Lembayung menyapa dengan semburat warna jingga yang mewarani langit sore itu. Dirumah yang sangat sederhana seorang laki-laki dewasa sedang memangku seorang gadis kecil yang terlihat sangat kurus.
"Nduk, sabar yo. Bapak mesti bakal entuk duit kanggo ngobati awakmu" ucap laki-laki itu sembari mengelus rambut gadis kecil itu yang ternyata adalah anaknya.
[Nak, sabar ya. Bapak pasti bakal dapat uang untuk mengobatimu]
Anaknya hanya tersenyum sembari memainkan jemarinya. Wajah kecilnya begitu pucat.
Kehidupan Karno dan keluarga kecilnya memang dibawah garis kemiskinan, Karno yang hanya bekerja sebagai tukang "ngopeni jaran" keluarga Gondokusuma hanya dapat uang gaji sebatas untuk makan sehari-hari. Kini anak semata wayangnya yang berumur Delapan tahun sakit keras, perutnya membesar dan badannya makin hari makin kurus. Karno bingung mau mencari uang kemana untuk mengobati putrinya.
Meminjam ditetangga juga percuma karena Karno sudah sering meminjam tetangganya tapi belum bisa untuk mengembalikannya. Jadi Karno merasa malu untuk meminjam lagi.
Akhirnya karno pun nekat meminjam ke majikannya walaupun dia takut yang dia dapat hanya kata-kata menyakitkan, tapi demi anaknya Karno pun berangkat kerumah majikannya dengan berjalan kaki malam-malam seperti ini.
Dilihatnya majikannya sedang duduk santai di kursi goyangnya.
"Punten, Ndoro. Kulo bade nyuwun tolong" ucapnya pada majikannya.
[Permisi, tuan. Saya mau meminta tolong]
"Paling nyileh duit kan, No" balas majikannya itu.
[Paling minjem uang kan, No]
Majikan Karno bernama Bajra Gondokusuma, keturunan darah biru yang di hormati semua orang. Salah satu orang terkaya di daerahnya yang mempunyai sawah dan kebun banyak. Tapi Bajra Gondokusuma juga mempunyai sikap yang tegas dan keras, membuat banyak orang takut padanya.
Jarang ada orang yang berani melawan seorang Bajra Gondokusuma karena dia juga punya beberapa centeng setia.
"Nggeh, Ndoro. Duite kanggo ngobati anakku." jawab Karno takut.
[Iya, Tuan. Uangnya untuk mengobati anakku]
"Dari pada koe bingung ngopeni anakmu seng penyakitan, mending anakmu orak usah diobati ben sekalian mati. Ben orak dadi bebanmu,No" ujar Bajra Gondokusuma santai.
[Dari pada kamu bingung mengasuh anakmu yang penyakitan, mending anakmu tidak usah diobati biar sekalian mati. Agar tidak menjadi bebanmu, No]
Karno yang tadi takut-takut saat menghadap majikannya itu sekarang tampak berang, darahnya mendidih mendengar ucapan majikannya itu.
"Jaga ucapanmu, Bajra." Desis Karno dengan wajah merah padam.
"Koe jengkel tah, No?. Tapi jengekele koe biso opo? Heh?!!! Dasar wong mlarat!" Umpat Bajra Gondokusumo.
[Kamu marah ya, No?. Tapi marahmu bisa apa? Heh?!!! Dasar orang miskin!!]
Dengan gelap mata Karno menyerang Bajra tapi sebelum pukulannya mengenai majikannya itu, beberapa centengnya Bajra sudah datang mengelilinginya. Karno pun di keroyok hingga babak belur dan tubuhnya di lemparkan ke sawah dekat rumah Bajra.
Badan Karno terasa sangat sakit, diapun pulang dengan tertatih-tatih, selain luka akibat dikeroyok tadi kini badannya juga sangat kotor terkena lumpur sawah.
Sesampainya dirumahnya yang terbuat dari kayu terlihat banyak orang berada di rumahnya. Karno pun mempercepat langkahnya, betapa kagetnya dia saat sudah berada di depan pintu rumah. Karno mendengar suara tangisan istrinya, ternyata anaknya sudah meninggal beberapa saat lalu. Karno langsung menghampiri jenazah anaknya dan memeluknya. Tangisnya pun pecah membuat orang-orang yang berada disana ikut trenyuh.
"Nduk, Bapak bakal balas dendam." Bisik Karno di telinga anaknya yang sudah meninggal.
******
Sejak kejadian Karno akan menyerang Bajra Gondokusuma dan kematian anaknya, Karno tidak pernah kelihatan lagi di kampung.
