[Disclaimer : Cerpen ini merupakan cerpen yang sudah aku tulis dari 5 tahun lalu dan sudah aku post di aplikasi sebelah sejak 5 tahun lalu. Jadi jika kalian merasa pernah melihat cerita yang sama di aplikasi sebelah, itu artinya aku tidak melakukan plagiarisme ya karena yang memposting dan menulis adalah satu orang yang sama.]
Happy Reading....
Entah mengapa aku merasa ada yang memperhatikanku, aku sudah berusaha mengabaikannya. Namun rasa penasaran ini berhasil membuatku menoleh.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat mata hazelnya yang begitu mempesona. Aku yakin siapa pun yang menatapnya pasti akan terpesona dengan bola matanya yang indah itu. Begitu indah.
Dia melihatku, membalas tatapanku. Sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat keatas. Dia tersenyum padaku. Dengan malu, aku kembali memfokuskan pandanganku kembali ke novel yang tadi sempat aku abaikan karenanya.
Dan saat itu pula awal semuanya berawal. Sejak saat itu, saat aku datang ke caffe O'ritta, lelaki itu, si pemilik mata hazel itu, selalu ada disana. Di tempat duduk yang sama, dengan hal yang sama. Melihatku. Entah apa maksudnya, aku pun tak tau.
Kalo kalian penasaran dengannya, akan ku beritahukan ke kalian bagaimana lelaki itu. Mata hazel yang begitu indah, bibir merah ranum yang ku yakin dapat membuat kalian kaum hawa merasa iri, hidung mancung, rahang koko yang begitu mempesona, oh dan jangan lupakan alis tebalnya yang sudah seperti ulat bulu itu, rambut hitam legamnya yang sedikit acak-acakan. Kukira, kurang lebih begitulah dia.
Entah dia sadar atau tidak, aku pun mulai sering meliriknya. Penasaran. Saat tak sengaja kami bertatapan mata, saat itulah aku merasa begitu malu, hingga wajahku memerah seperti kepiting rebus.
Tak ada yang bisa aku lakukan selain menyembunyikan wajahku dibalik novel yang selalu aku bawa.
Hingga pada suatu sore, aku sudah memutuskannya. Akan menghapirinya dan bertanya siapa namanya. Tak peduli dengan gengsi, untuk sekali saja aku ingin menyingkirkan rasa gensi ini, tak apakan?. Hanya untuk memngetahui namanya saja.
Dengan jantung yang berdegub kencang dan keringat yang berhasil membasahi tangganku, aku mulai membuka pintu caffe. Saat aku sudah berada didalam caffe, mataku tertuju pada seseorang yang duduk di kursi dekat jendela caffe yang menghadap langsung ke arah jalan raya. Dengan gemetar, kulangkahkan kaki ini kearahnya.
"Boleh ku duduk disini?" tanyaku tanpa basa basi saat sudah berada didepannya.
Dia medongkakan kepalanya, dan menatapku sebentar, lalu tiba-tiba tersenyum dengan lembut.
"Duduklah, tak ada yang melarangnya juga," ucapnya masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Aku pun duduk dikursi depannya, dengan pelan kuletakkan novel yang kubawa tadi diatas meja. "Mbakk," pangilku, memangil pelayan caffe.
"Ya, mau pesen apa mbak?" tanya pelayan caffe itu ramah.
"Cheese Cake sama coffee latte ya mbak," bukan. Itu bukan suaraku yang menjawab. Ya, lelaki itu yang menyahut. Masih dengan kebinguganku pelayan itu pergi.
"Tidak usah bingung, hampir setiap hari aku kesini, dan selalu melihatmu memesan itu," ucapnya seakan-akan mampu membaca pikiranku.
"Ekhem, btw namaku Raina, kamu?" Ucapku sembari menjulurkan tangan kearahnya.
"Bintang," jedanya sambil menerima jabatanku "Bintang Sanjaya, bukan bintang dilangit," lanjutnya saat aku sudah menarik kembali tanganku, dengan candaan diakhirnya. Entahlah aku tak tau itu candaan atau apa, namun menurutku itu begitu....krik.
"Kau lebih cantik saat dilihat dari dekat, daripada dari jauh." Celetuknya sambil menyesap minumanya, yang kurasa itu kopi.
"Ehh?" refleksku.
"Hahahaha," tawanya yang terdengar begitu indah ditelingaku. "Kamu percaya tidak sama yang namanya cinta pandangan pertama?" Ucapnya bersamaan dengan pelayan caffe yang tadi datang sambil membawah pesananku.
