Hidangan sudah berjejer di meja makan, namun gadis kecil kita belum bangun. Sang ibu berteriak dari meja makan untuk membangunkan gadis kecil kita, “Raden Rara Shannon Kusumaningrum ayo bangun dan siap siap sekolah!” Seru sang ibu.
Tak lama, gadis kecil bermata biru, bulu mata yang lentik, rambut coklat keemasan dan kulit sowo matang terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia segera berganti pakaian dan menata rambutnya. Ia berkaca di kaca kamarnya, namun ia tak dapat melihat bayangan dirinya di kaca. “Aduh lupa, aku kan tembus pandang” ucapnya. Untuk mengetahui apa yang menyebabkannya tak terlihat kita harus kembali ke beberapa tahun lalu.
Di hari ulang tahun Shannon ke 13 tahun, orang tuanya mengadakan acara pesta yang dihadiri oleh teman teman sekolahnya, anggota keluarga besar, dan beberapa tetangga mereka. Acara itu cukup ramai, tapi sayangnya banyak orang yang melupakan Shannon hingga ia merasa kesepian, dan kosong karena ia tak dianggap oleh siapapun. Sepanjang acara, ia hanya duduk di pojok ruangan sambil mencicipi sedikit demi sedikit hidangan.
Karena merasa bosan di dalam acara, ia keluar dan pergi ke taman untuk mencari udara segar. Di taman itu, Shannon meluapkan semua rasa kesalnya dan kekecewaannya. Ternyata semua keluh kesah Shannon terdengar oleh penyihir licik bernama Malakar. Bayangan hitam berkulit ungu tiba tiba datang dari balik semak semak dan menjawab seluruh keluh kesah Shannon. “Jika kamu merasa tak dilihat oleh orang orang sekitarmu, aku dapat membantu” ucap Malakar dengan suara menggema yang menakutkan. “Siapa kau? Kenapa ada di sini? Aku tak butuh bantuanmu” jawab Shannon yang ingin pergi meninggalkan Malakar di taman itu.
“Wahai gadis kecil, siapa namamu? Shannon? Ya, kamu bisa melihat siapa yang peduli denganmu, dan peduli dengan kehadiran mu jika kamu mau menerima bantuan ku” jelas Malakar meyakinkan Shannon dengan tatapan dan senyuman yang menakutkan. “Apa yang kau mau? Kau mau membantuku?” Tanya Shannon yang mulai penasaran. “Aku dapat menarik semua energi negatif mu serta pikiran pikiran tentang masalah kau yang tak terlihat, tapi kau akan sungguhan tak terlihat. Namun karena kau keturunan bangsawan, ada hal yang berbeda. Kau hanya dapat dilihat oleh orang orang yang memiliki keturunan bangsawan, tapi mereka tak dapat memegang mu dan kau tetap tidak bisa melihat atau bahkan memegang dirimu” jelas Malakar bahagia. “Apa itu dapat pergi?” Tanya Shannon pada Malakar. “Tergantung bagaimana caramu mu menghilangkan pikiran itu, jika pikiran negatif itu hilang maka kau akan kembali” jawab Malakar.
Tanpa menunggu jawaban pasti dari Shannon, Malakar menjulurkan tangan nya ke arah Shannon dan membentuk bola asap hitam yang mengelilingi Shannon. Bola asap itu lah yang akan membuat pikiran negatif nya tertarik dan membuat Malakar semakin kuat. Karena takut, Shannon menghindar dan kembali masuk ke acara.
Namun kutukan itu sudah berlaku pada Shannon, tak banyak orang yang dapat melihat nya. Setelah acara itu, Shannon mengajak orang tuanya untuk berbincang tentang kutukan dari Malakar dan mencari solusinya. Orang tua Shannon sangat kaget mendengar bahwa Malakar menghampiri Shannon.
“Malakar adalah penyihir licik yang terkenal di hutan Merryos dia sering memberi kutukan pada anak anak remaja yang tak percaya diri atau merasa dirinya terlupakan, semakin banyak anak remaja yang diberi kutukan, maka semakin besar pula kekuatan nya.” Jelas sang ayah pada Shannon. “Lalu aku harus gimana ayah?” Tanya Shannon yang sudah hilang arah. Ibu dan ayahnya menguatkan Shannon dengan berkata “kita akan usahakan yang terbaik untuk kamu ya, kita bisa lewati ini bersama.”
Shannon melewati hari harinya dengan kesepian, hingga dia harus mengikuti sekolah di rumah selama beberapa tahun terakhir. Namun saat sarapan ini, orang tua Shannon menyimpulkan sesuatu.
