Jika mengenang kembali masa laluku, aku termasuk anak yang cukup tidak beruntung. Aku berada dalam situasi yang membuat air mataku terus menetes saat mengenangnya. Ya, dulu waktu masih kelas satu SMA terkadang aku ingin menjerit melengkingkan suaraku sebagai tanda kekesalanku. Bagaimana tidak, disaat semua temanku sedang memikirkan impian mereka kedepannya tapi aku harus mengikuti keinginan yang dipaksakan oleh Orang tuaku.
"Jangan ragu untuk terus berusaha mewujudkan impianmu. Karena masa depan adalah milik mereka. yang percaya pada keindahan harapan dan impian. "Demikian pernyataan yang kudengar saat penerimaan siswa baru. Kalimat itu dilontarkan Pak sandi, kepala sekolahku di SMA untuk menyemangati para siswa agar terus mengejar mimpi mereka. Tapi itulah kenyataannya, sebagian siswa bahkan tidak bisa memiliki impiannya sendiri karena orang tua yang telah memaksakan keinginannya. Salah satunya adalah aku, saat aku mengatakan impianku ayah akan langsung marah dan menyuruhku untuk melupakannya.
Jujur kuakui, tak pantas aku menceritakan semua ini. Tapi aku ceritakan juga sebagai luapan rasa gembiraku karena aku mampu keluar dari kemelut saat itu. Kini aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMA. Sebuah impian yang selalu terhalang karena keinginan orang tua akhirnya telah ku gapai. Boleh jadi, apa yang kualami ini juga dialami oleh anak-anak seusiaku di tempat lain.
Oh iya, Namaku Zia Aulia biasa dipanggil jia. Sedari kecil orang tuaku sudah menetapkan kehidupanku untuk kedepannya dan aku bahkan tidak boleh memikirkan impianku karena mereka pikir keputusan mereka adalah yang terbaik.
"Kau masih kecil nggak tahu apa pun, lagian keputusan ini juga demi kebaikanmu dan inilah yang terbaik untukmu." Itulah jawaban ayah saat aku menanyakan keputusannya.
Sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban itu. Aku tahu mereka selalu menginginkan yang terbaik untukku tapi aku juga sudah besar dan aku tahu apa yang terbaik untukku. Aku hanya ingin hidup dengan keinginanku sendiri dan meraih mimpiku. Jika pernyataan itu kuajukan sudah pasti mata ayahku akan melotot sambil memarahi selama berjam-jam. Dan seperti biasanya, ibu hanya akan memihak ayahku. Hal ini sudah sangat lumrah, apapun yang terjadi istri harus selalu menuruti kehendak suami. Padahal aku sempat berharap ibuku akan mengerti diriku tapi ternyata harapan itu sia-sia.
Disaat kekesalanku sudah memuncak aku pergi ke sebuah tempat yang selalu ku datangi ketika hatiku sedang kalut. Di tempat itu aku mencurahkan semua kesedihan, kekesalan, dan amarah yang selama ini kupendam. Tanpa kusadari tempat itu jugalah yang akan awal kebahagiaanku.
"Tenanglah semua akan berjalan baik kok." Itulah ucapan yang dikatakan oleh pria misterius yang tiba-tiba datang ketika aku menangis. Saat melihat matanya aku merasa seakan-akan dia mengetahui semua yang kualami padahal kami bahkan belum pernah bertemu.
Pria itu bernama Nathan, ia begitu baik, dia selalu mendengarkan semua ceritaku dan memberikan semangat untukku. Nathan pernah bilang "walaupun dunia ini gelap akan ada cahaya yang menerangi." itulah yang dia katakan sambil melihat keatas, lalu dia menoleh dan berkata "Apapun yang terjadi kita tidak boleh menyerah, kita harus berusaha untuk menggapai kehidupan yang kita inginkan." Setelah mendengar perkataannya itu aku pun bersemangat dan mencoba untuk berusaha lebih baik lagi. Tapi ternyata tidak mudah untuk berusaha bagaimanapun aku tidak bisa menentang keinginan orang tuaku dan ditambah kehidupan sekolahku juga tidak terlalu baik. Sebenarnya kekesalanku bukan hanya karena orang tuaku tapi juga karena orang yang kuanggap sahabatku malah menusukku dari belakang.
Hal ini berawal dari hari pertama masuk SMA, saat itu aku hendak mengobrol dengan Rini sahabat kecilku, tapi entah kenapa dia mengabaikanku dia bahkan bertingkah seakan-akan tidak mengenalku. Beberapa hari kemudian penaku sering hilang, ku pikir ini hanya perbuatan iseng aja. Lalu aku melihat Rini mengambil penaku, Walaupun begitu aku tidak mempermasalahkannya karena dia adalah sahabat ku dari kecil. Tapi setelah itu dia bahkan menyembunyikan buku tugas punya ku dan sering menggangguku. Hal ini benar benar membuatku kesal, bagaimana pun aku sekolah di jurusan yang tidak ku inginkan hanya karena paksaan orang tua dan ditambah lagi kehidupan sekolahku tidak terlalu baik jadi aku merasa ingin pindah jurusan. Hanya Berkat perkataan Nathan lah aku mampu berusaha menjalani hidup ini dan berharap bahwa cahaya akan datang ke kehidupanku yang gelap ini.
