Selvara Senjani, Gadis Pecinta Senja
Libur sekolah kali ini, Selvara Senjani—gadis SMA penyuka senja—memutuskan untuk ikut sahabatnya pulang kampung. Ia bosan dengan hiruk-pikuk kota yang padat dan penuh polusi. Udara segar dan ketenangan pedesaan jadi alasan utamanya.
Pagi-pagi sekali, Senja sudah siap dengan koper berukuran sedang berwarna pink—warna favoritnya. Ia melangkah keluar rumah dan mendapati Ningsih, sahabatnya, sudah menunggu di samping taksi yang akan mereka tumpangi.
"Kamu yakin mau ikut aku pulang kampung, Ja? Takutnya kamu nggak nyaman. Di rumahku nggak ada AC, kipas angin aja udah tua," kata Ningsih sambil meliriknya khawatir.
Senja tersenyum santai. "Tenang aja, Ning. Justru itu yang aku cari. Aku pengen ngerasain udara segar kampung. Bosan banget sama polusi kota, bikin wajah kusam dan jerawatan!" candanya yang langsung membuat Ningsih tertawa kecil.
"Ya udah, kalau gitu kita langsung berangkat, ya. Kamu udah pamit sama orang tuamu, kan? Jangan sampai aku dikira nyulik kamu!" ujar Ningsih disertai kekehan.
"Udah dong! Eh, tuh mereka datang. Panjang umur juga mereka," ucap Senja, menunjuk kedua orang tuanya yang keluar dari rumah.
"Pa, Ma, kami berangkat dulu, ya! Doain aku dapet jodoh, biar bisa pulang bawa calon mantu buat kalian!" ujar Senja sambil tertawa kecil. Ia mencium tangan kedua orang tuanya, diikuti oleh Ningsih.
"Kamu ini, masih kecil udah mikir mantu. Ya nggak apa-apa sih, asal jangan pulang-pulang bawa cucu! Bisa Mama tendang ke kolong jembatan nanti!" sahut Tifani santai, menatap putrinya dengan senyum geli.
"Kami pamit dulu, Pa, Ma! Jangan rindu, nanti Papa cemburu!" seru Senja sembari masuk ke dalam mobil.
Taksi yang mereka tumpangi perlahan melaju, melewati gerbang rumah minimalis dua lantai berwarna biru laut. Perjalanan Senja menuju ketenangan kampung pun dimulai.
•
•
•
Suasana di kampung Ningsih sungguh asri. Udaranya sangat sejuk dan segar, dengan pemandangan bukit dan perkebunan teh yang menghampar luas. Desa tempat Ningsih tinggal memang berada di kaki bukit, dikelilingi sawah dan alam yang hijau menyejukkan.
Saat ini, Ningsih dan Senja sedang duduk santai di teras rumah.
"Ning, biasanya kalau di kampung kamu ngapain aja? Nggak mungkin kan cuma rebahan di kamar doang, apalagi jaringan di sini nggak ada!" tanya Senja penasaran.
"Biasanya ke kebun bantu Ibu metik daun teh. Kadang juga bantu Bapak di sawah, gembalain bebek," jawab Ningsih sambil tersenyum.
"Oh iya, Ning. Cowok yang kemarin jemput kita di depan desa itu siapa? Ganteng banget, hitam manis pula!"
"Itu Bang Orion. Dia anak kuliahan, kebetulan lagi libur. Kenapa? Kamu suka ya?" goda Ningsih.
Pipi Senja langsung memerah.
"Nggak kok, cuma penasaran aja! Eh, by the way... rumahnya di mana ya? Kayaknya aku mau bertamu deh!"
Ningsih menggeleng sambil tertawa kecil.
"Katanya nggak suka, tapi nanya alamat. Gimana sih, Ja!"
"Kan aku cuma penasaran, Ning, bukan suka! Lagian hati aku bukan murahan, masa liat cowok ganteng dikit langsung kepincut? Bukan aku banget, lah!" kilah Senja sambil manyun.
