tiba. Perhari ini semua kegiatan akan dimulai. Pertarungan antar kelas tak akan terelakan. Semua menyiapkan tim dan finalis terbaiknya. Perlombaan fashion show tak kalah menarik minat para siswa untuk melihatnya. Semua finalis yang fashion show telah berkumpul. Aylla menghitung jumlah mereka. Ia merasa ganjil, tak didapatinya finalis dari kelasnya. Sebagai salah satu siswa dari kelas yang juga ikut dalam kompetisi ia tak bisa membiarkan begitu saja. Ia berlari menuju kelasnya memastikan.
“Ara mana? Kenapa belum kumpul kesana?.” Tanya Aylla penasaran.
“Sejak berangkat dia nggak selesai-selesai bolak-balik ke toilet. Kayaknya dia diare deh.”
“Maaf Ay, perutku melilit banget dari pagi.” Keluh Ara.
“Terus siapa nih yang bisa nggantiin Ara. Bentar lagi mau dimulai.” Tanya Aylla kemudian.
“Semuanya nggak ada yang mau Ay. Mereka semua bilang nggak bisa, malulah, dan lain-lain.” Ucap Ririn teman sekelasnya.
“Iya, kita nggak biasa. Kita malu diliat orang banyak.” Ujar anak perempuan lainnya.
“Gimana kalo kamu aja Ay yang jadi modelnya.” Anak perempuan yang lain menyarankan.
“Betul kamu aja Ay.” Yang lain membenarkan.
“Ngaco aja kalian. Nggak!. Lagi pula aku kan panitia.”
“Bukannya nggak ada peraturan panitia nggak boleh jadi model ya?.”
“Walau kek gitu, nggak. Tetep nggak.” Tolak Aylla tegas.
“Ayolah Ay, demi kelas kita. Masa kamu nggak mau. Kalo aku nggak diare aku juga pasti ikut.” Pinta Ara.
“Tapi...”
Tak menunggu jawaban Aylla Ara dan Ririn langsung menarik Aylla ke dalam kelas. Tangan Ririn dengan lihai menyulap wajah Aylla menjadi ayu. Denis sedari tadi mondar-mandir mencari Aylla. Matanya membelalak seketika tak berkedip saat mendapati Aylla telah berlenggok diatas karpet merah bersama dengan finalis fashion show yang lain. Ia tak dapat berkata apapun. Mau marah tak bisa. Tidak mungkin dia berteriak menyeret Aylla meninggalkan karpet merah itu.
* * *
Sejak keberhasilan Aylla menjadi pemenang kedua dalam acara fashion show kini namanya melambung. Hampir seluruh warga sekolah dari junior maupun senior megenalnya. Bahkan ia mendapat ucapan selamat langsung dari Brian senior pujaannya yang kini telah purna dari keanggotaan. Bak idola baru ia kerap kali mendapat salam dari senior laki-laki. Bahkan beberapa anak laki-laki berusaha mendekatinya. Termasuk Randy, kapten sepak bola Sekolah. Ia tak lain dan tak bukan adalah mantan pacar Aylla dibangku kelas sepuluh dulu. Randy kian gencar mendekatinya lagi. Ia tak jarang bertandang ke kelas Aylla. Mengajaknya makan siang dikantin, dan masih banyak lagi trik yang berusaha dia luncurkan untuk menaklukkan Aylla.
‘Drrreeettt... drrreeettt..’ ponselnya bergetar satu pesan masuk ke layar smartphone Aylla.
‘Dateng ke perpus dalam waktu lima menit dari sekarang’ perintah Denis lewat sebuah pesan yang dikirimnya saat melihat Aylla tengah didekati oleh Randy.
“Maaf Randy, aku nggak bisa ikut ke kantin. Aku ada urusan.” Ujar Aylla.
“It’s okay. Tapi nanti pulang aku anter ya?.” Pinta Randy tak kehabisan akal.
Aylla tak menjawab iya atau tidak, ia hanya mengulum senyum lantas beranjak ke tempat yang hendak ia tuju. Mata Aylla mencari wajah yang menyuruhnya datang. Seseorang melambaikan tangan, sejurus Aylla berjalan ke arahnya.
“Mana laporan evaluasi kegiatan yang aku minta?.” Ujar Denis seketika tanpa basa-basi.
“Laporan? Bukannya aku udah ngasih ke kamu kemarin.”
Denis menggaruk kepalanya yang tidak gatal mencoba mencari alasan.
“Oooh, laporan iituu... laporan iituu. Aku nggak punya laporan itu lagi. Kemaren ketinggalan dimana aku lupa. Iya aku lupa dimana.” Ucapnya terbata menutupi kebohongannya.
