Pada suatu masa, Aku pernah mencintai seseorang dengan begitu dalamnya. Separuhku hilang di ambil olehnya,
Sampai aku juga tidak memikirkan soal perpisahan..
Sejauh ini lancar ....
Hingga, pada akhirnya ....
Takdir berkata lain, keadaan memaksanya untuk memilih, dan dia memutuskan untuk memilihnya.
Aku terdiam ....
mendengar perkataan nya.. Bagaimana bisa dia semudahnya berkata seperti itu? Kepada seseorang yang telah menemani nya begitu lama di banding orang terdahulu nya sebelum aku?
"Hei, jika seperti ini aku menyerah saja ya" Kataku sembari menahan kecewa.
"Kamu bercanda?" Katanya dengan nada rendah..
"Tidak, aku serius memutuskan nya.."
"Hehe, maaf yah telah membuatmu kerepotan atas sikapku selama ini, Jujur aku masih sayang padamu"
"Tidak, cinta tidak akan seperti ini.. Jika kau benar mencintai ku, kau takkan membiarkan aku untuk menunggu terlalu lama."
"Lantas kenapa kamu ingin seperti ini?"
"Seseorang yang mencintaimu, menghasut orang lain untuk membenciku.. dan kamu pun memilih dia untuk saling mencinta, jadi aku memilih seperti ini."
"Iyah maaf, ajari aku bagaimana agar tak lagi terbiasa denganmu, tak lagi bergantung denganmu, tak lagi manja denganmu" dia menangis jujur aku pun tak sanggup melihatnya seperti itu.
Kau tanya,
"bagaimana caranya?"
sedangkan aku pun tidak tahu.
sedangkan kitapun sama sama tidak peduli.
Kita sekarang mencari cari jejak yang pernah kita tinggalkan sama sama,
Kita sekarang sedang berusaha mengubur sesal.
Kita berusaha
Mencari satu sama lain, sedangkan orang lain tidak mau tahu.
Bahwa kita tidak pernah bisa sendirian.
Bawa aku kembali kebahumu,
Mintalah aku agar tidak pernah pergi,
Sebab akan Kuminta wujudmu agar selalu disini.
Bisakah kita siap?
Bisakah kita bertahan?
Biasakah kita mengulangnya?
Jika bisa akan Kuminta waktu, akan Kuminta diriku agar tidak pernah seperti tadi.
Akan Kuminta egoku mengalah, akan aku dengar penjelasannya.
Tapi semesta bilang pada kita
"Kalian tidak mampu bersama"
Aku hanya ingin kelegaan.
Sebab rasanya berpisah saat saling mencintai Rasanya sangat perih.
Pantas saja meledak kemarin malam,
Kita sama sama tidak ingin mendinginkan.
Api dengan api.
Siapa yang tidak sengsara?
Lalu, Bisakah kau pergi dengan baik baik? Tanpa menciptakan rasa kehilangan? Tanpa menciptakan rasa kesedihan? Bisakah?
Kita berakhir tanpa saling mencari.
"Benci aku"
"Tak ada cara lain?" Dia masih menjadi jadi dengan tangisnya..
"Takkan ada lawan dari cinta selain membenci" Lekas, aku pergi dari sisinya.
Aku terluka?
Pasti ....
Aku hanya manusia biasa, yang juga bisa merasa rapuh untuk beberapa hal tertentu...
Mungkin, kehilanganmu adalah salah satu ketakutanku...
Namun, aku juga tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu diri..
Aku merelakanmu pergi, sebab aku memahami bahwa bukan cinta jika datang dari paksa memaksa...
Dan kepergianmu, memaksaku untuk kuat...
Kuat untuk dengan tega mematikan setiap kenangan yang masih berkeliaran di kepala...
Namun, jika pada akhirnya tuhan tidak menuliskan takdir untukku memiliki kamu...
Aku rela..
Hanya satu yang menjadi semoga...
Untuk beberapa waktu saja, tuhan menerima setiap doaku yang atas namamu...