"Iya deh, iya! Bang Orion itu sering ke bukit yang kita datangi kemarin, biasanya buat liat senja. Dia tuh sama kayak kamu, suka banget sama pemandangan sore."
"Serius?! Kalau gitu aku pergi dulu ya, siapa tau ketemu!"
Tanpa menunggu jawaban, Senja langsung berlari keluar rumah dengan semangat, membuat Ningsih geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.
•
•
•
Senja melangkah ringan menyusuri jalan setapak, sesekali bersenandung kecil dan bersiul pelan. Angin sore menyapu lembut wajahnya, membawa aroma tanah yang hangat. Ia berhenti tepat tak jauh dari sebuah kursi kayu tua di bawah pohon rindang—tempat seorang pria tengah duduk dengan mata terpejam.
Pandangan Senja terpaku. Pipinya merona tanpa sadar, senyumnya terkulum melihat sosok pria yang dikenalnya sebagai Orion. Wajah itu... tenang, tampan, dengan hidung mancung dan kulit sawo matang yang memikat.
Dengan langkah hati-hati, Senja berjalan mendekat, berusaha tidak membuat suara. Ia duduk perlahan di samping pria itu, masih terpaku pada wajah Orion.
“Duh, ganteng banget sih... hidung mancung, kulit eksotis, fix paket lengkap,” gumamnya pelan.
“Senyumnya juga manis, ya…”
“Udah puas mandangin wajah saya?” suara itu menyentak lamunannya.
Senja terlonjak kecil. “Eh—anu… eee…”
Orion membuka matanya perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Kenapa? Kok gugup gitu? Saya nggak ngapa-ngapain kamu, kan?”
Senja buru-buru menggeleng, membuang muka sambil menahan rasa malu yang membuncah. Wajahnya panas, dan jantungnya berdetak tak karuan.
Orion mengamati gadis di sebelahnya. Ia menyilangkan tangan di dada, masih dengan senyum tipis. “Kelihatan banget kamu lagi blushing,” bisiknya pelan.
Senja menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan degup jantungnya yang kacau. Ia berdehem pelan sebelum membuka suara.
“Kamu kenapa di sini?” tanyanya, mencoba basa-basi.
“Menunggu senja,” jawab Orion santai. “Kamu sendiri kenapa ke sini? Bukannya kamu yang kemarin datang bareng Ningsih? Temannya dia, kan?”
“Iya. Tapi kita belum kenalan secara resmi,” Senja mengulurkan tangan, mencoba tersenyum. “Aku Senjani. Tapi biasanya dipanggil Senja.”
“Orion,” balas pria itu sambil menerima jabatan tangan. “Pasti kamu udah tahu dari Ningsih, ya?”
Senja terkekeh pelan. “Iya… tapi kan nggak sopan kalau belum kenalan langsung.”
Orion mengangguk kecil. “Tapi kamu belum jawab, kenapa ke sini? Nggak takut jalan sendiri? Biasanya anak kota agak parno kalau sendirian di tempat sepi begini.”
“Aku udah terbiasa kok. Lagi pula, ini masih dekat dari rumah Ningsih. Katanya di sini tempat terbaik buat lihat senja, makanya aku datang.”
“Kamu suka senja juga?” tanya Orion sambil meliriknya. “Sesuai sama namamu, ya. Senjani.”
Senja mengangguk, tersenyum kecil.
Dan tak lama kemudian, langit pun mulai berubah. Warna jingga perlahan menyapu cakrawala, menciptakan gradasi yang memanjakan mata. Cahaya senja memantul di mata mereka, memantulkan ketenangan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Benar kata orang-orang. Di atas bukit ini, senja tampak lebih indah. Dan bagi Senja, mungkin—senja kali ini adalah yang paling berkesan.
•
•
•
Sudah satu minggu Senja berada di Desa Kembang Sari, dan masa liburannya masih tersisa lebih dari satu minggu. Sejak pertemuannya dengan Orion di bukit tempo hari, hubungan mereka pun semakin dekat.
Hari ini, Senja memiliki janji dengan Orion untuk menonton acara lomba yang diadakan setiap tahun dalam rangka menyambut tahun baru.