“Yang bener aja. Seceroboh itukah kamu?.” Kini Aylla yang balik menyerang.
“Ya udah. Pokoknya kamu harus print lagi. Terus kasih ke aku.” Denis berusaha membalik keadaan.
“Nggak bisa gitu dong. Kamu harus cari dulu.” Aylla tak terima.
“Aku udah cari. Tapi nggak nemu. Tinggal print aja ribet banget sih.”
“Eh nggak bisa gitu dong, mana tanggung jawab kamu.”
Teeettt... teeettt... teeettt. Bel sekolah berhasil menghentikan mereka. Dengan kemenangan telak untuk Aylla. Ia segera melarikan diri sebelum Denis meluncurkan berbagai alasan yang membuatkan ditekan lagi. Denis menghempaskan nafas yang rasanya tertahan karena kebohongannya tatkala Aylla osudah berlalu dari hadapannya. “fyuuuhh. Bodohnya aku ini.” Kutuknya sendiri sembari menepuk-nepuk kepalanya.
Tepat bel berakhirnya sesi belajar mengajar berbunyi Randy sudah mematung di koridor. Koridor itu terletak diantara kelas IPS 2 dan IPA 3 ditopang dengan tiang-tiang penjaga yang kokoh. Randy menyandarkan tubuhnya yang tegap ke tiang koridor. Tepat saat Denis keluar dari kelasnya ia melihat Randy bersiap menyambut Aylla. Lalu dilihatnya pula Aylla yang berjalan masih jauh dari jangkauan Randy. Sejurus kemudian Denis cepat-cepat memanggil Aylla.
“Hei, Aylla!.” Panggil Denis tepat saat Randy hendak melambaikan tangannya pada Aylla.
Yang dipanggil menengok dengan malas. Denis berlari memblok pandangan Aylla dari Randy. Denis memegang kepala belakangnya dengan pandangan yang nanar. Seperti lutung kebingungan.
“Ada apa?.” Tanya Aylla malas.
“Em, Rista nungguin kamu dikelas.” Jawabnya ngasal.
“Kenapa kamu yang ngasih tau?.”
“Aylla.” Seseorang memanggilnya lagi. Fajar dan Oky mengayunkan tangannya meminta datang kepada mereka. Aylla bergegas memenuhi panggilan sahabat konyolnya.
“Widiiihh, model kita yang satu ini kalo diliat-liat cantik juga ya bro.” Celetuk Oky yang disambut jitakan tangan Aylla, menyebabkan tawa Fajar meledak.
“Mana Rista?.” Tanya Aylla.
“Tuh.” Tunjuk Oky ke dalam kelas.
Aylla mendatangi Rista yang masih mengemas buku-bukunya kedalam ranselnya.
“Hai Ay.” Sapa Rista.
Aylla mengulum senyum. Ia memilih duduk dikursi depan bangku Rista sembari menunggu Rista selesai mengemas peralatannya. Matanya memperhatikan sekeliling ruang kelas Rista yang didominasi warna biru muda yang menyegarkan. Matanya pun tak luput dari bangku yang sedang didudukinya. Sesuatu menarik perhatiannya. Diambilnya sebuah lembar kliping dari kolong meja yang ditempatinya sekarang. Dilihatnya bagian judul kliping itu. Wajahnya tampak serius berjalan keluar kelas.
“Denis!.” Panggil Aylla, membuat Denis dan Tian yang sedang berbincang mengalihkan pandangannya pada sumber suara yang terdengar garang.
Aylla sudah berada didepan mereka dalam sepersekian detik.
“Ini apa?! Kamu bilang hilang.” Ujar Aylla menunjukan lembaran itu tepat diwajah Denis sedikit mendongak dikarenakan perbedaan tinggi mereka cukup jauh.
“Ooh? Kamu nemu dimana?.” Tanyanya balik.
“Dari laci meja kamu!.” Sahut Aylla kesal. Membuat Tian dan Denis mengernyitkan mata karena telinga mereka berusaha menahan kencangnya suara Aylla.
“Eeemm, iya sorry. Evaluasi itu baru ketemu, terus aku taruh dilaci.” Ujar Denis berbohong, padahal lembar evaluasi itu tidak pernah hilang dan tak pernah pula berpindah tempat dari lacinya sejak diberikan padanya.
“Terus kamu mau tinggalin lagi?.” Cecar Aylla.
“Nggak. Mau aku bawa pulang.” Sahutnya sembari mengambil klipingan itu dari tangan Aylla.
“Kamu kok sekarang galak banget sih Ay sama Denis?.” Tanya Tian menengahi.
“Abisnya dia suka marah-marah duluan.”