Di pertengahan semester ada pengumuman lomba seni Nasional dan mungkin saja ini akan menjadi kesempatanku untuk mewujudkan impian. Sedari kecil aku sangat menyukai melukis dan aku bermimpi untuk jadi pelukis di masa depan. Tapi saat beranjak dewasa ayah membuang semua alat lukis ku dan menyuruhku belajar fisika agar bisa jadi ilmuwan di masa mendatang. Walaupun begitu aku tetap belajar melukis di sela-sela waktu belajar ku.
Aku pun ikut lomba melukis tanpa sepengetahuan orang tuaku karena jika mereka tahu tentu saja mereka akan melarangku. Kini aku akan berusaha memenangkan lomba dan menunjukkan pada orang tuaku bahwa aku mampu menjadi pelukis yang baik. Dengan bantuan Bu Mala guru bidang kesenian aku berhasil meraih juara pertama ditingkat kabupaten. Dengan bahagia aku langsung memberitahukan kabar ini kepada orang tuaku, Tapi ternyata reaksi mereka tidak seperti yang kuharapkan.
"Beraninya kamu membohongi kami, dan apa ini bukannya belajar kau malah ikut lomba melukis" itulah yang diucapkan ayah ketika mengetahui aku mengikuti lomba melukis. Pada umumnya orang tua akan senang jika anaknya berhasil mendapat juara atau menang lomba tapi ayahku malah marah dan melarangku melukis lagi. Padahal aku harap mereka akan mengizinkanku ikut les melukis untuk persiapan lomba antar provinsi tapi sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Aku berpikir untuk menyerah karena ayahku tidak akan bisa dibujuk. Lalu perkataan Nathan tiba-tiba terlintas di benak ku "apapun yang terjadi kita tidak boleh menyerah dan Kita harus berusaha untuk menggapai kehidupan yang kita inginkan." perkataannya membuat semangatku kembali bangkit dan aku mencoba memberanikan diri untuk meminta izin ayahku.
"Ayah, aku ingin ikut lomba melukis di tingkat provinsi." ucapku dengan penuh keyakinan
"Apa yang kau bicarakan, kan ayah sudah melarangmu melukis lagi." jawab Ayah dengan tegas
"Ayah aku mohon kasih aku satu kesempatan. aku janji dengan melukis tidak akan menggangu pelajaran. Aku akan lebih giat belajar, tapi ayah tolong izinkan aku ikut lomba melukis kali ini saja." Kataku sambil menangis memohon persetujuan ayahku.
Saat itu air mataku terus menetes dan ketika melihat ayah yang hanya diam saja Tanpa ekspresi itu membuat harapanku hancur. Mungkin impian akan benar-benar berakhir. Namun setelah sekian lama aku terus menangis hati ayah menjadi luluh dan mengizinkanku ikut lomba.
"Baiklah ayah izinkan tapi dengan syarat tidak ada nilai yang turun jika ada nilai yang turun satu angka pun ayah akan melarangmu melukis selamanya."
"Makasih ayah, aku janji akan berusaha lebih baik lagi dalam belajar maupun melukis jadi ayah jangan khawatir karena aku akan menggapai keduanya." Ucapku dengan penuh semangat dan gembira.
Keesokan harinya aku menjadi sangat sibuk dari pagi sampai siang aku sekolah, setelahnya aku les komputer dan belajar melukis, lalu saat malam aku mengerjakan tugas sekolah. Aku begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk beristirahat tapi walaupun begitu aku tidak merasa lelah karena ada banyak orang-orang baik yang selalu membantuku.
Kini hari-hariku berjalan dengan baik dan aku harap setiap hari akan berjalan sebaik ini. Namun kedamaian hariku tidak berjalan lama karena muncul masalah yang harus kuhadapi.
"Kamu jahat Rin, padahal kita sudah berteman dari kecil tapi kamu tega melakukan ini padaku." Kataku kepada Rini sahabat kecilku yang telah berubah dan selalu menggangguku. Padahal selama ini aku selalu membiarkan perbuatannya tapi semakin lama bukannya berhenti dia malah semakin mengganggu.
"Ini semua salahmu karena berteman denganmu orang tuaku selalu membandingkan diriku denganmu. Aku kesal setiap hari disuruh menjadi seperti mu."