“Cie cie yang lagi PDKT! Bentar lagi bakalan sold out dong!” ledek Ningsih yang sedang bersantai di ruang tamu, menoleh ke arah Senja yang hendak keluar rumah.
“Doain aja lah, semoga cepat ditembak! Ya udah, aku pergi dulu ya. Kamu nggak liat lomba di depan kantor desa, Ning?” sahut Senja sambil tersenyum.
“Duluan aja deh, aku lagi nungguin Bang Fahri jemput,” jawab Ningsih santai.
Senja hanya tersenyum kecil, lalu keluar rumah. Senyum di bibirnya mengembang saat melihat Orion sudah menunggu di depan rumah dengan motor matic merahnya.
“Udah lama ya, Bang, nunggunya?” tanya Senja, berdiri di sebelah Orion.
“Belum lama kok! Ya udah, langsung aja yuk!” jawab Orion sambil mengusap pucuk kepala Senja, membuat gadis itu tersipu malu.
Ah, Bang Orion bisa aja bikin hati dedek klepek-klepek...
Tanpa banyak kata, Senja langsung naik ke boncengan Orion. Tak lama, motor matic itu melaju membelah jalanan sempit yang hanya bisa dilalui oleh dua motor sekaligus.
•
•
•
Setelah beberapa menit, Orion dan Senja tiba di tempat acara yang ternyata sudah dimulai.
"Wah, ramai banget ya acaranya! Kalau di kota, mana ada yang kayak begini!" ujar Senja kagum, menatap kerumunan warga yang sedang menyaksikan perlombaan anak-anak.
"Ya, beginilah kalau di desa. Banyak kegiatan seru! Makanya, Abang tiap libur selalu pulang ke sini. Padahal kamu bilang desa itu membosankan," ucap Orion sambil tertawa pelan.
"Ya udah, kita ke sana yuk! Abang mau ngenalin kamu sama teman-teman Abang." Orion menggenggam tangan Senja pelan dan membawanya menuju perkumpulan remaja yang duduk di warung.
Senja menahan napas, menatap tangannya yang digenggam Orion. Katakan padanya kalau ini hanya mimpi.
"Wih, dapat cewek dari mana, Bro? Kayaknya bukan orang sini. Lo bawa dari kota, ya?"
Orion tak menanggapi ucapan temannya. Ia hanya melirik ke arah Senja yang tersenyum canggung, pipinya merona.
"Kenalin, ini Senja. Temannya Ningsih," ujar Orion memperkenalkan.
"Halo, gue Morgan!"
"Gue Arsha!"
"Dan gue Bima!"
"Hai, salam kenal," ujar Senja pelan sambil berjabat tangan bergantian sebagai bentuk perkenalan.
Namun, salah satu dari teman Orion menatap Senja dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak ada yang menyadarinya.
Setelah sesi perkenalan selesai, mereka pun memutuskan untuk menonton perlombaan yang sedang berlangsung.
•
•
•
Dua hari telah berlalu sejak hari di mana Senja pergi bersama Orion untuk menonton perlombaan di kantor desa.
Kini, Senja sedang duduk melamun di dalam kamar, menatap keluar jendela. Semakin hari, perasaannya terhadap Orion semakin besar—begitu juga perlakuan Orion padanya yang terasa melebihi seorang teman.
Senja menghela napas pelan. Ia bingung dengan sikap Orion. Orion selalu memperlakukannya seolah Senja adalah pacarnya. Di depan orang banyak pun, tanpa ragu, Orion menggenggam tangannya atau merengkuh pinggangnya seperti seorang kekasih yang posesif. Tapi sampai saat ini, Orion belum juga menyatakan cinta, membuat Senja dilanda dilema yang menguras pikirannya.
"Sebenarnya Bang Rion suka nggak sih sama aku? Kalau suka, kenapa nggak nembak-nembak juga? Terus, kalau nggak suka, kenapa perlakuannya kayak aku pacarnya!" gumam Senja dengan wajah frustrasi.
