Bagian 1: Siswi Baru
Hari pertama semester baru. Matahari belum sepenuhnya naik ketika aku, Rafi, duduk di bangku kelas 11 IPA 2 sambil ngantuk. Suara riuh teman-teman yang saling cerita liburan bikin kepalaku berdenyut. Tapi mataku langsung tertarik pada satu hal—atau lebih tepatnya, satu orang.
Seorang cewek duduk di pojok belakang, dekat jendela. Rambut panjangnya tergerai, dan dia terlihat... asing. Dia bukan dari angkatan kami. Bukan juga anak kelas sebelah yang aku tahu. Dia baru.
“Siapa tuh?” bisikku ke Adit, teman sebangkuku.
Adit mengangkat bahu. “Nggak tahu. Siswi baru kali.”
Cewek itu menunduk, jemarinya sibuk mencoret-coret buku. Nggak bicara, nggak senyum. Tapi ada sesuatu dari caranya duduk—tenang, seperti orang yang sudah lama di sini.
Guru masuk, suasana kelas hening. “Anak-anak, kita kedatangan murid baru. Tolong bantu dia menyesuaikan diri, ya.”
Aku menunggu guru menyebut namanya, tapi... enggak ada. Guru langsung mulai pelajaran tanpa menjelaskan apa-apa tentang dia. Anehnya, nggak ada yang nanya juga.
Setelah pelajaran usai, aku dekati cewek itu. “Hai. Aku Rafi. Kamu... namanya siapa?”
Dia mendongak perlahan. Matanya besar dan bening, seperti menyimpan banyak rahasia. “Naya,” katanya pelan. “Naya.”
“Oke, Naya. Welcome to hell,” candaku.
Dia tersenyum sedikit. Tapi bukan senyum biasa. Lebih ke... sedih.
---
Hari-hari berikutnya, Naya tetap pendiam. Dia selalu datang tepat waktu, duduk di kursi yang sama. Tapi anehnya, aku nggak pernah lihat dia ngobrol sama siapa pun. Bahkan saat istirahat, dia tetap di tempatnya. Baca buku, atau lihat keluar jendela.
Dan yang lebih aneh lagi: gak ada satu pun guru yang pernah nyuruh dia maju, atau nyebut namanya. Bahkan saat presensi, dia gak pernah dipanggil.
Aku tanya ke beberapa teman, “Eh, si Naya itu siapa ya sebenernya?”
Jawabannya selalu sama: “Siapa? Kelas kita gak ada Naya.”
“Apa? Yang duduk paling belakang, deket jendela!”
“Bro, itu bangku kosong. Gak ada orang dari awal semester.”
Aku mulai mikir mungkin mereka bercanda. Tapi makin hari, makin banyak hal aneh yang bikin aku mikir dua kali.
Aku pernah lihat Naya jalan keluar kelas... tapi gak ada suara langkah. Aku juga pernah lihat dia nulis sesuatu di buku—tapi pas aku coba lirik, halamannya kosong.
Akhirnya, aku nekat nanya langsung.
“Naya... kamu ini siapa sih?”
Dia menatapku lama, lalu menjawab, “Aku cuma lagi nyari seseorang yang bisa denger aku.”
Aku diam.
“Dan kayaknya kamu satu-satunya.”
---
Bagian 2: Nama yang Terhapus
Sejak hari itu, aku mulai banyak ngobrol dengan Naya. Tapi cuma saat di kelas, saat gak ada yang memperhatikan kami. Anehnya, setiap kali aku coba ngajak dia ngobrol di luar kelas—di kantin, koridor, atau lapangan—dia selalu menolak.
“Aku gak bisa ke sana,” katanya. “Jarakku cuma sampai sini.”
Aku belum ngerti maksudnya. Tapi aku pura-pura ngerti. Entah kenapa, aku gak pengin dia merasa makin sendirian.
Suatu hari, aku nekat nyari info soal dia di ruang TU. Dengan alasan sok bantu guru, aku minta lihat data siswa.
“Nggak ada siswa baru yang masuk tahun ini, Raf,” kata Bu Tati, petugas TU. “Apalagi di kelas kamu.”
“Serius, Bu? Tapi...”
“Serius. Cek aja sendiri.”
Aku lihat daftar nama kelas 11 IPA 2. Dari atas sampai bawah, nama Naya gak ada.