"Hah dasar aneh, bisa-bisanya hal itu kau jadikan alasan." Ucap ayu, teman baruku yang selalu membantuku Jika aku kesulitan. Ayu sangat baik, dia menjadi teman ku satu-satunya.
"Rin, apa kau tahu? Hidupku juga tidak mudah, setiap hari orang tuaku selalu memaksa untuk menjadi yang terbaik aku bahkan tidak punya waktu untuk impianku sendiri, tapi walaupun begitu aku tetap menjalani semuanya tanpa menyalahkan orang lain. Itu karena aku yakin jika terus berusaha maka akan berhasil. sebab itu, Rini mari kita sama-sama berusaha."
"Itu... aku gak tahu, maafkan aku jia. Entah kenapa aku membencimu atas yang terjadi padaku. Kamu mau kan memaafkan aku?" Tanya Rini dengan ekspresi sedih
"Iya, tentu saja kamu kan temanku."
Pada hari itu kami kembali berteman, kehidupan sekolah yang dulu tidak kusukai menjadi menyenangkan dengan adanya teman-teman yang begitu baik padaku. Tanpa kusadari hari lomba melukis telah datang di depan mata. Walaupun sudah berlatih cukup lama tetap saja aku merasa gugup. Bagaimanapun pasti semua peserta adalah orang yang hebat melukis jadi aku berpikir apakah aku bisa menang, tapi aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang telah mendukungku. Saat hendak masuk ke ruang lomba ayah berkata "semangatlah ayah yakin kamu pasti bisa." Ditambah teman-teman, guru, dan tetanggaku juga ikut memberiku semangat. Seketika rasa gugupku menghilang dan aku merasa aku harus bisa menang.
Setelah beberapa lama akhirnya lombanya selesai tapi kami masih harus menunggu keputusan hasil lomba. Saat itu aku merasa takut jika tidak juara dan mengecewakan semua orang yang telah mendukunku.. Lalu para juri mulai berjalan menuju panggung dengan membawa hasil lomba.
"Selamat siang semua, pada hari ini kalian telah berusaha kesar walaupun nanti hasilnya kurang bagus, saya harap kalian tidak akan menyerah dan terus berusaha. Baiklah tanpa panjang kata akan saya umumkan hasil lomba melukis tingkat provinsi." Itulah kata pembuka yang dikatakan MC kepada peserta yang telah ikut lomba. Lalu MC pun perlahan membuka kertas yang berisi hasil lomba. Hal ini membuat jantungku terus berdetak kencang, aku tidak tahu apakah aku bisa juara atau tidak.
"Juara pertama diraih oleh... Inara putri"
Begitu MC mengumumkan juara pertama semua orang langsung bertepuk tangan tapi aku semakin merasa tidak percaya diri, jantung semakin berdetak kencang.
"Juara kedua lomba melukis tingkat provinsi diraih oleh... Zia Aulia."
Begitu mendengar MC memanggil Namaku tentu saja aku merasa sangat senang dan aku langsung memeluk kedua orang tuaku. Akhirnya usaha yang selama ini kulakukan membuahkan hasil. Semua itu karena mereka yang telah mendukungku dan membantuku sehingga aku tidak merasa lelah.
Hari ini aku merasa sangat senang, begitu sampai di rumah aku langsung pergi ke tempat yang ingin sekali ku kunjungi, ya tempat itu adalah tempat aku bertemu dengan Nathan. Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya dan kini aku ingin memberitahukan kabar baikku kepadanya. Sesampainya di sana aku tidak melihatnya padahal kami sudah berjanji akan bertemu tapi dia malah tidak datang dan hanya meninggalkan surat kepadaku. Ketika aku membaca suratnya air mataku perlahan menetes, bagaimana tidak surat itu berisi salam perpisahannya kepadaku. Sejenak aku berpikir apakah aku bisa terus berusaha tanpa Nathan disisi ku. Lalu disurat itu tertulis keinginan Nathan agar aku terus bahagia dan juga kata-kata bahwa akan ada banyak orang-orang baik yang akan membantuku.
Setelah itu aku pun bangkit dan berusaha untuk kehidupanku sendiri. Walaupun aku sedih karena Nathan pergi tapi aku percaya bahwa selain Nathan akan ada banyak orang baik yang akan membantuku ketika susah.
Lima bulan pun berlalu sejak saat itu, kini kehidupanku telah berubah menjadi lebih baik. Dulu orang tuaku selalu memaksakan kehendak mereka, tapi kini mereka telah mengizinkanku menggapai mimpiku. Dulu temanku selalu menggangguku, kini ia menjadi sahabat terbaikku. Dan bahkan kini aku berada diantara orang-orang baik yang akan selalu membantuku serta memberikan semangat kepadaku. Aku harap kehidupanku akan selamanya baik seperti ini.