Aku selalu percaya kalau cinta sejati itu tentang kesetiaan. Tapi, kepercayaanku mulai runtuh ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri… orang yang kucintai ternyata punya wajah lain.
Namaku Nayla. Aku sudah pacaran dengan Reza selama tiga tahun. Aku pikir hubungan kami baik-baik saja, bahkan nyaris sempurna. Reza tipe cowok idaman—manis, perhatian, dan selalu tahu cara membuatku tersenyum. Tapi siapa sangka, di balik semua itu, ada rahasia besar yang dia sembunyikan dariku.
Malam itu, aku dan sahabatku, Dinda, sedang nongkrong di sebuah kafe. Dinda sedang asyik curhat soal pacarnya yang overprotektif, sementara aku sibuk memainkan sedotan di gelasku. Hingga tiba-tiba, mataku menangkap sosok yang sangat kukenal.
Reza.
Dia duduk di sudut ruangan, berbicara dengan seorang cewek. Bukan sekadar bicara… mereka saling tatap dengan cara yang seharusnya hanya dia lakukan denganku. Tangannya menggenggam tangan cewek itu di atas meja, lalu dengan lembut, dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Duniaku runtuh.
Tanganku mencengkeram rokku erat, menahan emosi yang bergemuruh di dadaku. Aku bisa saja langsung mendatanginya, menampar wajahnya, atau bahkan melempar minuman ke mukanya. Tapi aku memilih diam. Aku ingin tahu lebih banyak. Aku ingin tahu sejauh apa pengkhianatan ini berjalan.
Dinda menatapku khawatir. "Nay, kamu nggak papa?"
Aku menelan ludah, menatap mereka dalam diam. Lalu, senyum sinis terukir di wajahku.
"Enggak, Din. Aku cuma baru sadar… kayaknya pacarku lagi audisi jadi aktor."
Aku nggak langsung bertindak malam itu. Aku butuh bukti lebih banyak. Kalau Reza memang selingkuh, aku ingin dia terjebak dalam permainannya sendiri.
Malam itu juga, aku mulai mengumpulkan informasi. Aku scroll Instagram, cari tahu siapa cewek yang duduk bersama Reza. Setelah hampir satu jam kepo, akhirnya aku menemukannya.
Namanya Sinta.
Akun Instagramnya penuh foto estetik—pantai, bunga, kopi, dan… foto dengan Reza.
Jantungku mencelos. Salah satu fotonya adalah foto Reza dari belakang, mengenakan jaket yang sama dengan yang dia pakai hari ini. Caption-nya singkat:
"Menunggu seseorang yang selalu membuatku tersenyum."
Brengsek.
Tanganku gemetar. Nafasku berat. Tapi aku nggak boleh gegabah. Aku screenshot foto itu, lalu menutup ponselku. Aku harus tahu sejak kapan ini terjadi.
Dinda menatapku cemas. “Nay, kamu yakin nggak mau konfrontasi langsung?”
Aku tersenyum tipis. “Belum, Din. Aku mau lihat sejauh apa dia bisa berbohong.”
Dinda menghela napas. “Nay, aku nggak ngerti kenapa kamu sekuat ini…”
Aku cuma tertawa pelan. Kuat? Enggak. Aku cuma ingin bermain lebih lama.
---
Keesokan harinya, aku menemui Reza seperti biasa.
Cowok itu tersenyum lebar, memelukku erat, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Nay, aku kangen,” katanya lembut.
Aku menelan ludah. Aktor hebat.
Aku menatapnya dalam, pura-pura polos. “Aku juga, Za. Tapi… kamu nggak ada sesuatu yang mau diceritain ke aku?”
Dia mengernyit bingung. “Hah? Maksudnya?”
Aku tersenyum lebih lebar. Aku bisa lihat kedipan matanya yang sedikit gugup.
“Nggak apa-apa. Aku cuma penasaran… kamu sibuk sama siapa aja akhir-akhir ini.”
Reza tertawa kecil, mengacak rambutku. “Kamu mulai posesif ya?”
Aku ikut tertawa, tapi bukan karena leluconnya. Aku tertawa karena dia nggak tahu apa yang menunggunya.
Aku lalu meraih ponselku. “Oh ya, Za… kemarin aku kepo Instagram, terus aku nemu akun ini. Kamu kenal nggak?”
Aku memperlihatkan foto Sinta—foto yang ada dirinya di dalamnya.
Dagu Reza menegang. Aku bisa lihat bagaimana otaknya bekerja keras mencari alasan.
Aku memiringkan kepala, berpura-pura polos. “Kenapa? Kaget?”
To be continued...