Peraturan tetaplah peraturan siapa yang melanggar, maka dia yang mendapat hukuman.
Di suatu desa yang berada di dataran tinggi dekat dengan penggunungan yang terkenal akan mata airnya yang jernih. Ada sebuah peraturan yang tidak boleh di langgar oleh siapapun termasuk penduduk asli.
Peraturannya adalah tidak boleh melakukan janji kelingking yang mana menggandengkan kelingkin satu sama lain. Jika ada yang melanggar, maka nyawa taruhannya.
***
Kevin, Jeje, Dika dan Lala sedang berlibur ke desa tersebut. Mereka sedang berjalan kaki menuju air terjun. Selain berlibur Dika dan Lala ingin melakukan foto pra wedding di sana. Mereka baru menikah minggu lalu.
“Gini nih kalau jadi fotografer. Jadi obat nyamuk pasutri yang lagi berbungga – bungga.” Ucap Kevin sedih.
“Hahaha. Jomblo sih.” Ejek Jeje.
“Yee jomblo teriak jomblo.” Sahut Kevin.
“Jangan gitu dong. Aku tambahin deh.” Timpal Dika.
“Beneran ya?” Tanya Kevin semangat.
“Iyee.” Jawab Dika.
“Enak banget Kevin. Aku?” Tanya Jeje yang iri.
“Iya iya nanti aku beliin rokok.” Ucap Dika.
“Mantap.” Ucap Jeje sambil mengacungkan jempolnya.
“Untung sahabat.” Gumam Dika.
“Udah mas, kita harus membagi kebahagiaan kita.” Ucap Lala lembut.
Dika hanya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Kevin dan Jeje masih ribut. Mereka selalu ada saja yang di ributkan dimanapun dan kapan pun.
Tidak lama kemudian mereka sampai di air terjun yang terkenal itu. Mereka sangat kagum akan keindahan alam yang di suguhkan di depan mereka.
“Wah bagus ya mas.” Ucap Lala.
“Iya, nanti kita foto di dekat air terjun itu ya. Yah basah dikit gak papa ya. Penting fotonya BAGUS nanti.” Ucap Dika yang menekannkan kata bagus ke arah Kevin.
“Jangan khawatir. Aku tuh sudah berpengalaman.” Ucap Kevin bangga.
“Hilih.” Ucap Jeje meremehkan Kevin.
Lagi – lagi Jeje dan Kevin bertengkar di depan pasutri itu. Dika dan Lala hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka.
Prok Prok Prok.
Suara tepuk tangan seorang paruh baya yang menjadi petunjuk jalan bagi orang – orang yang sedang berwisata di sana.
“Perhatian perhatian bapak, ibu, mas, mbak, adik tolong perhatiannya sebentar ya.” Teriak laki – laki paruh baya itu.
Semua pun berkumpul melingkar dengan laki – laki paruh baya itu di tengah.
“Selamat datang di wisata alam desa kami. Selamat menikmati keindahan wisata alam ini. Namun ada satu peraturan yang tidak boleh di langgar di sini. Jangan melakukan janji jari kelingking di desa ini. Harap para pengunjung mentaati peraturan di desa ini.” Ucap pria itu.
“Peraturan yang aneh.” Gumam Kevin.
“Pak pak saya tanya.” Ucap Jeje.
“Iya silahkan.”
“Kalau di langgar konsekuensinya apa ya pak?”
“Kematian.” Jawab pria itu dingin.
Seketika suasana terasa mencekam. Beberapa orang merasa merinding dan ketakutan. Termasuk Lala. Dia langsung memeluk lengan suaminya itu.
“Gak apa – apa sayang. Tahayul itu mah. Biar kita tu gak macem – macem di sini.” Ucap Dika enteng.
Lala sedikit ragu dengan ucapan suaminya itu. Tapi dia tetap mengangukkan kepalanya kemudian tersenyum.
“Apaan sih Je.” Protes Kevin.
“Apa salanya sih tanya doang?” Bela Jeje.
Laki – laki paruh baya itu akhinnya menenangkan para pengunjung dengan tersenyum sambil menepuk tanggannya.