"Hmm percaya, mungkin aku pernah merasakannya." Ucapku, seraya tersenyum kearah pelayan itu, dan pelayan itu pun pergi meninggalkan kami berdua.
"Bagus kalo kamu percaya"
"Kenapa?"
"Karna aku mengalaminya, saat aku pertama kali melihatmu memasuki caffe ini." Ucapnya dengan tersenyum lembut kepadaku.
Dan saat itulah awal kedekatan kita dimulai. Kita berbagi nomor telepon, saling tanya hobi dan kesukaan masing-masing. Begitu pun tempat kami menimbah ilmu, kuketauhi dia murid SMA yang berada tak jauh dari SMA-ku, kelas XI sama sepertiku.
Kami sering bertemu di Caffe itu, entah itu membahas soal ilmu, ataupun hanya bercerita yang tidak penting, namun entah mengapa itu terasa menyenangkan. Sesekali dia juga melontarkan kata-kata yang mampu membuatku tertawa hingga perutku terasa sakit
Tak hanya itu, masih banyak yang ingin kuberitahukan pada kalian tentangku dengannya. Dan saat kejadian tak mengenakkan itu datang padaku.
•••
Sore itu, seperti biasa aku pergi ke caffe O'ritta. Memesan menu favoritku dan menghabiskan senja bersama Bintang. Namun sepertinya keberuntungan sedang tak berpihak padaku. Bintang tak datang sore itu.
Aku mengirimnya pesan, berniat bertanya tumben ia tak datang. Namun ia tak membalasnya. Tak hanya sore itu saja, hari-hari berikutnya pun sama.
Aku kesal. Aku marah. Dia datang secara tiba-tiba dan menerbangkanku setinggi langit, lalu ia menjatuhkan diriku tanpa mau menangkapku. Entah kenapa aku marah, aku bukan siapa-siapa untuknya. Namun hati ini terasa begitu sakit.
Sejak saat itu pula aku mulai engan pergi ke caffe O'ritta. Tak ada lagi tatapan mata hazelnya yang indah. Tak ada lagi senyuman lembutnya. Namun sore ini aku duduk disini, di Caffe O'ritta. Saat aku melamun entah kenapa, percakapan terakhirku dengan Bintang terlintas dibenakku.
"Raina?Kalo aku pergi, apa reaksimu?"
"Ehh?Entah, sedih mungkin, memangnya kau ingin kemana?"
"Tak ada, hanya bertanya." jawabnya dengan senyuman itu lagi.
"Tapi kusarankan, kau tak perlu sedih bila aku pergi, Cobalah tersenyum! Dan doakan saja kebaikan untukku, walaupun kau tak tau kemana perginya aku," lanjutnya sambil menatapku.
Ucapan terakhirnya itu membuatku tersenyum kecut. Berdoa. Berdoa untuk apa?kebaikannya?ketauhila aku seseorang yang engan untuk mendoakan dia yang tak tau dimana keberadaanya.
Langit sudah mulai mengelap, adzan pun sudah berkumandang. Aku pun kembali kerumah. Malam saat aku ingin tidur, entah mengapa mulut ini dengan lancangnya berkata "Bintang, andai kamu tau betapa aku merindukan dirimu," dengan refleks aku memukul mulutku pelan.
Sekolahku dengan Sekolah Bintang berdekatan. Sudah pernah kuceritakan bukan?dan setiap hari aku melewatinya. Siang itu aku menghentikan langkahku, memandang gerbang sekolahan itu yang ramai murid keluar dari dalamnya, karna jam pulang sudah tiba.
Tiba-tiba seorang perempuan dengan rambut sebahu dan tatapan tajamnya menghapiriku. Menepuk bahuku sedikit agak keras, dan bertanya.
"He lo ngapain liatin sekolaan gue gitu amat?" belum sempat kujawab ia sudah berkata lagi "lo anak sekolah tetanggakan?" begitulah katanya.
"Iya"
"Terus...jawaban buat pertanyaan gue tadi gimana?" kali ini ia melipat tangannya didepan dada dan menaikkan sebelah alisnya.
Aku takut padanya, iya!aku memang penakut. Tapi apa masalahnya?tak adakan? Namun rasa takut ini dengan mudah dikalahkan oleh rasa penasaranku. Dengan lancang aku bertanya padanya.
"Hmmm, apa kau kenal dengan siswa bernama Bintang?Bintang Sanjaya," begitulah tanyaku.
"Lo?lo siapanya tuh anak?kok bisa kenal sama tuh anak?" bukannya menjawab dia malah bertanya balik. Bikin kesal saja.