"Huh, mana aku udah terlanjur cinta sama Bang Rion. Kalau dia cuma mau baperin aku gimana? Mustahil kan anak kuliahan kayak dia nggak punya pacar, apalagi Bang Rion tampan—pasti banyak yang suka!"
"Akhh! Kenapa gini banget sih nasibku? Nggak dikasih kepastian. Minimal bilang aja, 'Aku suka kamu, Senja.' Biar aku nggak galau terus kayak gini!"
Kelakuan Senja tak luput dari pandangan Ningsih yang sedari tadi bersandar di daun pintu, memperhatikan sahabatnya yang tampak frustrasi.
"Kamu kenapa, Ja? Kayak orang lagi putus cinta aja, galau-galau nggak jelas," ujar Ningsih, lalu duduk di sebelah Senja.
Senja menoleh, menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke kasur.
"Ning, menurutmu Bang Rion suka nggak sama aku? Jawab yang jujur ya, awas kalau bohong!"
Ningsih tak langsung menjawab. Ia menatap lekat wajah sahabatnya itu.
"Kalau dilihat dari caranya nge-treat kamu sih, kayaknya suka! Apalagi setahuku, Bang Rion tuh nggak gampang dekat sama cewek. Tapi sama kamu dia terbuka banget, posesif pula!" jawab Ningsih jujur.
"Iya kan! Aku juga mikirnya gitu, Ning. Tapi sampai sekarang Bang Rion belum juga nyatain cintanya!" keluh Senja dengan wajah ditekuk.
"Mungkin Bang Rion lagi nunggu waktu yang tepat, Ja. Nyatain cinta itu perlu momen yang romantis, perlu persiapan juga," ujar Ningsih menenangkan.
"Tapi Ning... Aku tuh kalau ditembak langsung gitu aja juga bakal nerima, meskipun nggak romantis! Asal yang nembak itu Bang Rion, pasti aku nerima seratus persen!" geram Senja.
"Huh, sabar dong, Ja. Kalau kamu mau yang cepat, ya kamu aja yang nyatain cinta ke Bang Rion! Itupun kalau kamu udah kebelet banget pengen punya pacar," balas Ningsih santai, membuat Senja langsung cemberut.
"Ihh, tau ah! Semakin dipikirin, semakin pusing. Mending aku keluar aja cari angin segar!"
Senja bangkit dari duduknya, berjalan keluar meninggalkan Ningsih yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Gitu banget ya kalau lagi jatuh cinta! Tapi aku sama Bang Fahri nggak sampe segalau ini deh. Apalagi Bang Fahri sat set banget orangnya. Nyatain cinta aja di atas motor!" gumam Ningsih sambil tertawa pelan.
•
•
•
Hari demi hari berlalu, dan Senja masih belum juga bertemu Orion. Entah apa yang membuat pria itu menghilang begitu saja. Bahkan di tempat biasa mereka menatap langit sore bersama, Orion tak pernah muncul lagi. Kegelisahan mulai tumbuh di hati Senja, rasa-rasanya seperti sedang di-ghosting.
Untuk mengusir rasa suntuk yang menyesaki dadanya, Senja memilih berjalan-jalan ke kebun teh. Langkahnya pelan, wajahnya terlihat lesu.
“Bang Rion kok nggak pernah nemuin aku lagi, ya? Apa dia cuma mau ghosting aku aja?”
“Kalau bener kayak gitu, berarti Bang Rion jahat banget. Ini sih namanya patah hati sebelum jadian!”
“Lagian aku kenapa sih gampang banget baper. Dikit-dikit digombalin, langsung meleyot. Punya hati kok murahan banget!”
“Sadar, Senja! Mana mungkin Bang Rion, yang notabene anak kuliahan keren, mau sama aku yang masih anak ingusan begini!”
Sepanjang jalan, Senja terus mengomel pada dirinya sendiri, sesekali menendang kerikil kecil untuk meluapkan kekesalannya.
Dari arah depan, seorang pria mendekat santai, kedua tangannya disembunyikan di belakang tubuhnya seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
“Senja!” panggil suara itu.