Tapi pas aku nyaris nutup mapnya, aku lihat satu hal aneh: ada satu baris yang dicoret dengan spidol hitam. Rapi banget, tapi masih bisa kelihatan sedikit huruf di baliknya.
“Naya...?” aku gumam pelan.
Bu Tati langsung menutup mapnya. Wajahnya berubah. “Itu... siswa lama. Tapi udah lama keluar.”
“Keluar gimana, Bu?”
Dia diam. Lama. Lalu berkata lirih, “Kamu masih muda, Raf. Jangan terlalu ikut campur urusan yang bukan urusanmu.”
---
Aku makin penasaran. Pulang sekolah, aku ke perpustakaan, cari buku tahunan angkatan sebelumnya. Di rak pojok yang berdebu, aku nemu buku tahunan tiga tahun lalu. Kubuka satu per satu... dan akhirnya ketemu foto yang bikin darahku berdesir.
Itu Naya.
Wajahnya sama persis. Rambutnya. Senyumnya. Di bawah fotonya tertulis:
Naya Pramudita – Kelas 11 IPA 2
Tiga tahun lalu. Di kelas yang sama. Di bangku yang sama.
Tapi di bawahnya ada tulisan tangan kecil, kayak coretan:
"In memoriam."
"Kami merindukanmu, Naya."
Tanganku gemetar. Jadi... dia sudah meninggal?
---
Besoknya di kelas, aku duduk dan menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku ngerasa takut. Tapi dia tetap tersenyum kecil.
“Kamu udah tahu, ya?”
Aku mengangguk pelan. “Kenapa aku bisa lihat kamu?”
“Karena kamu juga... nyaris pergi.”
Deg.
Dia bener.
Beberapa bulan lalu, aku sempat dirawat di rumah sakit. Kecelakaan motor. Kepalaku sempat terbentur keras. Kata dokter, aku nyaris koma. Dan katanya, aku ‘beruntung’ bisa sadar lagi.
“Mungkin... waktu itu kamu buka pintu yang gak semua orang bisa buka,” lanjutnya. “Makanya kamu bisa lihat aku.”
Aku cuma bisa diam. Otakku penuh.
Naya menunduk, lalu berkata lirih, “Aku gak bisa pergi. Aku masih di sini. Karena waktu itu... gak ada satu pun orang yang mau dengerin aku.”
---
Bagian 3: Surat yang Tak Pernah Sampai
Malam itu aku gak bisa tidur. Wajah Naya terus muncul di kepala. Bukan karena dia serem—justru karena dia terlalu nyata. Rasanya kayak mikirin seseorang yang ada di antara dunia dan yang seharusnya udah gak ada.
Besok paginya, aku datang lebih awal ke sekolah. Sengaja, buat nyari Naya sebelum kelas rame.
Dia udah duduk di bangkunya. Matanya sayu, kayak habis nangis.
“Naya,” aku duduk di sebelahnya, “ceritain semuanya. Aku mau tahu.”
Dia diam sebentar. Lama. Lalu menghela napas.
“Aku gak bunuh diri, Raf. Tapi semua orang pikir begitu.”
Aku menatapnya. “Terus?”
“Aku pernah tulis surat buat sahabatku. Namanya Kirana. Dia satu-satunya orang yang aku percaya waktu itu. Aku minta tolong sama dia... minta didengerin, minta ditemenin. Tapi dia gak pernah jawab.”
“Mungkin dia gak nerima suratnya?”
Naya mengangguk pelan. “Itu yang bikin aku gak bisa pergi. Aku... nunggu jawaban yang gak pernah datang.”
Aku ngerasa sesak. Bukan karena takut. Tapi karena bayangin ada seseorang yang merasa ditinggal saat paling butuh, dan terus terjebak karena satu pesan yang gak sampai.
---
Hari itu, aku nekat nyari Kirana. Dia udah lulus, tapi aku dapet kontaknya dari kakak kelasku.
Aku kirim pesan:
“Hai, aku Rafi. Mau tanya soal teman kamu dulu, Naya Pramudita.”
Beberapa jam kemudian, dia bales.
“Naya?”
“Iya. Kamu masih ingat dia, kan?”
“Tentu. Tapi kenapa kamu tanya?”
