Bully adalah sebuah tindakan seseorang yang menggunakan kekuatan atau kekuasaannya untuk menggertak atau menyakiti orang yang lebih lemah.
Orang lemah? Apaan!
Hari itu adalah hari pertamaku masuk ke dalam salah satu sekolah ternama di Jakarta. Iya ternama, karena sekolah ini sangat di kenal dikalangan semua orang, terkenal murid-muridnya yang begitu jahil dan jahat.
Aku yang tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini dan terima-terima saja sewaktu Ayah mendaftar ku kemari.
Aku mengetuk pintu kelas yang saat itu terbuka lebar. Langkah kakiku menuntut ku untuk masuk ke dalam ruangan kelas, aku
menunduk sopan pada yang perempuan yang kira-kira tinggi badannya sekitar 150cm dan berat badannya, umm, anu. Sekitar seratus mungkin. Tidak, aku tidak mengejek. Hanya saja terkaget.
"Oh, kamu anak baru ya? Tadi kepala sekolah ngasih tau sama saya."
"Iya Bu.." Aku mencoba membaca nametag Ibu guru itu, "Bu Ceol."
"Kemari lah, perkenalkan dirimu."
Aku menunduk sopan dan mendekat, lalu mengalihkan pandangan kepada keluarga baruku disekolah ini. Astaga! Apa ini? Tidak mungkin, tidak mungkin aku yang paling cantik. Wau.
"Ayo, perkenalkan dirimu."
Aku mengangguk dalam keadaan masih menatap teman-teman baruku itu. Mereka semua tidak terlalu cantik, gemuk dan wajah mereka itu loh, wajah orang kasihan. Mungkin mereka adalah korban bully di sekolah ini. Aku jadi prihatin.
"Halo, nama aku Noona, senang bertemu kalian, semoga kita menjadi teman dekat."
Tidak ada yang menanggapi, perempuan dan laki-laki disini sama-sama tak mempunyai ekspresi. Aku menghitung jumlah mereka, yang laki-laki kira-kira ada sepuluh orang, yang perempuan ada sembilan. Ah, mungkin aku dimasukkan ke ruangan ini supaya imbang kali ya.
Aku dipersilakan duduk. Bu Ceol pun keluar karena jam mengajarnya sudah habis. Dan kebetulan guru selanjutnya sedang ambil cuti hari ini. Jadi kelas ini free.
Eh, tapi ya, kalau dimana-mana, kelas yang tidak ada gurunya akan ribut, tapi disini adem sekali. Semuanya kompak sekali.
Ting!
Kulihat teman sebangku ku mengambil ponselnya dan melihat notifikasi yang masuk.
Lalu terdengar lagi,
Ting!
Tang!
Tung!
Tong!
Berbagai macam suara tanda pesan masuk membuat sembilan belas orang itu serentak memakai ponsel masing-masing.
"Hahahaha"
Terdengar juga mereka serentak tertawa. Apa ini, ya Lord?!
"Hei, kau anak baru!" Sebuah suara anak dari anak laki-laki menunjuk ke arahku.
"Ya?" Jawabku dengan wajah yang terkejut karena sedari tadi memperhatikan sekeliling kelas ini.
"Kau cantik sekali,"
"Terimakasih." Balasku tersanjung dan merona meski bukan orang tampan yang memujiku. Ah, benarkan, aku yang paling cantik, baru beberapa menit saja sudah dapat pujian.
"Nama ku A, ini B, ini C dan selanjutnya sesuai abjad sampai ke ujung sana," A menunjuk seseorang yang sedikit lebih gemuk darinya.
"Berarti nama dia S?" tanyaku.
"Iya. Dan kau murid T yang kesekian kali." Tatapannya berbeda dari yang tadi.
"Ke-se-kian?" tanyaku.
"Semua yang masuk ke sini selain kami, semuanya harus mati. Karena T itu artinya tiada."