“Siapa yang marah-marah?! Enak aja! Aku tuh ngajarin kamu biar bener kalo kerja.” Ujar Denis kemudian tak terima.
“Ngajarin? Kayanya aku udah kerja dengan benar. Kamunya aja yang mau nyari-nyari salah aku.” Aylla tak mau kalah.
“Eh, eh udah udah. Aku kan nanya baik-baik kok malah kalian berantem gini.” Tian melerai.
“Salut sama kalian, udah tengkar terus gini masih bisa kerja bareng.” Puji Tian kemudian mendinginkan suasana.
“Aylla.” Panggil Randy.
“Ayo kita pulang. Aku udah nungguin kamu dari tadi.” Ajak Randy dengan PDnya.
“Nggak bisa, Aylla mau pulang bareng aku.” Potong Tian sembari melingkarkan tangannya ke leher Aylla membuat kepala Aylla berada dibawah ketiaknya.
“Betul! Aylla mau pulang bareng kita.” Sahut Rista ikut menyambar leher Aylla.
Tian dan Rista kompak mengusir Randy. Mereka bagai perisai yang melindungi sang ratu dari serangan anak panah yang hendak menembus ke jantung. Mereka tak membiarkan Randy untuk mengambil hati Aylla kembali. Mereka tak akan mau lagi mempercayakan Aylla pada seseorang yang pernah merenggut hati Aylla lalu menghancurkannya begitu saja.
“Kayaknya lu nggak dibutuhin disini. Mending cabut aja sana.” Sambar Denis kemudian.
Randy masih mematung berharap mendapat jawaban Aylla.
“Tunggu apa lagi? Udah sana pulang.” Usir Rista tanpa basa-basi.
Randy pun berlalu tanpa membawa Aylla. Usaha Denis mencegahnya mendekati Aylla berhasil lagi. Ia tersenyum puas.
* * *
Hampir setengah jam Aylla duduk di ruang OSIS menunggu Denis dan seluruh anggota Divisi Kesenian. Denis menjadwalkan rapat pukul 14.30, namun sedari tadi tak ada seorang pun yang datang. Tak sabar Aylla mengambil ponselnya. Ia menghubungi Denis namun tak ada jawaban. Denis tak mengangkat teleponnya pun tak menjawab pesannya. Aylla menanyakan pada anggota yang lainnya. Ia langsung naik pitam saat mendapat jawaban dari anggota lainnya bahwa rapat hari ini dicancel. Lagi dan lagi Denis berhasil membuatnya kesal. “Deniiisss! Dasar manusia menyebalkan! Bisa-bisanya dia cancel tapi nggak ngasih tau aku.” Teriak Aylla penuh kekesalan.
Ponsel Aylla berdering tatkala ia hendak beranjak. Panggilan suara dari Tian. Terdengar suara berkata ‘hallo’ dari seberang sana saat lambang hijau digeser. Tian mengabarkan bahwa ia sedang bersama Denis di Rumah Sakit. Ia meminta Aylla untuk datang. Seketika itu ia melupakan kekesalannya. Aylla lari tergesa-gesa hingga sebuah sepeda motor hampir saja menabraknya. Sang pengendara kaget tak kepalang. Beruntung Oky mampu mengerem sepeda motornya. “Hampir aja.” Ia mengelus dada. Fajar yang berada di belakang Oky pun kaget dan bersyukur tak terjadi insiden apa pun.
“Hei, Aylla. Hati-hati dong.” Fajar mengingatkan.
“Iya ni, kamu kenapa buru-buru gitu sih?.” Tanya Oky kemudian
Tak merespons pertanyaan Oky, Aylla malah menaiki jok motor belakang Oky. Tanpa menjelaskan apa pun masih dalam kondisi tergesa-gesa ia meminta mereka melaju ke Rumah Sakit. Mereka saling menatap tak mengerti, lalu mengikuti permintaan Aylla tanpa bertanya lagi. Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sudah sampai di ruang IGD. Mereka mengikuti Aylla tanpa tahu apa yang terjadi. Akhirnya ia menemukan Tian di ruang berlabel ‘Tindakan’.
“Kamu nggak papa?.” Fajar mendaratkan pertanyaan itu pada Tian.
“Pertanyaan kamu salah sasaran. Tuh yang harusnya kamu tanyain.” Sahut Tian menunjuk Denis yang sedang mendapat perawatan luka.
Aylla dan tiga serangkai mendekati Denis. Tampak lebam dipojok kanan bibirnya. Ada sedikit luka terbuka dipelipis kirinya. Ia mengerang “aduh” saat kasa steril disapukan pada lukanya. Namanya luka tetap saja menyakitkan meski menimpa seorang lelaki. Apalagi terlukanya hati, berkali-laki lebih menyakitkan pun membutuhkan proses yang lama untuk menyembuhkannya.