Aku ragu. Tapi akhirnya aku kirim semuanya. Tentang Naya yang ‘muncul’ di kelas, tentang surat yang gak pernah sampai, tentang rasa bersalah yang dia simpan.
Lama gak ada balasan.
Sampai akhirnya...
“Ya Tuhan... Aku nemu surat itu di laci tas SMA-ku tahun lalu. Belum pernah kubuka. Aku pikir itu catatan pelajaran.”
Aku gak bisa berkata apa-apa. Dunia rasanya berhenti sejenak.
“Kamu masih bisa bantu,” kataku. “Dia belum pergi.”
---
Bagian 4
Besoknya, aku ajak Kirana ke kelas. Dia gemetar pas masuk. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. Dia berdiri di depan bangku kosong itu. Tempat di mana Naya biasa duduk.
“Aku di sini, Nay,” katanya pelan. “Maaf... Maaf banget. Aku baca suratnya. Terlambat, ya?”
Saat itu, aku lihat sesuatu.
Naya muncul. Tapi bukan kayak biasanya. Kali ini, dia berdiri. Bukan duduk membungkuk dengan tatapan kosong. Tapi berdiri, dengan senyum penuh cahaya di wajahnya.
“Aku gak marah, Ran,” katanya lembut. “Aku cuma pengen denger itu.”
Dan perlahan... dia memudar. Tapi bukan karena menghilang. Lebih seperti... bebas.
---
Aku dan Kirana duduk lama di bangku belakang itu. Sepi. Tapi hangat.
Dan untuk pertama kalinya... kursi itu benar-benar kosong.
---
Setelah Naya pergi, suasana kelas berubah. Bangku belakang itu benar-benar kosong sekarang. Gak ada bayangan. Gak ada suara pelan yang manggil namaku.
Tapi... perasaanku masih gak tenang.
Beberapa hari kemudian, aku mulai mimpi aneh. Dalam mimpi itu, aku berada di koridor sekolah, tapi semua kelas gelap. Hening. Dan di ujung lorong, ada suara memanggil.
Bukan suara Naya.
“Rafi...”
Suara itu serak, lebih berat. Seperti suara seseorang yang sudah terlalu lama diam.
Aku bangun dengan keringat dingin.
---
Aku pikir mimpi itu cuma efek trauma, tapi ternyata enggak. Karena keesokan harinya, aku nemu sesuatu yang aneh di bawah meja tempat Naya biasa duduk.
Sebuah kertas kecil, dilipat rapi, seperti surat.
Tapi bukan dari Naya.
Tulisannya:
> "Kalau kamu bisa dengar Naya, kamu pasti bisa dengar aku juga.
Tapi aku tidak minta didengarkan—aku minta diselamatkan.
—D."
Aku merinding. Surat ini baru. Tinta masih segar. Tapi siapa “D”?
Aku langsung ke ruang arsip sekolah. Gak minta izin, langsung masuk dan cari buku tahunan lagi. Tahun demi tahun aku buka sampai akhirnya nemu satu nama yang terasa familiar.
Dimas Ramadhan
Kelas 10, angkatan empat tahun lalu.
Foto Dimas beda dari yang lain. Semua siswa senyum—dia enggak. Tatapannya kosong, dan di bawah fotonya ada coretan pensil halus:
"Dipindahkan karena masalah mental."
"Menghilang sebelum semester berakhir."
Menghilang?
Aku cari info ke guru-guru. Tapi semua langsung menghindar saat kutanya tentang Dimas.
“Aduh, itu anak... lebih baik jangan dibahas, Rafi.”
“Kenapa, Bu?”
“Ssst... sudah. Jangan gali terlalu dalam.”
---
Malamnya aku mimpi lagi. Kali ini aku di kelas. Sendirian. Semua bangku kosong. Tapi di kursi Naya... duduk seseorang.
Rambutnya acak-acakan. Matanya gelap. Dia menatapku... dan tersenyum.
Tapi bukan senyum hangat kayak Naya. Ini... dingin. Kosong. Penuh luka.
“Aku juga di sini, Rafi,” bisiknya. “Tapi aku gak pengen damai. Aku pengen... keadilan.”
Aku terbangun dengan jantung berdebar.
Dimas... belum selesai.
---
Bagian 5: Luka yang Disembunyikan
Sejak malam mimpi itu, aku tahu... ini gak bisa diabaikan.