Prok prok prok
“Tenang semuanya, selama tidak melanggar kalian akan selamat.” Ucap pria itu sambil tersenyum.
Kemudian suasana di sana sedikit mencair. Beberapa orang sudah mulai melemaskan bahunya dan sisanya menghembuskan napas lega.
“Silahkan menikmati tempat wisata kami.” Ucap laki – laki paruh baya itu dengan ramah.
Akhirnya semua membubarkan diri. Tersisa Dika dan rombongannya di sana.
“Kita mulai aja yah sekarang.” Ucap Dika.
“Boleh boleh. Aku siapin dulu alat perangku. Je bantuin.” Ucap Kevin.
Dengan malas Jeje membantu Kevin. Sedangkan Dika dan Lala mulai melepas sepatunya dan melepas jaket couple mereka. Tidak lama kemudian Kevin sudah siap dengan kameranya.
“Yuk! Udah siap nih.” Ajak Kevin.
Tetapi kemudian Kevin dan Jeje melongo. Karena Dika dan Lala ternyata sudah tidak ada di tempat. Mereka sudah bermain air di dekat air terjun itu.
“Ampun deh penganti baru. Dunia serasa milik mereka berdua. Kita mah ngekos.” Ucap Jeje.
“HA HA HA. Ayo!” Kevin tersenyum kaku dia juga merasa iri dengan pasutri itu.
Kemudian mereka melaksakan sesi foto. Mereka berfoto dengan elegan di tambah lagi Lala yang sedang memakai make up waterproof (tahan air) membuat Lala terlihat semakin anggun dan elegan bersamaan.
Untuk beberapa saat mereka menjadi pusat perhatian, namun mereka tidak memperdulikannya. Lama – kelamaan orang yang melihat mereka juga kembali sibuk dengan aktifitasnya.
“Oke satu, dua, tiga.”
Cekrek.
“Satu, dua, tiga.”
Cekrek.
“Nih lihat nih foto kalian.” Ucap Kevin.
“Wah bagus Vin.” Ucap Lala riang gembira.
“Lagi?” Tanya Kevin.
Lala menggeleng cepat.
“Nanti aja lagi pas di luar. Sekarang aku mu me time sama suamiku.” Ucap Lala.
“Hah... Jomblo mah melipir aja deh.” Ucap Jeje.
Kali ini Kevin setuju dengan Jeje. Mereka pun menepi dan mencari kesenangan mereka sendiri.
Lala dan Dika yang sedang di mabuk cinta pun masih asik bermain air. Sampai suatu ketika di pikiran Lala terlintas seuatu.
“Hmm... Kita bisa ke sini lagi gak ya?” Tanya Lala.
“Bisa dong. Kenap enggak? Kalau pun kita sudah punya anak. Kita bawa anak kita kesini. Biar kayak mereka tuh tuh tuh.” Jawab Dika sambil menunjuk beberapa orang tua yang sedang bermain dengan anaknya.
“Janji?” Tanya Lala.
“Janji.” Jawab Dika sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
Kemudian Lala teringat ucapan pria tadi seketika dia menggeleng cepat.
“Udah, gak usah takut itu cuman buat takut in kita aja.” Ucap Dika dan memaksa istrinya menggandengkan kelingking mereka.
Setelah beberapa detik Lala langsung melepasnya. Dia melihat sekelilingnya. Memperhatikan setiap sudut dari tempat itu. Tidak terjadi apa – apa.
Prok prok prok
“Bapak ibu waktu sudah habis. Waktunya ganti pengunjung yang lain.” Ucap pria paruh baya itu.
Mendengar itu beberapa pengunjung mulai menepi. Termasuk Dika dan Lala. Namun saat Lala menginjak sebuah batu kakinya tergelincir karena licin. Reflek dia berpegangan ke Dika. Tetapi Dika yang tidak bisa menahan kehilangan keseimbangannya. Akhinya mereka berdua jatuh terperosok.
Tiba – tiba saja air terjun yang tidak begitu deras menjadi sanagat deras hingga mampu menghanyutkan Lala dan Dika yang tergelincir tadi. Mereka terbawa arus sampai ke sungai desa sebelah.