“Bagus banget ya ketua yang satu ini, main cancel rapat tanpa kabar, eh ternyata malah abis berantem.” Aylla melepaskan kekesalannya.
“Kamu tuh ya, nggak ada empatinya banget ngeliat temen kaya gini.” Timpal Denis menyalahkan balik.
“Aelah lebay lu Den. Cowok luka biasa kali. Nggak usah pake nyalahin orang juga.” Serang Fajar.
“Eh, kalian ini. Jangan berisik. Kalau mau ribut nanti aja. Biar temen kalian selesai dulu diobatinya.” Ujar perawat menasihati.
Pengobatan luka Denis masih berlanjut, usai mengompres lukanya dengan larutan infus garam. Peralatan jahit luka disiapkan. Tak lupa perawat menyedotkan satu ampul obat bius ke dalam spuit. Lelaki berjas putih dengan tangan yang terbungkus sarung tangan latex menyambar spuit berisi obat bius. Ia meminta Denis tidak menggerakkan kepalanya saat jarum suntik ditancapkan ke area sekitar lukanya. Semua orang serius memerhatikan yang dilakukan dokter lelaki itu. Raut wajah Denis berubah ketakutan. Spontan ia meraih tangan Aylla, digenggamnya erat sebagai pengalihan rasa sakit. Aylla terenyak, namun tak melawan. Yang lainnya menyesap gigi menahan ngilu.
“Heeeemmmm...” Gumam Denis dengan ekspresi meringis saat jarum suntik berhasil menembus kulit pelipisnya.
“Tahan, tahan.” Aylla menenangkan.
“Gimana? masih terasa sakit?.” Tanya sang dokter sembari menekan-nekan lukanya setelah obat bius disuntikkan.
“Waaah! Engga dok.” Ujarnya takjub.
“Oke, kalo gitu kita mulai sekarang suster.” Ajak sang dokter pada perawatnya.
Total jahitan yang didapat Denis tiga jahitan. Dokter mengatakan bahwa benang yang dipakai jenis benang yang tipis sehingga setelah jahitan dicabut bekas lukanya tidak terlalu menonjol. Ia tak perlu khawatir. Dokter memintanya menjaga lukanya agar tidak basah dan kontrol setiap tiga hari. Tidak lupa dokter mengingatkan untuk meningkatkan asupan protein. Taksi yang dicarinya sudah bercokol di depan pintu IGD. Denis diantar hingga masuk ke dalam taksi. Mereka meminta sopir taksi agar mengantarkannya dengan selamat.
“Kawan-kawan, thank’s ya.” Ucap Denis menengok dari jendela taksi.
“Sip! Hati-hati.” Sahut semua orang.
“Dasar ngerepotin orang aja.” Celetuk Fajar saat mobil berwarna biru berlogo burung telah melaju meninggalkan mereka.
“Heh! Nggak boleh gitu. Dia kan temen kita juga.” Tian yang bijak mengingatkan.
“Nggak nyangka, ternyata dia mau juga bikin wajah kebanggaannya itu babak belur.” Ledek Oky.
“Kapan dia berhenti menyebalkan seperti ini?.” Aylla menambahkan.
“Heiii... emang bener kata Denis. Kalian ini pada nggak punya empati. Dengerin ya, asal kalian tahu. Dia itu abis beratem sama si Randy.” Tian yang kalem tak segan menghardik mereka tak tahan mendengar teman dekatnya sejak SD itu dipojokkan terus.
“Ada masalah apa mereka?.” Tanya Oky penasaran.
“Dengerin ni, terutama buat kamu Ay sama Fajar. Tadi waktu aku sama Denis lewat parkiran kita nggak sengaja denger pembicaraan Randy sama temen-temennya kalo dia bakal ngedeketin Aylla lagi. Mereka taruhan kalo dia bakal bisa balikan lagi sama Aylla. Terus si Denis langsung nyamperin mereka. Tanpa pikir panjang tangannya meninju Randy.” Cerita Tian menggebu.
“Waaah, si Randy sinting itu mau cari masalah lagi rupanya.” Fajar geram.
