Hari ini Sobri keluar untuk mengambil upahnya memanen buah sawit di kebun juragan Toha. Dikendarainya sepeda motor butut yang setia menemaninya mencari nafkah demi anak dan istrinya. Senyumnya merekah saat membayangkan tawa anak dan istrinya bila uangnya sudah diterimanya nanti. Sobri sengaja memanen 4 hektar kebun sawit juragan Toha sendirian, karena keluarganya sangat membutuhkan uang itu. Sebenarnya badannya sangat amat letih, sendi sendi di tubuhnya seakan hampir copot. Tapi itu semua tidak dihiraukannya demi melihat senyuman hangat anak dan istrinya nanti.
Beruntung Sobri, juragan Toha puas dengan hasil kerjanya yang bersih dan terpanen semua (tidak tahu saja juragan Toha kalau Sobri kerjanya setengah mati). Uang 600 ribu hasil kerjanya kemaren sudah dikantonginya. Senyumnya mengembang, uang itu cukup untuk beli beras dan lauk seadanya untuk 2 minggu kedepan. Sambil menunggu periode panen selanjutnya. Dilajukannya sepeda motornya menuju pulang, tak sabar rasanya ingin melihat tawa anaknya dengan perut yang kenyang. Sobri melajukan motornya tidak terlalu kencang, karena memang sudah butut, jadi tidak bisa lebih cepat lagi.
Tapi hari itu tampaknya Sobri tidak terlalu beruntung. Langit jadi menghitam dan hujan tiba tiba turun dengan derasnya. Untungnya istrinya tadi mengingatkan untuk membawa jas hujan, jadilah jas itu dipakainya sekedar pelindung dari derasnya hujan selama perjalanan sampai ke rumah. Dirasakannya ban belakang motornya agak goyang. "ah...bannya bocor kali ya...terus aja deh sambil cari tukang tambal ban" batinnya.
Lalu tidak terlalu jauh berjalan, terdengar suara keras dari bagian belakang motornya.
Krraakkk....brruuaakk....
Sepeda motornya langsung berhenti.
"Astagfirullah....kok ambrol semua" pekiknya saat memeriksa keadaan sepeda motor bututnya. Terlihat gear serta tempat rantainya sudah lepas dari tempatnya semula. Rantainya pun terjepit diantara ruji ruji bannya.
"Aduh bagaimana ini...mau minta tolong sama siapa?" Sobri bicara dengan dirinya sendiri. Ya dia bingung mau balik lagi kerumah juragan Toha sudah cukup jauh dia berjalan, mau telpon teman hpnya tidak dibawa karena anaknya tadi merengek ingin main hp, sedang jarak rumahnya masih lumayan jauh, di daerah ini pun tidak ada orang yang dikenalnya. Akhirnya dituntunnya sepeda motor itu perlahan, sambil melihat kiri dan kanan kalau kalau ada bengkel yang bisa disinggahinya.
Tak lama sampailah Sobri disebuah bengkel yang tidak terlalu besar di pinggir jalan.
"Mas bisa tolong perbaiki sepeda motor saya?" pinta Sobri pada montir bengkel itu. Montir itu memandang Sobri dan motor bututnya bergantian.
"Maaf deh mas... ga bisa nih lagi banyak yang mau dikerjain, cari bengkel lain aja ya! " kata montir itu
"Oh.. ya udah deh mas...saya cari bengkel lain aja" saut Sobri
"Iya.. " jawab montir itu
Sobri pun menuntun motornya lagi. Karena terasa sangat lelah dan dingin sekali karena hujan belum juga berhenti, maka Sobri memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah warung kecil di pinggir jalan.
"pak numpang bernaung sebentar di sini ya pak?!" pinta Sobri pada pemilik warung.
"Oh ya mas silahkan" jawab pemilik warung.
Tak lama ada sebuah sepeda motor berhenti di depan warung itu, dan pengendaranya langsung masuk ke dalam rumah yang ada di belakang warung itu.
"Apa aku minta tolong saja sama orang itu ya..?" batin Sobri. Setelah menimbang nimbang akhirnya dia pun memutuskan akan meminta tolong pada si pemilik warung dan rumah itu.
"Assalamualaikum pak...pak...bisa saya minta tolong pak?"panggil Sobri karena bapak itu tidak terlihat di warung jadi dia memutuskan memanggilnya di rumahnya.
"Waalaikum salam...ya mas kenapa?" jawab bapak paruh baya pemilik warung itu
"Begini pak...sepeda motor saya rusak, saya minta tolong ojekkan saya sampai rumah nanti saya bayar berapapun yang bapak minta" jelas Sobri pada bapak itu. Seperti montir di bengkel tadi, bapak ini pun memperhatikan penampilan Sobri dan sepeda bututnya.
"Bener itu motornya rusak? memangnya dimana rumahnya mas?" selidik bapak itu tidak yakin dengan omongan Sobri.
"Betul pak...kalau tidak percaya silahkan periksa sendiri...rumah saya di Jln. Tebing Tinggi pak" jawab Sobri berharap bapak itu mau membantunya.
Bapak itu terlihat berpikir lalu berkata "Tunggu ya... saya tanya anak saya dulu, bisa apa tidak dia mengantar" katanya seraya berlalu dari hadapan Sobri.
"Iya pak" jawab Sobri sembari memeluk lengannya sendiri karena hujan belum juga mereda. Tak lama keluarlah anak bapak yang tak lain orang yang baru datang memakai sepeda motor tadi.
"Iya mas...kenapa ya..."kata anak bapak tadi.