Aku terdiam sejenak, "brrpp, hahaha, kau kelihatan kejam seperti itu. Kau itu imut, jangan bicara seperti itu."
Golongan dari K sampai S adalah kaum Hawa. Seketika aku terdiam saat seseorang dari perempuan itu melempar ku dengan buku.
"Apa-apaan ini?"
***
Bermula dari maksud dan perkataan mereka membuatku bingung, perlahan aku mendekati ayah yang saat itu baru saja pulang kerja. "Ayah, ini kopinya," aku memberikan segelas kopi karena ayah tadi memintanya.
"Wah, terimakasih."
"Bagaimana hari pertama mu?"
"Buruk Yah, ada juga baiknya. Ayah pilih yang mana dulu?"
"Kabar baik dulu deh," Ayah menjawab sembari meletakkan gelas di meja agar fokus mendengarkan ku.
"Putrimu yang tinggi nan langsing, berkulit putih cerah, mata cokelat yang indah, rambut panjang hitam kelat yang terawat, adalah satu-satunya orang tercantik di kelas yang baru itu." Ucapku bangga.
Ayah ikut tersenyum dan memujiku juga kala itu. Dia sering bilang aku sangat mirip dengan mendiang ibuku yang sudah tiada setelah melahirkan ku. "Lalu buruknya?"
"Aku mendekat pada ayah, membuka sepatunya dan mulai memijit kakinya, mungkin karena aku terlalu cantik banyak yang iri."
Ayah tertawa geli mendengar itu lalu mengacak rambutku. "Kamu ini ada-ada saja."
"Noona takut karena terlalu cantik jadi dibully"
"Eh? Kau ini, mana ada secantik dirimu jadi bahan bully." Ucap sang ayah.
Tapi jauh di hatiku, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di kelas itu. Potongan rambut mereka sama semua. Kaum Adam dengan medium under cut gaya rambut yang biasanya dipakai oleh aktor Cha Eun Woo dan jujur, mereka kurang cocok dengan itu. Dan lagi, semua kaum hawa di sana dengan gaya rambut Bob pendek. Ya namanya wanita, pasti cantik sih. Asal ada rambutnya.
Dan kemarin itu, kenapa mereka sama-sama tertawa padahal hanya melihat layar ponsel? Ah, mungkin itu hanya grup chat mereka.
"Neng, ada paket untuk Neng." Ucap IRT rumah kami memberi tahu.
"Tuh kan, langsung ada penggemarnya, tadi kamu salah paham mungkin. Ya sudah, ayah mandi dulu ya.."
Aku mengangguk. Aku menarik nafas, ada rasa yang lain yang ku rasakan.
"T"
Huruf itu terpampang jelas di kotak cokelat yang cukup besar. Aku mengangkat tangan ku dan mulai membukanya.
"Eh? Apa ini?"
Beberapa foto gadis-gadis cantik dan pria tampan terpampang di sana. Tapi tunggu, sepertinya aku mengenal salah satu foto ini. Ah, iya, ini Naraya, selebgram yang kabarnya hilang begitu saja dan ditemukan mayatnya di selokan dua Minggu yang lalu. A, apa ini?
Aku berlari ke kamar dan mengambil laptop, jari-jari ku dengan cepat mengetikkan nama Naraya di browser. Dan dapat!
Apah?!
Naraya terakhir kali mengunggah sebuah foto yang membelakangi para teman-temannya di kelas dan menampakkan seragamnya kotor seperti ada kuah makanan yang tumpah di sana. Naraya pun menulis caption 'Belum pernah di bully. Apa ada yang percaya orang cantik bisa di bully?' Begitulah unggahan di sosial medianya yang terakhir kali sebelum dia menghilang beberapa hari dan meninggal setelah itu. Sekarang pun polisi masih mencari kebenarannya. Belum lama ini, polisi sedang menyelidiki Sekolah Swasta Ceria, yang kabarnya sekolah terakhir yang di jalani oleh Naraya yang bahkan tidak sampai seminggu. Namun hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda bahwa sekolah itu terlibat dengan kematian Naraya.