Mereka semua kaget mendengar penjelasan Tian. Penjelasannya tak sampai disitu saja. Tian menjelaskan bahwa ternyata selama ini Fajar salah menilai Denis. Dulu Denis memang sengaja berpacaran dengan Bella. Gadis yang menjadi gebetan Fajar saat itu. Ia sengaja mengambil hati Bella untuk menjauhkannya dari Fajar dan Randy yang saat itu masih berpacaran dengan Aylla. Bella memang berparas cantik namun hatinya tidak. Dia mau mendapatkan Randy namun tak mau melepaskan Fajar. Diam-diam dia menyukai Randy, ia tak mampu menahan perasaannya. Tak segan ia pun mulai menggoda Randy. Hingga akhirnya secara diam-diam mereka bermain api dibelakang Aylla. Disisi lain ia menginginkan keuntungan dari Fajar yang terlalu berbaik hati padanya.
Berkat wajah tampan serta perhatian yang selalu dilesatkan Denis pada Bella, ia mampu meluluhkan hati Bella. Selain itu Bella diam-diam tahu kalau Denis adik dari senior pujaan anak perempuan di sekolah yaitu Brian. Hal itu membuat Bella makin tertarik pada Denis. Alhasil ia rela mencampakkan Randy. Denis menjalani hubungan dengan Bella tak serius. Ia tak pernah menyukainya. Namun tutur kata dan sikapnya yang begitu lembut membuat Bella terperangkap dalam rasa suka yang kian mendalam. Satu bulan setelahnya Denis sengaja memutuskan hubungannya dengan Bella agar Bella mengerti bagaimana rasanya sakit. Itulah yang dirasakan Aylla saat ditinggalkan Randy, dan Fajar yang dimanfaatkan secara diam-diam.
Semua orang semakin tercengang mendengar cerita Tian. Mereka tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Itu terdengar seperti sebuah melodrama. Lagi dan lagi Tian meyakinkan mereka. Tian mengatakan bahwa selama ini dia bersikap arogan terhadap Aylla bukan karena ia tak menyukai Aylla. Bukan juga karena dia merasa sakit hati atas perkataan kasar yang Aylla lontarkan padanya saat seleksi. Hanya saja Denis takut akan dibuat jatuh cinta lalu hatinya dihancurkan. Denis tak sengaja mendengar potongan pembicaraan Fajar, Aylla dan Rista kala itu. Saat Fajar menyarankan Aylla untuk membuatnya jatuh cinta dan mematahkan hatinya. Karena sebenarnya dia memang sudah lama jatuh cinta pada Aylla.
“Tapi sejak kapan?.” Tanya Aylla penasaran dengan raut wajah yang masih terlihat kaget.
“Aku nggak tau sejak kapan. Cuma itu yang aku tahu.” Tian menjawab.
“Kayaknya kamu harus minta maaf dan berterima kasih sama si Denis.” Ujar Oky menepuk bahu Fajar.
“Waahhh, gila juga ternyata si Bella itu. Aku nggak nyangka.” Gerutu Fajar.
“Lebih baik kalian cepet-cepet deh minta maaf sama dia.” Oky menyarankan.
Mereka yang mempunyai perkara tertunduk manyun.
* * *
“Ini.” Fajar menyerahkan kotak bekal kepada Denis. Yang diberi kebingungan. Ia memandang dengan tatapan penuh tanya yang kurang lebih dapat diartikan ‘apa yang salah dengan orang ini?’.
“Dari Aylla.” Fajar menjawab tatapan penuh tanya Denis. Ia makin termangu tak mengerti. Dilihatinya kotak orange itu lekat-lekat.
“Dia nyuruh diabisin.” Ujar Fajar ketiga kalinya lalu ngeloyor pergi.
‘Habiskan, biar cepet pulih dan punya tenaga buat berantem lagi.’ Sebuah notes yang tersembunyi dibalik tutup kotak bekal. Kedua sudut bibirnya melengkung naik, gingsulnya menampakkan diri menopang senyumnya seperti biasa. Jika Aylla melihatnya bukan tak mungkin akan membuatnya terperangah lagi. Sudah lama ia tak menunjukkan senyum manis itu pada Aylla. Ia bersemangat menyantap bekal yang berisi sayur dan makanan berprotein tinggi. Denis kembali mengingat pesan dokter untuk mengonsumsi makanan tinggi protein untuk membantu penyembuhan lukanya. Katanya protein baik untuk pembentukan jaringan. Selama ini ia kira dan mungkin kebanyakan orang juga mengira jika sedang terluka tidak boleh makan telur, ikan, daging semua yang berbau amis katanya. Itu bisa menyebabkan bisulan. Nyatanya menurut ilmu pengetahuan justru makanan itu baik untuk membantu penyembuhan luka karena mengandung protein.