Dimas bukan cuma “terjebak”—dia marah. Ada sesuatu dari masa lalunya yang belum terungkap. Sesuatu yang berat. Mungkin kotor. Dan aku tahu, kalau aku gak bantu dia, mungkin dia gak akan pernah diam.
Besoknya, aku ke perpustakaan. Tapi bukan cari buku tahun ini. Aku cari koran lama. Dan setelah satu jam lebih bolak-balik lembaran usang, aku nemu sebuah artikel kecil yang hampir gak kelihatan:
“Siswa SMP Diduga Alami Gangguan Mental Setelah Perundungan Berat”
...Dimas R., siswa kelas 10, ditemukan sendirian di ruang UKS dalam keadaan trauma. Pihak sekolah menolak memberikan keterangan. Kabar beredar bahwa Dimas menjadi korban perundungan oleh beberapa kakak kelasnya...
Aku berhenti membaca. Tanganku gemetar.
Jadi... dia korban.
Dan sekolah menutupi semuanya?
---
Aku pulang dalam keadaan setengah linglung. Tapi malam itu, Dimas datang lagi. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata.
Kali ini dia duduk di meja guru, menatapku dari depan kelas.
“Kamu udah tahu,” katanya. “Tapi kamu belum ngerti.”
“Ngerti apa?”
Dia bangkit berdiri, berjalan ke arahku. Matanya seperti lubang hitam—dalam, dan penuh kemarahan.
“Mereka tertawa saat aku menangis. Mereka rekam semuanya. Tapi tahu apa yang paling menyakitkan?”
Aku menggeleng pelan.
“Semua orang... diem. Gak ada yang ngebelain aku. Termasuk guru.”
Dia mendekat, sangat dekat. Nafasnya dingin di wajahku.
“Aku gak butuh dikasihani. Aku mau mereka tahu rasanya.”
Aku terbangun.
---
Keesokan harinya aku tanya ke Pak Joko, guru BK senior yang udah lama di sekolah.
“Pak, boleh tanya soal siswa lama? Namanya Dimas.”
Pak Joko langsung terdiam. Wajahnya tegang.
“Rafi... kenapa kamu tanya nama itu?”
“Karena aku yakin, ada yang gak beres waktu itu.”
Dia mendesah berat. Lalu berkata, “Dimas anak baik. Pintar. Tapi pendiam. Dia jadi korban... karena dia beda.”
“Beda gimana, Pak?”
Pak Joko menatapku. “Karena dia gak pernah pura-pura jadi orang lain.”
---
Hari itu aku gak bisa fokus. Kata-kata Dimas terus terngiang: “Aku gak butuh dikasihani. Aku mau mereka tahu rasanya.”
Apa maksudnya?
Mau balas dendam?
Mau menyeret orang-orang itu... entah ke mana?
Atau dia cuma pengen suaranya didengar, kayak Naya?
Atau... ini udah beda?
---
Bagian 6: Tiga Nama dalam Bayangan
Setelah ngobrol sama Pak Joko, aku mulai nyusun potongan-potongan informasi. Aku tahu perundungan itu gak terjadi sendirian. Selalu ada pelaku. Selalu ada saksi.
Dan pasti... selalu ada yang diam.
Aku balik lagi ke ruang arsip, kali ini lebih nekat. Kubongkar dokumen siswa dari empat tahun lalu—daftar kelas, absensi, bahkan catatan kedisiplinan.
Dan di sana, aku nemu catatan yang dicoret:
Nama: Dimas Ramadhan
Kelas: 10 B
Catatan:... (terhapus)
Tapi di bawahnya ada nama lain, diketik tipis, seolah hampir lupa dimasukkan:
Reza Prasetya
Angga Mahendra
Satria Danu
Aku gak kenal mereka. Tapi setelah cari lewat alumni dan sosial media, aku dapet info mengejutkan.
Reza Prasetya – Kecelakaan motor dua tahun lalu. Meninggal.
Angga Mahendra – Drop out. Menghilang. Terakhir terlihat di daerah luar kota.
Satria Danu – Masih di sini.
Masih di SMA ini.
Dan lebih gila lagi...
Dia jadi OSIS.
---
Aku mulai perhatikan gerak-gerik Satria. Anak itu sopan, ramah, punya senyum yang gampang dipercaya. Tapi kalau benar dia terlibat dalam kejadian itu... berarti dia dua wajah.