“Dika!” Teriak Kevin dan Jeje bersamaan.
“Aaaaa.... Tolong.” Teriak beberapa pengunjung yang berusaha menyelamatkan diri.
“Mas sama mbaknya hanyut.” Teriak salah satu pengunjung.
Kevin dan Jeje yang panik pun langsung mecari pria petunjuk jalan dalam rombongannya itu.
“Itu dia.” Teriak Jeje.
Jeje langsung berlari menuju pria itu di susul Kevin.
“Gimana pak itu teman saya hanyut.” Ucap Jeje panik.
“Aduh mas. Ini pasti mereka melanggar peraturan itu. Biasanya akan hanyut sampai ke desa sebelah. Ayo ikut saya. Semua rombongan saya tolong bantu saya.” Ucap pria itu.
Beberapa pengunjungpun beramai ramai menuju desa sebelah untuk menolong Dika dan Lala. Tidak lama kemudian mereka sampai. Awalnya mereka tidak melihat dimana keberadaan Dika dan Lala. Hingga salah satu pengunjung melihat sesuatu.
“Itu... Itu dia pak?” Teriak seorang laki – laki.
Semua pun menoleh ke laki – laki yang berteriak itu dan mata mereka mengarah ke telunjuknya.
“Oh itu itu Dika dan Lala.” Ucap Kevin.
Akhirnya mereka beramai – ramai menggotong Dika dan Lala menepi. Sampai di tepi mereka mengecek denyut nadinya. Namun, ternyata mereka sudah tidak bernyawa. Kevin dan Jeje sangat terpukul sahabatnya meninggal di depan mata mereka.
Kevin dan Jeje pun tidak kuasa menahanya. Mereka memeluk erat tubuh Dika dan memgengam erat lengan Lala.
“Kenapa? Kenapa? Kenapa?” Tanya Kevin entah kepada siapa.
“Inilah yang terjadi jika ada oranag melanggar peraturan di desa ini.” Ucap pria paruh baya itu.
Semua mata langsung mengarah padanya.
“Semua pengunjung juga mengalami hal yang sama. Sayakan sudah memperingatkan kalian tadi.” Ucap pria itu.
“Konon di desa ini ada seorang anak yang tidak bisa menepati janjinya kepada ibunya. Kemudian dia melakukan perjanjian sambil menunjukkan kelingkingnya dengan sosok penunggu desa untuk di putar balikkan waktu. Sebagai gantinya dia kan memepertaruhkan nayawanya, jika misinya tidak berhasil.”
“Dia ingin menepati janjinya kepada ibunya. Namun ternyata anak itu masih tidak bisa menepati janjinya. Akhirnya penunggu desa mengambil nyawa anak itu di depan ibunya.”
“Dia berkata akan mengambil nyawa anaknya untuk di perkejakan di dunianya.”
“Karena tidak terima, ibu itu mengutuk siapapun yang datang kesini dan melakukan janji kelingking dia akan mati untuk menemani anaknya yang di bawa ke alam lain untuk di pekerjakan.” Cerita pria paruh baya itu.
Seketika semua merinding dan memeluk dirinya sendiri. Suasana yang mencekam tambah semakin mencekam karena cerita itu. Beberpa menit dalam keheningan. Akhirnya Kevin berdiri mencoba mengankat mayat temannya itu. Lalu beberapa warga membantu Kevin untuk membawa mayat temannya agar bisa di makamkan di daerah asal.
Kevin dan Jeje sepakat untuk tidak menginjakkan kakinya di desa itu. Mereka tidak mau mengenang kenangan buruk.
***
Di sisi lain.
“Gimana mbah?” Ucap laki laki kepada pria tua yang sedang duduk bersila menghadap dupa.
“Bagus. Tumbal ini cukup untuk sesembahan agar wisata di desa ini semakin maju.” Jawab pria tua.
“Tolong kami! Tolong!” Teriak Dika dan Lala dari dunia lain.
Dika dan Lala masih bisa melihat warga yang bergerombol dari seberang sungai.