ANDORIA : Mendarat di Tanah Retak
Sebuah surat datang dari seorang kawan di Andoria. Negeri yang pernah kukunjungi beberapa tahun silam. Negeri yang hijau, sungai-sungai mengalir indah, bunga mekar silih berganti sepanjang tahun.
Dalam surat itu ia membagi sedikit tentang keadaan negerinya kini. Negeri itu tidak seindah dahulu, seperti terakhir kali aku berkunjung. Sayang, ia tidak menyertakan sebuah gambar. Aku hanya mencoba menerka-nerka wajah Andoria sekarang.
Aku memutuskan untuk mengunjunginya.
Cukup jauh perjalan untuk bisa sampai ke Andoria. Negeri yang jauh itu harus ditempuh berhari-hari, melewati beberapa negeri lain. Hingga sebuah jet membawaku mengudara ke langit Andoria, mendarat di tanah yang retak.
Matahari sangat menyengat kulit, seolah hanya beberapa tombak di atas kepala. Beberapa kali harus terbatuk menghirup udara Andoria yang bercampur debu dan asap dari cerobong-cerobong raksasa. Mataku menyapu padang tandus, ilalang kering kerontang. Tidak ada pokok-pokok berdiri rapat. Dari kejauhan sebuah bukit yang hanya ditumbuhi sebatang pohon besar di puncaknya.
"Selamat datang di Andoria, Kawan!"
Lengan kekar dari seraut wajah khas Andoria merangkul bahuku, sejenak kami terkekeh bersama. Melepas rindu setelah lama tak bersua.
"Lama tak berkunjung, semua berubah," kataku mengangkat kedua bahu.
Kekeringan sudah melanda negeri ini bebebera tahun. Ladang gandum tidak menghasilkan lagi. Penduduk bertahan dari hasil tanaman umbi-umbian yang tahan terhadap kekeringan. Sungai-sungai kering, hutan berubah menjadi padang tandus. Satu-satunya sumber air bagi penduduk adalah pohon besar yang ada di puncak bukit. Batangnya sangat besar, butuh belasan orang dewasa untuk memeluk lingkar batangnya. Batang pohon itu menyimpan banyak air, cukup satu tancapan pisau akan mengucur deras. Penduduk menyebutnya pohon Andoria, sesuai nama negeri itu, untuk mengenang satu-satunya yang tersisa dari kejayaan Andoria.
Selama beberapa tahun kekeringan, penduduk bergantung pada pohon itu untuk kebutuhan air mereka. Namun, beberapa pekan terakhir, air dari batang pohon Andoria berkurang.
___________________
Udara begitu dingin menusuk tulang belulang. Malam semakin beranjak jauh, sepasang mataku belum juga mengatup. Suasana di luar mencekam. Tidak ada suara makhluk malam, hanya desau angin dan ilalang kering yang meronta.
Krek ... krek ... krek
Suara-suara aneh merobek hening malam, seolah datang dari lantai papan yang kupijak. Semakin lama semakin keras. Pekik penghuni rumah terdengar panik. Aku melongok ke luar jendela, tidak percaya apa yang terlihat. Rumah kayu tak lagi menancap di tanah, sekarang mengawang ditopang sesosok mahkluk aneh. Seperti lidah yang menjulur dari dalam tanah.
Di luar riuh pekik ketakutan bersahut-sahutan. Orang-orang lari lintang pukang. Kudapati - Arthos - kawanku telah menggantung di salah satu kaki rumah.
"Rumah ini akan rubuh, segera keluar dari sana!"teriaknya.
Kendatipun takut, aku harus melompat turun. Tempat mendarat tidak cukup empuk, rasanya tulang-tulang terasa remuk. Arthos menarik lenganku, kami berlari kencang menerobos malam. Ada sesuatu dari dalam tanah seolah memburu.
Seorang wanita bertubuh tambun jatuh tersungkur di belakang kami, hampir saja membuatku terjungkal karena kaget. Tubuh gendut itu tiba-tiba disambar sesosok makhluk yang meliuk-liuk dari dalam tanah. Tubuh wanita itu terangkat ke atas. Tidak jelas apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian kudengar suara dentum menghantam tanah. Tubuh wanita itu jatuh dengan kondisi mengerikan tepat di hadapanku. Tubuhnya menjadi kering dengan mata terbelalak dan mulut menganga. Seolah semua cairan dalam tubuh habis terhisap oleh sesuatu.
Tubuh-tubuh manusia berjatuhan seperti rintik hujan dari langit. Suasana yang riuh berangsur hening, semua teriakan hilang. Orang-orang yang berlarian telah rebah dengan tubuh kering kisut tak bernyawa.
Tinggal kami berdua dengan deru nafas yang memburu. Arthos terus menarikku, cengkeramannya semakin kuat. Terasa perih di pergelangan tangan. Langkah kami terhenti setelah memasuki sebuah gugusan batu-batu besar.
Rupanya tak hanya ada kami berdua. Ada seseorang yang tengah duduk meringkuk gemetar. Mulutnya komat-kamit merapal suatu yang tidak jelas terdengar.
"Makhluk apa tadi?" tanyaku setelah kami bersembunyi di balik sebuah batu.
"Entahlah! Yang jelas itu bukan ular." Nafas Arthos masih memburu.