Orang-orang di kampung pikir Karno takut pada Bajra Gondokusuma, mereka tidak ada yang akan menyangka bahwa Karno sedang pergi ke sebuah gunung di daerah jawa tengah yang terkenal mistis. Disana Karno sedang melakukan ritual balas dendam pada Bajra Gondokusuma.
"Kita mau apa toh mas ke gunung?" Tanya istri Karno.
[Kita mau apa sih mas ke gunung?]
"Ngalap berkah." Jawab Karno bohong.
[Nyari berkah]
Padahal tujuan Karno ke gunung itu adalah untuk melakukan sebuah ritual . Ritual santet yang jarang sekali digunakan orang karena syaratnya begitu sulit.
Sebelum mendaki merekapun beristirahat sejenak di sebuah gubuk lusuh yang sangat sepi dilereng gunung itu, tiba- tiba saat istri Karno sedang duduk menikmati semilir angin. Karno yang duduk dibelakang istrinya tega menyabetkan golok panjang ke arah istrinya sendiri hingga sang istri jatuh tertelungkup.
Untuk melaksanakan ritual santet itu adalah mengorbankan jantung pisang yang artinya adalah mengorbankan orang yang paling dikasihi. Karena Karno sangat mencintai istri dan anaknya, akhirnya Karno membunuh istrinya untuk jalan membalaskan dendamnya.
"Maafkan aku, istriku. Iki demi Gendis anak kita"
Karno menggorok leher istrinya dan mengucurkan darah istrinya itu di sebuah baskom yang sudah dia siapkan. Lalu baskom berisi darah itu di campur dengan kembang tujuh rupa juga bangkai ayam cemani. Karno pun merapalkan mantra dengan mulut komat-kamit. Setelah selesai dia meminum campuran darah, kembang dan bangkai ayam cemani. Dengan mulut belepotan darah Karno menyeringai jahat.
"Trah Gondokusuma bakal entek"
[Trah Gondokusuma bakal habis]
*****
Ditempat lain yaitu rumah Bajra Gondokusuma sedang dirundung duka karena anak laki-laki semata wayangnya meninggal mendadak dengan perut buncit.
Padahal sedari pagi anaknya baik-baik saja. Masih main dengan para abdi dalem rumah besar Gondokusuma.
"Iki pasti kiriman" Gumam Bajra geram.
[Ini pasti kiriman]
******
Beberapa hari setelah Bajra Gondokusuma berduka karena kehilanga putra semata wayangnya. Karno kembali pulang ke kampung, tapi bukan untuk kembali menetap melainkan untuk pergi kerumah Bajra.
Karno datang ke rumah Bajra dengan membawa sebuah golok besar. Para centeng Bajra pun sudah bersiap jika Karyo akan melakukan sesuatu pada Tuan mereka.
"Bajra metuu koe!" Paggil Karno geram.
[Bajra keluar kamu!]
Bajra yang kala itu sedang duduk sembari merokok pun keluar ke pelataran rumahnya yang luas dimana Karno berdiri dengan goloknya.
"Ojo gewe aku jengkel nek ora gelem modar!" Balas Bajra dengan nada mengancam.
[Jangan membuatku marah kalau tidak mau mati]
"HAHAHAHAHA, Bajra goblok. Anakmu wes mati kan. Piye rasane Heh?" Tanya Karno mengejek.
[HAHAHAHAH, Bajra bodoh. Anakmu sudah mati kan. Gimana rasanya Heh?]
Bajra hanya bergemimg dengan nafas naik turun menandakan dia sedang menahan amarah.
"Asal koe ngerti, aku seng nggawe anakmu mati. HAHAHAHHA" Lanjut Karno diselingi tawanya.
[Asal kamu tau, aku yang membuat anakmu matI. HAHAHAHA]
"Bajiiingan koe Karno, tak pateni koe" Geram Bajra sembari berjalan cepat menghampiri Karno yang sedang tertawa terbahak-bahak.
[Bajingan kamu Karno, aku bunuh kamu]
Semua orang yang ada di pelataran rumah itu hanya diam dan menyaksikan karena mereka takut untuk ikut campur.
"SANTET PITU TURUNAN" ucap Karno yang membuat Bajra menghentikan langkahnya.
[SANTET TUJUH TURUNAN]
"Keturunanmu bakal mati, Bajra. Kecuali sing siji gelem mati dinggo gawe urip sijine." sambung Karno dengan suara keras.
[Keturunanmu akan mati, Bajra. Kecuali yang satu mau mati demi yang lainnya.]
"Edan koe, Karno. Edan" Balas Bajra dengan wajah merah padam.