Seperti biasa murid terajin selalu keluar dari kelas terakhiran. Sudah dapat ditebak Rista masih mengepak buku dan peralatan tulisnya. Aylla duduk mengayunkan kaki ke depan ke belakang. Kedua lubang telinganya tersumpal earphone. Kepalanya bergerak mengikuti irama. Sesekali pandangannya menelusur seluruh halaman berumput hijau. Teronggok beberapa pohon berjajar mengiringi tiang-tiang penjaga koridor. Sekitar dua puluh meter ke kiri dari kelas IPA 3 berdiri kokoh tembok pemisah SMA Negeri ini dengan SMA tetangga yang merupakan SMA swasta. Ketika jam pembelajaran usai anak negeri dan anak swasta semburat dari gerbang masing-masing. Pada momen inilah akan tampak betapa kontrasnya penampilan mereka. Anak negeri dengan seragam super rapi bersabuk hitam tidak lebih dari tiga senti, sepatu serba hitam. Anak swasta dengan pakaian yang stylis, sepatu berwarna all varian ada. Bak artis yang sedang syuting sinetron sekolahan.
Aylla terhanyut irama yang bertalu-talu digendang telinganya. Belaian angin membawa aroma kenanga yang teronggok tak jauh dari jangkauannya. Tak dirasakannya derap sepatu berlalu lalang. Ia tak sadar jika tak ada yang mencoleknya. Kali ini ia tertunduk sambil bersenandung lirih. Seseorang mengetuk kepala. ‘Au’ desahnya kaget meski tak sakit. Dia menoleh.
“Thank’s. Makanannya enak.” Ujar Denis sambil memberikan kotak orange yang isinya sudah bersarang dilambungnya, kotak yang digunakannya mengetuk kepala Aylla.
“Masakan ibuku.” Sahutnya cepat.
“Pantas. Mana mungkin gadis manja seperti ini bisa masak.” Ejeknya.
“Yaaa!!.” Aylla mulai kesal.
“Apa?.” Tantang Denis.
“Heeehh... lupakan.” Aylla menyerah, sepintas ia mengingat cerita Tian tempo hari.
Samar-samar dari kejauhan tampak seorang lelaki berperawakan tinggi, bertubuh tidak kurus tidak juga gemuk. Rambut hitam dengan belahan samping masih mengilat meski sudah delapan jam berlalu. Wajah tampannya kian jelas terlihat. Masih belum berubah sapaan lembut diiringi senyum renyahnya membuat Aylla tak berkedip. Brian menghampiri mereka. Tangannya melambai seraya mengatakan ‘hallo Aylla’ tentu membuat hati Aylla tergelitik. Spontan seulas senyum malu-malu terbentuk diwajahnya. Pipinya merona. Girang tak kepalang. Kepalanya kembali diketuk dengan kotak orange itu. Aylla menatap tajam ke arah Denis. Brian tertawa kecil melihat tingkah mereka.
“Hari ini jadwal kontrol luka kan? Kayaknya kakak nggak bisa nemenin kamu kali ini. Kakak ada jam tambahan sebentar lagi. Biasa persiapan ujian akhir.” Brian mengutarakan maksud kedatangannya.
“Ada aja alasannya kamu bang. Aku selalu jadi yang kedua. Hem!.” Timpal Denis belaga ngambek.
Aylla hanya memerhatikan percakapan mereka.
“Mulai dah drama. Udah nggak usah lebay. Biasa juga jalan sendiri.” Celetuk Brian.
“Nih bawa aja. Awas! pake seperlunya. Jangan buat kesempatan ya.” Kata Brian sambil menyodorkan kartu ajaib yang dapat menghasilkan uang. Dengan sigap Denis meraih kartu itu. Buru-buru ia letakkan dalam dompet hitamnya.
Denis dan Brian bukan anak-anak broken home. Bukan pula anak yang sudah tidak mempunyai orang tua. Hanya saja orang tua mereka sedang ada pekerjaan di luar kota. Sejak kecil mereka sudah saling mengandalkan. Brian berperan sebagai pelindung adiknya. Mereka tak pernah protes tentang pekerjaan orang tua mereka. Karena mereka tak merasa kurang kasih sayang. Jika orang tua mereka sudah selesai dari pekerjaannya kedua orang tuanya selalu menciptakan quality time untuk mereka. Ibunya selalu bertanya tentang sekolah, kegiatan dan adakah keluh kesah yang dialami. Dengan begitu tak ada alasan bagi mereka membenci orang tua mereka.
“Hmmm, gimana kalo kamu nemenin Denis ke Rumah Sakit Ay?.” Brian tiba-tiba menyarankan.
Seketika Aylla tercekat dan berkata “Apa Kak?.”
“Iya, boleh kakak minta tolong? Biar ada yang ngawasin. Takut kalo-kalo dia abisin tuh duit.” Ucapnya sembari meledek adik kandungnya itu.