"Sebaiknya jangan membuat gerakan atau suara yang mencolok."
Pria di hadapan kami gelisah, matanya nyalang mengintari gugusan batu. Dia nampak seperti orang gila, lari berputar-putar.
"Aku belum mau mati! Aku belum mau mati!" teriaknya berulang-ulang.
Tiba-tiba terdengar suara seperti sesuatu bergerak di bawah tanah. Artos memberi isyarat agar aku mengikutinya naik ke atas batu besar.
"Mahkluk itu tidak tertarik pada suara tapi gerakan," ucap Artos setengah berbisik.
Pria di depan kami terus membuat gerakan tak karuan. Retakan-retakan tanah mengular mengikuti ke mana gerak langkahnya. Hingga ...
Krak!
Sesuatu keluar dari dalam tanah, melilit kaki pria itu, kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya.
Prak!
Tubuhnya tersandar ke sebuah batu besar. Sebuah sulur sebesar lengan anak kecil keluar dari sosok mahkluk yang melilit, menancap tepat di mulut pria itu. Ada suara serupa sedotan menghisap cairan membuatku bergidik. Hanya terdengar erangan dari tenggorokan pria itu. Sejurus kemudian tubuh pria itu mengkerut kering dan ambruk ke tanah dengan bola mata seperti hendak melompat keluar.
Didera rasa takut yang sangat, aku ingin menjauh dari mahkluk mengerikan itu. Perlahan beringsut turun dari atas batu, memilih melarikan diri sejauh yang kubisa. Nyatanya hentakkan kaki di tanah mengundang makhluk itu mendekat ke arahku.
"Sudah kubilang jangan buat gerakan!" bentak Arthos.
Aku berdiri mematung, kurasakan makhluk itu hadir di sekitarku. Aku hanya bisa menutup mata dan menahan nafas. Karena tidak mendapati getaran di permukaan, makhluk itu kembali masuk ke tanah dan pergi entah ke mana.
Arthos meraih lenganku hati-hati, kembali naik ke atas batu. Pemuda itu menggerutu, mengingatkan untuk tidak bertindak nekat.
"Untuk sementara, ini adalah tempat paling aman untuk kita," ucap Artos.
"Kau mengenal lelaki itu." Aku kembali membuka percakapan setelah beberapa saat kami terdiam.
"Dia, Tuan Balakh. Penguasa negeri ini. Pantaslah dia mengalami semua itu, dia seorang yang tamak dan kikir." Ada nada puas terbesit pada ucapannya.
"Apa yang sudah dia lakukan?"
"Dia menghabisi semua pohon dan menjual kayu-kayu itu. Lalu mendirikan tambang-tambang. Asap dari cerobongnya mencemari udara yang kami hirup tiap hari."
______
Pagi yang mengerikan. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Masih terlihat lubang-lubang dan retakan seperti jejak mata bor membuat rongga-ronga di bawah permukaan tanah. Bangunan luluh lantak, menyisakan puing-puing. Semua menjadi porak-poranda oleh mahkluk tanpa kepala, tanpa tangan, tanpa kaki dan organ seperti manusia.
"Sebenarnya mahkluk apa yang menyerang kita semalam?"
"Mungkin cacing raksasa, makhluk mutan! Bisa saja limbah-limbah tambang itu telah merubah umpan ikan menjadi pemangsa manusia...."
"Itu mengerikan ...." gumanku bergidik.
"Sepertinya makhluk itu tidak beraksi siang hari." Arthos tiba-tiba seperti sedang berpikir keras.
"Maksudmu dia nokturnal?"
Arthos mengambil batu-batu seukuran kepalan tanggan, melemparkannya ke tanah. Berkali-kali mencoba dan menghantam lebih keras, tidak ada gerakan dan suara dari dalam tanah.
"Aman, sebaiknya kita cari tempat lain untuk berlindung! Atau menemukan sesuatu untuk membunuh monster itu," lanjutnya.
Kami bergegas meninggalkan gugusan batu, menuju puncak bukit.
Pohon Andora di atas bukit itu masih berdiri kokoh. Tak ada dahan atau rantingnya yang patah, bahkan sehelai daun gugurpun tak. Bisa kupastikan makhluk semalam entah apa jenisnya, bukan pemangsa tumbuhan. Syukurlah jika demikian, paling tidak kemungkinan dehidrasi bukan menjadi penyebab kami mati.
"Arthos, menurutku tempat ini adalah tempat paling aman, tidak ada tanda-tanda kerusakan di sini."
"Kau berpikir mahkluk itu tidak menyukai tumbuhan?"
"Mungkin karena aroma atau sesuatu yang lain," jawabku sekenanya. Aku teringat pada nyamuk yang tidak suka pada aroma Citronella.
Siang semakin terik, dahaga merangkak perlahan di tenggorokan. Arthos mengambil sebongkah batu tajam. Tangan kekarnya menancapkan ujung batu pada batang pohon besar itu untuk mendapatkan air.
Sekali tancap dan ...cairan merah berbau amis menyemprot keluar.
"Darah ... ini darah! Pekik Arthos," langkahnya surut kebelakang, matanya tajam menyorot pohon besar itu seolah tak percaya.
_________________
Makassar, Juli 2019.
(Diana Rustam)