“Kamu terlambat lagi, shannon. Kamu tidak bisa belajar mandiri jika terus home schooling” ucap sang ayah dengan alis yang menekuk kesal. “Iya ayah, ini terakhir kalinya, aku tidak akan mengulanginya lagi” ucap Shannon berjanji. “Ibu dan ayah sudah memutuskan untuk kembali menyekolahkanmu seperti biasa” ujar Ibu pada Shannon. Mendengar ucapan ibu, membuat Shannon kaget dan tentu menentang ucapan sang ibu. Shannon memberikan alasan, “Tapi ibu?! Aku gak bisa berada di lingkungan yang tidak melihat ku.”
“Sekolah ini khusus, berisikan anak anak bangsawan, tentu mereka dapat melihat mu. Tapi jangan sampai mereka memegang mu, karena semua akan sia sia” jelas sang Ibu. “Tetap tidak mau ibu, ini bahaya, banyak resiko untukku” jawab Shannon yang masih menolak. “Shannon, jangan membantah ibu mu seperti itu! Apa itu yang ayah ajarkan selama ini?!” Gertak sang ayah yang mendengar Shannon menentang ibunya. “Maaf Ayah” jawab Shannon sambil menundukkan kepalanya.
Keesokan harinya, bus sekolah datang ke rumah Shannon untuk menjemput nya. “Bus ini akan mengantarmu ke sekolah baru mu. Tenang saja, Shannon. Kamu akan aman” ucap sang Ayah sambil memeluk erat putri tunggalnya. “Perhatikan jika guru mengajar, pulang lah dengan nilai yang baik” pesan sang ibu sambil mencium kening Shannon dengan lembut. Shannon masuk ke dalam bus, dan melambaikan tangan pada kedua orang tuanya. Ayah berpesan, “Jangan lupa bersenang senang, ayah dan ibu akan sering berkunjung.”
Perjalanan cukup padat, namun akhirnya Shannon sampai di sekolah barunya. Di sambut dengan lapangan hijau yang luas, bunga bunga yang indah, gedung sekolah yang megah dan gedung asrama membuat Shannon menjadi gembira. “Sepertinya ini gak akan seburuk itu, ini sangat indah” gumam Shannon setelah melihat sekeliling nya.
Ia melangkahkan kaki ke dalam gedung sekolah, dan ia disambut hangat oleh kepala sekolah, yaitu Miss Marta. Dan wakil kepala sekolahnya, yaitu Mr. Jonson. “Selamat datang di Harmony Hills High School, Shannon. Saya Miss Marta sebagai kepala sekolah, dan ini wakil saya, Mr. Jonson” sambut Miss Marta dengan ramah. “Terimakasih sudah menyambut saya Miss” jawab Shannon dengan senyum manisnya.
Gadis tinggi dengan rambut coklat dan mata coklat tiba tiba datang dari balik Miss Marta, dan menyapa Shannon dengan ramah. “Ini adalah senior mu, dia akan mengajakmu berkeliling dan menjelaskan beberapa hal disini. Bersenang senang lah” jelas Miss Marta. Ia dan Mr. Jonson pun pergi meninggalkan Shannon dan gadis senior itu.
“Hallo, aku Hanna, siapa namamu?” Sapa gadis senior. “Aku Raden Rara Shannon Kusumaningrum, senang berkenalan dengan mu” jawab Shannon ramah. “Waw, kamu keturunan bangsawan Jawa?” Tanya Hanna penuh semangat. “Iya, kalau kamu keturunan bangsawan apa?” Tanya Shannon kembali bertanya. “Keturunan bangsawan Bugis Makassar” jawab Hanna.
Ia ingin menggenggam tangan Shannon untuk mengajaknya berkeliling, namun Shannon menghindari genggaman Hanna. “Kenapa?” Tanya Hanna bingung dengan gerak gerik Shannon. “Maaf, aku gak biasa di pegang orang” jawab Shannon mencari alasan. “Oh, maaf aku gak tau. Yaudah, kita keliling yuk” ajak Hanna.
Mereka pun mulai berkeliling sekolah, Hanna menjelaskan banyak hal yang menarik pada Shannon. “Kamu benar benar senior yang ramah dan baik, Hanna” puji Shannon. “Ini bukan apa apa, aku senang sekali bisa menjadi senior dan pemandu mu” jawab Hanna tersipu. Ia memberikan susu stroberi untuk Shannon. “Tadi aku beli ini di kantin, tapi aku gak tau kamu suka atau engga” ucap Hanna. Shannon menerima susu stroberi dari Hanna dengan gembira, “Aku suka kok, makasih banyak Hanna, kamu tau aja aku haus.”