Isi artikel itu membuatku tercengang. Aku berusaha mensinkronisasikan semua ini. Aku mengambil beberapa foto lagi, tapi sial, aku tidak mengenal mereka.
Aku harus mencari tahu.
***
"Apa maksud kalian mengirimkan ku foto ini?!" Aku melemparkan foto-foto yang kemarin aku dapat dari boks cokelat itu. Ruangan kelas sudah ku kunci agar tidak ada guru yang boleh masuk.
Tapi begitulah aku, terlalu bodoh. Mereka menyeringai padaku. Aku melihat pintu yang semakin dikunci rapat oleh mereka. Meja-meja didorong agar menjadi penghalang di pintu.
"Apa?" Suaraku lantang pada sembilan belas orang di sana. Berusaha menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak takut.
Seorang gadis mendekatiku, kalau tidak salah namanya S, "kau sedikit lebih cantik dari Naraya dan gadis bodoh itu terlalu berani melawan. Dan ya, aku malas melihatnya, ya sedikit menyayat perutnya menurutku tidak terlalu jahat, dia saja yang lemah cepat sekali matinya."
"Apah?!" Aku sudah menduga hal ini setelah satu malam berfikir dan mencoba mencari tahu semua orang di dalam boks itu dan nyatanya ada satu artikel yang memberi tahu latar belakang sekolah pada anak-anak malang ini, iya, di sekolah baru ku ini. Tapi lebih tidak menyangka saat aku refleks teriak, "apa yang kau lakukan? Hei! Lepaskan!"
S menjambak rambutku. Dan serangan berikutnya datang bertubi-tubi. Aku dilempari dengan kertas, kepalaku di masukkan ke dalam keranjang sampah, semakin aku melawan semakin banyak yang memukulku.
Ya Tuhan, aku tidak pernah membully orang, kenapa aku jadi korban disini? Teriak batinku.
Bibirku pecah dan berdarah. Pria yang hari itu memujiku menamparku berulang kali tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.
"Kalau kau tutup mulut, kau boleh hidup selama dua puluh menit lagi."
Aku sudah lemah tak berdaya. Tapi aku harus tahu apa penyebab mereka membunuh setiap siswa yang masuk ke sini. "Oke, aku akan tutup mulut." Ucapku berusaha tenang menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku. Hidungku yang terus mengeluarkan darah tak membuatku mengurungkan niat untuk bertanya. Setidaknya aku mati tapi tidak membawa rasa penasaran.
"Kenapa?...Kenapahh?.. hhh" tanyaku susah payah. Aku meringis kesakitan, belum pernah kulitku merasakan kepedihan seperti ini. Ini pertama kalinya. Dan mungkin terakhir kalinya, di bumi.
Mereka hanya saling pandang dan kemudian tertawa. "Mungkin dia penasaran kenapa kita membunuh orang-orang sebelumnya." Ucap C.
Aku mulai gemetar, pikiranku sudah tak terkendali. Kepalaku sakit... Auh!
"Baiklah, setidaknya ini hadiah kematian untukmu." Seseorang yang bernama D datang menghampiri ku, "Dulunya kami sering di bully di kelas kami. Akhirnya kami di buang di kelas terkutuk yang akhirnya kami sadar ini adalah surga bagi kami." Aku masih berusaha membuka mataku untuk menyimak, "apa yang kami lakukan padamu masih belum seberapa dengan yang kami alami sejak kecil. Dan apa salah kami jika kami juga membully orang yang berbeda dari kami?" ia menyunggingkan senyum.
"Guru-guru sialan itu sebentar lagi pasti kemari, cepat selesaikan dia." Perintah dari ketua kelas, A.
Aku merasakan perutku ditusuk-tusuk berulang kali. Aku terkapar hampir tak bernyawa. Semuanya gelap. Sudah selesai.