“Hei! Aku bukan anak kecil.” Denis bersungut.
“Hahaha... gimana Ay. Ayolah.” Brian memohon.
“Nggak usah.” Tolak Denis keras.
Sejurus tangan Aylla mendorong pundak Denis ke depan sambil berkata “Oke kak.”. Denis spontan langsung menengok Aylla. Tatapannya tajam, perpaduan antara keterkejutan dan penolakan. Aylla tak menggubris. Ia terus mendorong pundaknya berjalan maju hingga dia menurut. Ia sampai lupa bahwa tadinya dia sedang menunggu Rista. Sudah kepalang, ia akan mengabarinya nanti. Kata dokter luka jahitannya belum kering sehingga belum bisa dicabut. Obat minumnya terutama antibiotic diminta dihabiskan. Saran yang lainnya masih sama untuk makanan dan jadwal kontrol.
Seorang anak perempuan yang masih kecil berseragam merah putih berteriak kepada tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan bertopi untuk pergi dan berhenti mengganggunya. Anak itu kian merasa terpojok karena gerombolan anak nakal itu tak mendengarkan ucapannya. Mereka justru makin tertawa merasa berada diatas angin. Mereka makin mengejek dan mengata-ngatai anak itu. “Haha, dasar anak manja. Dasar cengeng.” Celetuk mereka.
“Iiih... pergiii. Perrgiii.” Ujar anak perempuan malang itu merasa putus asa. Ia berjalan mundur. Kakinya terkilir dan jatuh tepat dibawah kaki Aylla.
“Adek. Kamu nggak papa?.” Tanya Aylla dengan lembut sembari memeriksa kaki anak itu.
“Nggak papa kak.” Ujar anak itu pelan dengan raut wajah yang hendak menangis.
Aylla beranjak mendekati segerombolan anak-anak yang sepertinya dipimpin oleh bocah laki-laki bertubuh agak gemuk.
“Hei kalian!.” Ujar Aylla. Suaranya lantang menggema. Membuat bocah-bocah itu terperanjat. Mereka mundur selangkah. Denis yang berada semeter di belakangnya ikut tercekat melihat gelagat Aylla. Aylla makin maju membuat bocah-bocah itu saling menyembunyikan tubuh mereka dibelakang sang ketua. Dibuat mati kutu.
“Siapa ketuanya?!.” Tanya Aylla berlagak preman.
Si bocah bertubuh agak gendut itu berusaha mundur namun anak buahnya mendorong-dorongnya ke depan.
“Kamu ya?.” Tanya Aylla lagi masih dengan nada mencekam.
Denis masih termangu melihat tingkah polah dan cara bicara Aylla. Dia ingin menghentikannya. Namun ia ragu. Tampaknya Aylla tak bisa dihentikan. Dia ingin mengatakan bahwa mereka masih anak-anak. Biarkan saja mereka pergi. Jangan diperpanjang.
“Kamu mau jadi apa? Hem? Mau jadi jagoan?.” Cecar Aylla.
“Kalian mau jadi preman?!.”
Anak-anak itu kian memicing ketakutan. Tak bisa berbuat apa-apa.
“Jawab!.” Aylla meninggikan suranya.
Akhirnya mereka berani menjawab dengan tergagap menahan takut “eng.. engg.. enggaaa kaakk.” Aylla pun mulai mengeluarkan orasi keadilan. Ia meminta anak-anak itu tidak boleh mengganggu temannya. Tidak boleh mengganggu yang lemah dan tidak bersalah. Ia melarang mereka melakukan bullying. Ia mencari logo sekolah mereka yang tertempel dibaju sekolah mereka dan mengancam melaporkan ke guru mereka. Yang dimarahi merunduk ketakutan bak dicecar oleh guru BK super killer. Orasi diakhiri dengan meminta mereka minta maaf.
“Ayo cepet minta maaf sama temen kalian dan janji nggak akan nakal lagi sama dia.” Ancam Aylla bertelekan pinggang.
Mereka menurut. Pelan-pelan mereka berjalan mendekati anak perempuan malang itu. “aku minta maaf ya.” Ujar mereka bergantian sambil menyalami tangan anak perempuan itu. “kami janji nggak akan nakal lagi.” Lanjut mereka berjanji. Setelah itu mereka langsung lari semburat bak dikejar dedemit. Denis menggeleng-geleng kepala, mulutnya menganga. Keheranan. Aylla mengakhirinya berlagak memutar badan bersedekap tangan. “Hem! Aylla dilawan.”
“Makasih ya kak.” Ucap anak itu penuh senyum.
“Sama-sama adek. Nanti kalo ada yang berani ganggu kamu, kamu jangan takut. Harus berani ngelawan biar nggak diganggu. Oke?.” Aylla memprovokasinya.