Mereka sedikit berbincang di taman yang hijau dan luas, “oh iya, tadi Miss Marta nitip jadwal kamu untuk satu tahun ini” ucap Hanna sambil memberikan selembar kertas berisikan jadwal kelas yang akan diikuti Shannon. “Dan ini adalah jas sekolah kita, karena kamu sudah resmi menjadi murid disini, kamu harus selalu memakai ini, paham?” jelas Hanna sambil memakaikan jas hitam dengan bet bordir sekolah Harmony Hills. “Ya, aku paham” jawab Shannon menganggukan kepala. “Habis ini aku ada kelas, kamu bisa lanjut berkeliling atau masuk ke kelasmu” Hanna pun pergi meninggalkan Shannon di taman sendiri.
Shannon membuka kertas jadwalnya, “oh, habis ini ada pelajaran kimia, berarti aku harus ke lab kan?” ia berjalan dan mencari dimana letak ruang Lab. Tak sengaja ia bertabrakan dengan pria yang gagah dan tampan. Tabrakan dengan pria tampan itu membuat Shannon panik, ia takut pria tampan itu merasa aneh karena tak dapat merasakan sakit dari tubuh Shannon. “Maaf kan aku tak berhati hati” ucap nya pada Shannon. “Untung dia gak ngerasa aneh” gumam Shannon dalam hatinya.
Seketika, pandangan pria tampan itu teralihkan melihat mata Shannon yang berbinar, rambut mengkilat, dan bibir merah Cherry nya. “Kamu sangat cantik, siapa namamu? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya” ucap pria tampan itu. “Aku memang murid baru, nama ku Shannon, siapa namamu?” Jawab Shannon. “Oh, salam kenal Shannon, aku Taron Adipta” jawab pria tampan, bernama Taron.
“Aku ingin bertanya, kamu tau dimana ruang lab kimia?” Tanya Shannon pada Taron. “Aku tau, aku akan mengantarmu.” Dengan senang hati, Taron mengantar Shannon ke ruang lab Kimia.
Bel pulang pun berbunyi, Hanna mengajak Shannon bertemu dengan Miss Ellen. “Kamu harus meminta kunci kamar asrama mu pada Miss Ellen, karena dia lah pemimpin asrama putri” jelas Hanna. Setelah mendapatkan kunci kamar nya, Hanna dan Shannon berjalan bersama menuju gedung asrama. Selama perjalanan, Shannon menceritakan kesan pertamanya berbincang dengan Taron pada Hanna. “Dia terlihat sangat gagah dan tampan, rambut coklatnya terurai lebat sangat menggoda. Apakah kamu tau dia?” Tanya Shannon pada Hanna. “Ya, dia adalah teman seangkatan ku. Dia sangat populer disini, tapi jika kamu berpikir dia adalah pria yang mudah di sukai, kamu salah” jawab Hanna. “Mengapa? Dia terlihat baik dan ramah” Tanya Shannon penasaran.
“Ya, dia memang baik dan ramah, tapi tak mudah untuk menyukai dia. Sebagai orang yang populer pasti banyak wanita yang menyukainya, dan kamu akan sulit dekat dengan Taron karena ada banyak wanita juga yang mengharapkan perhatian dari Taron. Hati Taron juga sulit untuk dimenangkan” jelas Hanna secara menyeluruh. “Jadi? Apa lebih baik aku tak mengharapkan Taron?” Tanya Shannon meminta pendapat. “Terserah mu saja” jawab Hanna.
Sesampainya di kamar nya, Shannon segera menata barang barang nya dan membersihkan diri. Ia mengintip dari jendela kamarnya, melihat Taron yang sedang bermain basket di lapangan. “Pria seperti mu memang pantas disukai” gumamnya sambil memandangi kesempurnaan Taron.
Tak lama, Hanna mengetuk pintu kamar Shannon untuk mengajaknya makan malam bersama. Hanna mengambilkan beberapa lauk andalan di asrama. “Anggap aja ini rumah sendiri, kamu bisa ambil lauk apapun” ucap Hanna sambil terus memberikan banyak lauk yang lezat untuk Shannon.
Dari kejauhan, Shannon melihat tiga orang gadis yang sedang memarahi gadis berkacamata. “Hanna, siapa mereka? Kasian sekali gadis berkacamata itu” ucap Shannon pada Hanna. “Mereka adalah Lucy keturunan bangsawan Sunda dan teman teman nya. sedangkan gadis berkacamata itu adalah Iris keturunan bangsawan Aceh” jelas Hanna memperkenalkan mereka. “Mereka bertiga kok jahat banget sih? Itu kan perundungan, harusnya gak boleh kan?!” Tanya Shannon yang kebingungan. “Gak ada yang berani sama tiga orang itu, karena orang tua Lucy adalah donatur yang berdampak besar di sekolah ini. Kalau kamu bilang mereka jahat itu mungkin benar, tapi ini semua demi mendapatkan suara pemilihan” jelas Hanna.