Suatu hari, aku memberanikan diri mendekat.
“Satria,” kataku. “Kamu kenal nama Dimas Ramadhan?”
Wajahnya langsung berubah. Bukan takut. Tapi... kaget. Seolah mendengar nama hantu.
“Kenapa kamu nanya-nanya soal itu?”
“Karena dia belum selesai.”
Satria menatapku dalam. “Dengerin ya, bro. Itu udah lama. Jangan bangunin yang udah mati.”
“Masalahnya,” aku mendekat, “dia belum mati di sini.”
---
Malamnya, Dimas datang lagi. Tapi kali ini dia gak sendiri.
Bayang-bayang dua sosok lain muncul di belakangnya. Reza dan Angga. Tapi wajah mereka samar, seperti belum utuh.
“Yang satu masih bisa kau temui,” kata Dimas. “Tapi dia gak bakal ngaku.”
“Apa yang kamu mau aku lakuin?” tanyaku.
Dimas menunduk. “Aku gak butuh dia minta maaf. Aku cuma pengen dia jujur. Biar semuanya tahu.”
“Dan kalau dia gak mau?”
Tatapan Dimas gelap.
“Aku akan tunjukkan padanya... rasa takut yang dulu mereka tanam.”
---
Bagian 7: Pengakuan di Bawah Hujan
Hujan turun deras sore itu. Langit mendung, seolah ikut tahu ada sesuatu yang bakal pecah hari ini.
Aku tunggu Satria di depan gudang olahraga. Tempat sepi yang jarang dipakai. Di tanganku ada satu kertas fotokopian artikel lama soal kasus Dimas, dan satu foto buku tahunan—wajah Dimas, Reza, Angga... dan di latar belakang, Satria, sedang tertawa.
Satria datang dengan jas hujan setengah terbuka.
“Apa lagi, Raf? Kamu ngejar-ngejar aku terus.”
Aku langsung buka kertas itu dan sodorin ke dia. Basah, tapi masih bisa terbaca.
“Aku cuma mau satu hal: kamu jujur.”
Dia menatap fotonya sendiri. Lama. Diam. Hujan makin deras.
“Aku cuma ikut-ikutan waktu itu,” katanya pelan. “Reza yang mulai. Angga yang rekam. Aku cuma... diam.”
“Berarti kamu bagian dari mereka.”
Satria mendongak. Wajahnya... bukan marah. Tapi takut.
“Kamu tahu gak, aku tiap malam masih mimpiin Dimas. Dia duduk di pojok kamarku. Gak ngomong. Gak ngapa-ngapain. Cuma... lihat aku.”
“Apa kamu pernah minta maaf?”
Dia menggeleng.
“Kenapa?”
Karena... aku takut dibilang penakut. Takut dianggap pengkhianat. Dan lama-lama... aku pura-pura gak lihat dia. Sama kayak semua orang.”
---
Air hujan menyamarkan air matanya. Tapi aku bisa lihat. Satria... hancur. Bukan cuma karena dosa masa lalu. Tapi karena dia gak pernah punya keberanian buat memperbaikinya.
Aku tarik napas dalam.
“Dimas gak mau kamu minta maaf. Dia cuma mau kamu akui semuanya. Di depan sekolah. Biar gak ada yang nutupin kebenaran lagi.”
Satria menunduk. “Itu bakal ngancurin hidupku.”
“Dan hidup Dimas... udah hancur sejak lama.”
---
Malamnya, Dimas muncul lagi di mimpi.
“Dia udah bilang sebagian,” kataku. “Tapi belum semuanya.”
“Dia harus bicara. Bukan ke kamu. Tapi ke semua orang.”
Aku menatapnya. “Apa yang akan terjadi kalau dia gak mau?”
Dimas tersenyum dingin. “Maka... aku yang akan bicara.”
---
Bagian 8: Suara dari Mikrofon Mati
Pagi itu langit masih kelabu. Awan tebal menggantung rendah di atas lapangan upacara. Semua siswa dikumpulkan. Katanya, OSIS akan menyampaikan “klarifikasi atas isu yang beredar”.
Tapi aku tahu ini bukan sekadar klarifikasi.
Satria akan bicara.