[Gila kamu, Karno. Gila]
"Keturunanmu bakal sengsara, Bajra. TRAH GONDOKUSUMA BAKAL ENTEK." ujar Karno sembari mengayunkan goloknya ke arah lehernya sendiri.
[Keturunanmu akan sengsara, Bajra. TRAH GONDOKUSUMA AKAN HABIS]
Karno mengggorok lehernya sendiri sembari tertawa, darah segar bermuncratan dari lehernya dan mengenai baju Bajra. Karno pun jatuh ke tanah dengan badan berkelojotan sebelum berhenti mati dengan mata melotot ke arah Bajra Gondokusuma.
******
Rumah kediamam Gondokusuma masih sama, walaupun sudah bertahun-tahun lamanya. Sekarang rumah itu didiami oleh keturunan satu-satunya Trah Gondokusuma karena hanya satu yang bisa tetap hidup untuk tetap melanjutkan garis keturunan Gondokusuma.
Ageng Gondokusuma yang berprofesi sebagai dalang adalah keturunan terakhir Gondokusuma yang masih hidup, sedari lahir ia sudah menjadi yatim karena Bapaknya meninggal saat dia masih berada di dalam kandungan.
"Manjing, to" Ajak Ageng Gondokusuma pada sahabatnya, Sapto.
[Masuk, To]
"Piye keadaan gerwamu, Geng?" Tanya Sapto sembari duduk.
[Gimana keadaan istrimu, Geng?]
Ageng hanya bergeming, wajahnya yang tampan terlihat muram.
"Aku cinta kambe semahku, To. Tapi aku kudu neruske garis keturunan Gondokusuma." Ucap Ageng muram.
[Aku cinta istriku, To. Tapi aku hsrus meneruskan garis keturunan Gondokusuma]
"Aku ngerti, Geng. Tapi nganti kudu ngiket perjanjian kambe Durgasani kui ora bener. Wadon lan anakmu bakal kena getahe." Balas Sapto dengan serius.
[Aku tahu, Geng. Tapi sampai harus mengikat perjanjian dengan Durgasani itu tidak benar. Istri dan anakmu akan terkena getahnya]
"Aku ndak pengen anakku lahir tanpo Bapak, nek aku tetep melu dalane santet pitu turunan."
[Aku tidak ingin anakku lahir tanpa Bapak, jika aku tetap ikut jalan santet tujuh turunan]
"Opo nek koe ora mati anakmu orak bakal slamet, Geng?" Tanya sapto.
[Apa jika kamu tidak mati anakmu tidak akan selamat, Geng?]
"Ora bakal biso, To. Wong asu seng wes tega nyantet garis keturunan Gondokusuma." Umpat Ageng sembari mengusap wajahnya sendiri.
[Tidak akan bisa, To. Orang anjing yang sudah tega nyantet gsris keturunan Gondokusuma]
"Dadi mung Durgasani seng biso nangkal santet kui?"
[Jadi hanya Durgasani yang bisa menangkal santet itu]
"Bapakku, simbahku, buyutku kabeh mati bunuh diri ben trah Gondokusuma ora ilang. Tapi aku ora sudi mati bunuh diri. Aku juga ora sudi ninggalke semahku opo anakku" Jawab Ageng emosional.
[Bapakku, kakakku, buyutku semua mati bunuh diri agar trah Gondokusuma tidak hilang. Tapi aku tidak sudi mati bunuh diri. Aku juga tidak sudi meninggalkan istri atau anakku]
"Aku berharap koe ora bakal nyesel karo keputusane koe iki, Geng" ujar Sapto
[Aku berharap kamu tidak akan menyesali keputusanmu ini, Geng]
Setelah berbincang lama akhirnya Sapto mohon diri untuk pulang karena waktu sudah menjelang sore hari.
******
Malam itu rumah keluarga Gondokusuma terasa lain, memang malam ini adalah malam satu suro. Malam dimana berkumpulnya bangsa lelembut.
Semua abdi dalem rumah itu tidak ada yang boleh keluar sampai matahari terbit.
Lalu sayup-sayup terdengar suara bayi menangis diselingi teriakan marah seorang wanita dari rumah itu.
"Bunuh anak iblis itu, BUNUUHHH!!!" Raung wanita itu sembari menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci.
Ageng Gondokusuma hanya bergeming di depan pintu yang terkunci itu sembari menggendong bayi. Wajahnya sayu menandakan dia sangat sedih.
Lalu Ageng Gondokusuma pun berjalan menuju lantai dua rumah itu. Saat sudah sampai disebuah kamar dia mencium bayi perempuannya .
"Anakku Marlangen" Gumamnya lirih.