Mendengar penjelasan Hanna, Shannon semakin bingung. “Suara pemilihan apa?” Tanya Shannon pada Hanna. “Jadi, setiap tahun Harmony Hills High School mengadakan pemilihan bintang putri dan bintang putra. Mereka akan menjadi pasangan untuk sekolah ini dalam mewakilkan sekolah dalam banyak hal, serta jika kepilih nama keluarga kita akan dijunjung tinggi, dan yang gak kalah penting kita akan jadi model sampul sekolah dan menjadi panutan disini” jelas Hanna secara menyeluruh. “Selama 1 tahun terakhir, Lucy lah bintang putri sedangkan Taron bintang putranya. Besok sudah waktunya untuk pemilihan ulang Bintang putri dan bintang putra di Harmony Hills” jelas Hanna.
Sepertinya Shannon tertarik untuk menjadi bintang Putri. Ia sudah membayangkan jika dirinya menjadi bintang putri dan berjalan diatas karpet merah bersama Taron, pasangannya.
Keesokan paginya, Shannon mendaftar kan dirinya untuk menjadi bintang putri di formulir mading. “Kamu daftar?” Tanya Taron melihat Shannon yang sedang mengisi formulir pendaftaran. “Ya, mencoba gak ada salahnya kan? Kamu gak daftar?” Jawab Shannon sekaligus bertanya. “Tanpa mendaftar aku pasti terpilih menjadi bintang putra. Selama aku berada di Harmony Hills, aku lah penetap bintang putra” ucap Taron menyombongkan diri sambil sedikit tertawa.
Setelah mengisi pendaftaran, Shannon dan Taron duduk di pinggir lapangan sambil berbincang mengenai Bintang putri dan bintang putra ini. “Bagaimana rasanya menjadi bintang putra selama 2 tahun?” Tanya Shannon penasaran. “Menyenangkan, namun tidak terlalu karena pasangan ku tahun lalu adalah Lucy” jawab Taron sambil menghela nafas. “Terlihat sangat berat ya Jika memiliki pasangan seperti Lucy?” Tanya Shannon. “Memang berat, dia selalu merengek untuk meminta sesuatu, dia selalu mendekati ku walau aku risih, dia hanya bisa memerintah orang” jelas Taron, mereka terlihat sangat asik berbincang di pinggir lapangan sampai Lucy melihat itu dari kejauhan. “Gadis baru itu macam macam dengan aku!” ucap Lucy kesal.
Malam harinya di asrama, kamar Shannon di hampiri oleh Lucy dan teman teman nya. Lucy menyiram air dingin pada Shannon, “berhenti dekati Taron, aku tak akan diam saja jika kamu masih melawan!” Ucap Lucy dengan tegas pada Shannon. Dari kejauhan, Iris melihat Lucy dengan teman teman nya yang sedang berbicara sendiri. Merasa ada yang aneh, Iris mengetuk pintu kamar Hanna dan menceritakan tentang apa yang ia lihat.
Seolah tak percaya dengan ucapan Iris, “kamu yakin? Kamu lihat di kamar nomor berapa?” Tanya Hanna kaget. “Aku yakin, ada di kamar nomor 25, padahal kan kamar itu kosong” jawab Iris. “Kosong? Itukan kamar Shannon” gumam Hanna dalam hatinya. Ia pun menyusul Iris untuk kembali ke kamarnya, agar masalah ini ia yang tangani.
Ia mengetuk pintu kamar Shannon, ia melihat Shannon yah sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mereka berbincang di dalam kamar Shannon.
“Tadi Lucy dan teman teman nya datang ya?” Tanya Hanna memastikan. Shannon hanya mengangguk, “dia bilang apa aja sama kamu?” Tanya Hanna penasaran. “Dia tadi nyiram aku pake air dingin dan bilang buat jauhin Taron” jawab Shannon. “Tuh kan, aku kan sudah bilang untuk jauhi Taron jika tak ingin mendapatkan masalah. Memang apa yang kau lakukan dengan Taron hingga Lucy marah pada mu?” Tanya Hanna. “Saat istirahat aku memang sempat berbincang dengan Taron di dekat lapangan. Tapi hanya berbincang biasa tentang Bintang putri dan bintang putra” jelas Shannon. “Ingat ya, jika Lucy sudah memperingati mu untuk menjauhi Taron, artinya kamu harus patuhi itu, paham?” Tanya Hanna penuh perhatian. “Iya, paham Hanna” jawab Shannon.