Dia berdiri di panggung, wajahnya tegang, tangan gemetar memegang mikrofon. Semua guru duduk di belakang. Kepala sekolah tampak tak nyaman, seolah tahu sesuatu akan terjadi tapi gak bisa menghentikannya.
Aku berdiri paling depan. Di antara kerumunan, aku melihat kursi kosong—kursi yang anehnya selalu ada di tiap acara sekolah, tapi tak pernah dipakai. Hari ini, rasanya... bukan kosong.
Satria menarik napas.
“Ada sesuatu yang harus saya sampaikan,” katanya. Suaranya terdengar lemah lewat speaker.
“Empat tahun lalu, ada seorang siswa di sekolah ini. Namanya Dimas Ramadhan. Dia bukan siapa-siapa. Pendiam. Aneh, kata orang-orang.”
Lapangan hening. Bahkan suara angin pun seakan hilang.
“Saya... salah satu dari mereka yang menyakitinya. Bukan dengan tangan. Tapi dengan diam. Dan itu cukup untuk menghancurkan seseorang.”
Tiba-tiba... mikrofon mati.
Suara Satria hilang. Panitia bingung. Teknisi buru-buru ke belakang panggung.
Tapi di tengah keheningan itu...
...ada suara lain yang muncul dari speaker.
Lemah. Serak. Tapi jelas.
> “Mereka tertawa saat aku menangis. Mereka merekam aku, tapi gak satu pun datang menolong. Dan saat semuanya hancur... mereka bilang aku gila.”
Semua siswa mulai gelisah. Beberapa guru berdiri.
Satria pucat. Matanya mencari aku.
Aku mengangguk. “Biarkan.”
> “Aku gak mau balas dendam. Aku cuma gak mau dilupakan. Karena diam... bisa membunuh. Dan kalian semua... diam.”
Lalu klik. Mikrofon kembali menyala. Tapi suara itu sudah hilang.
Satria jatuh berlutut di atas panggung. Menangis.
---
Hari itu jadi berita sekolah. Tapi gak ada media luar yang tahu. Para guru bilang itu gangguan teknis. Tapi semua orang di lapangan tahu—itu bukan suara dari dunia ini.
Dan setelah itu... bangku kosong di kelas belakang tempat Dimas pernah duduk?
Gak pernah kosong lagi.
Tapi bukan karena ada yang duduk di situ.
Karena akhirnya... semua orang lihat.
---
Bagian 9: Ruang Kosong di Hari Terakhir Sekolah
Hari terakhir sekolah selalu punya rasa aneh. Antara lega, hampa, dan sedikit nostalgia yang belum sempat dibentuk.
Aku datang pagi-pagi, seperti biasa. Tapi kali ini, gak ada yang kutunggu. Gak ada suara yang memanggil namaku dari bangku belakang. Gak ada mimpi aneh semalam. Gak ada bayangan yang menempel di dinding kelas.
Bangku itu... benar-benar kosong.
Tapi anehnya, rasanya gak sepi.
Satria udah pindah sekolah. Keputusan dia sendiri. Setelah pengakuannya, dia bilang dia butuh waktu untuk “menebus”, meskipun gak tahu gimana caranya. Dan setelah hari itu, gak ada gangguan aneh lagi.
Cuma satu hal yang masih ganjil.
Hari itu, aku bersihin laci mejaku. Dan di sana, aku nemu selembar kertas yang gak pernah kulihat sebelumnya. Tulisannya rapi. Tinta biru.
> “Terima kasih udah dengerin.
Terima kasih udah berani.
Kadang, orang yang bisa dengar kami... bukan yang paling kuat. Tapi yang paling peduli.
—N & D.”
Aku duduk lama. Mataku panas. Tapi aku senyum.
Tiba-tiba, cahaya pagi masuk dari jendela kelas. Mengenai bangku belakang yang kosong itu.
Dan untuk sesaat... aku melihat siluet dua sosok di sana. Duduk berdampingan. Tersenyum.
Lalu menghilang. Perlahan. Tenang.
---
Aku jalan keluar kelas.
Dan saat aku menoleh untuk terakhir kalinya, aku sadar...
Cerita mereka belum tentu berakhir.
Tapi aku tahu, tugas aku di sini udah selesai.
Dan kalau suatu hari... ada bangku kosong lagi yang terasa “berisi”, aku tahu harus apa.
---
TAMAT