"Ini mas...saya minta tolong antarkan saya sampai rumah soalnya sepeda motor saya rusak, nanti saya bayar berapapun yang mas minta" jelas Sobri. Tidak beda dengan bapaknya tadi si mas ini juga memperhatikan penampilan Sobri dan memeriksa sepeda motor butut itu, yang jelas terlihat rantai dan gearnya sudah lepas dari tempatnya.
"Aduuhh...gimana ya mas ya...saya baru juga pulang kerja...belum makan siang juga ini..." masnya tadi seperti keberatan.
"Tolong lah mas...saya sudah bingung mau minta tolong sama siapa disini tidak ada yang saya kenal..."jawab Sobri
"Memangnya rumah mas dimana?" tanya mas tadi
"Di Jln. Tebing Tinggi mas...saya bayar nanti berapapun yang mas minta" kata Sobri mencoba membujuk masnya tadi.
"Wah itu masih jauh banget mas..." jawab mas tadi sambil berpikir "Ya udah deh saya anterin...tapi saya makan dulu ya..." katanya akhirnya.
"I..iya mas...saya tunggu..." jawab Sobri sedikit gemetar karena kedinginan.
Lama Sobri menunggu akhirnya mas tadi keluar langsung mengambil motornya dan pamit mau mengisi bensin dulu pada Sobri. Sobri hanya mengangguk dan kembali menunggu. Lama sekali Sobri menunggu hingga hampir satu jam "Orang itu cari bensin dimana coba...lama banget..." omelnya dalam hati. Akhirnya setelah lama menunggu Sobripun kembali menuntun sepeda motornya, menyerah dan pasrah, tidak ada lagi yang bisa menolongnya. Tidak terlalu jauh dari warung itu ternyata ada bengkel lagi tapi lebih kecil dari bengkel sebelumnya. Sobripun mencoba membelokkan sepeda motornya kearah bengkel tersebut. Sama seperti orang orang sebelumnya montir bengkel itu melihat Sobri yang menuntun motor bututnya "Maaf mas...masih banyak kerjaan ini kayaknya ga bisa ngerjain punya situ deh !" ucap montir sekaligus pemilik bengkel itu, sebelum Sobri berkata apapun. Lalu tiba-tiba anak pemilik warung tadi datang dari arah belakang Sobri "Gimana mas...jadi ojeknya?" tanyanya pada Sobri.
"Iya mas jadi...tunggu sebentar ya" kata Sobri sambil memarkir sepeda motornya di bengkel itu "Bang...motor ini saya tinggal di sini saja tolong perbaiki...kalau ada yang perlu diganti ganti saja bang...besok saya ambil motornya ya bang" kata Sobri
"Ooh kalau ditinggal disini bisa saja saya kerjain nanti" kata montir itu acuh.
"Ayo mas kita jalan" kata Sobri pada mas tadi.
"Iya tapi tunjukkan jalannya ya mas, soalnya saya belum pernah jalan kearah sana" kata masnya tadi.
"Iya mas, sambil jalan saya tunjukkan jalannya" saut Sobri.
Sampai di rumah anak pertama Sobri langsung menyambutnya
"Ayah datang....ayah datang...ayah datang..." soraknya. Sobri melewatinya langsung menghampiri istrinya.
"Dek tolong bikinkan teh buat masnya ini" katanya pada istrinya. Walaupun dengan wajah bingung melihat suaminya diantar orang yang tidak dikenalnya berlalulah istri Sobri ke dapur untuk membuatkan teh hangat.
"Ayo mas masuk dulu...duduk dulu..." ajak Sobri ramah. Tak lama istri Sobri keluar dengan membawa dua gelas dan sepiring pisang goreng yang baru selesai di gorengnya tadi.
"Ini dek, mas ini nolongin ayah ngantar sampai rumah karena motor ayah rusak di tengah jalan tadi" jelas Sobri pada istrinya.
"Astagfirullah yah...tapi ayah gak kenapa-napa kan
yah?" istri Sobri tampak khawatir.
"Alhamdulillah gak papa kok, untung ada mas ini yang mau mengantar ayah sampai rumah" jawab Sobri sembari tersenyum. "Oh ya berapa mas ongkos ojeknya?" Sobri beralih ke mas tadi
"50 ribu saja mas, saya juga cuma mau nolong mas saja" jawabnya. Sobripun mengeluarkan uang 150 ribu dan 50 ribuan lagi lalu menyerahkan pada mas tadi.
"Ini rejeki buat mas dan yang ini saya titip buat beli bedak adek bayinya" rupanya sepanjang perjalanan mas tadi bercerita bahwa istrinya baru melahirkan 3 hari yang lalu dan sekarang dia sedang kesusahan keuangan sedang biaya bersalin saja dia pinjam dengan keluarganya.
"Ta..tapi...mas ini kebanyakan" jawab mas tadi sambil memandang uang 200 ribu di hadapannya.
"Tidak apa mas, ini sudah rejeki sampeyan. Istri saya juga baru melahirkan 2 bulan yang lalu, alhamdulillah semua di mudahkan Allah, jadi anggap saya syukuran dengan uang ini" jawab Sobri. "Mas saya cuma mau pesan sama sampeyan, kalo mau menolong orang jangan liat penampilannya atau apa yang di pakainya, siapa yang tahu kalo orang itu membawa rejeki buat kita. Kalo masnya udah mikir negatif duluan dan akhirnya ga mau nolong tadi mungkin uang ini ga akan sampai di tangan mas sekarang kan" Sobri memberi sedikit nasehat karena keraguan masnya tadi saat menolongnya.
"I..iya..mas...terima kasih ya...mas...i..ini uangnya...saya terima ya..."jawab mas tadi terharu dan menyadari kesalahannya
"Silahkan mas...semoga berkah buat mas dan keluarganya aamiin..." kata Sobri seraya tersenyum. Mas tadi pun berpamitan setelah menghabiskan tehnya.
TAMMAT