Lalu Hanna melanjutkan perbincangan dengan bertanya. “Iris yang memberitahuku soal ini, tapi anehnya dia tidak melihatmu, dia hanya melihat Lucy yang sedang marah marah entah pada siapa. Sebenarnya apa yang terjadi?” Shannon terkejut dengan ucapan Hanna, “Iris tak dapat melihat ku? Kenapa? Apa dia bukan keturunan bangsawan?” Pikir Shannon dalam hatinya. Ia berpikir mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan pada Hanna. “Lucy terus mengomeli ku, mungkin Iris tak melihat aku karena setengah tubuhku berada di dalam kamar, hingga dari luar tubuhku tak dapat terlihat. Mungkin iris melihatnya kurang teliti” jelas Shannon. “Oh baiklah kalau begitu, aku lega, aku pikir kamu memang tak terlihat” ucap Hanna sambil tertawa kecil.
Shannon melontarkan pertanyaan pada Hanna, “Hanna, ini kan sekolah yang diisi oleh anak anak keturunan bangsawan, tapi jika ada anak yang bukan keturunan bangsawan bagaimana?” Tanya Shannon penasaran. “Ya tentu anak itu akan dikeluarkan dari Harmony Hills, ada apa kau bertanya seperti itu? Apa disini ada anak yang buka keturunan bangsawan?” Jawab Hanna mengandung pertanyaan yang membuat Shannon bingung untuk menjawab. “Tidak apa apa” jawab Shannon.
Saat makan siang di kantin, Taron menghampiri meja Hanna dan Shannon dengan sebatang coklat yang sudah di genggam oleh Taron. “Hai, Aku membawa coklat untuk mu, Shannon” ucap Taron memberikan sebatang coklat pada Shannon. “Oh, terimakasih” di saat Shannon ingin mengambil coklat pemberian Taron, Hanna menahan tangan Shannon. “Oh sorry, aku sedang diet mengurangi makanan manis” jawab Shannon yang segera menolak.
Taron merasa malu, “oke, kalau gitu jangan lupa datang ke aula pukul 3 sore, karena akan ada pemilihan bintang putri dan bintang putra hari ini. Semoga kamu kepilih ya” Taron pun pergi. Hanna terasa bingung dengan apa yang ia dengan dari Taron. “Apa ini? Kamu daftar bintang putri?” Tanya Hanna dengan alis yang mengkerut. “Iya, aku lupa bilang ini ke kamu. Cuma ini cara satu satu nya untuk membanggakan keluarga bangsawan ku kan?” Jawab Shannon dengan sangat santai sambil menikmati makan siang nya.
Dengan wajah yang serius Hanna memandang Shannon, “kamu tau kan bahwa semuanya akan sia sia?” Tanya Hanna. “Sia sia kenapa? Menurutku tak ada yang sia sia di dunia ini” jawab Shannon. “Melawan Lucy itu tak mungkin, kamu akan hanya membuat dirimu malu” jelas Hanna menyadarkan Shannon. “Menurutku itu tak apa, aku hanya ingin mencoba” jawab Shannon dengan santai.
Dari balik pohon besar di sekitar mereka, Iris mengintip dan memantau Hanna yang sedang berbicara sendiri. Lalu ia berjalan perlahan menghampiri Hanna. “Hanna? Kamu sedang berbicara dengan siapa? Aku memperhatikanmu dari tadi, kamu terlihat seperti orang aneh” ujar Iris dengan wajah yang ketakutan. “Apa? Jelas jelas aku sedang berbicara dengan Shannon, murid baru di kelas 1. Apa yang kau ucapkan?” Jawab Hanna yang kebingungan. “Iris lagi lagi tak dapat melihat ku, sepertinya iris sungguh bukan keturunan bangsawan” pikir Shannon dalam hatinya. Hanna menoleh ke arah Shannon, “Shannon, katakan sesuatu pada Iris, dia tak dapat melihatmu” ucap Hanna. Namun Shannon tak menjawab apapun, ia malah memilih pergi meninggalkan Hanna dan Iris.
Disaat Shannon yang sedang kebingungan dengan Iris, tiba tiba Mr. Jonson menghampiri Shannon dan berkata, “ayah dan ibumu mencarimu, kamu boleh bertemu mereka di gerbang depan.” Shannon segera berlari menuju gerbang untuk menemui orang tuanya.