Senja mendongak. “Loh, Bang Arsha? Kenapa di sini? Bukannya Abang udah balik ke Jakarta?”
Arsha tersenyum lembut. “Gimana Abang bisa balik duluan, kalau hati Abang masih tertinggal di sini?”
Senja mengerutkan kening. “Hati? Emangnya hati bisa copot dari tubuh? Bukannya kalau hati copot, kita mati?”
Arsha tertawa kecil. “Aduh, Ja... kamu polos banget sih. Maksud Abang, hati yang itu—kamu!”
“Aku?” Senja makin bingung.
Arsha menatapnya serius. “Senja... Abang tahu ini mungkin terlalu cepat buat kamu, tapi Abang suka sama kamu. Abang nggak minta kamu langsung nerima cinta Abang. Abang cuma pengin kamu tahu perasaan ini.” Arsha mengulurkan buket mawar merah berbentuk hati—bunga favorit Senja.
Senja menutup mulutnya, terkejut.
“Abang cuma nggak mau nyesel karena nggak pernah nyatain. Abang udah coba buang jauh-jauh perasaan ini, tapi nggak bisa. Makanya, Abang balik lagi ke sini.”
“Bang... aku nggak tahu harus bilang apa. Ini semua terlalu mendadak buat aku, apalagi aku...”
Arsha mengangguk pelan. “Abang tahu, kamu sukanya sama Orion, kan? Nggak apa-apa, Ja. Tolak aja Abang kalau kamu nggak bisa. Abang ikhlas. Cinta itu nggak bisa dipaksa.”
Senja menggenggam tangannya kuat-kuat. Ia menunduk, merasa tak enak. Arsha memang tampan—kulitnya putih, senyumnya menenangkan—bahkan mungkin lebih memesona dari Orion. Tapi hatinya tetap memilih yang lain.
“Maaf ya, Bang... aku nggak bisa nerima cinta Abang,” ucapnya pelan.
Arsha tersenyum meski terasa getir. “Nggak apa-apa, Ja. Penolakanmu jauh lebih berarti daripada Abang jadi pengecut yang nggak berani nyatain.”
Senja makin merasa bersalah. “Maaf... sekali lagi, maaf ya, Bang.”
Arsha mengangkat dagu Senja agar menatapnya. “Jangan merasa bersalah. Ini semua keputusan Abang sendiri. Justru Abang bakal nyesel kalau nggak ngungkapin perasaan ini. Dan bunga ini... diterima ya. Abang susun sendiri, pakai bunga palsu biar bisa kamu simpan lama-lama.”
“Anggap aja... kenang-kenangan dari Abang.”
Senja menerima buket itu dengan senyum tulus. “Makasih, Bang... semoga Abang dapet cewek yang jauh lebih baik dan pastinya lebih cantik dari aku.”
Arsha mengusap kepala Senja. “Doa dari anak baik pasti dikabulin.” Ia menatap Senja sejenak. “Boleh Abang peluk kamu sebentar?”
“Boleh,” jawab Senja pelan.
Arsha memeluknya lembut, mencium pucuk kepala Senja penuh kasih. Setelah beberapa saat, pelukan itu terlepas.
“Ya udah, Abang pamit dulu ya... kayaknya ada yang lagi kepanasan ngeliatin kita.” Arsha berbisik pelan.
Senja hanya mengangguk, meskipun ia tak mengerti apa yang dimaksud Arsha. Setelah Arsha pergi, Senja kembali melanjutkan langkahnya sambil mencium buket bunga harum yang masih digenggamnya. Namun, langkahnya terhenti saat suara seseorang yang amat dikenalnya memanggil.
“Senja!”
“Bang Rion!” seru Senja riang.
Grep!
Tanpa ragu, Senja langsung menubruk tubuh Orion dan memeluknya erat, seolah takut jika pria itu kembali menghilang.
“Bang Rion ke mana aja? Kenapa nggak pernah nemuin aku lagi?” gumam Senja dalam dekapan Orion.
Orion mengecup pucuk kepala Senja, memeluknya tak kalah erat. Ada rasa rindu yang membuncah dalam dada keduanya.