"Aku Raina, hanya temanya saja." Jawabku, walaupun dengan tidak iklas.
"Raina?Raina Maharani?cewek itu?" Hah?bagaimana dia bisa mengetauhi nama lengkapku?bukankah itu aneh?
"kamu tau namaku dari mana?" tanyaku saat itu dengan mata yang masih terbelalak.
"Ngak penting, udah ayok ikut gue aja, penting! NGAK BOLEH NGELAWAN!!" Ucapnya sambil menarik tanganku paksa, dia juga menekankan satu kalimat diakhir ucapannya.
Walaupun begitu aku tetap melawan, aku berusaha menarik tanganku. Namun apa boleh buat gadis itu lebih kuat dariku. Dia membawahku masuk kedalam mobilnya.
Saat itu, aku benar-benar bingung kemana gadis itu akan membawaku pergi. Aku hanya diam saat di perjalanan, tak berani bertanya kemana ia akan membawaku pergi.
Hingga mobil yang kami tumpangi berhenti di depan salah satu rumah sakit besar yang berada dikotaku. Dia turun, aku mengikutinya turun. Dia pun menarik tangganku kembali, membawaku dengan tergesa-gesa.
Saat kami sudah berdiri didepan sebuah ruangan, menurut papan kecil yang tergantung didekat pintu itu, tertulis kalau ruangan itu ruang ICU. Perasaan tidak enak mulai muncul dibenakku, entah mengapa.
•••
Gadis itu membuka pintu ruangan itu dengan pelan. Dan dia disana, dia yang kucari, dia yang kurindukan. Perlahan tapi pasti kaki ini melangkah mendekatinya dengan diiringi tetes demi tetes air mataku.
"Bintangg....kamu kenapa?" Tanyaku pelan seraya mengusap pipinya lembut.
Dulu, bibir itu begitu segar namun sekarang bibir itu begitu pucat, mata indah itu, sekarang sedang tertutup dengan rapat. Hanya ada suara elektrokardiogram yang kudengar.
Perlahan mata itu terbuka. Terkejut. Itu yang mungkin ia rasakan sekarang. Namun dengan cepat ia menyunggingkan senyumannya....untukku, mungkin.
"Raina, hei? Kenapa kamu nangis?ada yang nyakitin kamu?siapa he?bilang! Ntar biar Luna yang habisin dia." Ucapnya seraya mengusap air mataku.
"Luna?"
Matanya melirik gadis itu, gadis yang tadi menarik tanganku dengan paksa tadi. Jadi namanya Luna.
Tangannya masih dengan lembut mengelus pipiku. Kulihat air mata keluar dari sudut matanya. Meluncur dengan bebas tanpa beban.
"Rai...kamu harus tau satu hal tentangku."
"Kamu sakit?"
"Iya, tapi bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Aku akan selalu mencintaimu Raina, apa pun yang terjadi aku akan selalu didekatmu! "
Dan saat itulah tangannya terlepas dari pipiku. Mata indahnya kembali tertutup rapat. Wajahnya terlihat begitu damai. Seperti bayi yang baru lahir.
Aku terlalu bingung dengan apa yang sedang terjadi. Kaki ini terasa begitu lemas. Lidah ini kelu, tak mampu mengucapkkan sepatah kata. Hanya air mata ini yang menetes begitu deras.
Luna berteriak memanggil dokter, berharap dokter itu mampu membangunkannya. Namun apa boleh buat, Dokter itu bilang Bintang ngak akan bangun lagi.
Sedih, Marah, Kehilangan, entahlah. Saat itu aku benar benar kacau. Menangis dipelukan orang yang tak kukenal-Luna- . Berteriak seperti orang gila, sembari memanggil nama Bintang.
Setelah itu, jarang sekali aku pergi ke Caffe O'ritta bahkan bisa dibilang tak pernah lagi kesana. Setiap kali aku menginjakkan kaki di Caffe itu, bayangan Bintang yang sedang tersenyum sembari memandangku selalu muncul.
Hari demi hari, minggu demi minggu, telah ku lewati. Berusaha melepaskannya dengan iklas. Walaupun begitu, dari dalam hati terdalamku aku tak akan pernah melupakannya.
Dan disinilah aku sekarang, tempat peristirahatan terakhir Bintang. Ya! Hari ini adalah hari dimana Bintang terakhir kali menghembuskan nafasnya. Satu tahun berlalu Bintang pergi, namun entah mengapa hati ini masih ada untuknya?
-The End-