“Ayah, ibu.. aku sangat merindukan kalian” seru Shannon yang langsung memeluk ayah ibunya untuk melepas rindunya. “Sayang ku, bagaimana kehidupan disini? Kamu baik baik saja kan?” Tanya ayah nya penuh perhatian. “Aku baik baik saja, hidup disini jauh lebih baik dari yang kubayangkan” jawab Shannon penuh semangat. “Tidak ada yang jahat dengan mu kan? Bagaimana nilaimu?” Tanya sang ibu pada Shannon. “Santai saja ibu, semua nya baik pada ku, nilai ku juga sudah cukup berkembang karena banyak yang dapat membantuku dalam belajar” jelas Shannon.
Mereka duduk bersama di dekat pos jaga, dan Shannon mulai bercerita. “Aku sekarang memiliki teman baik sekaligus senior ku bernama Hanna, dia sangat perhatian dan baik pada ku. Namun, ayah ibu tau tidak? Ada satu anak yang cupu bernama Iris, dia tak dapat melihat keberadaan ku. Apa ini artinya Iris bukan keturunan bangsawan?” Tanya Shannon yang masih kebingungan. “Kenapa bisa ada anak yang bukan keturunan bangsawan disini? Tapi semoga saja, anak itu tidak curiga” pikir sang ayah khawatir. “Apa kita harus memindahkan Shannon ke sekolah lain? Ini bisa berbahaya untuk nya” tanya ibu pada sang ayah. “Tidak, Shannon harus belajar menyelesaikan masalah nya sendiri” jawab ayahnya.
Sang ayah mengelus kepala putrinya dengan lembut lalu berpesan, “ini masalah kecil bagimu, Ayah harap kamu dapat mencari solusi ini. Jangan takut, dan terus bela dirimu jika kamu benar tak salah.” Shannon mengangguk, dengan pesan pesan sang ayah, Shannon menjadi semangat untuk mencari tahu kebenaran tentang latar belakang Iris. Tak lama mereka pun kembali berpisah, dan Shannon kembali ke sekolahnya.
Jam sudah menunjukan pukul 3 sore, semua murid sudah mulai berkumpul di aula sekolah yang sangat luas. Terlihat Shannon yang berjalan sendiri, “sekarang aku merasa kesepian” gumamnya sambil melihat teman teman sekeliling nya yang selalu bersama sahabat mereka.
Miss. Marta dan Mr. Jonson menyambut hangat anak anak murid di aula, lalu Miss Marta menyebutkan seluruh kandidat bintang putri. “Kandidat kita tahun ini, tentu Lucy yang sudah menempati posisi bintang putri tahun lalu, dan ada wajah baru, yaitu Shannon” Miss Marta mengundang Lucy dan Shannon untuk menaiki panggung aula. “Mengapa gadis seperti mu punya nyali yang besar untuk sepanggung dengan ku? Apapun yang kau pikirkan, lebih baik tak usah berharap” bisik Lucy pada Shannon. “Jangan berkata begitu, kamu yang akan malu nanti” jawab Shannon tanpa rasa takut.
Dari kursi penonton, Iris kembali bertanya pada Hanna, “di sekolah ini ada murid bernama Shannon? Aku tak pernah melihat nya.” “Yang benar saja? Sepertinya kamu kurang tidur hingga sering melantur” jawab Hanna yang masih mencoba berpikir positif.
Miss. Marta kembali menyebutkan kandidat bintang putra, “kandidat bintang putra tahun ini, tentu Taron yang sudah 2 tahun berturut menjadi bintang putra dan Alazka yang tidak pernah menyerah memperebutkan posisi bintang putra.” Taro dan Alazka menaiki panggung, dan Mr. Jonson mulai menyebutkan pemenang bintang putri. “Bintang putri kita adalah, Shannon, si gadis kecil berwajah baru di Harmony Hills. Shannon mencapai suara sebanyak 651 suara, sedangkan Lucy mendapat 304 suara” jelas Mr. Jonson. Seluruh murid bersorak gembira atas kemenangan wajah baru Harmony Hills High School. “Mengapa bisa?! Apa yang kamu lakukan hingga mengalahkan ku?” Tanya Lucy kesal pada Shannon. “Aku hanya melakukan hal baik yang memang seharusnya dilakukan, aku tak sepertimu yang selalu menyimpan dendam dan memaksa orang untuk kehendakmu” jawab Shannon yang sekarang sudah penuh percaya diri.
“Apa?! Ini tidak mungkin!” Seru Hanna yang tak terima, “tenang tenang, ini semua adil sesuai jumlah suara. Tidak ada yang dapat mengganggu gugat” ujar Miss. Marta.