“Maafin Abang ya karena pergi tanpa bilang. Beberapa hari ini Abang ke Jakarta, ada yang harus dibeli,” jawab Orion lembut. Ia sedikit menjauhkan kepala Senja dari dadanya karena merasakan sesuatu yang basah.
“Jangan nangis, Ja. Abang nggak bisa lihat orang yang Abang sayang menangis, apalagi kalau itu karena Abang sendiri,” ujarnya sambil mengusap air mata di pipi Senja.
“Abang jahat! Abang bikin aku sedih. Aku pikir Abang nggak mau ketemu aku lagi!” ujar Senja terbata, air matanya belum berhenti.
“Abang minta maaf ya, Ja, udah bikin kamu nangis. Mana mungkin Abang nggak mau ketemu kamu lagi... terlebih kamu adalah orang yang Abang cintai.”
Orion menyatukan dahi mereka, menyalurkan rindu yang selama ini terpendam.
Senja mendongak, menatap lekat wajah Orion. Tangannya terulur, mengusap pipi pria itu lembut.
“Abang barusan bilang apa? Aku nggak dengar…” cicit Senja pelan.
Orion menangkup pipi Senja, mata mereka bertemu dalam tatapan dalam yang tak bisa dibohongi.
“Abang cinta sama kamu, Ja. Abang sayang kamu. Abang nggak tahu sejak kapan, tapi Abang sadar… perasaan ini lebih dari sekadar sayang.”
“Abang cuma tahu, Abang rela melakukan apapun demi kamu,” ujar Orion sungguh-sungguh.
Air mata Senja kembali mengalir, tapi kali ini karena bahagia. Ia menatap Orion dengan senyum tulus.
“Abang… serius kan? Aku nggak mimpi kan? Cubit aku bang… aku takut ini cuma mimpi.”
“Kamu nggak mimpi, Ja. Abang beneran cinta sama kamu. Maafin Abang karena terlambat,” ucap Orion dengan nada penuh sesal.
Senja menggeleng pelan. “Nggak ada kata terlambat kalau memang saling mencintai, Bang. Aku juga cinta sama Abang… sejak pertama bertemu, aku udah jatuh cinta.”
Orion tersenyum lega. “Abang tahu. Makanya, Abang beli ini buat kamu.”
Ia mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya, memperlihatkan sebuah kalung berbentuk hati dengan permata berwarna merah muda di tengahnya—warna kesukaan Senja.
“Ini… buat aku, Bang?” Senja menatap kalung itu tak percaya, tangannya gemetar saat menyentuhnya.
“Abang pesan khusus buat kamu. Abang tahu kamu suka warna pink dari Ningsih,” jawab Orion lembut.
Lalu, dengan mata yang tak lepas menatap Senja, Orion berkata,
“Ja, kamu mau kan jadi pacar Abang?”
Senja mengangguk pelan, hatinya terasa begitu hangat.
“Aku mau, Bang. Aku mau jadi pacar Bang Orion.”
Dorr! Dorr!
“Cieeee! Jadian nihhh!”
“Kiww kiww! Bakalan makan-makan gratis nih!”
“Panas eyy, panas!”
Senja tersentak kaget mendengar teriakan Ningsih dan teman-teman Orion. Bahkan Arsha pun ada di antara mereka. Ia menoleh ke arah Orion yang tersenyum geli.
“Abang yang ajak mereka ke sini, Ja. Biar mereka jadi saksi cinta kita... yang bersemi di bawah langit senja, di matamu.”
Orion menggenggam tangan Senja. Keduanya saling menatap, lalu berpelukan, menyalurkan kasih yang selama ini terpendam. Disaksikan oleh teman-teman mereka dan diiringi sinar senja yang indah di ufuk barat.
Begitulah akhir dari kisah cinta singkat Selvara Senjani—gadis kota yang jatuh cinta pada pria desa.
Bagi Senja, Orion Arumega bukan sekadar kekasih. Ia adalah cinta pertamanya. Dan mungkin… satu-satunya.