“Iya kak aku nggak akan takut lagi.” Jawabnya mantap.
“Siip! Ya udah sekarang kamu cepet pulang ya.” Pinta Aylla.
Mereka pun berpisah saling melambaikan tangan. Denis dan Aylla melanjutkan langkahnya. Mereka berjalan menuju halte bus. Langit yang teduh kian teduh dan berubah mendung. Awan-awan diatas sana tampaknya sudah tak kuat memikul kumpulan uap-uap hasil proses konveksi air laut dan matahari. Ribuan titik air tak terhitung jumlahnya turun bertalu-talu menghunjam bumi. Semerbak aroma aspal dan tanah berseliweran menusuk hidung. Wangi aroma tanah serta suara hujan yang berlarian begitu menenangkan. Itu sebabnya orang lebih suka tidur saat hujan turun. Aylla mengeluarkan sebuah topi hitam dan memakaikannya ke kepala Denis. Ia sendiri berlari bertudung tangan menghalau hujan. Denis terhenti sesaat, namun segera berlari mengikuti Aylla menuju halte. Disapu-sapukan lengan bajunya yang mulai basah. Sejurus ia juga memberikan tisu kepada Denis memintanya mengelap wajahnya agar perbannya tak basah.
Sepanjang keluar dari Rumah Sakit Denis kehilangan kata-katanya. Mulai dari bertemu dengan gadis kecil malang itu hingga melihat betapa hangatnya sikap Aylla padanya.
“Makasih.” Ucapnya kemudian sambil mengelap wajahnya.
“Hem.” Sahut Aylla singkat masih sibuk mengibas air di rambut hitamnya.
“Sorry ya selama ini aku udah jahat sama kamu.” Denis membuka pembicaraan.
“Apaan sih? Korselet kamu kena air ujan?.” Celetuk Aylla bernada mengejek.
“Aku minta maaf. Sebenarnya bukan maksud aku jahat sama kamu. Tapi...”
“Tapi apa?.” Tanya Aylla dengan nada memojokkan persis seperti saat berbicara dengan bocah-bocah itu.
“Dulu ada bocah laki-laki yang diganggu teman-temannya disebuah gang saat pulang sekolah. tiba-tiba ada seorang gadis bertubuh kecil dengan suara lantangnya menantang teman-teman anak laki-laki itu. Lalu berkat keberaniannya anak laki-laki itu tidak diganggu lagi.” Ceritanya persis seperti kejadian yang baru saja ia saksikan.
“Lalu anak perempuan itu menasihatinya agar hidup dengan berani dan tak menundukkan pandangannya.” Lanjutnya bercerita penuh penghayatan mengingat kejadian sembilan tahun silam.
Aylla memandang Denis penuh tanya. Dahinya mengernyit masih tak paham.
“Apa gadis kecil itu kamu?.” Tanyanya memastikan setelah sekian lama ia memerhatikan Aylla sejak awal memasuki bangku kelas sepuluh.
“Dari mana kamu tahu cerita itu?.” Tanya Aylla penasaran.
“Karena aku anak laki-laki yang diselamatkan oleh gadis kecil itu.” Ia mengaku.
Kini Aylla yang kehabisan kata-kata. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia masih sangat terkejut. Ia tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan bocah laki-laki itu kembali. Ia tak menyangka bocah itu tak lain lelaki tertampan setelah Brian. Lelaki yang kini penuh wibawa dan pesona. Lelaki yang menjadi idola anak-anak perempuan di sekolah. Lelaki yang sempat membuat jantungnya bergetar saat melihatnya. Bahkan dibalik sikap Denis yang menyebalkan selama ini getaran itu masih terasa.
“Dan sejak saat itu aku ingin sekali berteman dengannya. Setiap pulang sekolah ku tunggu dia di gang pertama kali kami bertemu hingga sebulan berlalu ia tak kunjung kutemui lagi. Lama-lama aku makin memikirkannya. Berharap bisa bertemu lagi dengannya. Lalu aku bertekad jika suatu saat aku bertemu dengannya lagi aku ingin menjadi pelindungnya.” Ia bercerita penuh melankolis.
Aylla menatap lekat wajah lelaki di sampingnya. Bulir-bulir bening perlahan jatuh dari sudut matanya. Bibirnya menyungging senyum. Mereka saling menatap tak berkata-kata. Penuh haru. Suasana terasa melo ditengah hujan yang masih lekat mendera bumi. Bak sepasang kekasih yang lama terpisah lalu mereka kembali bertemu. Ribuan kerinduan tersirat dikedua bola mata mereka.