Mr. Jonson lanjut membacakan pemenang bintang putra di tahun ini. “Pemenang bintang putra kita adalah, tentu..Taron dengan jumlah 525 suara, sedangkan Alazka mencapai jumlah 430 suara” Taron dan Shannon berfoto bersama sebagai Bintang putri dan bintang putra yang baru. “Kamu sangat keren Taron” puji Shannon. “Kamu juga sangat cantik” puji Taron yang membuat Shannon tersipu.
Selesai makan malam, Hanna bertanya serius tentang Iris yang tak dapat melihat Shannon. Dan Shannon mulai bercerita pada Hanna tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Jadi benar? Iris tak dapat melihat mu? Ini semua kutukan Malakar?” Tanah Hanna yang masih tak percaya dengan perkataan Shannon. “Iya, itu semua benar. Aku harap kamu tak memberi tahu siapa pun, aku memberitahumu karena kamu yang paling dekat dengan ku” pinta Shannon. “O-oke” jawab Hanna ragu. “Pantas selama ini dia tak ingin di pegang” pikir Hanna dalam hatinya. “Tapi artinya, Iris bukan lah keturunan bangsawan, apa perlu kita beri tahu pada Miss Marta?” Tanya Shannon. “Bagaimana memberitahunya? Apa kau mau memberitahu tentang kutukan ini? Miss Marta pasti tak percaya dengan mu” jawab Hanna.
Keesokan harinya, Shannon mencari cari keberadaan Hanna yang dari pagi ia tak melihat nya. Lalu ia bertemu dengan Taron, “hei, akhirnya aku menemukanmu” ucap Taron. “Ada apa? Aku sedang mencari Hanna” jawab Shannon dengan wajah yang sangat panik. “Hanna dan Lucy menyebarkan berita bahwa kamu menerima kutukan Malakar, dan kamu tak dapat dilihat kecuali dengan keturunan bangsawan, apa itu benar?” Tanya Taron. “Iya, itu benar, tapi apa?! Hanna dan Lucy? Dia sudah berjanji untuk tak menyebarkan ini semua, tak ku sangka Hanna punya sisi licik untuk bekerja sama dengan Lucy” jawab Shannon. “Hanna dan Lucy memang dekat, mereka adalah sahabat dari kecil, tak heran mereka bekerja sama. Sejujurnya aku tak suka dengan Hanna, dia hampir mirip dengan Lucy, sama sama licik” jelas Taron.
“Taron, lalu apa yang harus aku lakukan?” Tanya Shannon yang sudah kehilangan arah. “Ada aku disini yang selalu melindungimu” jawab Taron yang memberikan bahunya untuk tempat Shannon bersandar. “Kenapa aku dapat bersandar di bahu Taron? Aku tak tembus pandang?” Pikir Shannon dalam hatinya. Tiba tiba Iris lewat di hadapan mereka, “Taron, siapa perempuan ini? Aku tak pernah melihat nya, dia sangat cantik” ujar Iris yang terpukau melihat kecantikan Shannon. “Apa? Kamu bisa melihatku? Aku Shannon” tanya Shannon yang kaget mendengar Iris dan melihatnya.
Shannon mengajak Iris untuk berbicara empat mata, ia menceritakan tentang kutukan Malakar dan kebingungan nya dengan Iris yang tak bisa melihatnya. “Aku ingin bertanya pada mu, apa kamu ada keturunan bangsawan? Atau semacamnya?” Tanah Shannon pada Iris. “Aku tidak lahir di keluarga keturunan bangsawan, aku hanya diadopsi dari panti asuhan. Aku harap kamu tak memberitahu Miss Marta, aku hanya ingin membuat orang tua angkat ku bahagia. Aku mohon Shannon” jelas Iris sambil menangis memohon. “Baik, aku ta akan berbicara tentang ini pada siapapun. Tapi aku mohon bantuanmu untuk membantuku mengadukan tindakan Hanna dan Lucy yang sudah mencemari nama baikku pada Miss Marta.” Jawab Shannon.
Shannon, Taron dan Iris mendatangi ruangan Miss Marta dan menceritakan yang sejujur jujurnya. Miss Marta dan Mr. Jonson pun menghampiri Hanna dan Lucy yang dengan menikmati teh di taman bunga. “Nona nona, ikut ke ruangan saya sekarang!” Ucap Miss. Marta yang menyuruh Hanna dan Lucy ke ruangan nya. “Sebagai hukuman nya, kalian harus menyiapkan sarapan dan makan malam untuk asrama putri selama 1 bulan, paham?” Jelas Miss. Marta pada Hanna dan Lucy. “Lain kali jangan merusak nama teman mu sendiri ya nona nona” pesan Mr. Jonson pada Hanna dan Lucy.
Hanna dan Lucy mendatangi Shannon yang sedang bersama dengan Taron di taman. Lucy mendorong Shannon dengan kasar, “jangan ganggu hubungan ku dan Taron!” Seru Lucy dengan kesal pada Shannon. “Jangan lukai Shannon, kita tidak punya hubungan apapun jika kita tidak berada dalam hubungan bintang putri dan bintang putra tahun lalu. Jangan seolah kita pernah berhubungan” jelas Taron pada Lucy. Hanna menggenggam tangan Shannon dan mengajaknya menjauh dari Taron dan Lucy.
“Kenapa sekarang kamu sudah dapat di pegang?” Tanya Hanna kaget. “Itu tidak penting, apa yang ingin kamu katakan? Bicaralah, cepat” jawab Shannon. “Apa maksudmu dengan mengadukan tindakan ku dan Lucy pada Miss Marta? Apa kau pikir ini lucu? Berani nya kau berlaku seperti ini?” Tanya Hanna yang sangat kesal. “Lalu? berani nya kamu berlaku seperti ini kepada ku? Kamu berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada orang orang tentang kutukan Malakar ku, tapi kamu malah mengumbarnya pada banyak orang. Apakah itu sopan? Dengan berpura pura membenci Lucy, padahal dia sahabatmu, apa itu tidak keterlaluan? Kamu mempermainkan hati ku seperti boneka yang dapat dibuang kapan pun. Berhenti seolah tak tahu apa apa, Hanna. Aku pikir kamu baik, tapi ternyata kamu hanya manis di awal pahit di akhir dan pantas untuk dibuang. Terimakasih untuk semua kebaikanmu selama ini pada ku, tapi aku memilih untuk memutuskan hubungan denganmu, selamanya! ” jelas Shannon penuh dengan percaya diri.
Di waktu senggang, Shannon menelpon ayah dan ibunya dengan telepon asrama. “Ada apa Shannon? Kamu merindukan kami? Apa kamu baik baik saja?” Tanya sang ibu yang mengangkat telepon dari Shannon. “Iya ibu, aku merindukanmu, ayo bertemu di cafe dekat asrama pukul 5 sore” ajak Shannon.
Pertemuan antara Shannon dan ibunya di cafe itu cukup menegangkan. Shannon terus bertanya, “mengapa kutukan Malakar nya hilang? Apa ini karena pikiranku yang membaik, atau ada campur tangan ayah dan ibu?” Tanya Shannon pada ibunya. “Iya iya, kamu memang cerdas. Ayah mu tak tega melihatmu yang terus berjuang sendirian, karena ia tahu untuk bertahan di Harmony Hills itu sulit, makanya ia ingin membantu mu. Ia mengalahkan Malakar dengan giok naga pustaka keturunan bangsawan, dengan kekuatan giok naga itu dapat mengalahkan kekuatan jahat dari Malakar, hingga semua anak yang menerima kutukan nya akan kembali. Dan kamu kembali seperti semula, Shannon” jelas sang ibu sambil memberikan pelukan hangat. “Luar biasa, sudah seperti adegan film action. Tapi apa ayah baik baik saja?” Tanya Shannon khawatir. “Ayah baik baik saja, hari ini dia sedang mengurus beberapa tanah di suatu tempat. Kami harap setelah ini kehidupanmu di Harmony Hills lebih baik ya” pesan sang ibu.
Hubungan antara Shannon dan Taron sudah semakin jelas, “sebentar lagi masa bintang putri dan bintang putra kita akan berakhir. Aku yakin bahwa tahun depan Alazka yang akan terpilih sebagai bintang putra” ucap Taron saat bersama dengan Shannon di taman. “Aku sedih sekali sebentar lagi kita terpisah, karena kamu yang akan melanjutkan kuliah. Bagaimana hubungan kita nanti?” Tanya Shannon dengan wajah yang sedih dan manja. “Memang apa hubungan kita? Saat aku hari kelulusan ku, pasti sudah ada puluhan pria yang menggoda mu, sangat mudah menggantikan posisiku. “ Jawab Taron sedikit kesal. “Ayolah, posisi mu dalam hati ku tak akan berubah” Shannon terus merayu Taron yang sedang kesal.
“Kita kan tak punya hubungan apapun, bagaimana posisi ku selalu ada di hati mu?” Ucap Taron. “Lalu selama ini? Kita bukan apa apa? Kita sudah sedekat ini, masa hanya teman?” Tanya Shannon dengan sedih dan kesal yang bersatu. “Iya iya, jangan kesal. Kamu lah pasangan ku, untuk selamanya..” ucap Taron memeluk Shannon agar ia tak kesal.